
~"Gue udah punya firasat sejak awal. Tidak mungkin kalau Cabe-cabean itu tinggal di sini tanpa ada sebabnya. Pasti mereka merencanakan sesuatu. Tapi, kita lihat aja nanti, siapa yang akan terjebak permainannya sendiri" Batin Viola.~
.
.
.
.
.
🌻🌻🌻🌻🌻
William kini berada di Markas kedua Black WV Diamond Bloods dengan memakai jubah hitam yang tertuliskan Leader.
Semua Mafioso menunduk saat William melewati mereka.
BRAK..
William menendang pintu ruangan pribadinya sendiri. Di sana Hendrik tampak terkejut melihat pintu ruangan yang sudah tidak menempel di dinding lagi.
"Ya ampun, Will. Udah 1550 kali Lo rusakin pintu ini. Astaga.." Ucap Hendrik yang tidak habis pikir dengan jalan pikirannya William.
"Halah, Bacot. Gimana kemarin?" Tanya William. Jika di Markas kedua, William tidak pernah membuka jubah kebesarannya. Karena Markas kedua ini, tidak dilengkapi peralatan dan senjata secanggih yang ada di Markas utama. Dan kebanyakan Mafioso baru ada Markas kedua.
"Di ruang penyiksaan."
Setelah mendengar ucapan Hendrik, William langsung berjalan ke ruang penyiksaan.
"Untuk kesekian ribu kalinya. Gue harus benerin pintu ini." Gerutu Hendrik sambil melihat William yang telah memasuki ruangan penyiksaan. Karena ruangan penyiksaan memang terhubung dengan ruangan pribadi William yang ada di Markas kedua.
Di ruang penyiksaan hanya ada satu lampu yang cahayanya lumayan redup. Di sana udah ada seorang pria yang diikat diatas kursi dan terlihat sekali kalau dia udah tidak berdaya untuk melawan. Dia adalah pemimpin yang melakukan penyerangan di Markas kedua milik William. Yah walaupun pria itu udah lumayan tua, tapi dia terlihat bugar dan sehat.
"Siapa Bosmu?" Tanya William sambil membuka jubahnya. Karena di ruang penyiksaan, sangat privasi dan sistem penjagaannya sangat ketat.
"CUIH, SAYA TIDAK AKAN KASIH TAU KE ANDA."
"Nyawa udah diambang kematian, masih aja banyak bacot." William mengambil pisau tumpul yang ada di didinding ruangan penyiksaan.
William mendekati pria itu. "Kalau anda masih tutup mulut. Mari kita bermain dulu, sebelum malaikat mau menjemput."
William menuliskan namanya dengan pisau tumpul dilengan pria itu. "AAARRGGGHHH...." Teriakan kesakitan mulai menggema di ruang penyiksaan.
"AAARRGGGHHH... Dasar Psikopat."
"Gue suka pujian anda." Ucap William sambil tersenyum.
__ADS_1
Darah segar mulai mengalir dari lengan pria itu. "Karyaku emang tidak usah diragukan." William memuji dirinya sendiri karena telah selesai menuliskan namanya dilengan pria itu.
"Dasar Psikopat. Lepasin saya.." Pria itu memberontak, namun tidak membuahkan hasil apa-apa. Karena ikatannya terlalu kuat.
Kini William beralih ke perut pria itu. "Udah lama gue nggak lihat hati manusia. Mari kita lihat." William membelah perut pria itu. Dan keluarlah semua yang ada didalamnya.
"AAARRGGGHHH... IBLISS.."
William terus mencari apa yang dia inginkan dan menghiraukan teriakan kesakitan dari pria itu.
"TUAN SAM-SAMUDRAAAA..." Teriakan terakhir dari pria itu sebelum ajal menjemputnya.
"Huh, akhirnya dapat juga hati sama jantungnya. Yah, udah mati dia." William tampak tidak senang melihat pria itu mati.
"Padahal baru bermain sebentar, masa udah mati aja. Nggak asik nih bapak-bapak." Gerutu William sambil meletakkan jantung dan hati yang dia pegang ke atas meja.
William langsung memakai jubahnya lagi dan keluar dari ruang penyiksaan.
"Gimana?" Tanya Hendrik yang setia menunggu William di depan ruang penyiksaan.
"Bapak-bapak itu payah. Gue baru aja ambil jantung dan hatinya, tapi dia udah mati." Ucap William dengan santainya sambil berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
"Emang iya, kalau Psikopat dicampur Iblis iya begitu otaknya." Cibir Hendrik.
.
Di Mansion Pribadi William.
Call On.
"Hallo, Tuan Sam. Anda tidak perlu khawatir. Di sini, aman terkendali." Ucap Thalia.
"Bagus, beri kabar setiap hari. Karena permainan puncaknya tinggal menghitung hari."
"Baik, Tuan Sam. Anda tidak perlu khawatir."
Call Off.
Thalia tadi sedang berbincang-bincang dengan Tuan Sam via telpon di balkon. Tanpa dia sadari, Viola telah mendengar semua percakapannya dengan Tuan Sam.
"Gue udah punya firasat sejak awal. Tidak mungkin kalau Cabe-cabean itu tinggal di sini tanpa ada sebabnya. Pasti mereka merencanakan sesuatu. Tapi, kita lihat aja nanti, siapa yang akan terjebak permainannya sendiri" Batin Viola.
Viola langsung pergi ke kamar Dita. Sesampainya di kamar Dita, dia langsung mengunci pintunya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Zein. Karena sedari tadi, memang Zein ada di kamar Dita untuk meminta Dita agar mengajarinya belajar.
"Nggak ada apa-apa, Zein. Gimana belajarnya?" Tanya Viola yang berusaha bersikap tenang dihadapan Zein.
__ADS_1
"Kak Viola nggak usah mengalihkan pembicaraan. Kak Viola kenapa?" Tanya Zein sekali lagi.
"Iya, Vi. Lo kenapa?" Tanya Dita.
"Kalian harus hati-hati sama Cabe-, eh maksudnya Thalia sama Thalita." Ucap Viola.
"Emangnya kenapa, Kak?"
"Kayaknya mereka ada niatan jahat deh." Ucap Viola.
"Gue aja yang baru kenal sama mereka, udah ngerasain hal-hal aneh sama mereka. Tapi, gue nggak mau ikut campur aja sama urusan mereka." Ucap Dita.
"Iya, Kak. Zein juga nggak suka sama Kakak-kakak itu. Udah jelek, nggak bisa masak, bisanya cuma dandan doang. Zein juga nggak suka sama pakaiannya. Sangat kurang bahan." Cibir Zein.
"Zein kalau ngomong suka benar." Puji Viola sambil terkekeh mendengar ucapan Zein.
"Seharusnya mereka tau dong. Kalau disini ada anak kecil, setidaknya mereka nggak memakai tank top anak TK sama rok anak SD dong." Dita juga mencibir gaya berpakaian Thalia dan Thalita.
"Udah-udah malah jadi ngeghibahin orang yang nggak penting. Mendingan kita ke atap aja, buat siapin perlengkapan BBQ-an." Ucap Viola.
"Oh iya, malam ini kan Kak Will ngajakin kita Bakar-bakaran di atap. Ayolah, berangkat ke atap." Zein berlari duluan meninggalkan Viola dan Dita yang tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Oh iya, Vi. Kapan Hendrik bakal pulang?" Tanya Dita dengan ragu.
"Cye, kayaknya kangen banget nih sama Hendrik." Ledek Viola sambil menyenggol pelan lengan Dita.
"Apaan sih, Vi. Gue kan cuma pengin tau aja."
"Kayaknya Hendrik bakal pulang malam ini deh. Nggak mungkin kan, kalau Kak Will buat acara kayak gini tanpa kehadiran Hendrik." Viola merangkul Dita sambil berjalan ke atap.
"Emangnya, Hendrik itu sahabat atau adiknya William sih?"
"Dua-duanya. Karena awalnya mereka bersahabat dan Hendrik diangkat anak sama Papa Satria. Jadi, mereka bersaudara rasa sahabat."
"Emangnya, kemana Orang tuanya Hendrik?"
"Kak Will pernah cerita ke gue, kalau orang tua Hendrik telah meninggal dunia."
"Dia pasti sangat merasa kesepian." Tiba-tiba saja, Dita merasa sedih mendengar ucapan Viola.
"Iya nggaklah. Kan di sini ada Kak Will, gue, Lo, Zein terus ada orang tuanya Kak Will juga yang udah angkat Hendrik jadi anak mereka."
"Iya juga sih."
Sesampainya di atap Mansion, Viola dan Dita terkejut melihat apa yang terjadi di sana.
"ZEIN...
__ADS_1