Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-037~


__ADS_3

~William tersenyum sambil menyeringai dibalik jubah kebesarannya. "Malaikat maut Lo." Ucap William dengan penuh penekanan.~


.


.


.


.


.


William mengemudikan mobilnya bersama Hendrik menuju Kastil Brezjine. Sedangkan para Mafioso, mengikuti dan memantau mobil William serta mereka mulai berpencar untuk mencari tempat persembunyian.


Tak jauh dari perjalanan William dan Hendrik, Kastil Brezjine sudah terlihat. William pun menghentikan mobilnya. "Kenapa berhenti di sini?" Tanya Hendrik dengan heran.


"Kalau kita bawa mobil ke sana, pasti kedatangan kita diketahui. Jadi gunakan akalmu." Ucap William sambil turun dari mobilnya dan berjalan meninggalkan Hendrik yang menggerutu dengan ucapan William.


"Emangnya gue ini nggak bisa mikir apa. Kalau bukan karena kecerdasan gue, Lo nggak akan bisa hidup dengan tenang." Gerutu Hendrik sambil mengikuti langkah William.


William dan Hendrik telah memakai jubah kebesaran mereka. Mereka memilih untuk berpencar. Selain itu, para Mafioso juga telah menemukan tempat persembunyian mereka masing-masing.


William memberi aba-aba melalui Earpiece. "Waspada." Itulah satu kata yang muncul dari mulut William.


William dengan perasaan tidak karuan, mencoba untuk menerobos pagar yang mengelilingi Kastil Brezjine. Itu hal yang mudah bagi William, karena dia sudah terbiasa melakukan semua itu.


"Violaku akan kembali." Gumam William kepada dirinya sendiri.


William berusaha masuk secara diam-diam. Dia mencoba untuk melihat ke sekelilingnya. "Aman, tidak ada CCTV." William memberi tau Hendrik melalui Earpiece.


William mencoba untuk naik ke lantai dua melalui dinding depan. Dia mencoba untuk memanjat tiang yang ada di sana. Dengan gampangnya, sekarang William telah berada di balkon lantai dua Kastil Brezjine.


.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di sebuah ruangan, Viola masih belum sadar. Dia terbujur kaku dengan ditutupi selimut tebal disetengah badannya. Viola masih bernafas, tetapi raganya dingin seperti orang meninggal.

__ADS_1


Sedangkan Zoni, sudah semalaman memandangi wajah Viola. "Viola, Viola. Lo kenapa kekeh banget sih nggak mau terima cinta gue. Dari dulu gue udah berusaha buat Lo cinta sama gue, tapi nyatanya apa? Lo malah nggak anggap gue ada, cuma gara-gara gue bunuh sahabat Lo. Gue juga nggak akan bunuh sahabat Lo, kalau dia nggak ganggu gue buat dapetin Lo." Zoni mencium kening Viola dan mengelus-elus pipinya.


"Asal Lo tau, gue harap setelah kembalinya gue dari Luar Negeri, Lo bisa terima gue. Tapi, sekarang Lo malah udah tinggal sama William. Mungkin gue nggak akan sakiti Lo. Tapi jangan salahkan gue, kalau kejadian di masa lalu terulang lagi." Ucap Zoni dengan menyeringai sambil mengelus-elus pipi Viola.


Zoni melirik kearah jam tangannya. "Lima belas menit lagi, pengaruh obat itu akan hilang." Ucap Zoni.


.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


William berjalan menyusuri lantai dua Kastil Brezjine. Namun, tidak ada tanda-tanda penghidupan di sana. Semua barang-barang di sana penuh dengan debu dan lantainya pun sangat kotor sekali.


"Masuk." Satu kata yang William ucapkan kepada Hendrik melalui Earpiece.


Setelah mengecek beberapa ruangan yang ada dilantai dua, William belum menemukan tanda-tanda apapun tentang keberadaan Viola.


"Tinggal ruangan itu." Ucap William sambil melihat sebuah ruangan yang terletak dipojok kanan lantai dua.


BRAK.... William dengan keras mendobrak pintu ruangan itu.


Zoni langsung berdiri dan mengambil pistol yang ada di sakunya. Dia menodongkan pistol kearah William. "Siapa kau?"


William tersenyum sambil menyeringai dibalik jubah kebesarannya. "Malaikat maut Lo." Ucap William dengan penuh penekanan. William berjalan mendekati Zoni yang masih berdiri tegak sambil menodongkan pistol.


Zoni mengingat kembali, siapa orang yang sekarang berjalan mendekatinya. "William." Ucap Zoni dengan keras hingga membuat langkah William terhenti. Namun, sekarang sudah tidak ada jarak sama sekali antar pistol milik Zoni dengan kening William.


Tangan kanan William telah memegang Katana dan tangan kirinya sudah memegang Pistol. "Mati atau pergi." Ucap William dengan pelan namun terkesan mengerikan.


Zoni yang tadinya tidak takut sama sekali, sekarang dia mempunyai keraguan untuk melawan William. Namun, dia berusaha untuk bersikap biasa saja. "Viola itu milik gue. Tidak boleh ada yang mengambilnya dari gue. Dan siapapun yang berani menyentuhnya, bakal menemui ajalnya." Ucap Zoni.


"Cih, bicit." William menendang perut Zoni hingga Zoni terpental ke dinding. Tadinya Zoni sudah mengambil ancang-ancang untuk menembak William, tapi tembakannya malah melesat ke atap ruangan dan pistolnya terlempar ke lantai.


William mendekati Zoni yang tersungkur ke lantai, sambil menodongkan Katana yang dia pegang tepat di mata kanan Zoni. "Let's play the game." Ucap William dengan menyeringai.


"KING LIDO." Teriak Hendrik yang baru saja sampai di ruangan itu.


"Bangunkan Viola." Perintah William.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini. 10 menit lagi, bangunan ini akan runtuh." Ucap Hendrik sambil berusaha membangunkan Viola.


"Viola, ayo kita harus pergi." Ucap Hendrik.


Viola mencoba membuka matanya pelan-pelan dan Hendrik pun membantu Viola untuk duduk dan berdiri.


"Kalau nggak ada William, pasti Viola udah gue gendong dari tadi biar cepet keluar. Kan sebagai sahabat yang baik, gue tau. Pasti William yang bakal gendong Viola." Batin Hendrik.


"Sial." William tampak kecewa, karena dia belum bisa membalas perbuatan Zoni. "Selamat Lo hari ini." Ucap William sebelum dia berjalan kearah Viola dan Hendrik.


DOR... Zoni melayangkan tembakan kearah William.


Namun, bukan William yang kena tembakan itu. "VIOLA." Teriak Hendrik dan William.


Iya, Viola yang terkena tembakan itu. Saat dia bangun dari ranjang sambil dibantu Hendrik, dia melihat Zoni yang ingin menembak William. Karena William berdiri disampingnya, tanpa berpikir panjang Viola langsung melindungi William. Alhasil, tembakan Zoni bukan mengenai kepala William tapi malah mengenai kepala Viola.


Hendrik langsung menggendong Viola dan membawanya keluar agar Viola segera mendapatkan pertolongan. Karena dia tau, pasti amarah William sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Dan benar saja, amarah William memuncak dan dia langsung menembak Zoni bertubi-tubi tanpa ampun.


DOR.


DOR.


DOR.


DOR.


"BERANI-BERANINYA LO SAKITI VIOLA. DASAR BRENGSEK." Amarah William sudah tidak bisa terbendung lagi. Dia juga merobek-robek semua bagian tubuh Zoni sampai darah mengalir ke sekujur tubuhnya.


SREK..


SREK...


Darah Zoni menciprat kemana-mana dan lantai disekelilingnya juga sudah penuh dengan darah segar.


"Gue belum puas siksa Lo." Ucap William sambil melihat Zoni yang sudah tidak bernyawa. Ada belasan tembakan dan banyak sayatan ditubuhnya. Tubuhnya juga sudah dipenuhi oleh darahnya sendiri hingga warna kulitnya tidak tampak berwarna putih lagi, tapi berubah menjadi warna merah.


William segera berlari keluar, karena sebentar lagi para Mafiosonya akan meruntuhkan Kastil Brezjine.

__ADS_1


__ADS_2