
"Sayaaaannggg..." Rengek William sambil memeluk pinggang Viola dengan kedua tangannya.
.
.
.
.
.
Seminggu berlalu, kini Viola sudah boleh pulang ke Mansion.
Viola duduk diatas ranjang kamarnya bersama Dita. "William dimana?" Tanya Viola.
"Lo nanya William mulu dari tadi, Lo gak kangen sama gue? Gue sahabat Lo yang paling cantik loh." Ucap Dita dengan nada yang dibuat-buat.
Viola terkekeh mendengar ucapan Dita yang seperti anak kecil. "Maaf ya, gue belum ingat sepenuhnya." Ucap Viola yang merasa bersalah karena tidak mengingat sahabatnya sendiri.
"It's okay, gapapa. Gue bakal buat Lo ingat lagi sama gue. Oh ya, soal William dia tadi pergi sama si Curut."
"Kemana ya?"
"Iya mana gue tau, gue kan bukan Asisten pribadinya."
"Iya juga ya."
.
🥀🥀🥀🥀🥀
Diruangan yang gelap, William duduk di kursi kebesarannya. "Bawa dia kesini." Ucapan William dengan penuh tekanan, seakan menyimpan amarah yang sangat mendalam.
Hendrik yang diperintah oleh William pun, langsung membawa seseorang yang selama ini telah disekap di penjara bawah tanah yang ada di Markas.
BRAKKK
Seorang laki-laki tersungkur tepat dihadapan William. William langsung berdiri dan menghampiri pria tersebut dengan tatapan yang sangat tajam.
"Pilih sekarang atau nanti?" William memberikan dua pilihan kepada laki-laki itu.
"LEBIH BAIK GUE MATI SEKARANG, BANGS*T."
PLAKKKK
Satu tamparan melayang dipipi laki-laki itu. Bukan William yang melakukannya, melainkan Hendrik. "BERANI-BERANINYA LO..." Belum selesai berbicara, William menyuruh Hendrik untuk keluar dari ruangannya. Dan membiarkan laki-laki itu bersama William, berdua saja.
Setelah Hendrik keluar ruangan, William mengambil pisau kecil dari sakunya. "Main-main dulu lah."
"BUNUH GUE SEKARANG, GOBL*K." Ucap laki-laki itu dengan amarahnya.
__ADS_1
William menghiraukan ucapan laki-laki itu. Dia mulai mendekat dan mulai melukai jari-jari laki-laki itu.
AAARRGGHHH..
"BANGS*T." William tanpa ampun, mencuil saru persatu kuku dari jari jemari laki-laki itu.
"Mau dengar cerita gak?" Tanya William dengan bodohnya. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu, padahal musuhnya sudah mau dibunuh.
"BUNUH GUE SEKARANG!! BUNUH GUE!!" Teriak laki-laki itu yang meronta-ronta kesakitan.
William mulai menggores kulit laki-laki itu sambil tersenyum puas dengan apa yang dia lakukan. "Jadi gini, dulu gue punya musuh. Dia selalu buat masalah sama gue, terus gue marah. Eh terus gak sengaja gue tembak 5 kali di kepalanya. Lucu banget ya." William terus menulis dihampir seluruh kulit yang ada dikedua tangan laki-laki itu.
"MAFIA GILA."
"Gue anggap itu sebagai pujian." Kini William berpindah tempat. Dia menancapkan pisaunya di pipi kanan laki-laki itu.
AAARGGGHHHH...
"SIAPA?" Kini tatapan William bertemu dengan laki-laki itu. Tatapan pembunuh yang dimiliki William sangat menyeramkan dan membuat siapapun yang menatapnya pasti merinding.
"Tu-tuan Sam." Sekarang mulut laki-laki itu terasa sangat ringan untuk berbicara dengan jujur.
DORR..
DORR..
DORR..
Tiga tembakan, tepat di kepala, perut dan jantung laki-laki itu. Seketika laki-laki itu mati ditempat.
"Baik."
.
🌻🌻🌻🌻🌻
Setelah membersihkan dirinya dari cipratan darah, William langsung memilih untuk kembali ke Mansionnya dan bertemu Viola.
Sesampainya di Mansion, William langsung berlari menuju kamar Viola. Untung tidak ada orang yang melihat, karena Zein dan Momy Zaskia pulang ke Mansion utama. Sedangkan Dita, sedang didapur untuk membuatkan makanan khusus untuk Viola.
"Sayangg.." William membuka pintu kamar Viola. Terlihat Viola sedang duduk diatas ranjang sambil membaca buku.
Viola tersenyum melihat William. "Peluk aku, please." Batin Viola.
Dan William langsung memeluk Viola. Seakan-akan dia tau apa yang diinginkan Viola.
Dengan senang hati, Viola menerima pelukan William. "Kangen." Viola mengucapkan kata itu tidak sengaja.
William langsung melepas pelukannya. "Apa? Kamu kangen sama aku? Uh, Viola sayangku." William tiba-tiba bersikap manja sekali. William juga langsung mencubit kedua pipi Viola, karena dia sangat gemas sekali dengan salah tingkah Viola.
"Ih apaan sih, aku tadi gak bilang kangen kok." Viola sangat malu dan salah tingkah gara-gara perlakuan William.
__ADS_1
"Nggak usah gengsi, sayang." Ucap William sambil membenarkan posisi duduknya, agar dia bisa menyandarkan kepalanya di bahu Viola.
Jantung Viola terasa marathon, sekarang dia sangat gugup jika ada William disampaingnya.
"Sayang, capek.." Rengek William sambil memeluk Viola dari samping.
Entah dari mana keberanian itu datang, Viola langsung mengelus-elus kepala William. William merasa sangat bahagia dengan perlakuan Viola. Dan dia pun menutup matanya untuk merasakan sentuhan yang selama ini dia rindukan.
"Capek kenapa?" Tanya Viola.
William masih menutup matanya. Tidak ada jawaban apapun dari William. Karena merasa tidak dihiraukan, Viola langsung melihat ke wajah William.
"Apakah dia tunangan gue? Tampan sekali, mimpi apa gue bisa bertunangan dengan pangeran tampan ini." Batin Viola.
Dan ternyata, William tertidur. Viola langsung membenarkan posisi mereka untuk berbaring. William masih setia memeluk Viola di dalam tidurnya.
.
🌺🌺🌺🌺🌺
"Bagaimana kelanjutan dari rencana ini?" Tanya seorang wanita yang memakai baju merah yang sangat ketat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Zoni Mati." Ucap seorang laki-laki yang duduk di kursi sambil menghisap rokoknya.
"APA?? LALU BAGAIMANA RENCANA KITA?" Tanya wanita itu yang terkejut mendengar Zoni telah tiada.
"BATALKAN SEMUANYA. Kita buat rencana baru."
"Gue tunggu sampai besok. Kalau besok belum ada kejelasan di rencana kita, semua perjanjian kita BATAL." Wanita itu pergi meninggalkan laki-laki itu yang masih setia dengan rokok dan Billionaire Vodka yang ada dihadapannya.
"Gue akan pastikan, kebahagian terbesar William akan pergi. Dan dia akan merasakan, bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang dia cintai." Batin laki-laki itu.
.
⚘⚘⚘⚘⚘
"He'em laki bini baru keluar jam segini." Cibir Hendrik saat melihat Viola dan William yang baru saja turun dari tangga.
"Iri? Bilang Bos." William mencibir balik Hendrik.
"Gak sih, ngapain gue iri sama kalian. Berhubung ini sudah jam 10, kalian pesen makanan sendiri. Soalnya semua asisten disini, dibawa Momy Zaskia ke Mansion utama. Terus sahabat Lo, Vi. Dia tadi pagi pamit keluar." Ucap Hendrik panjang dan lebar.
"Dita kemana?" Tanya Viola.
"Mana gue tau, gue bukan Bapaknya." Ucap Hendrik sambil berjalan meninggalkan Viola dan William yang terlihat heran dengan tingkah Hendrik.
"Dasar Bocah." Cibir William.
"Kamu juga sama, kayak bocah." Viola terkekeh dengan perkataannya sendiri.
"Sayaaaannggg..." Rengek William sambil memeluk pinggang Viola dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Tadi aja sikapnya cool banget, sekarang sudah balik lagi sikap anak kecilnya." Batin Viola.
Karena gemas, Viola mengacak-acak rambut William. Bukannya marah, William malah tersenyum bahagia dengan perlakuan Viola.