
Di dalam kamar istana yang mewah, Elena duduk termenung di atas tempat tidurnya, ia sedang menatap kearah sebuah cermin besar yang menempel di dinding, tidak ada satupun suara yang terdengar di dalam sana sehingga kesunyian menyelimuti ruangan itu dalam sekejap.
"Perang sebentar lagi dimulai...."
Dengan nada yang pelan Elena mencoba mengatakan sesuatu, dan kata-kata itu pun terdengar sangat berat, tatapan matanya menunjukkan kegelisahan dan rasa bersalah,
"Apa ini juga salahku?"
"Apa saya menyebabkan masalah lagi?"
Sebuah pertanyaan muncul dari dalam diri Elena, namun tidak jelas kepada siapa pertanyaan itu ditujukan, karena tidak ada satupun orang yang tinggal di dalam ruangan itu kecuali dirinya.
"Jika saja saya tidak menolak lamaran itu maka akankah hal ini tidak terjadi?"
Elena kembali melontarkan sebuah pertanyaan, namun sayang, tidak ada satupun jawaban yang ia dapatkan.
"Tapi, saya tidak boleh menyesali itu!"
Tiba-tiba sebuah pernyataan keluar dari mulutnya dan hal itu seketika membuatnya tersadar, Elena pun berhasil mengontrol sedikit emosinya.
"Saya tidak boleh mengecewakan Tuan Ozario!"
"Beliau telah memberiku segalanya, saya harus membalasnya suatu hari nanti!"
Kemudian ia mencoba menyemangati dirinya sendiri agar tidak terus menerus tenggelam dalam rasa penyesalannya.
"Ayah, ibu...."
"Setidaknya saya harus menemui mereka untuk yang terakhir kalinya!"
Elena pun teringat akan keinginanya untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya, ia pun perlahan bangkit dan berjalan keluar dari kamar.
"Ara, tuan putri!"
"Apa anda tidak beristirahat?"
Saat Elena membuka pintu tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Beta yang datang dari arah samping, Beta pun langsung menanyakan sesuatu kepada Elena.
"Ummm.... sebenarnya saya ingin pergi ke suatu tempat...."
"Ah begitukah....."
Dengan sedikit gugup Elena menjawab pertanyaan itu, ia tidak tahu harus berkata apa dalam situasi seperti ini.
"Maaf, bolehkah saya bertanya?"
"Kemanakah anda akan pergi?"
Mendengar jawaban dari Elena, Beta pun menjadi sedikit penasaran, ia ingin tahu lebih dalam tentang tujuan Elena pergi.
"Saya hanya ingin mengunjungi makam kedua orang tuaku...."
"Ahh..."
Dengan tenang Elena memberi tahu tempat yang akan ia tuju seakan itu bukanlah sebuah rahasia, Beta pun menunjukkan reaksi yang menandakan ia paham maksud Elena.
"Kalau begitu biarkan saya menemani anda!"
"Eh, itu tidak perlu!"
"Saya baik-baik saja..."
Beta pun menawarkan diri untuk mengatarnya ke sana, namun dengan cepat Elena menolak hal itu, dilihat dari ekspresinya mungkin ia tidak ingin merepotkan Beta.
"Tidak tuan putri!"
"Saya akan menemani anda sekarang, ini adalah tugas saya untuk melindungi anda setiap saat!"
Beta bersikeras untuk tetap ikut dengan Elena, ia tidak menerima penolakan apapun meskipun itu dari Elena sendiri.
"Tapi...."
"Jangan khawatir, saya pasti akan melindungi anda!"
Sebelum Elena menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Beta pun memotong pembicaraan, dan hal itu membuat Elena diam seketika.
"Ba-baiklah..."
"Terima kasih banyak...."
Karena tidak ada jalan lain, akhirnya Elena menerima tawaran itu, Beta pun merasa senang, ia menunjukkan senyuman yang manis kepada Elena.
"Tapi sebelum itu saya harus meminta izin kepada tuan!"
"Saya tidak ingin membuat beliau khawatir..."
Meskipun Elena bebas melakukan apapun yang ia mau tapi ia tetap meminta izin terlebih dahulu kepada sang dewa naga, hal itu ia lakukan agar beliau bisa mengawasinya dengan baik.
"Saya mengerti, baiklah mari kita pergi!"
Kemudian mereka pun pergi untuk menemui sang dewa naga sebelum akhirya menuju pemakaman.
Elena dan Beta berjalan melalui alun-alun kota, namun kali ini Beta dalam wujud serigalanya, mereka berdua berdampingan satu sama lain yang tampak seperti seorang majikan dan hewan peliharaan.
"Ada banyak sekali orang hari ini ya..."
"Benar, semuanya telah hidup dengan damai sekarang!"
Elena melihat sekeliling, ada banyak orang yang berkumpul untuk melakukan aktivitas seperti biasa, suasana nyaman dan damai begitu terasa diantara mereka semua, seakan-akan mereka tidak pernah mengalami bencana.
"Kuharap kedamaian ini terus berlangsung selamanya!"
"Saya juga berharap begitu!"
Mereka pun pergi melewati alun-alun menuju ke atas bukit kecil yang tidak jauh dari sana.
Elena berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke puncak bukit, di sekeliling mereka ada beberapa pohon besar yang menghiasi bukit seperti sebuah taman.
"Benar-benar pemandangan yang indah ya tuan putri!"
"Benar, saya suka dengan suasana musim gugur!"
__ADS_1
Daun-daun berguguran tertiup angin dan matahari yang telah berada di barat menghasilkan cahaya kuning yang terang, hal itu menambah suasana nyaman dan ciri khas musim gugur.
Sesampainya mereka di puncak bukit, Elena melihat ada sebuah pagar besar yang membentang luas mengelilingi area itu, di balik pagar tersebut terdapat banyak sekali batu nisan dengan ukuran bermacam-macam yang tertata rapih dan sejajar.
Di depan pagar itu ada sebuah gerbang besar yang dapat dimasuki, Elena pun berjalan melewati gerbang itu menuju ke dalam makam.
"Sebelah sini tuan putri!"
"Baik..."
Beta pun mamandu Elena ke tempat orang tuanya dimakamkan, hawa kematian yang sangat mengerikan menyelimuti seluruh makam, hal itu dapat membuat siapa saja merinding ketakutan, namun Elena tidak merasakan takut sedikitpun, ia terus berjalan melewati makam-makam dengan tenang.
"Inikah?!"
Akhirnya Elena melihat dua makam berdampingan dengan batu nisan besar yang tampak masih baru, dan di kedua batu nisan itu tertulis nama-nama orang yang sangat familiar bagi Elena.
"Ayah, ibu!!!"
Seketika air mata mulai berkumpul dan mengalir di mata Elena dengan sangat deras, ia tidak kuasa menahan kesedihan saat melihat makam kedua orang tuanya.
"Saya telah kembali!"
Elena mengucapkan salam kepada mereka berdua dengan senyuman lebar, meskipun faktanya perlakuan kedua orang tuanya kepada Elena sangat kasar, namun Elena tetap menyayangi mereka sebagai keluarga yang berharga baginya.
"Ayah, ibu...."
"Saya bersyukur karena Tuan Ozario telah mengampuni kesalahan kalian!"
"Maaf bila saya tidak bisa menjadi anak yang baik...."
Kemudian Elena mulai berdoa untuk kedua orang tuanya, dengan berlinang air mata ia mencurahkan semua yang ada di dalam hatinya, berharap kedua orang tuanya dapat beristirahat tanpa meninggalkan penyesalan.
"Semoga kalian bisa beristirahat dengan tenang!"
"Waktuku telah habis!"
"Jika ada kesempatan lain maka saya akan datang lagi kemari!"
"Baiklah sampai jumpa!"
Setelah semuanya selesai, Elena pun berbalik meninggalkan makam itu, kemudian ia melihat Beta yang sedang duduk dengan tenang mengawasi dirinya, ia pun segera berjalan menghampiri Beta.
"Apa anda sudah selesai, tuan putri?"
"Ya."
Beta kemudian bertanya kepada Elena dengan lembut, namun ada yang sedikit aneh dengannya, ekspresi beta perlahan mulai berubah menjadi sedikit murung.
"Tolong maafkan kami Putri Elena!"
"Eh?"
"Anda pasti membenci kami atas tindakan yang telah kami lakukan kepada keluarga anda!"
Tiba-tiba Beta bersujud di hadapan Elena, ia juga meminta maaf atas kesalahanya dan para klan serigala lainnya, namun Elena malah terkejut akan hal itu.
"A-apa yang anda lakukan?!"
Dengan sedikit panik Elena menyuruh Beta untuk berhenti melakukan hal itu, ia tidak mengerti mengapa Beta sampai melakukannya.
"Saya tidak mempunyai hak untuk melakukannya!"
"Kami telah berbuat salah kepada anda!"
Namun Beta bersikeras menolak perintah itu, ia tidak akan mengangkat wajahnya sebelum semua kesalahannya diampuni.
"Anda tidak perlu melakukan hal itu!"
"Saya tidak pernah membenci kalian sedikitpun!"
Elena pun berlutut di hadapan Beta, perlahan ia menyentuh wajah Beta dengan kedua tangannya dan mulai mengangkatnya ke atas, Beta pun kini menatap wajah Elena yang tersenyum manis dengan sangat jelas.
"Apa yang telah terjadi tidak akan bisa diulang kembali!"
"Saya juga mengerti bahwa kalian melakukan itu semua demi kebebasan diri kalian sendiri!"
"Maka dari itu saya tidak akan pernah menyalahkanmu atau para manusia serigala yang lain!"
Kemudian Elena pun memeluk Beta dengan sangat erat, kehangatan yang sangat nyaman dapat ia rasakan dengan jelas melalui sentuhan kulitnya.
"Terima kasih banyak tuan putri..."
Elena mengelus bulu Beta dengan lembut, ia menyayangi Beta seperti halnya keluarganya sendiri, tidak ada rasa dendam dan kebencian yang tertinggal di dalam hatinya.
Beta pun merasakan hal yang sama, ia menggosok-gosokkan pipinya dengan lembut sebagai bentuk kasih sayangnya kepada Elena.
"Hari semakin gelap!"
"Sebaiknya kita segera kembali!"
"Baik!"
Akhirnya mereka pun melepaskan pelukannya dan mulai berdiri, mereka memutuskan untuk kembali sebelum matahari terbebam.
******
Hari yang dijanjikan telah tiba, semua pasukan berbaris sangat rapih dengan mengenakan persenjataan lengkap.
Bendera-bendera mulai berkibar di atas tiang tinggi yang menjulang ke atas langit, di perbatasan kedua negara tepatnya di sebuah lembah yang sangat luas itu akan menjadi medan pertempuran yang mengerikan antara Kerajaan Beltharm dan Kekaisaran Naga.
"Hmm... Bendera apa itu?"
"Apakah mereka telah mendirikan kerajaan baru?!"
Sang raja dari Kerajaan Beltharm terkejut saat melihat bendera merah yang berkibar dari balik cakrawala, mereka tidak yakin bahwa itu adalah bendera milik Kerajaan Erest.
"Omong kosong!!"
"Tidak mungkin hal itu terjadi!!"
Kemudian seorang pangeran muda di sampingnya membantah pernyataan itu dengan nada yang tinggi, ekspresi wajahnya penuh dengan emosi yang meluap-luap.
__ADS_1
"Ayahanda!!"
"Apalagi yang anda tunggu, ayo serang mereka!!"
Pangeran itu pun memaksa sang raja untuk memulai peperangan, ia tidak bisa menahan lagi emosi dalam dirinya.
"Tenanglah Charles!!"
"Tindakanmu itu terlalu gegabah!!"
"Kita harus memikirkan strategi yang bagus untuk menyerang mereka!!"
Namun dengan tenang sang raja pun menolak saran si pangeran, ia harus benar-benar memperhitungkan keputusan yang harus diambil karena itu akan mempengaruhi jalannya peperangan nanti.
"Tapi Ayahanda...."
"Diamlah Charles!!"
"Kendalikanlah emosimu itu!!"
Sang pangeran kembali marah karena telah diabaikan, namun dengan tegas sang raja pun membentak si pangeran itu hingga membuatnya diam tak berkutik.
"Cih, ma-maafkan saya..."
Akhirnya si pangeran itu pun menuruti sang raja, ia menggigit bibirnya dengan kuat sebagai bentuk kekesalannya.
Di pihak Kekaisaran naga bagian depan terdapat ratusan kesatria yang berbaris dengan siaga, mereka dipimpin oleh seorang kesatria yang menunggangi kuda berzirah yang tampak sangat gagah.
Sedangkan pada bagian belakang terdapat sebuah kereta kuda yang besar, itu adalah tempat dimana Elena berada, ia dijaga ketat oleh dua ekor serigala yaitu Beta dan Omega, saat ini Elena hanya bisa menyaksikan pertempuran karena ia tidak diizinkan untuk turun ke dalam medan perang.
"Dengarkan semuanya!!"
"Di depan sana ada musuh yang akan merampas rumah kita!!"
"Kita harus mengusir mereka dari tanah air kita!!!"
Si pemimpin kesatria itu pun berpidato kepada para pasukannya, dengan nada yang lantang ia mencoba membangkitkan semangat para kesatria yang ikut berperang.
"Janganlah kalian takut!!"
"Tuan Ozario akan selalu melindungi kita!!!"
"Haaaaaa!!!"
Seketika semua pasukan mengangkat pedang mereka ke atas, itu adalah bentuk semangat yang membara dalam diri mereka, keinginan yang kuat untuk melindungi rumah dan keluarga yang berharga bagi mereka.
"Atas nama Kesatria Naga aku bersumpah!!"
"Demi Tuanku dan demi tanah airku!!"
"Akan aku lenyapkan semua orang yang mencoba menghancurkan perdamaian yang telah Tuan Ozario berikan!!"
Kemudian pemimpin kesatria itu mencabut pedang miliknya dari sarungnya, lalu ia menempatkannya secara vertikal tepat di depan wajahnya seraya bersumpah, seketika sekumpulan aura yang sangat besar terpancar dari dalam dirinya bagaikan api yang berkobar, para kesatria lain pun menirukan hal yang sama seperti pemimpinnya, itu adalah sumpah suci seorang kesatria kepada tuannya.
"Demi perdamaian negeri ini!!"
"Serang!!!"
Hiiihhaaa....
Kemudian pemimpin kesatria itu menarik tali yang mengikat kuda miliknya dengan sangat keras sehingga kuda itu pun terangkat keatas dan berdiri dengan kedua kakinya, lalu dengan cepat ia pun mengayunkan pedangnya ke arah depan sebagai pertanda dimulainya serangan.
"Hiaaaa!!!"
"Hoooaaaa!!!"
Seketika semua kesatria di barisan depan pun berlarian ke dengan penuh semangat, mereka akan menyerbu pasukan lawan dengan jumlah yang sangat banyak.
"Mereka datang!!"
"Semuanya bersiap!!"
Di sisi lain sang raja Kerajaan Beltharm pun menyuruh para pasukannya untuk bersiap menghadapi serangan.
"Uh, apa ini?"
"Perasaan apa ini?"
Namun tiba-tiba semua orang menjadi aneh, mereka semua merasakan hawa dingin mencekam yang menyelimuti mereka dalam sekejap, perasaan mereka menjadi tidak nyaman dan tubuh mereka menggigil seketika.
"Ayahanda lihat itu!!"
"Hmm?"
"Siapa itu?"
Jauh di depan mereka tampak sesosok bayangan hitam menyerupai manusia yang berjalan menuju ke arah mereka, bayangan itu memancarkan aura yang sangat mengerikan ke segala arah.
Perlahan mulai tampak wujud asli dari bayangan hitam tersebut, ia adalah seorang laki-laki yang mengenakan jubah merah dan memiliki rambut berwarna putih, laki-laki itu terus berjalan mendekat, meskipun ia hanya seorang diri namun ia tidak gentar sedikitpun.
"Hanya satu orang?"
"Apa mereka meremehkan kita?"
"Khhh... Jangan bercanda!!"
"Akan kubantai kalian semua dasar sampah!!!"
Melihat hanya ada satu orang laki-laki yang dikirim untuk melawan mereka membuat Pangeran Charles merasa diremehkan, ia pun menjadi sangat marah dan ingin segera membunuh laki-laki itu.
"Ayahanda, beri aku perintah!!"
"Baiklah semuanya, serang!!!"
"Hiaaaa!!!!"
Akhirnya sang raja pun memberi perintah kepada para pasukannya untuk memulai serangan, seluruh kesatria di bagian depan pun bergerak maju menyerbu laki-laki tersebut.
Tanpa menunjukkan ekspresi apapun, laki-laki itu menatap mereka dengan sangat tajam, ia menggenggam dua buah pedang merah yang bersinar di tangannya, tanpa rasa takut ia melawan para pasukan dari Kerajaan Beltharm sendirian.
Namun tidak lama kemudian muncul juga gerombolan pasukan dari Kekaisaran Naga dengan jumlah yang sangat banyak bergerak menuju ke arah mereka, dan dengan begitu pertempuran pun dimulai.
__ADS_1