Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-023~


__ADS_3

"Akhirnya kita bisa ketemu lagi." Viola berjalan kearah ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Viola dan Dita telah sampai di Mansion Pribadinya William. "Vi, ini Mansionnya siapa?" Tanya Dita sambil melihat megahnya Mansion Pribadinya William.


"Ini Mansionnya Kak Will. Dia suruh kita tinggal disini." Ucap Viola.


"Emangnya, orang tuanya kasih izin kita tinggal disini?"


"Ini Mansion Pribadinya Kak Will. Kalau Mansion utama keluarganya, gue nggak tau dimana. Soalnya, gue belum pernah diajak kesana."


"Owh gitu."


"Yuk, masuk."


"Ayo."


Viola dan Dita memasuki Mansion.


"Selamat datang kembali Nona Viola." Ucap Bibi Lina.


Viola langsung memeluk Bibi Lina. "Bibi, akhirnya Viola kembali kesini lagi."


Bibi Lina melepas pelukannya Viola. "Iya, Non. Bibi juga senang kalau Non Viola balik kesini. Jadi, Bibi ada teman curhat."


"Emang, pelayan disini nggak bisa Bibi ajak curhat?"


"Nggak ada yang mau dengerin, Non. Kalau Bibi lagi curhat."


"Masa sih, Bi?"


"Iya, Non."


"Iya udah. Nanti Viola bakal jadi pendengar setia curhatan Bibi."


"Hehehe, makasih, Nona."


"Sama-sama. Oh iya, Bi. Kenalin ini Dita, dia sahabatku, Bi. Dan Dita, ini Bibi Lina, Kepala Asisten Rumah Tangga disini. Bibi Lina udah kayak Ibu bagi Kak Will. Karena semua kebutuhan Kak Will, Bibi Lina yang urus."


"Dita."


"Bibi Lina. Ah, Nona Viola berlebihan. Semenjak ada Nona Viola, semua kebutuhan Tuan William pasti Nona Viola yang urus."


"Hehehe nggak juga, Bi. Oh iya. Bi, tolong anterin Dita ke kamarnya iya. Kak Will suruh Dita tinggal di lantai dua."


"Siap, Nona." Ucap Bibi Lina.


"Dita, gue ada di lantai tiga. Kalau Lo butuh apa-apa, tinggal telpon gue aja."

__ADS_1


"Iya, Vi." Ucap Dita.


Viola berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga.



"Hay kamar. Akhirnya kita bisa ketemu lagi." Viola berjalan kearah ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


"Kamar ini nggak ada yang berubah. Bahkan wangi ruangannya juga masih sama." Gumam Viola.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Pukul 23.00. Tiba-tiba tenggorokan Dita terasa kering. Dia memutuskan untuk pergi ke dapur. Untung saja, dia tadi sudah bertanya ke Bibi Lina, dimana dpaur berada.


Dita berjalan dengan perlahan menuruni tangga. Setelah itu, dia langsung menuju dapur. Tetapi sebelum sampai di dapur, kedua matanya melihat seseorang yang sedang makan di meja makan.


"Jam segini masih ada orang yang makan malam?" Gumam Dita dnegan pelan.


Dita memberanikan diri untuk menghampiri orang itu. "Permisi, Tuan."


Uhuk.. Uhuk.. Uhukk...


Orang itu tersedak mendengar ucapan Dita. Dengan refleks, Dita langsung menuangkan air minum kedalam gelas.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk membuat anda tersedak. Ini minumnya.." Ucapan Dita terhenti saat melihat orang itu.


"LO?" Ucap Dita dan orang itu bebarengan.


.


Hendrik yang merasa hatinya begitu tak karuhan. "Kenapa gue bisa suka sama Viola. Padahal gue tau, kalau Viola itu cinta pertamanya William." Hendrik mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


ARRRGGHHH... SIAL..


Hendrik duduk dibangku Taman. Suasana Taman tampak begitu sepi. Hanya ada beberapa orang disana.


Hendrik menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya menopang diatas paha. "Lo harus buang jauh-jauh perasaan Lo, Drik. Viola bukan buat Lo. Dia itu udah milik William. Dan William itu sahabat Lo, Drik. Bahkan, orang tua William udah menganggap Lo sebagai adiknya William. Dan William juga udah menganggap Lo sebagai adik." Hendrik berbicara dengan dirinya sendiri.


Tiba-tiba.. Sebuah botol kaleng mengenai kepala Hendrik.


"Aww... Siapa nih yang lempar botol kaleng ini ke kepala gue?" Hendrik mengambil botol kaleng tadi.


"WOY, ULAH SIAPA INI." Teriak Hendrik. Mata Hendrik langsung menangkap, ada seorang wanita yang tadinya bersembunyi dibalik pohon, ingin langsung berlari.


Tapi, orang itu kita cepat dengan gerakan Hendrik.


"Lo yang udah lempar botol kaleng ini?" Tanya Hendrik smabil mencengkram tangan wanita itu


"Maaf, gue nggak sengaja. Tolong lepasin gue." Wanita itu memohon agar Hendrik mau melepaskan cengkeramannya.


"NGGAK. Lo harus ikut gue ke Rumah Sakit."


"Ngapain ke Rumah Sakit?"


"Kalau kepala gue ada luka dalam gimana?"


"Eh manusia yang otaknya kurang satu ons. Kepala Lo nggak akan kenapa-kenapa. Itu cuma botol kaleng biasa, bukan batu."

__ADS_1


"Kita kan nggak tau. Kalau tiba-tiba kepala gue retak gimana?"


"Gue sumpahin retak beneran."


"JAGA OMONGAN LO." Hendrik semakin mencengkram tangan wanita itu.


"Aww... sakit.. Iya iya sorry. Gue minta maaf. Gue tadi nggak sengaja nendang botol kaleng itu. Gue tadi badmood aja. Gue mohon.. Lepasin tangan gue, please. Gue janji deh, bakal turutin satu permintaan Lo."


Hendrik melepas cengkramannya. "Lo harus nemenin gue seharian disini."


"Seharian? Gue nggak bisa. Jam 10.00 nanti, gue harus interview. Dan sekarang udah jam, 09.30? Wah, gue bisa telat nih. Lain waktu iya. Gue minta maaf seklai lagi." Wanita itu langsung kabur begitu saja.


"WOY, CEWEK CEREWET. GUE BELUM BILANG APA-APA, TAPI LO UDAH PERGI. AWAS AJA KALAU KETEMU."


Flashback Off.


.


"LO?"


"Lo yang dulu pernah nimpuk kepala gue sama botol kaleng kan? Ngapain Lo disini?" Hendrik berdiri dari duduknya.


"Lah Lo sendiri? Ngapain disini?" Dita tidak mau kalah.


"Ini Mansionnya William, Bos gue." Ucap Hendirk dnegan sombongnya.


"Owh gitu. Tapi kok Lo ada disini?"


" Gue udah dianggep sebagai adik sama William. Lo sendiri? Ngapain disini? Owh, Lo mau maling iya?"


"Enak aja. Gue bukan maling." Bela Dita.


"Terus? Kenapa Lo ada disini?" Hendrik menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.


"Gue sahabatnya Viola. Viola yang ajak gue tinggal disini." Tiba-tiba lidah Dita terasa berat untuk berbicara.


"Emangnya Lo nggak punya tempat tinggal?" Sekarang, tangan Hendrik berpindah ke kedua saku celananya.


"Punya. Tapi panjangkan ceritanya."


"Bikinin gue kopi." Entah kerasukan dari mana, tiba-tiba Hendrik mengubah topik pembicaraan dan mengubah ekspresinya secara bersamaan.


"Bikin aja sendiri. Emangnya gue ini, Babu Lo apa?" Saat Dita ingin melangkahkan kakinya. Tiba-tiba tangan Hendrik mencegahnya. Dengan cepat, Dita langsung menarik tangannya dengan kuat, agar terlepas dari cengkeraman Hendrik.


"Lo hobi banget pegang-pegang tangan gue." Pekik Dita.


"Lo belum membayar janji Lo. Jadi, selama Lo tinggal disini. Semua kebutuhan gue, Lo yang urus."


"Enak aja. Gue cuma nggak sengaja nendang botol kaleng itu smapai kena kepala Lo, dulu. Kenapa Lo malah suruh gue jadi Babu Lo? Kan perjanjiannya cuma satu permintaan doang."


"Itu, gue kan cuma minta satu permintaan."


"Tapi Lo terlalu nyiksa gue tau nggak? Disini kan banyak Asisten Rumah Tangga, kenapa nggak suruh mereka aja? Kenapa harus gue?"


Hendrik berjalan selangkah mendekati Dita. Tiba-tiba jantung Dita berdetak dengan cepat.


"Kalau sedekat ini, kenapa jantung gue kayak habis lari marathon 5 kilometer." Batin Dita.


"Gue maunya Lo yang siapain semua keperluan gue disini. Kalau nggak, jangan harap gue bisa membuat hidup Lo tenang." Setelah berbisik ditelinga Dita, Hendrik langsung berjalan pergi dari meja makan. Dia meninggalkan Dita sendirian yang masih mematung.

__ADS_1


__ADS_2