God Of Disaster

God Of Disaster
Fatamorgana


__ADS_3

Sing~


Sing~


Sang Dewa Naga dan Dewi Rubah terus bertarung dengan sangat sengit, pertempuran dahsyat itu menyebabkan daerah di sekitarnya hacur lebur.


"Hiaaa!!"


Sang Dewa Naga mengayunkan pedangnya kearah Dewi Rubah, dengan cepat serangan tersebut ditangkis olehnya.


Kemudian beliau menusukkan jari tangannya ke dada milik Dewi Rubah, Sang Dewa Naga meremas jantung Dewi Rubah dengan sangat kuat hingga hancur.


"Khhhaaa....."


Dewi Rubah memuntahkan darah dari mulutnya, kemudian darah yang menyembur tersebut mulai berubah menjadi cairan asam yang sangat kuat bahkan hingga melelehkan kulit Dewi Rubah.


"Hiiaaaa!!!"


Dengan cepat Dewi Rubah menebas tangan Sang Dewa naga hingga putus dan menusukkan katana miliknya ke dada beliau.


"Hiiaaa!!!"


Dewi Rubah menyayat dada Sang Dewa Naga dengan sangat dalam sehingga tubuhnya terkoyak dengan sangat dalam, tulang rusuk beliau patah dan menyemburkan darah beserta isi dadanya. Terlihat jantungnya yang masih berdetak dengan kencang, darah terus bercucuran di sekitarnya.


"Khuhukkk....."


"Jangan meremehkanku!"


"Hanya karena luka seperti ini saya tidak akan tumbang!"


"Sampai anda tersadar, saya tidak akan menyerah!"


Dewi Rubah mencabut potongan tangan milik Sang Dewa Naga yang tertancap di dadanya, meskipun jantungnya telah hancur namun ia masih sanggup berdiri, sungguh kemampuan di luar nalar manusia.


Kemudian Dewi Rubah membuang potongan tangan itu beserta jantung miliknya yang masih digenggam dengan erat, perlahan luka di tubuhnya mulai meregenerasi dengan sempurna.


"Aku tidak mengerti, mengapa engkau telah melakukan ini semua!"


"Bukankah sejak awal kita tidak bermusuhan satu sama lain?"


"Mengapa engkau begitu tertarik kepadaku, apakah aku sangat berharga bagimu?"


Gumpalan darah tumbuh di bekas potongan tangan beliau, perlahan gumpalan itu mulai membentuk daging menyerupai tangan milik Sang Dewa Naga, luka-luka di tubuhnya pun mulai pulih seperti semula.


"Ah benar, anda adalah aset paling berharga bagiku!"


"Saya ingin anda bertarung di sisiku untuk menghancurkan dunia ini, engkau memiliki kekuatan untuk melakukannya!!"


"Namun meski begitu..... Dirimu yang telah terperdaya oleh rayuan gadis itu membuatku sangat kesal!"


"Dia telah mengambil anda dariku, tidak bisa dimaafkan!"


Dengan cepat Dewi Rubah kembali menyerang Sang Dewa Naga, dalam sekejap mata katana miliknya berhasil menyayat leher beliau dengan sangat dalam, bahkan setengah dari otot lehernya telah terputus.


"Ghhh....."


Darah menyembur dari bekas luka yang beliau terima, seketika keseimbangan tubuhnya mulai goyah dan Sang Dewa Naga akan terjatuh.


Namun kesadaran milik Sang Dewa Naga belum menghilang sepenuhnya, kemudian beliau pun memutar tubuhnya dan langsung menyelimuti diri dengan keenam sayap naganya untuk melindungi tubuh dari serangan yang akan datang.


"Hiiaaa!!!"


Dan benar, sayatan katana bertubi-tubi menuju Sang Dewa Naga, berkat sayap naga itu dirinya berhasil terlindungi dari luka yang lebih parah. Sang Dewa Naga menghempaskan keenam sayapnya ke segala arah menyebabkan angin berhembus kencang.


"Sea of Blood!"


Dengan segumpal darah menetes dari ujung telunjuk tangan Sang Dewa Naga, muncul getaran yang sangat kuat dari dalam tanah, seluruh daratan telah dibanjiri oleh darah membuatnya tampak seperti sebuah lautan.


Dan setiap serangan milik Dewi Rubah yang datang ke arah Sang Dewa Naga, gumpalan darah dengan cepat menyembur ke atas menghalau serangan tersebut.


Gumpalan-gumpalan itu terus membentuk sebuah ombak yang menyerang Dewi Rubah tanpa henti, tidak hanya sebagai pertahanan namun darah itu mampu menyerang musuh dengan sangat agresif.


"Selama engkau masih dalam jangkauanku maka darah itu akan terus menyerangmu!"


"Begitu pula sebaliknya, serangan yang kau berikan tidak akan bisa menggapaiku!"


"Bahkan tanah yang engkau pijak sekarang adalah darahku!"


Dewi Rubah terus menghindar dari serangan Sang Dewa Naga, namun mustahil untuk keluar dari zona kematian itu karena seluruh daratan telah berubah menjadi lautan darah.


"Fallen leaf!"


Kring~


Kring~


Kring~


Dewi Rubah pun melompat dan mendarat di atas lautan darah, seketika getaran kecil muncul dari bawah telapak kakinya mirip sebuah daun yang jatuh di atas air. Suara lonceng pun bergemericik karena aksesoris yang ia kenakan, hal itu membuat gumpalan-gumpalan darah yang menyerangnya tidak dapat mengenai dirinya, Dewi Rubah terus menghindar sembari mencari cara untuk menyerang Sang Dewa Naga.


"Khihihi.....Sangat menarik!"


"Apakah anda lupa dimanakah ini?"


"Tempat ini adalah wilayah kekuasaanku, semuanya berada di bawah kendaliku!"


Saat Dewi Rubah mendarat di atas darah seketika sebuah pusaran angin menjulang menghempaskan bunga-bunga ke segala arah, dengan sekejap mata tempat itu diselimuti kabut tebal, pandangan mata pun menjadi sangat terbatas.


"Fatamorgana!"


Kring~


Sebuah mahkota bunga sakura jatuh di telapak tangan Dewi Rubah, kemudian ia menggenggamnya dengan erat, seketika kabut yang menyelimuti itu hilang. Tempat mereka berdiri pun berubah menjadi lautan yang sangat luas.

__ADS_1


Langit biru cerah dengan awan yang menghiasi angkasa, di bawah kaki mereka terdapat genangan air yang sangat jernih bagaikan sebuah kaca, bayangan mereka terpantul dengan sangat jelas.


"Huh?"


"Khihihi..... Selamat datang di dunia ilusi!"


Sang Dewa Naga menatap ke arah sekelilingnya, seluruh tempat itu telah berubah sepenuhnya, ia terjebak di dimensi buatan milik Dewi Rubah, hanya ada air dan langit di sepanjang cakrawala.


Kring~


Suara lonceng kembali terdengar, tidak lama kemudian Dewi Rubah mendarat di atas air dengan sangat anggun, ekspresi wajahnya tampak sangat menyeramkan, meski begitu itu tidak menghilangkan kesan mempesona pada dirinya.


"Nah sekarang terimalah ini!!"


"Hiiaaa!!!"


Sing~


Sing~


Sang Dewa Naga dan Dewi Rubah saling bertarung satu sama lain, beliau mengayunkan kedua pedangnya bertubi-tubi kearah Dewi Rubah, namun saat pedang itu berhasil melukai tubuhnya seketika Dewi Rubah menjadi uap air yang menguap begitu saja.


"Hmmm...."


Sang Dewa Naga merasa aneh akan hal itu, di saat yang sama tiba-tiba luka sayatan muncul di dada Sang Dewa Naga persis seperti yang ia berikan kepada Dewi Rubah. Tidak lama kemudian bayangan Dewi Rubah muncul di hadapan beliau dan kembali menyerangnya.


"Khihihihi...."


"Masih belum!!"


"Permainan baru saja dimulai!!"


Dewi Rubah terus menyerang Sang Dewa Naga dengan sangat agresif, namun setiap kali beliau berhasil melukainya maka tubuh Dewi Rubah seketika menghilang bagaikan sebuah ilusi. Dan luka yang diterima oleh Dewi Rubah akan kembali Kepada Sang Dewa Naga berkali-kali lipat.


"Khhh....."


"Hmmm, ada apa?"


"Apa anda terluka kekasihku?"


Dewi Rubah mengejek Sang Dewa Naga yang terluka akibat serangannya sendiri, ia bisa dengan bebas menyerang beliau dari segala arah, sementara itu bayangan dirinya yang asli tidak bisa ditemukan.


Sing~


Sing~


"Apa anda menyadarinya?!"


"Ini hanyalah sebuah ilusi!"


"Namun luka yang anda terima itu adalah sungguhan!"


"Meskipun sebanyak apapun anda mencoba menyerangku, diriku tidak akan pernah terluka!"


Sebanyak apapun Sang Dewa Naga menyerangnya, Dewi Rubah tidak bisa dikalahkan, bayangan asli dirinya tidak diketahui dengan jelas, sementara luka di tubuhnya semakin parah dan butuh sedikit waktu untuk bisa pulih kembali, hal ini membuat Sang Dewa Naga mengalami kesulitan.


Sing~


Sing~


"Bloody Thorns!"


Sang Dewa Naga menancapkan pedangnya ke dalam air, seketika darah mengalir membuat seluruh lautan menjadi merah, dari sana muncul duri-duri tajam yang mencabik-cabik tubuh Dewi Rubah dengan skala yang sangat besar.


"Percuma, semakin banyak anda menyerang diriku semakin dalam anda tenggelam dalam lautan ilusi ini!"


Sebelum tubuhnya menguap Dewi Rubah mengatakan hal itu kepada Sang Dewa Naga, kata-kata mengandung sebuah petunjuk untuk memecahkan ilusi ini.


"Hmmm..."


Kemudian Sang Dewa Naga pun tersadar akan sesuatu, beliau pun memejamkan matanya dan mulai mengosongkan pirikan.


"Khihihihi...."


"Hiiaaa!!!"


Sang Dewa Naga mengandalkan isting bertarung miliknya dengan sangat luar biasa, beliau dapat mengetahui arah serangan Dewi Rubah hanya melalui bunyi lonceng dan getaran air yang dihasilkan olehnya.


Sing~


Sing~


Sang Dewa Naga tidak membalas serangan Dewi Rubah, beliau hanya menangkisnya dan membelokkan serangan itu ke arah lain.


"Spring Breeze!"


Boom~


Katana milik Dewi Rubah berayun menuju Sang Dewa Naga dengan sangat cepat, kemudian beliau pun memiringkan pedangnya ke arah katana tersebut dengan tepat, seketika kedua bilah itu saling bergesekan satu sama lain, dan serangan milik Dewi Rubah meleset.


Lautan itu seketika terbelah, air terpecah dan menyembur ke arah yang berlawanan, hempasan angin dan energi yang sangat besar menerpa mereka.


"Dengan ini berakhirlah!!!"


"Hiaaa!!!"


Bayangan Dewi Rubah datang dari segala arah akan menusuk Sang Dewa Naga, namun beliau tidak melakukan apapun dan tetap menenangkan diri.


"Khhaaa..."


Seketika tubuhnya tertusuk dari segala arah dengan katana milik Dewi Rubah, Sang Dewa Naga tetap berdiri dengan tegak meskipun luka di tubuhnya sangat parah.


"Huh?"

__ADS_1


"Mengapa anda tidak melawan?!"


Dewi Rubah menyadari kejanggalan pada Sang Dewa Naga, ia menusukkan katana miliknya semakin dalam hingga mengoyak tubuhnya, namun Sang Dewa Naga tetap tidak merespon.


"Permainan ini telah selesai!"


Dari kelopak mata kiri Sang Dewa Naga mengalir darah yang sangat deras membasahi pipi beliau, kemudian perlahan Sang Dewa Naga membuka matanya.


"Huh?"


"Apa maksudmu?"


"Apa yang engkau lakukan?!"


Seketika seluruh dimensi itu retak bagaikan sebuah kaca, ilusi yang tercipta perlahan mulai hancur berkeping-keping, Dewi Rubah sangat terkejut akan hal itu.


"Tidak mungkin!!!"


"Bagaimana bisa engkau menghancurkan dunia ilusi ini!!!"


Saat dimensi itu hancur, seketika semuanya berubah menjadi seperti semula, altar dan kuil, serta hamparan bunga yang sama persis seperti tempat mereka bertemu pertama kali.


Dewi Rubah berdiri di hadapan Sang Dewa Naga dengan ekspresi kesal, ia tidak menyangka bahwa Sang Dewa Naga berhasil keluar dari lingkaran ilusi yang ia ciptakan.


"Bagaimana anda bisa melakukannya?!"


"Seharusnya anda tidak bisa keluar dari dimensi itu!"


Dewi Rubah pun menanyakan kepada Sang Dewa Naga akan hal itu, ia pikir semua itu mustahil, satu-satunya orang yang memegang kendali penuh atas dimensi itu adalah dirinya sendiri.


"Jika engkau mati di dalam mimpimu, maka engkau akan terbangun dari tidurmu!"


"Bukankah itu konsep yang sederhana?"


Sang Dewa Naga membalasnya dengan dingin, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, namun tatapan matanya terlihat sangat tajam.


"Khuhukkk....."


Meskipun beliau berhasil keluar dari dimensi itu, namun luka Yang diterimanya masih tersisa, karna itu bukanlah ilusi melainkan kenyataan. Darah terus mengalir dari dadanya yang terkoyak.


"Cih!!"


"Hampir saja diriku berhasil menaklukanmu!"


"Sebentar lagi berhasil!!!"


"Sayang sekali diriku harus mengulangi dari awal!!!"


Dewi Rubah menjadi semakin kesal, seketika aura yang sangat besar terpancar dari dalam dirinya, kesembilan ekor miliknya membentang seperti mahkota bunga yang mekar.


"Flowers Charm!!!"


Seketika seluruh bunga yang tumbuh di sekitar mereka mekar secara bersamaan, angin menerpa dengan sangat kuat menerbangkan serbuk sari yang halus ke udara. Saat serbuk itu menyebar ke segala arah seketika tubuh Sang Dewa Naga kembali membeku, beliau kesulitan menggerakkan tubuhnya.


"Saya sangat mencintai anda, mengapa anda tidak mengerti akan hal itu!"


Sang Dewi Rubah mengungkapkan perasaannya kepada Sang Dewa Naga, perasaan cemburu kepada Elena yang telah bersama beliau membuatnya ditelan oleh amarah.


"Karna itu kumohon....."


"Kembalilah kepadaku wahai kekasihku!!"


"Diriku sangat merindukanmu!!"


Dewi Rubah berjalan perlahan menuju Sang Dewa Naga, angin berhembus menerbangkan bunga-bunga ke angkasa, namun seketika waktu seakan terhenti begitu saja, bunga-bunga itu masih tetap melayang di udara.


Langkah demi langkah ia tempuh, sebuah aura yang sangat kuat terpancar dari dalam dirinya menyelimuti seluruh daratan, pandangan Sang Dewa Naga mulai terpaku kepadanya hingga kewaspadaannya pun menurun.


"Wahai kekasihku, mengapa engkau sangat tega kepadaku?!"


"Apakah engkau mengerti betapa hancurnya hatiku, melihatmu bersama dengan gadis itu!"


"Diriku lebih pantas untuk berada di sisimu!"


"Biarkanlah diriku ini memberimu kepuasan!"


Dewi Rubah pun memeluk Sang Dewa Naga sangat erat, ia membelai tubuh beliau dengan sangat lembut dan menggoda, sensasi berdebar-debar menyelimuti seluruh tubuh.


"Ahhhh...."


Dengan raut wajah yang tersipu, Dewi Rubah menyandarkan wajahnya di dada beliau, dapat terdengar jelas detak jantung milik Sang Dewa Naga yang menggema.


Kesadaran diri Sang Dewa Naga perlahan diambil alih oleh Dewi Rubah, tatapan matanya membuat beliau terperdaya, kedua pedang di tangannya pun terlepas dan jatuh ke tanah.


"Tubuh ini, jiwa ini hanya milik anda wahai kekasihku....."


"Janganlah engkau menyia-nyiakan diriku....."


"Aku bersumpah untuk setiap kepadamu, selamanya!!"


"Karena engkau adalah satu-satunya seseorang yang berharga bagiku!!"


Perlahan Dewi Rubah mendorong tubuh Sang Dewa Naga hingga membuatnya terjatuh, mereka berdua terbaring di atas hamparan bunga yang sangat Indah.


"Ahhh~"


"Rasakanlah detak jantungku, begitu berdebar-debar!"


"Terimalah Cinta tulus dariku wahai kekasihku....."


Dewi Rubah menggenggam tangan Sang Dewa Naga dan mengusapkannya di pipinya, kehangatan dan kelembutan yang sangat menawan begitu terasa hingga membuat Sang Dewa Naga terpesona, sungguh wanita yang menggoda.


Dewi Rubah kembali membuka kimono miliknya sehingga membuat lekukan tubuhnya tampak lebih jelas, pesona dan keelokan tubuh yang begitu menggoda, siapapun yang melihatnya pasti akan terpanah.

__ADS_1


"Tidurlah wahai kekasihku!!"


Tubuh Sang Dewa Naga tampak membeku dihadapan pesona Dewi Rubah, dengan perlahan Dewi Rubah pun mencium bibir Sang Dewa Naga dan membuatnya tertidur.


__ADS_2