
~Cantik. Pemandangan yang sempurna dan sangat sayang untuk tidak dilihat dan diingat.~
.
.
.
.
.
π·π·π·π·π·
"Gimana mau asing, kalau setiap minggu pasti William cerita ke Momy Zaskia soal Viola yang dari dulu dia cari. Bahkan kalau ke Hendrik malah setiap detik cerita tentang Viola dengan cerita dan alur yang sama. Hingga Hendrik hafal diluar kepala dengan ceritanya." Hendrik dengan spontan berbicara kepada Momy Zaskia mengenai apa yang dia rasakan. Hal itu langsung mendapat tatapan tajam dari William yang membuat bergidik ngeri. Sedangkan Viola malah tersipu malu mendengarnya.
"Oh jadi ini yang namanya Viola? Cantik iya?" Momu Zaskia terlihat snagat girang setelah mendengar ucapan Hendrik.
"William nggak salah pilih kan, Mom?" Tanya William dengan sombongnya kepada Momy Zaskia.
"Nggak, Sayang. Momy malah bahagia kalau kamu bisa cepet-cepet nikah sama Viola."
Deg.. Nikah? Batin Viola bertanya kepada dirinya sendiri.
"Tuh udah dapet lampu hijau dari Momy. Sikat aja langsung." Ucap Hendrik.
"Sikat-sikat, emangnya apaan kok disikat?" Bukan William yang sewot dengan ucapan Hendrik. Tetapi Zein yang sedari tadi diam saja.
"Anak kecil diam aja. Ini urusan orang dewasa." Pekik Hendrik.
"Emang iya, urusan orang dewasa itu menyusahkan."
"Anak kecil mana tau. Nanti kalau udah dewasa, pasti Zein rasain sendiri."
"Nggak ah, Zein ogah jadi orang dewasa. Nanti banyak yang suka lagi sama Zein, secara Zein kan ganteng." Semua yang mendengar ucapan Zein pun terkekeh kecuali Hendrik.
"Nih anak ketularan narsis dari Kakaknya." Setelah Hendrik berkata seperti itu, dia mendapat tatapan tajam nan mematikan dari William.
"Santai Bro. Gue masih sahabat Lo, santai." Hendrik mencoba untuk menstabilkan tatapan William kepadanya.
"Makan tuh tatapan Kak Will. Baru ditatap gitu aja udah takut, gimana kalau Kak Will udah bertindak." Zein tertawa terbahak-bahak setelah mengejek Hendrik. Viola dan Momy Zaskia juga tertawa kecil mendengar ucapan Zein. Sedangkan Hendrik sangat kesal dengan Zein. Kalau William jangan ditanya, dia kembali memasang muka datarnya.
"Eemmm. Viola pamit ke dpaur dulu iya?" Tanya Vioal dengan hati-hati.
"Mau ngapain, Sayang?" Tanya Momy Zaskia.
"Itu Tante, Viola mau bikin kue buat Tante sama Zein."
"Jangan panggil Tante, tapi Momy. Okay?"
__ADS_1
"Viola akan coba Tante.. Eh maksudnya Momy. Iya udah, Viola pergi dulu."
"Oke, Sayang."
.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Malam harinya. William, Viola, Hendrik, Momy Zaskia dan Zein makan malam bersama. Entah ada angin dari mana, tiba-tiba Zein ingin disuapi oleh Viola.
"Kak Viola." Panggil Zein.
"Ada apa, Zein?" Tanya Viola yang masih mengambilkan makanan untuknya.
"Kak Viola, Zein pengin disuapi Kakak." Rengek Zein. Momy Zaskia, William dan Hendrik terkejut mendengar rengekan Zein. Padahal selama ini, Zein nggak mau disuapi oleh orang lain selain sama Momy Zaskia dan William. Namun sekarang?
"Katanya udah besar, tapi minta disuapin." Cibir Hendrik.
"Terserah Zein dong. Kan Zein nyuruh Kak Viola yang suapin Zein, bukan Kak Hendrik. Kenapa Kak Hendrik yang sewot?" Pekik Zein yang membuat Hendrik terdiam. Namun terdengar kekehan kecil dari Momy Zaskia dan Viola. Sedangkan William? tertawa bahagia didalam hatinya.
"Kak Viola suapin Zein iya?"
"Dengan senang hati." Ucap Viola dengan tersenyum manis, bahkan manisnya senyuman Viola bisa mengalahkan manisnya gula 1 kilo.
"Cantik. Pemandangan yang sempurna dan sangat sayang untuk tidak dilihat dan diingat." Batin William.
Viola menyuapi Zein dengan telaten dan hati-hati. Momy Zaskia dan William sangat senang melihat keakraban Viola dan Zein yang terbilang cukup cepat.
"Enggak mau, Zein maunya disuapi Kak Viola." Zein cemberut dan tidak meneruskan mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Zein nggak boleh gitu."
"Nggak pa-pa, Mom. Biar Viola aja yang suapi Zein. Lagian Viola belum terlalu lapar juga." Ucap Viola.
"Buka mulut kamu." William tiba-tiba mengambil duduk disebelah Viola dan mencoba untuk menyuapkan makanan Viola kedalam mulut Viola.
"Eh nggak usah, Kak. Nanti Viola bisa sendiri." Viola nampak canggung melihat tatapan Momy Zaskia, Zein dan Hendrik.
"Nggak boleh nolak. Ayo, biar aku yang suapi kamu." William berkata dengan datarnya, namun bisa membuat hati Viola berbunga-bunga.
"Sudahlah Nak. Kamu makannya biar disuapi William aja. Nggak pernah loh William mau menyuapi seseorang tanpa paksaan." Cibir Momy Zaskia.
"Ish, Momy apaan sih." William nampak kesal dengan ucapan Momy Zaskia. Sedangkan yang William kesali malah tertawa mengejek kepadanya.
Viola menerima suapan dari William. William sangat senang bisa menyuapi Viola. Namun kesenangannya itu dia sembunyikan didalam hatinya. Tetapi, senyuman sedikit terukir tipis diwajah William.
"Kalau pada dasarnya datar, tetap aja datar. Padahal biasa dia nggak sedatar ini kalau sama aku. Apa ada yang William sembunyikan dariku?" Batin Momy Zaskia.
.
__ADS_1
π»π»π»π»π»
Setelah makan malam, semuanya berkumpul diruang keluarga. Zein tertidur dibangkuan Viola dengan tenang.
"William, apa ada yang kamu sembunyikan dari Momy?" Tanya Momy Zaskia dengan menatap William seperti sedang mengintrogasi seseorang.
'Glek' Terdengar ludah yang ditelan dnegan kasar dari William dan Hendrik.
"Nggak, Mom." William mencoba untuk tidak gugup.
"Jangan bohong sama Momy." Tegas Momy Zaskia. Viola yang mendengar nada bicara Momy Zaskia pun agak sedikit terkejut.
"Maaf, Mom. William melarang perintah Momy." Lirih William dengan menunduk. Sedangkan Viola masih mencerna setiap perkataan yang dia dengar disana.
"Kalau bicara, tatap mata Momy." Tegas Momy Zaskia.
"Apa ini udah saatnya kalau Viola tau yang sebenarnya tentang siapa aku sebenarnya?" Batin William.
William menatap Momy Zaskia. "Edo udah mati. Dan jenazahnya udah William kubur dengan layak." Ucap William yang mencoba untuk tenang.
"APA? KENAPA EDO BISA MENINGGAL? APA KAMU YANG MEMBUNUHNYA?" Momy Zaskia sangat kaget mendengar kabar bahwa Edo telah meninggal.
"Kak Will seorang pembunuh?" Batin Viola.
"Maaf, Mom. Jangan salahkan William sepenuhnya. Kalau saja dia nggak bikin gara-gara terus dan menyerang Mansion ini, pasti dia masih hidup sekarang." Hendrik mulai berbicara untuk meluruskan kejadian yang sesungguhnya kepada Momy sebelum Kingnya mendapatkan masalah.
"Apa benar itu?" Tanya Momy Zaskia kepada William. Sedangkan William hanya mengangguk kecil.
"Oke, Momy maafin kamu. Bukan sepenuhnya salah kamu, kalau kamu membunuhnya." Ucap Momy Zaskia yang sudah terlihat tenang.
"KAK WILL PEMBUNUH?" Teriak Viola. Semua yang disana langsung menatap Viola dengan terkejut. Momy Zaskia lupa kalau disana masih ada Viola yang sudah mendengar semuanya.
"Sayang, kamu belum tau?" Tanya Momy Zaskia mendekati Viola yang masih memangku Zein.
"Tau apa, Mom?" Tanya Viola dengan menatap Momy Zaskia dengan penuh harapan agar Momy Zaskia mau menjawabnya. Sedangkan Momy Zaskia bingung harus menjawab apa. Dia pun menatap kearah William dan mendapat anggukan pasrah darinya.
"Sayang, kalau kamu sudah mendengar semuanya. Apa kamu masih mau menerima William?" Tanya Momy Zaskia dengan hati-hati.
"Maksud Momy apa? Memangnya apa yang belum Viola ketahui tentang Kak Will?"
"Sayang, apa kamu sudah siap untuk mendengarnya?"
"Mendengar apa, Mom? Jangan buat Viola semakin penasaran."
"Tetapi, berjanjilah dulu kepada Momy."
"Berjanji apa, Mom?"
"Berjanjilah kalau kamu sudah tau segalanya, kamu tidak akan meninggalkan William. Karena Momy nggak mau melihat William sedih lagi, Vi." Momy Zaskia sangat berharap kalau Viola menjawab Iya.
__ADS_1
"Kalau Viola nggak mau berjanji, William nggak pa-pa, Mom. Itu hak dia buat memilih. Jangan terlalu memaksakan kehendaknya." Ucap William yang sedari tadi diam. Dia mencoba untuk tetap tenang, walaupun hatinya menangis dan sangat tidak siap untuk kehilangan Viola.
Viola pun terkejut mendengar pernyataan William. "Sebenarnya apa yang disembunyikan Kak Will selama ini?" Batin Viola.