Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-022~


__ADS_3

~"Terimakasih. Karena kamu mau menerima segala kekuranganku. Aku bahkan sepertinya tidak pantas kalau harus memilikimu. Hati kamu terlalu sempurna untukku yang bukan apa-apa ini. Bahkan aku jauh dari kata baik."~


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Tersisa laki-laki bertopeng tadi yang menodongkan Katana kearah Viola.


"AJALMU. SEMAKIN DEKAT." Teriak Viola yang langsung menyerang laki-laki bertopeng itu dengan bruntal.


BUGH..


BUGH..


BUGH..


SREK..


"Aww..." Rintih Viola. Lengan kanan Viola terkena Belati laki-laki bertopeng itu. Namun, Viola tetap melanjutkan perkelahiannya.


BUGH..


PLAK..


SREK..


"KABUR SEMUA." Ucap laki-laki bertopeng itu dan langsung dituruti anak buahnya.


Viola dengan sempoyongan, kembali kedalam mobilnya. "Aww.. lumayan sakit juga nih. Darahnya terus keluar lagi." Saat Viola ingin mengambil P3K. Tiba-tiba ponsel Viola berdering.


Viola mengambil ponselnya. "Kak Will? Ngapain Kak Will telpon?"


Call On.


"Hallo, Vi. Kamu dimana? Kamu belum berangkat? Atau masih di jalan? Kamu ke Kantor iya sekarang. Aku tunggu 10 menit." William mematikan telponnya secara sepihak.


Call Off.


"Gue aja belum sempat jawab semua pertanyaannya. Tapi dia langsung tutup aja telponnya." Gerutu Viola.


"Eh, penampilan gue acak-acakan kayak gini mau langsung ke Kantor? Apa kata semua orang nanti? Tapi? Cuma dikasih Kak Will 10 menit. Gimana dong? Tau ah. Terserah mereka mau bilang apa. Yang penting gue harus sampai di Kantor tepat waktu." Viola melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


8 menit kemudian. Viola sudah memarkirkan mobilnya dan langsung berlari menuju lantai 10. Penampilan Viola yang terbilang acak-acakan dan darah terus mengalir dari lengan kanannya, karena dia lupa untuk mengobatinya tadi. Membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Dari yang berlari memasuki pintu Kantor, sampai dia masuk kedalam Lift. Mata para Karyawan tidak lepas dari Viola.


"Bu Viola kenapa?"


"Nggak tau. Habis berantem mungkin."

__ADS_1


"Masa penampilannya Sekertaris CEO kayak gitu. Nggak sopan."


"Dia itu bukan Sekertaris sembarangan. Kan selama ini, Pak William selalu merekrut Sekretaris laki-laki. Pasti ada yang spesial dari Bu Viola. Sampai Pak William mau merekrut dia sebagai Sekretaris Pribadinya. Bu Viola juga Sekretaris wanita pertama yang Pak William pilih."


"Iya juga sih. Selama ini kalau Pak Rey ada tugas ke Luar Negeri, pasti Pak William mencari Sekretaris laki-laki untuk membantunya."


"Lah iya kan?"


"Tapi, gue masih penasaran. Kenapa penampilan Bu Viola kayak gitu?"


"Mungkin habis berantem. Lo nggak lihat, tadi lengannya berdarah."


"Iya juga sih."


Itulah perkataan beberapa Karyawan yang melihat Viola tadi.


.


🌺🌺🌺🌺🌺


Viola memasuki ruangan William tanpa mengetuk. "Selamat pagi, Pak."


"Pagi." William yang tadinya menatap kelayar laptop, beralih menatap kearah Viola yang mengucapkan selamat pagi.


William langsung berdiri dan berjalan dengan cepat, menghampiri Viola yang masih berdiri. William menarik Viola untuk duduk di Sofa. William langsung mengambil kotak P3K dilaci meja kerjanya.


"Viola, kamu kok bisa kayak gini?" William mengobati luka dilengan Viola.


"Tadi, ada yang tiba-tiba menembak kaca spion mobilku, Kak. Terus aku keluar buat ngecek. Saat aku mau masuk kedalam mobil, eh tiba-tiba ada yang menodongkan Katana ke leherku."


"Aku tadi berantem sama anak buah laki-laki itu. Terus, nggak sengaja kena Belatinya deh. Tapi, nggak pa-pa kok. Lukanya juga nggak terlalu dalam dan nggak sakit juga." Viola menatap William yang masih sibuk mengobati lukanya. Namun, mata Viola malah fokus kearah rahang William yang terlihat mengeras dan wajahnya seperti menahan amarah.


"Kak Will." Viola memegang pipi William dengan tangan kirinya. William menatap manik mata Viola.


"Aku nggak pa-pa kok. Kak Will jangan marah." Ucap Viola dengan hati-hati.


William mendapat usapan lembut dari Viola. Itulah yang meluluhkan amarahnya. William tersenyum kearah Viola. "Kak Will nggak marah kok. Kak Will cuma khawatir sama kamu." William mencubit hidung Viola dengan pelan.


"Kak Will nggak usah khawatir. Viola kan kuat." Ucap Viola yang mendapat kekehan dari William.


"Viola. Kembalilah ke Mansion."


"Tapi, Kak. Viola sekarang nggak sendiri. Viola punya sahabat yang harus Viola jaga. Dan nggak mungkin kan, kalau Viola tinggalin dia sendirian."


"Aku tau kok, Vi. Kamu boleh membawanya ke Mansion kalau dia mau." William mengelus-elus rambut Viola.


Viola tersenyum keraha William. "Baiklah, Kak. Besok Viola akan kembali ke Mansion."


William langsung memeluk Viola dengan tulus. "Terimakasih, Vi."


"Iya, Kak."


William melepas pelukannya. "Sekarang, kamu bersih-bersih dulu. Kemeja kamu kotor tuh." Ucap William.


"Tapi, pakaianku ada di mobil."

__ADS_1


"Kamu tenang aja. Nanti, biar aku suruh seseorang buat ambil di mobil kamu."


"Iya, Kak. Oh iya, nanti jam 2 siang ada meeting, Kak. Semua materinya udah aku kirim lewat email tadi pagi."


"Iya, tadi aku udah baca dan pelajari semuanya. Kamu istirahat aja. Kelihatannya kamu capek." Ucap William sambil mengelus rambut Viola.


"Nggak usah, Kak. Aku nggak capek sama sekali. Iya udah kalau gitu, aku permisi ke kamar mandi dulu." Ucap Viola dan mendapat anggukan dari William. Viola langsung pergi dari ruangan William.


"Sial. Berani-beraninya ada orang yang melukai milikku. Aku tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang. Lihat aja, apa yang bisa gue lakuin." Gumam William.


Call On.


"Cari informasi. Siapa yang telah menyerang Viola pagi ini. Satu jam." Ucap Wiiliam dengan datar. William juga langsung mematikan telponnya saat dia selesai bicara. Tanpa mau mendengar jawaban dari anak buahnya.


Call Off.


Satu jam kemudian. Ponsel William berbunyi.


Call On.


"Saya sudah mendapatkan informasi tentang seseorang yang telah melakukan penyerangan kepada Nona Viola, King."


"Siapa?"


"Mereka adalah para Mafioso Crazy Bloods. Mereka diperintah oleh Leadernya, Tuan Sam."


"Oke." William mematikan telponnya.


Call Off.


William menyenderkan punggungnya ke meja kerjanya. "Setelah Kakaknya dibunuh Hendrik. Sekarang adiknya mulai beraksi untuk balas dendam. Tapi sekarang, gue yang bakal bermain dengannya. Karena dia telah berani melukai Viola." William menyeringai dengan ngeri.


Viola memasuki ruangan William tanpa mengetuk. Karena, William menyuruhnya seperti itu.


"Kak, ada bebeapa dokumen yang harus Kak Will tanda tangani." Ucap Viola sambil memberikan beberapa berkas kepada William.


Bukannya mengambil berkas itu, William malah menarik Viola hingga Viola terduduk dipangkuan William.


William langsung memeluk Viola dari belakang. "Kak Will ngapain sih? Nanti kalau ada yang lihat gimana?" Tanya Viola.


"Nggak akan ada yang bisa lihat kok." Ucap William dengan memejamkan matanya.


"Viola." Panggil William.


"Iya, Kak?"


"Terimakasih. Karena kamu mau menerima segala kekuranganku. Aku bahkan sepertinya tidak pantas kalau harus memilikimu. Hati kamu terlalu sempurna untukku yang bukan apa-apa ini. Bahkan aku jauh dari kata baik."


"Kak Will ini bicara apa sih? Apa Kak Will masih meragukan cintaku?"


William membuka matanya dan menatap kearah Viola yang sekarang sedang mengelus rambutnya. "Nggak, Vi. Aku nggak pernah meragukan cintamu."


"Kak Will. Viola itu cinta sama Kak Will. Jadi, apapun kelebihan dan kekurangan Kak Will, pasti Viola terima. Viola mencintai Will, apa adanya. Dan maaf, kalau kemarin-kemarin Viola bertingkah seperti anak kecil yang ngambek, terus kabur dari Mansion. Viola cuma butuh waktu buat menerima semuanya." Viola memegang kedua pipi William.


"Nggak pa-pa, Vi. Kamu nggak salah. Memang takdir selalu mempermainkan kita. Kak Will memaklumi kamu kok. I love you, Vi." William tersenyum dengan tulus kearah Viola.

__ADS_1


William langsung memeluk Viola dan Viola pun dengan senang hati membalasnya.


__ADS_2