God Of Disaster

God Of Disaster
Deklarasi Perang


__ADS_3

"Aku membunuh mereka karena kejahatan yang telah mereka lakukan!"


"Hal itu memang pantas bagi mereka!"


Kemudian sang dewa naga dengan tenang memberi tahunya alasan beliau membunuh orang tuanya, seketika Elena pun menangis histeris, hatinya hancur berkeping-keping karena rasa kesedihan yang menyerangnya.


"A-apakah tuan akan membunuhku juga....."


"Hiks~"


Elena berpikir bahwa memang benar bahwa sang dewa naga akan memusnahkan umat manusia, maka ia juga pasti akan mati di tangan beliau, sembari berlinang air mata Elena menatap sang dewa naga dengan tatapan sedih.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya!"


"Me-mengapa?"


"Bukankah saya adalah manusia yang hina, sama seperti mereka?"


Elena terkejut dengan jawaban dari sang dewa naga, itu benar-benar berbeda dari yang ia kira, sang dewa naga menolak untuk membunuh Elena.


"Engkau adalah seorang gadis suci yang mulia, jangan samakan mereka denganmu!"


"Ta-tapi, saya adalah gadis persembahan belaka...."


"Saya tidak pantas mendapatkan posisi tersebut...."


Segala emosi yang bercampur di dalam hatinya meluap karena ia tidak bisa lagi menahannya, Elena tidak bisa menerima dirinya sendiri dan menganggap keberadaannya di dunia ini tidaklah pantas.


"Itu adalah keputusanku, engkau tidak berhak untuk menentangnya."


"Engkau juga mempunyai hak untuk hidup bebas seperti orang lain!"


"Aku akan menunjukkan padamu sebagian kecil keindahan yang masih tersisa di dunia busuk ini!"


"Sa-saya mengerti....."


"Maafkan hamba atas kelancangan hamba...."


Akhirnya Elena mulai merasa tenang, ia perlahan mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya, Elena segera meminta maaf kepada sang dewa naga atas perilakunya tersebut, Elena sadar bahwa ia telah kehilangan kebdali akan emosinya dan sudah mengatakan hal yang sangat tidak sopan kepada beliau.


"Apa sekarang engkau membenciku Elena?"


"Setelah aku membunuh kedua orang tuamu!"


Sang dewa naga menatap Elena dengan tajam, melihat hal itu Elena pun menundukkan sedikit pandangannya.


"Ti-tidak, saya tidak membenci tuan....."


"Orang tuaku memang bersalah...."


Elena menjawab pertanyaan itu dengan nada lemah, tampak sangat jelas kesedihan yang masih tersisa di wajahnya, namun ia mencoba menyembunyikannya.


"Saya pasti akan menanggung dosa-dosa kedua orang tuaku....."


"Jadi kumohon, maafkanlah mereka....."


Elena bersujud di hadapan sang dewa naga, ia memohon dengan segenap hatinya kepada sang dewa naga, Elena meneteskan air matanya yang masih tersisa sembari berharap belas kasihan darinya.


"Angkatlah kepalamu!"


"Ta-tapi....."


Sang dewa naga pun menyuruh Elena mengangkat wajahnya, namun Elena masih tetap bersujud di hadapan beliau.


"Engkau tidak perlu menebus dosa mereka, itu tidak ada kaitannya denganmu!"


"Aku telah memaafkanmu, jadi angkatlah wajahmu!"


"Te-terima kasih banyak tuan....."


Dengan tegas sang dewa naga menyuruh Elena berhenti melakukannya, akhirnya Elena pun menurutinya.


"Elena, apa engkau sidah memutuskan dimanakah engaku akan berpihak?"


"Baik, tuan...."


"Saya bersumpah dengan segenap jiwa dan raga, bahwa saya akan setia melayani tuan!"


Elena berlutut di hadapan sang dewa naga, ia bersumpah akan melayani beliau dengan sungguh-sungguh.


"Apa engkau sudah siap mengemban takdir ini Elena?"


"Baik!"


Elena telah memutuskan bahwa akan selalu mengikuti sang dewa naga, tak peduli meskipun ia harus membunuh seluruh umat manusia.


"Kalau begitu berdirilah!"


"Saya mengerti...."


Kemudian sang dewa naga mengulurkan tangannya kepada Elena dan membantunya berdiri, Elena pun tampak sedikit tersipu saat meraih tangan beliau.


"Baiklah sekarang beristirahatlah, besok kita akan melakukan perjalanan!"


"Baik....."


"Ummm..... ke manakah kita akan pergi?"


Sang dewa menyuruhnya untuk beristirahat, namun ia sedikit penasaran dengan perjalananya besok sehingga Elena pun mencoba bertanya kepada sang dewa naga.


"Kita akan mencari pedang yang baru untukmu!"


"Pedang merah yang aku berikan kepadamu tidak bisa menahan inkarnasi milikmu, karena itu hanyalah sebuah pedang imitasi!"


Akhirnya Elena mengerti jawabannya, sang dewa naga akan mencarikannya sebuah pedang baru untuknya, karena pedang yang sebelumnya ia pakai telah hancur berkeping-keping.


"Baiklah saya mengerti...."


Elena pun segera pergi beristirahat, ia harus memulihkan kembali tenaganya yang telah habis terkuras.


                        *****************


"Ada apa ini?!"


"Mengerikan sekali!"


"Waah, apa itu?!"


"Naga?"


Ada sekumpulan orang yang memakai jubah hitam dan masker sedang mengamati keadaan, mereka bertingkah layaknya mata-mata dari luar, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat sebuah kekacauan yang sangat mengerikan ini.


Di depan sana ada seekor naga raksasa yang sedang mengamuk meluluhlantahkan segalanya, banyak sekali orang yang tewas dan darah yang bercucuran, benar-benar keadaan yang mengerikan.


"Apa mereka sedang melakukan kudeta?!"

__ADS_1


"Entahlah.... tapi kita harus segera melaporkan situasi ini kepada sang raja!"


"Dimengerti!"


Salah seorang dari mereka segera menuliskan pesan di sebuah kertas, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah kantong yang ada di punggung seekor burung merpati.


"Pergilah!"


Lalu burung itu pun dilepaskan ke udara untuk terbang membawakan pesan yang ada di dalam kantong.


Crack~


"Siapa itu!!"


Namun tiba-tiba ada sebuah suara aneh yang muncul dari belakang mereka, seketika semua orang segera berbalik dengan posisi siaga.


"Tunjukkan dirimu!"


Dari balik bayangan tampak sesosok manusia yang berjalan dengan perlahan, suara langkah kakinya dapat terdengan dengan jelas, orang itu berjalan semakin dekat menuju mereka, seketika para mata-mata itu mengeluarkan senjata mereka dan membentuk sebuah formasi.


Ada seorang gadis yang berdiri sendirian di depan para mata-mata itu, seorang gadis biasa yang mengenakan pakaian kotor dan lusuh, melihat hal itu mereka pun menurunkan kewaspadaannya.


"Hei gadis kecil!"


"Apa kau tersesat?"


Salah seorang dari mereka mencoba mendekati gadis tersebut dengan ekspresi meledek, namun gadis itu hanya diam dan menatapnya dengan tajam.


"Hahaha.... kasihan sekali!"


"Cepat pulanglah!"


"Aghh....."


Laki-laki itu terus meledek si gadis dengan ekspresi menjijikkan, namun sebelum ia selesai tertawa tiba-tiba ia menjerit.


"Khaaa...."


Seketika darah mulai mengalir dari tubuh laki-laki itu, namun ia hanya bisa diam ternganga melihat perutnya yang tertembus oleh jari-jemari si gadis kecil di depannya.


"Hei apa yang kau lakukan!!"


Kemudian si gadis kecil itu pun mencabut tangannya dari dalam perut laki-laki tersebut, akhirnya si mata-mata itu pun jatuh tergeletak di atas tanah dengan tubuh bersimbah darah.


Semua orang terkejut melihat salah satu rekannya terbaring tidak bernyawa, tubuh mereka pun gemetarseakan tidak percaya dengan apa yang baru saa dilihatnya.


"Sialan, apa yang kau lakukan pada temanku!!"


Meskipun dimaki oleh para mata-mata itu dengan sangat kasar, namun gadis itu tetap tenang, ia hanya menunjukkan tatapan yang sangat tajam kepada mereka.


Kemudian si gadis tersebut mengangkat telapak tangannya yang berlumuran darah otu ke atas, dari ujung jari miliknya tampak kuku-kuku yang sangat panjang dan runcing, seketika para mata-mata itu pun menjadi sangat terkejut.


"Kau?!"


"Tidak mungkin...."


Tatapan mata gadis itu sangat mengerikan, seperti seekor serigala yang sedang membidik mangsanya.


"Iaaaaa......"


"Uwaaa...."


"Aggghhh....."


Di sebuah kamar istana yang megah, terdapat seorang pangeran muda yang duduk di tempat tidur miliknya, pangeran itu sedang meneguk minuman anggur yang ada di cawan emas miliknya, ia dikelilingi oleh beberapa wanita yang bersandar di tubuhnya, wanita-wanita itu memiliki paras yang cantik nan anggun dengan pakaian yang sangat menggoda.


Salah seorang dari mereka menuangkan anggur ke dalam cawan sang pangeran dengan hati-hati, sedangkan wanita yang lainnya melayani ***** birahi sang pangeran dengan penuh gairah.


Ini adalah sebuah pemandangan yang biasa bagi keluarga kerajaan, mereka sering melakukan hal-hal yang tidak senonoh dengan berbagai wanita demi memuaskan hasrat seksual mereka.


Tok-tok~


"Permisi tuan muda....."


Tiba-tiba suara terdengar dari luar kamar, ada seseorang yang mengetuk pintu dengan cukup keras, hal itu membuat orang-yang ada di dalam kamar tersebut terhenti.


"Siapa disana!"


"Ini saya tuan, kesatria Fernix...."


Dengan suara yang lantang, sang pangeran pun bertanya kepada orang yang ada di balik pintu tersebut, lalu ia pun menjawab pertanyaan darinya, ia mengaku sebagai seorang kesatria kerajaan.


"Masuklah!!"


"Baik, permisi tuan....."


Sang pangeran pun mempersilahkan orang itu masuk ke dalam, dan seketika itu juga para wanita yang ada di dalam kamar tersebut segera menutupi kembali tubuh mereka dengan pakaiannya.


"Apa yang kau lihat hah!!?"


"Eh, ti-tidak tuan....."


"Saya tidak melihat apapun...."


Sang kesatria terkejut saat melihat para wanita yang ada di dalam ruangan itu dengan tubuh yang terbuka, tatapan matanya seketika tertuju pada wanita-wanita cantik tersebut, sungguh, ini adalah sebuah pemandangan yang sangat menggoda, ia pun segera memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindar, namun sang pangeran lebih dulu menyadarinya.


"Maaf mengganggu waktu anda tuan....."


"Ada urusan apa kau kemari!?"


Kemudian kesatria tersebut berlutut di hadapan sang pangeran dengan menundukkan kepala, wajahnya tampak sangat serius, sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu kepada sang pangeran.


"Baik, saya kemari atas perintah dari yang mulia..."


"Beliau ingin tuan muda menemui yang mulia saat ini juga...."


Kesatria itu pun menyampaikan pesannya kepada sang pangeran, mendengar hal itu sang pangeran pun memasang wajah yang tidak senang.


"Cih, mengapa harus sekarang!!"


"Kau membuang-buang waktuku saja!!"


"Pergi kau!!"


Sang pangeran pun marah karena waktu bersantai miliknya diganggu, ia pun membentak si  kesatria dengan sangat kasar.


"Ta-tapi tuan....."


"Ini adalah urusan penting....."


Namun si kesatria itu tidak menanggapi kata-kata sang pangeran, ia masih terus mencoba membujuk sang pangeran agar mau menuruti perintah dari sang raja.


"Dasar sialan!!"


"Apa kau berani menentangku hah!?"

__ADS_1


Pakk~


Tiba-tiba sang pangeran melemparkan cawan emas di tangannya menuju wajah si kesatria dengan sangat keras, cawan itu membentur wajahnya dan menumpahkan semua anggur yang ada di dalamnya, para wanita yang ada di dalam ruangan itu pun terkejut melihat kejadian tersebut, namun si kesatria hanya bisa diam tidak menghindar.


"Beraninya kau....."


"Cukup!!"


Saat sang pangeran akan beranjak dari tempat duduknya seketika sebuah teriakan yang keras terdengar, hal itu membuat semua orang berhenti termasuk sang pangeran.


"Hah?!"


"I-ibu?"


Kemudian sang pangeran pun menoleh ke arah sumber suara itu, dan seketika itu juga wajahnya yang emosi berubah menjadi terkejut, apa yang ia lihat adalah seorang wanita dengan pakaian mewah dan mahkota di kepalanya, yang tak lain adalah sang ratu itu sendiri.


"Hentikanlah tindakan kekanak-kanakanmu itu!"


"Cepatlah kemari!!"


Sang ratu pun menatap pangeran dengan sangat tajam, dengan nada bicara yang menyeramkan, beliau menyuruh sang pangeran untuk menemui sang raja, hal itu membuat pangeran menjadi ketakutan, ia menggigit bibirnya dengan sangat kuat untuk mengungkapkan kekesalannya.


"Baiklah...."


Akhirnya sang pangeran menuruti perintah sang ratu, ia pun berdiri dan meninggalkan kamar bersama kesatria itu, sedangkan para wanita yang laiinya tetap tinggal di sana.


Di dalam euang tahta yang sangat besar, terdapat banyak sekali orang yang berkumpul di hadapan sang raja, mereka adalah para petinggi kerajaan yang dipanggil untuk mengikuti sebuah pertemuan.


Sang pangeran pun masuk ke dalam ruangan tersebut bersama sang ratu dan si kesatria muda,  kemudian sang pangeran mengambil tempat duduk diantara para petinggi, ia memasang wajah suram seakan tidak senang dengan hal itu.


"Apa semuanya sudah berkumpul?"


"Benar yang mulia...."


"Baiklah, mari kita mulai pertemuan kali ini!"


Setelah semua orang hadir, sang raja pun segera memulai pertemuan tersebut, dari ekspreainya yang serius, sepertinya beliau ingin membahas sebuah masalah penting.


"Kali ini kita mendapatkan sebuah pengumuman yang sangat mengejutkan!"


"Baru saja salah seorang mata-mata dari kerajaan kita mengirimkan sebuah pesan yang berisikan laporan bahwa ada sebuah masalah yang terjadi di Kerajaan Erest!"


Salah seorang petinggi berdiri dari kursinya dan mulai menyampaikan pesan kepada sang raja, semua orang mendengarkan dengan seksama apa yang petinggi itu katakan, namun sang pangeran tidak memperdulikan hal itu, ia hanya bersandar di kursi miliknya sembari memejamkan mata.


"Bebeapa hari yang lalu, Kerajaan Erest mengalami sebuah kudeta!"


"Seluruh keluarga kerajaan telah dihabisi, dan raja dari negeri itu berhasil diturunkan dari tahtanya!"


"Hah? Apa katamu!!"


Awalnya sang pangeran bersikap acuh dan seakan tidak ingin ikut campur, namun saat medengar Kerajaan Erest telah di kudeta, ia pun segera menoleh ke arah petinggi itu dengan tatapan serius.


"Itu memang benar, orang-orang yang telah melakukan kudeta itu adalah para budak yang di sandera!"


"Mereka dipimpin oleh seorang misterius yang mengenakan jubah, kabarnya orang misterius itu bisa memanggil naga raksasa berkepala sembilan!"


Si petinggi tersebut pun melanjutkan kembali laporannya, mendengar hal itu, semua orang yang ada di dalam ruangan menjadi sangat terkejut, mereka memasang wajah ketakutan, namun tidak seperti yang lain, sang pangeran malah tampak sangat kesal karena peryataan itu.


"Naga?"


"Hei, berhentilah membual!!"


"Mana mungkin hal itu bisa terjadi!!"


Sang pangeran pun membentak si petinggi tersebut, ia memukul meja dengan sangat kuat hingga menghasilkan suara yang sangat besar, dengan nada yang kasar, ia memarahi si petinggi itu karena dianggap telah berbohong.


"Benar tuan, saya tidak berbohong!!"


"Jangan bercanda, aku tidak akan percaya kata-katamu!!"


Sang pangeran masih tetap bersikeras untuk tidak percaya, emosi miliknya meluap-luap tidak terkendali, sejak ia mendengar tentang situasi di Kerajaan Erest, sikap sang pangeran berubah drastis.


"Hmmm.... jika memang benar bahwa Kerajaan Erest mengalami kudeta, maka ini adalah kesempatan untuk kita!"


"Situasi di kerajaan itu pasti masih kacau, kita bisa memanfaatkan hal ini untuk menguasai mereka!!"


Sang raja tiba-tiba memotong pembicaraan, dengan sikap yang tenang dan berwibawa, beliau memikirkan sebuah strategi untuk memanfaatkan kekacauan tersebut sebagai cara menaklukan Kerajaan Erest.


"Ayah!!"


"Apa engkau masih saja memikirkan hal bodoh itu?!!"


Sang pangeran tidak terima dengan keputusan dari sang raja, ia bahkan bersikap sangat tidak sopan kepada sang raja.


"Diamlah Charles!"


"Aku mengerti perasanmu, pasti kau ingin menyelamatkan mereka bukan?!"


"Tapi bersabarlah, mungkin Raja Voorhess dan yang lainnya masih di sandera!"


"Kita bisa menyelamatkan mereka dan membuatnya di bawah pimpinan kita!!"


Sang raja dengan tenang menasehati pangeran, beliau memikirkan cara yang lebih efektif untuk menyelamatkan Raja Voorhess dan yang lainnya.


"Cih!!"


"Baiklah saya mengerti....."


Akhirnya sang pangeran menuruti perkataan sang raja, ia menggigit bibirnya dengan keras sebagai ungkapan kekesalannya.


"Baiklah semuanya, dengan ini aku menyatakan deklarasi perang kepada raja Kerajaan Erest yang baru!!"


"Semuanya, persiapkan seluruh pasukan!!"


"Kita akan berangkat besok pagi!!"


"Baik yang mulia...."


Dengan lantang, sang raja memgumumkan sebuah deklarasi perang terhadap Kerajaan Erest, para petinggi pun menuruti perintah tersebut dan segera pergi menyiapkan pasukan mereka.


"Ayah, biarkan aku ikut kali ini!"


"Hmm."


Saat sang raja ingin pergi meninggalkan ruang rapat, tiba-tiba sang pangeran menghentikannya dan mengatakan sesuatu.


"Lakukan sesukamu!"


"Baik!"


Sang raja hanya menoleh ke belakang dan mengatakan sepatah kata sebelum akhirnya berjalan pergi.


"Elena, tunggulah..."


"Aku pasti akan menyelamatkanmu!"

__ADS_1


__ADS_2