
"Hiiaaa!!!"
Jenderal itu pun berlari menyerang sang samurai, dengan sigap samurai tersebut mengambil kuda-kuda, ia merendahkan posisi tubuhnya dengan kaki kanan di depan dan arah tubuh yang sedikit menyerong berlawanan.
"Grrraaaaa...."
Makhluk raksasa itu mencoba menerkam sang samurai itu, namun dengan cepat ia menahan rahang makhluk itu dengan katana miliknya, dorongan yang sangat kuat membuatnya terhempas jauh ke belakang, namun ia masih mampu mempertahankan posisi tubuhnya.
"Guntur Bumi!!!"
"Huh?"
Tiba-tiba jenderal itu menyerang si samurai dari atas, melihat hal itu samurai tersebut pun segera melompat menghindari serangan jenderal itu.
Kilatan-kilatan petir yang mengelilingi bilah pedangnya pun menyambar daerah di sekitarnya setiap kali jenderal itu mengayunkan pedangnya.
Sing~
Sing~
"Grrraaaa....."
Pertarungan tersebut berlangsung sangat sengit, sang samurai menjadi semakin terpojok dikarenakan serangan bertubi-tubi dari mereka.
Kedua orang itu saling beradu pedang di atas tubuh makhluk raksasa, makhluk itu terus menggeliat mencoba menerkam sang samurai dengan sangat agreaif, namun sang samurai dapat menghindarinya.
"Hiiiaaa!!!"
Jenderal itu mengayunkan pedang miliknya secara vertikal menuju kepala samurai tersebut, dengan cepat samirai itu menangkis serangan tersebut.
Namun tanpa ia duga jenderal itu memutar tubuhnya dengan cepat dan menebas pinggang samurai itu, karena samurai itu terkejut dengan serangan instan itu, pertahanan miliknya pun terbuka.
"Kkhhhh..."
Namun di saat-saat terakhirnya ia berhasil menahan serangan tersebut menggunakan katana miliknya, seketika tubuhnya pun terhempas ke belakang.
"Grrraaaa....."
"Khhhaaaaa...."
Dari arah belakang makhluk raksasa itu langsung menerkam tubuh samurai tersebut dan mencabik-cabiknya, giginya yang tajam menusuk lengan kiri samurai itu dengan sangat dalam dan menguncinya dari pergerakan, samurai tersebut pun menjerit dengan sangat keras.
"Sialan!!"
"Aagghhh...."
Sebagian besar tubuhnya tertahan oleh gigitan makhluk raksasa itu, ia mencoba meloloskan diri sembari merasakan rasa sakit yang amat dahsyat.
"Tamatlah riwayatmu!!"
Jenderal itu pun langsung menyerang samurai tersebut, dengan segenap tenaga yang dimilikinya samurai itu mengangkat katana miliknya dan menusukkannya ke rahang makhluk raksasa itu.
"Hiiiaaaa!!!"
"Teknik rahasia, kabut kematian!!"
Seketika bilah katana miliknya mengeluarkan kabut tebal yang menyebar dengan sangat cepat.
"Grrraaaa...."
Di saat yang sama samurai itu menarik katana miliknya dengan sangat kuat dan merobek rahang makhluk itu, akhirnya makhluk tersebut pun melepaskan gigitannya dari samurai itu.
"Aku tidak akan tertipu lagi oleh teknikmu itu!!"
Jenderal itu berjalan dengan perlahan mendekati samurai tersebut sembari memikul pedang miliknya, ia merasa bahwa samurai itu tidak akan bisa melawan lagi, dengan raut wajah yang gembira ia menghina samurai tersebut.
"Huuhhaaa.... huuuhhaaa...."
Samurai itu terjatuh ke tanah dengan setengah tubuhnya terkoyak, lengan kirinya putus dan kakinya tidak lagi kuat menopang berat tubuhnya.
"Khuhukkk....."
Samurai itu pun memuntahkan darah dari mulutnya, luka yang ia terima sangat parah, ia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.
"Percuma saja, sekeras apapun kau mrncoba melawan pada akhirnya kau hanya akan mati!!"
"Berhentilah membuang-buang waktu, serahkan hidupmu sekarang juga!!"
Jenderal itu terus memperolok-olok samurai tersebut, kebanggaan dirinya membuatnya merasa telah menjadi yang terkuat, namun samurai itu pun kembali bangkit meskipun tubuhnya telah hancur.
"Hmmmpp, kami tidak pernah diajarkan bagaimana caranya menyerah!!"
"Jika kematian adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah kekalahan, maka kami akan menebusnya!!"
"Hooho, sepertinya kau sangat keras kepala!"
"Baiklah akan kukabulkan permintaanmu!!!"
Sang jenderal pun mengangkat pedang miliknya ke atas dan bersiap menyerang samurai yang sudah tak berdaya itu.
"Hiiiaaa!!!"
"Shin!!!"
Samurai itu berteriak dengan keras seakan mencoba memanggil seseorang, tiba-tiba sebuah bayangan muncul di tengah tebalnya kabut, bayangan itu membentuk sebuah kerang raksasa yang sedang membuka cangkangnya.
Dari dalam tubuhnya itulah kabut yang sangat tebal terus menyembur keluar.
"Huh?"
Seketika kerang itu pun melahap sang samurai tepat sebelum jenderal itu menyerangnya, pedang miliknya membentur kulit kerang yang sangat keras tersebut dan membuatnya terhempas ke belakang.
"Sialan!!!"
"Apa kau ingin melarikan diri?!!"
Kerang itu pun langsung menghilang di telan kabut bersamaan dengan samurai tersebut, pandangan sekitar menjadi sangat gelap bahkan cahaya tidak dapat menembusnya sekalipun.
"Grrraaaa!!!"
Makhluk raksasa milik pasukan Dewa Badai pun segera membuka mulutnya ke atas, kemudian di sekitarnya mulai muncul partikel-partikel energi listrik yang menyatu membentuk bola di mulutnya, setelah energi itu mencapai ambang batas, makhluk itu pun melepaskannya ke atas langit.
Pancaran kilatan cahaya biru yang sangat terang menciptakan suar yang menjulang tinggi di angkasa, membelah tebalnya kabut yang menutupi seluruh daratan.
Perlahan kabut kabut itu pun mulai menghilang, makhluk raksasa itu segera menoleh suatu tempat seakan telah menemukan targetnya, ia pun bergerak dengan sangat cepat dan ingin memangsanya.
"Aku menemukannmu!!"
Sang jenderal itu pun melihat makhluk itu menuju seekor kerang raksasa, ia pun segera berlari ke arah yang sama.
Di dalam cangkang kerang itu terdapat samurai yang sedang terluka parah, jenderal itu tidak ingin membiarkannya hidup.
"Grrraaaa....."
Makhluk raksasa itu mencabik kerang itu dengan taringnya, namun cangkangnya terlalu keras sehingga membuatnya sulit ditembus.
Tiba-tiba kerang itu mengeluarkan gas beracun dari dalam tubuhnya, gas itu pun menyebar dengan sangat cepat dan melahap makhluk raksasa tersebut.
__ADS_1
"Cih!"
Segera makhluk raksasa itu melepaskan gigitannya, kulitnya terbakar setelah menyenyuh gas beracun tersebut.
Jenderal itu juga merasa kesulitan mendekati mereka, gas itu terus menyembur dengan sangat cepat dan akan melelehkan apapun yang dilaluinya.
Makhluk raksasa itu terus menyerang dari segala arah mencoba menghancurkan cangkang kerang yang amat keras itu, ia melepaskan kilatan petir yang menyambar bertubi-tubi dengan sangat dahsyat, namun itu belum cukup untuk menggores cangkang kerang tersebut.
"Wahai Dewa Badai yang agung, berikanlah aku lebih banyak kekuatan!!"
Kemudian jenderal itu mengangkat pedangnya ke atas seraya memohon, seketika langit menjadi retak, kilatan-kilatan petir menggema dengan sangat keras.
Energi itu berkumpul di pedang milik jenderal tersebut, membuat bilah pedangnya bersinar terang.
"Hiiaaaa!!!"
Ia pun melemparkan pedang miliknya ke arah kerang raksasa itu, pedang tersebut melesat dengan sangat cepat dan menembus cangkang kerang itu.
Seketika ledakan pun terjadi, seluruh energi listrik yang ada di pedangnya menyambar dengan sangat cepat.
Suara ledakan itu menggema di seluruh penjuru langit, daerah sekitarnya pun terguncang dan luluhlantah.
Perlahan cangkang kerang itu pun retak dan hancur berkeping-keping, samurai yang ada di dalam tubuh kerang itu pun terhempas keluar.
Tubuhnya terbaring di tanah tak sadarkan diri, jenderal itu pun mendekati samurai tersebut untuk memastikan bahwa ia telah mati.
Namun tidak lama kemudian sebuah cahaya terang memancar melalui sela-sela serpihan cangkang kerang itu, cahaya itu berasal dari sebuah mutiara besar yang ada di dalam tubuh kerang tersebut.
Serpihan-serpihan cangkang yang berhamburan perlahan terbang dan kembali menyatu membentuk tubuh baru, retakan-retakan itu telah teregenerasi dengan sempurna.
"Huh?"
Di saat yang bersamaan tubuh samurai yang telah hancur itu kembali bergerak, hal itu membuat jenderal pasukan dewa badai yang berdiri di hadapannya menjadi terkejut.
Kemudian samurai itu menggenggam katana miliknya dan segera mengayunkannya menuju jenderal tersebut, dengan sigap ia menghindari serangan dari samurai itu.
"Mustahil!"
Samurai itu masih bisa berdiri meskipun dengan luka yang sangat parah, mustahil bagi seorang manusia untuk bertahan hidup dari kondisi itu.
Tubuhnya seperti mayat hidup yang dapat terus bergerak tanpa merasakan rasa sakit, samurai itu menyerang jenderal tersebut dengan bertubi-tubi.
"Angin Dewa!"
Samurai itu mengangkat katana miliknya ke atas, seketika angin berkumpul menyelimuti dirinya, kemudian ia pun memasukkan kembali katana miliknya ke dalam sarung dan bersiap menyerang.
Seketika ia melesat dengan sangat cepat menuju kearah jenderal tersebut, hembusan angin yang sangat dahsyat menghempaskan segala sesuatu di sekitarnya.
Jenderal itu pun mengeluarkan energi petir yang sangat besar dan segera menyambar samurai itu, namun dengan pergerakan yang sangat cepat dan indah, tidak ada satupun petir yang mengenainya.
"Hiiiaaa!!!"
Jenderal itu mencoba mengayunkan pedang miliknya ke arah samurai tersebut, namun sudah terlambat, dalam sekejap mata samurai itu telah berada di belakangnya, ia berdiri dengan tegak dan perlahan mulai memasukkan katana miliknya ke dalam sarung.
Tepat setelah katana itu tersimpan di dalam sarungnya, seketika sebuah pusaran angin besar muncul mengelilingi tubuh jenderal tersebut.
"Khhaaaa...."
Pusaran angin itu mencabik-cabik tubuhnya bagaikan sayatan pedang, jenderal itu pun menjerit dengan sangat kuat.
Saat samurai itu berbalik dan akan menyerangnya jenderal itu segera bangkit dan menangkis serangan dari samurai tersebut, ia menghempaskan katana miliknya dan segera mencekik leher samurai itu.
"Tidak ada lagi waktu untuk meladenimu!!"
Kemudian jenderal itu mengambil katana yang jatuh dan segera menancapkannya ke dada samurai tersebut, katana itu pun menembus dadanya hingga menancap di tanah hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
Saat ular raksasa itu ingin menerkam kerang tersebut, seketika sebuah bayangan hitam mendekat dan langsung menerkam ular tersebut.
Bayangan itu berwujud seekor naga raksasa dengan sembilan kepala, ia adalah Hydra yang datang bersama dengan pasukan Dewa Naga.
"Huh?"
Jenderal itu merasa terkejut melihat langit berubah menjadi gelap, ribuan naga terbang menutupi lagit.
Tidak lama kemudian seirang pria dengan enam sayap naga mendarat tepat dihadapan jenderal itu, kedua matanya memancarkan cahaya merah pekat yang sangat mengerikan, aura dahsyat menyelimuti pria tersebut.
"Siapa kau!!"
Jenderal itu mencoba menanyakan identitas pria itu, namun ia tidak menunjukkan ekspresi apapun, wajahnya yang datar menatap jenderal tersebut dengan sangat tajam.
"Khhhaaa..."
Seketika pria itu menyerang jenderal tersebut dengan kedua pedang merah miliknya, jenderal itu pun terkejut dan mencoba menangkis serangan dari pria itu.
Tubuhnya terhempas ke belakang, ia mencoba mempertahankan posisinya dengan pedang miliknya.
"Sepertinya aku harus mengalahkanmu juga!!"
"Hiiaa!!"
Jenderal itu melepaskan energi listrik yang sangat besar ke arah Sang Dewa Naga, petir menyambar dengan sangat cepat ke arahnya.
Namun dengan segera beliau menyelimuti tubuhnya dengan keenam sayap naga miliknya sehingga serangan tersebut dapat ditahan.
Pertarungan sengit pun berlangsung, mereka saling beradu pedang satu sama lain.
"Hiiiaaa!!!"
Booom~
Saat jenderal itu mencoba mengayunkan pedang miliknya ke arah Sang Dewa Naga, beliau pun menangkis serangan tersebut menggunakan kedua pedang miliknya.
Benturan yang sangat kuat itu menyebabkan tanah yang mereka pijak retak dan hancur, Sang Dewa Naga pun menghempaskan jenderal itu dengan sangat kuat dan langsung melancarkan serangan balasan.
"Khhhaaa..."
Sang Dewa Naga mengayunkan kedua pedangnya bertubi-tubi dengan gerakan yang sangat indah membuat jenderal itu merasa terpojok.
Saat pertahanan jenderal itu terbuka, Sang Dewa Naga langsung menyayat dadanya dan menghempaskannya ke belakang.
Jenderal itu pun berlutut dan memuntahkan darah dari mulutnya, racun yang ada di dalam bilah pedang merah itu menyebar dengan sangat cepat melalui luka yang diterimanya.
"Sialan!!"
"Siapa kau sebenarnya?!!"
Di sisi lain pertarungan antara Hydra dan ular raksasa itu berlangsung sangat sengit, ular itu mencoba melepaskan diri dari cengkraman Hydra, ia pun melilit tubuh Hydra dengan sangat kuat.
Keduanya saling menyerang dengan sangat agresif, Hydra melepaskan nafas beracun miliknya kearah ular tersebut, namun ular itu juga membalasnya dengan menembakkan partikel cahaya listrik yang sangat besar ke arah Hydra.
Pertarungan kedua monster tersebut membuat seluruh daratan terguncang dan wilayah di sekitarnya hacur lebur.
Seluruh tubuh ular raksasa itu diselimuti oleh partikel energi listrik yang berwarna biru terang, kemudian ular itu membuka mulutnya untuk menyerap seluruh energi di sekitarnya, setelah terkumpul ia pun melepaskannya ke arah Hydra dengan sangat dahsyat.
"Grrraaaa....."
Tubuh Hydra terdorong ke belakang dengan sangat kuat hingga membuatnya terjatuh, dengan cepat ular itupun menerkam salah satu leher milik Hydra.
__ADS_1
Namun Hydra juga membalasnya dengan menerkam ular itu dengan ke delapan kepalanya, ia menyuntikkan sebuah racun ke tubuh ular itu.
"Grrraaa....."
Akhirnya keduanya pun saling melepaskan cerngkramannya satu sama lain, namun ular tersebut berhasil memutuskan salah satu kepala milik Hydra, di sisi lain racun yang telah disuntikkan oleh Hydra mulai menyebar ke seluruh tubuh ular tersebut.
Perlahan dari potongan kepala milik Hydra tumbuh gumpalan daging segar yang mulai membentuk kepala yang baru, bahkan seluruh luka yang ia terima telah teregenerasi sempurna.
Sang Dewa Naga dan jenderal pasukan Dewa Badai terus bertarung tanpa henti, setiap benturan pedang milik mereka dan juga hempasan energi yang sangat kuat membuat seluruh daratan ditutupi oleh debu yang beterbangan.
"Bloody thorns"
Sang Dewa Naga menancapkan pedangnya ke dalam tanah dan seketika darah mengalir dari bilahnya menuju ke arah jenderal itu.
Dengan cepat gumpalan darah itu membentuk duri-duri yang sangat besar dan menjulang ke atas, duri-duri itu terus mengejar jenderal tersebut kemanapun ia pergi.
"Sialan!!!"
"Huaaaa!!!"
Jenderal itu pun terus menghindari duri-duri yang mengejarnya, kemudian ia menghempaskan energi petir yang sangat kuat dan segera menyambar duri itu dan memusnahkannya.
"Jangan meremehkanku!!"
"Kau terlalu banyak bicara!!"
"Huh? Aghhhh....."
Di saat jenderal itu lengah Sang Dewa Naga langsung menghunuskan pedangnya ke arah perutnya, jenderal itu pun memuntahkan darah dari mulutnya.
Sang dewa naga langsung mengayunkan pedang di tangan kiri miliknya dan memotong lengan kiri jenderal tersebut.
"Hiiiaaa!!!!.
Namun jenderal itu segera membalasnya dengan menghempaskan energi petir yang sangat besar ke arah Sang Dewa Naga, dari belakang tubuhnya muncul sebuah kumpulan energi yang membentuk wujud tiga ekor kuda.
Kuda-kuda itu pun berlari menuju ke arah Sang Dewa Naga dan menerjangnya, Sang Dewa Naga pun terhempas ke belakang sembari menyelimuti dirinya dengan sayap naga miliknya.
"Hiiaaa!!!"
Tidak lama kemudian jenderal itu pun mengayunkan pedang miliknya ke arah Sang Dewa Naga dan berhasil memotong dua sayap kiri bagian atas miliknya.
Namun serangan berikutnya dapat dihindari oleh Sang Dewa Naga dan beliau pun langsung melancarkan serangan balasan dengan menendang jenderal itu hingga membuatnya terhempas sangat jauh.
Booom~
Seketika pedang milim Sang Dewa Naga melesat menuju ke arah jenderal itu dan menusukkan tepat di dada, hempasan energi yang sangat kuat membuat tubuh jenderal itu terhempas dan membentur tebing yang terbentuk akibat dari efek pertempuran tersebut.
"Agghhhh...."
Pedang itu menghimpit tubuh jenderal tersebut hingga membuatnya tidak bisa bergerak, ia meronta-ronta mencoba mencabut pedang itu dari dadanya, namun racun yang terdapat pada bilah pedang itu membuatnya lemah.
"Sudah berakhir!"
"Khhaaaa...."
Sang dewa naga mengangkat tangan kanannya ke atas dan mengepalkannya dengan erat, seketika pedang yang tertancap pada dada jenderal itu pun meledak menjadi duri-duri tajam yang menusuk seluruh tubuh jenderal itu.
Jenderal itu pun menjerit menerima rasa sakit yang amat dahsyat, perlahan duri-duri itu meleleh menjadi gumpalan darah yang bercucuran ke segala arah.
"Agghh...."
Jenderal itu pun berlutut karena tidak bisa lagi menahan tubuhnya, luka yang telah ia terima sangat parah hingga membuatnya tidak bisa lagi bergerak, kini ia hanya bisa menunggu waktu kematiannya.
"Grrraaa...."
Ular raksasa itu melihat jenderal yang terkapar tidak berdaya mencoba menyerang Sang Dewa Naga, namun dengan cepat Hydra menerkamnya dari segala arah.
"Grrraaa...."
Ular itu bergejolak mencoba melepaskan diri dari cengraman Hydra, namun itu sia sia, racun yang ada di dalam tubuhnya telah sepenuhnya menyebar, perlahan tubuh ular itu menjadi lemas, di akhir perlawanannya ia mencoba menembakkan kilatan cahaya biru ke atas langit dan menembus gumpalan kabut hitam yang menyelimuti daratan.
Hydra pun mencabik-cabik tubuh ular tersebut dan memotongnya menjadi beberapa bagian, kini ular taksasa itu tidak bernyawa.
Duuaarr~
Duar~
Namun tidak lama kemudian cahaya biru terang memancar dari atas langit dan sebuah petir menyambar tubuh Hydra dengan sangat kuat, Hydra pun mengaum terkena serangan petir itu, hingga akhirnya dirinya pun ikut tumbang.
Tubuhnya seketika meleleh menjadi gumpalan darah yang membanjiri daratan.
Sang Dewa Naga berjalan diatas lautan darah dengan menyeret pedang miliknya, ia menghampiri jenderal tersebut dan akan mengeksekusinya.
"Tidak bisa kuterima!!!"
"Aku tidak mungkin kalah!!"
Jenderal itu merasa sangat kesal atas semua ini, namun dirinya sekarang tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya meratapi nasibnya yang menyedihkan itu.
"Ini bukanlah akhir!!"
"Kau, kau pasti akan merasakan balas dendamku!!!"
"Dewa Badai tidak akan pernah terkalahkan!!"
Jenderal itu memaki-maki Sang Dewa Naga yang berdiri di hadapannya, ia mencoba membuat Sang Dewa Naga merasa kesal.
"Apakah ity kata-kata terakhirmu?"
"Hahahhahaha..... hahaahah...."
"Kehancuran akan datang kepadamu!"
Jenderal itu terawa dengan sangat keras, namun itu menjadi tawa yang terakhir baginya seketika Sang Dewa Naga menebas tubuh jenderal itu bertubi-tubi dan memenggal kepalanya hingga putus.
"Tebuslah dosamu dengan kematian!!"
Tubuh jenderal itu pun tercabik-cabik dan berserakan di tanah, organ-organ dalamnya terpotong dan hancur.
Kemudian Sang Dewa Naga pun berbalik meninggalkan jasad jenderal itu, ia melihat mayat seorang samurai yang berdiri dengan sebuah katana yang tertancap di dadanya.
Sepertinya samurai itu masih bisa bergerak dan mencoba mengatakan sesuatu kepada Sang Dewa Naga.
"T-tolong.... b-bebaskan di-diriku...."
Sang Dewa Naga pun mencabut pedang itu dari tubuh samurai tersebut hingga membuatnya terjatuh ke tanah.
Tidak lama kemudian dari balik kabut muncul seekor kerang raksasa berwarna putih, kerang itu pun membuka cangkangnya dan memperihatkan sebuah mutiara yang sangat berkilau.
Sang Dewa Naga pun mengerti isyarat dari kerang itu, ia pun menghunuskan katana milik samurai itu ke arah mutiara tersebut.
Mutiara itupun seketika hancur berkeping-keping, dari dalamnya memancar partikel-partikel cahaya berwarna emas yang menguap ke udara.
Itu adalah jiwa milik samurai tersebut yang akhirnya terbebas, seketika kerang itu pun ikut menghilang bersamaan dengan partikel cahaya.
Kabut tebal yang menyelimuti daratan akhirnya perlahan menghilang, tampak daratan yang telah hancur akibat dari pertempuran dahsyat tersebut.
__ADS_1
Pasukan Dewa Naga segera berkumpul dan tunduk dihadapan Sang Dewa Naga, beliau pun menoleh ke arah gerbang kuil Dewi Rubah, mereka pun segera bersiap untuk menuju kuil Dewi Rubah untuk menyelamatkan Elena yang telah diculik.