God Of Disaster

God Of Disaster
Sang Penyula.


__ADS_3

Sang Dewa Naga dan Elena sedang beristirahat di pinggir sebuah tebing, hari telah gelap gulita, cahaya bulan purnama menyebar di seluruh penjuru langit bagaikan lentera yang menerangi kegelapan malam.


Sang Dewa Naga kembali menerima sebuah surat dari Kekaisaran, surat itu berisikan tentang keadaan pasca perang, beliau membacanya dengan tenang kemudian memberikan balasan kepada pihak Kekaisaran.


"Ada apa Elena?"


Setelah selesai membaca surat tersebut Sang Dewa Naga pun menoleh ke arah Elena, beliau melihat Elena yang sedang duduk menatap ke arah api unggun dengan ekspresi gelisah.


"Ummm?"


"Ah tidak, itu bukan apa-apa...."


Elena pun terkejut ketika beliau memanggilnya, seketika ia memalingkan pandangan dan mencoba menutupi kegelisahannya.


"Apa ada yang ingin engkau katakan?"


"Hmmmm...."


Saat Sang Dewa Naga bertanya sesuatu kepadanya, beliau tahu bahwa Elena sedang menyimpan perasaan yang belum tersampaikan, namun Elena tampak ragu untuk menjawabnya.


"Ceritakanlah."


"Ti-tidak apa..."


"Hanya saja akhir-akhir ini saya merasa aneh..."


Akhirnya Elena mencoba mengatakan apa yang membuatnya gelisah, nadanya terlalu lemah sehingga perkataannya tidak terlalu jelas.


"Seakan saya mengingat kembali kejadian yang pernah saya alami sebelumnya..."


"Namun ingatan itu samar-samar...."


Sembari memegangi kepala, Elena menjelaskan semuanya kepada Sang Dewa Naga.


"Ummm..."


"Saya tidak pantas mengatakannya, namun bolehlah saya bertanya sesuatu?"


"Silahkan."


"Apakah kita pernah mengenal satu sama lain sebelumnya?"


Kemudian Elena menatap dengan wajah serius dan bertanya kepada Sang Dewa Naga mengenai ingatannya tersebut, Elena merasa bahwa ia pernah mengenal beliau sebelumnya, meskipun faktanya mereka baru bertemu beberapa waktu terakhir.


Grrsssk~


"Hmm?"


"Elena menghindar!"


Namun tiba-tiba Sang Dewa Naga segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil pedang miliknya dan langsung mengayunkannya ke arah Elena.


Dari belakang Elena muncul seorang wanita berpakaian kimono yang memakai topeng rubah ingin memenggal kepalanya.


"Eh?"


Beruntungnya pedang milik Sang Dewa Naga berhasil menahan katana milik wanita tersebut.


"Siapa kau?!"


"Hehehe....."


Tanpa mengatakan apapun wanita tersebut tertawa saat ditanya oleh Sang Dewa Naga, suaranya terdengar sangat mengerikan.


"Grrraaaaa....."


"Mmm...."


"Hiiaaa...."


Tidak lama kemudian muncul seekor rubah raksasa dengan sembilan ekor yang ingin menerkam beliau, Sang Dewa Naga pun langsung mendorong pedang miliknya dengan kuat hingga membuat wanita itu sedikit terhempas ke belakang, kemudian beliau segera menghindari serangan rubah raksasa tersebut.


"Grrraaaa...."


"khhihihihi....."


Rubah itu menyerang Sang Dewa Naga dengan sangat agresif, sedangkan wanita tersebut hanya diam sembari tertawa dengan sangat mengerikan.


"Tuan...."


"Jangan bergerak!"


"Huh?"


Elena mencoba bangkit dan ingin menolong Sang Dewa Naga, namun secara tiba-tiba sembilan orang wanita yang mengenakan pakaian kimono mengelilingi dirinya, mereka juga memakai topeng rubah yang sama dengan wanita sebelumnya, para gadis itu menodongkan katananya tepat di leher Elena secara melingkar.


Jarak antara katana itu sangat dekat sehingga jika Elena bergerak sedikit saja maka mereka akan menebas lehernya dengan cepat.


"Siapa kalian?"


"Apa tujuan kalian sebenarnya?"


Elena mencoba menanyakan indentitas mereka sembari diam-diam mencabut pedang miliknya, namun tidak ada respon sedikitpun dari mereka.


"Khhhaa...."


Sayang tindakan Elena diketahui oleh mereka, seketika salah satu gadis yang ada di belakangnya memukul leher Elena dengan sangat kuat hingga membuatnya kehilangan kesadaran.


"Grrraaa...."


"Cihh..."


Rubah itu menghentakkan tanah di bawahnya menyebabkan gempa yang sangat dahsyat, tanah yang menjadi pijakan Sang Dewa Naga pun perlahan runtuh dan membuatnya jatuh ke dalam jurang.


Di saat itu juga Sang Dewa Naga menggepakkan sayap naga miliknya sehingga membuatnya melayang di udara.


"Wahai Kekasihku!"


"Sudah lama kita tidak bertemu!"


Wanita itu mengatakan sesuatu kepada Sang Dewa Naga, dari nada bicaranya seakan ia mengenal dekat Sang Dewa Naga.


"Aku tidak tahu apa yang engkau bicarakan!"


"Khihihi...."


"Anda memang dingin seperti biasa."


Sang Dewa Naga menanggapinya dengan datar, namun wanita itu malah kembali tertawa.


"Saya datang hanya untuk menyapa anda!"


"Mari kita bertemu lagi, kekasihku!"


"Khihihihi....."


Kemudian wanita itu membalikkan badan dan ingin beranjak pergi, seketika rubah raksasa yang sebelumnya diam kini menjadi agresif dan kembali menyerang Sang Dewa Naga.


"Blood of Despair!"

__ADS_1


Sang Dewa Naga melemparkan pedang miliknya ke arah rubah raksasa itu, pedang tersebut menancap tepat di dadanya dan meledak menyemburkan cairan darah dari seluruh tubuh rubah tersebut.


Namun tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa mereka, seketika tubuh rubah itu berubah menjadi sekumpulan mahkota bunga sakura yang beterbangan ke segala arah.


"Cih!"


Sang Dewa Naga melihat Elena yang tak sadarkan diri sedang dibawa oleh salah satu wanita berpakaian kimono tersebut, perlahan mereka semua menghilang menjadi sekumpulan mahkota bunga yang berhamburan di udara, bunga-bunga itu menciptakan sebuah ilusi yang membuat pandangan mata terhalangi, dan setelah semuanya menghilang keberadaan Elena dan para gadis tersebut ikut lenyap.


Sang Dewa Naga segera mendarat dan mencari sisa-sisa petunjuk keberadaan mereka, beliau menemukan sebuah gulungan kertas yang terdapat dalam potongan bambu, sama persis seperti gulungan yang pernah beliau terima saat itu.


"Dewi Rubah Inari!"


Beliau membuka surat itu yang berisikan sebuah pesan, kemudian Sang Dewa Naga menatap suatu ke tempat dengan tatapan tajam.


Seorang pria berlutut di depan seorang raja, di dalam ruang tahta itu terdapat banyak petinggi yang sedang berkumpul, mereka semua menatap pria itu dengan tatapan jijik.


"Count Dracula!"


"Kau telah melakukan kejahatan yang sangat keji!"


Seorang petinggi menuduh laki-laki tersebut, amarah dalam dirinya meluap-luap tidak terkendali.


"Yang Mulia."


"Keparat ini telah membantai penduduk Wallacia dengan sangat keji!"


"Ia juga merencanakan kudeta terhadap anda!"


Para petinggi lain juga menuduh laki-laki tersebut atas kejahatannya, namun sepertinya ia tidak menghitaukan sama sekali.


"Kau memang pantas mendapat hukuman mati!"


"Benar, kita penggal kepalanya!"


"Shhhtt..... diamlah!"


Seisi ruangan menjadi kacau, semua orang mengecam laki-laki tersebut, dan tidak ada satupun pembelaan terhadap dirinya.


"Apa itu benar wahai Count?"


Sang raja pun menanyakan kebenaran itu kepadanya, namun ia hanya menunjukkan ekspresi senyum yang mengerikan.


"Mengapa engkau melakukan semua ini!"


"Apakah anda memiliki bukti bahwa saya telah melakukannya?"


"Diamlah keparat, kau jelas-jelas melakukannya!"


Laki-laki itu mencoba menantang mereka untuk menunjukkan bukti atas kejahatannya, namun hal itu malah membuat para petinggi menjadi semakin marah.


"Hooo, apa maksudmu kau tidak dapat menunjukkan padaku buktinya?"


"Sialan!!"


Perdebatan diantara mereka menjadi sangat sengit, para petinggi itu terus mencoba memojokkan laki-laki tersebut, namun ia hanya menanggapinya dengan santai srakan tidak terjadi apapun.


"Baiklah cukup!"


"Vlad Dracula!"


"Hukumanmu telah diputuskan!"


"Engkau akan dihukum mati!"


Akhirnya sang raja pun menjatuhkan hukuman kepada pria tersebut, para petinggi yang ada di tempat itu juga menyetujuinya, mereka tampak senang akan hal itu.


"Khahahahahaha....."


"Hei, apa yang lucu?"


Namun tiba-tiba pria itu tertawa dengan sangat keras hingga membuat semua orang terkejut.


"Sadarilah posisimu Yang Mulia!"


"Apa katamu?!"


"Khhhaaaa....."


"Eh?"


Tidak lama kemudian terdengar suara jeritan di dalam ruangan itu, para prajurit penjaga yang ada di sana mulai membunuh petinggi-petinggi tersebut dengan sangat kejam.


"Huuuaaa...."


"Aggghhh...."


"Ada apa ini?"


Mereka telah bersekutu dengan pria tersebut dan melancarkan kudeta, sang raja pun menjadi sangat terkejut melihat prajuritnya membantai petinggi-petinggi itu.


"Hahahaha...."


"Hei!"


"Lepaskan aku!"


Dua orang prajurit menahan sang raja agar tidak kabur, beliau pun meronta-ronta mencoba melepadkan diri dari mereka.


"Kau tidak lagi dibutuhkan Yang Mulia!"


"Mulai sekarang akulah yang akan berkuasa!"


Pria tersebut bangkit dan berjalan menuju sang raja, salah seorang prajurit membawakan sebuah pedang dan kemudian diberikannya kepada pria tersebut.


Sembari menyeret pedang di tangannya pria tersebut mendekati sang raja dan ingin membunuhnya.


"Selamat tinggal sampah!!"


"Ti-tidak, tunggu...."


"Khhhaaa...."


Tanpa belas kasih seketika pria tersebut memenggal kepala sang raja hingga putus.


"Aku adalah Vlad Dacula!"


"Mulai sekarang akulah Raja Wallacia yang baru!"


Kemudian pria itu mengambil kepala raja yang tergeletak di lantai dengan berlumuran darah, ia mengangkatnya ke atas sembari mendeklarasikan dirinya sebagai raja yang baru.


"Hidup Vald Dracula!"


"Hidup Vald Dracula!"


"Hidup Vald Dracula!"


Pria itu juga meminum sisa-sisa darah yang masih menetes dari kepala tersebut dan merayakan kemenangannya.


"Hmm?"

__ADS_1


"Mimpi kah....."


Seorang pria duduk di singgahsana miliknya, ia baru saja terbangun dari mimpi masa lalunya.


"Yang Mulia Vlad, izinkan saya melapor!"


"Silahkan!"


Tidak lama kemudian seorang prajurit datang padanya membawa sebuah kabar, ekspresi wajahnya tampak tegang, sepertinya itu masalah serius.


"Pasukan Bedivere telah dikalahkan, misi kita gagal!"


"Hmm?"


"Kemudian kami telah menangkap para pemberontak yang mencoba melakukan kudeta!"


Mendengar hal itu pria tersebut pun segera bangkit dari singgahsana miliknya.


"Eksekusi para pemberontak itu sekarang juga!"


"Siap Yang Mulia!"


Setelah itu pria tersebut pergi menuju tempat eksekusi.


"Dengarlah wahai manusia rendahan!"


"Kalian akan menerima konsekuensi yang besar jika berani menentangku!"


"Kekuasanku adalah mutlak!"


"Siapapun yang mencoba menentang maka serahkan kepala kalian sekarang juga.


Di hadapan seluruh rakyatnya pria itu berpidato dengan lantang, ada beberapa orang pemberontak di belakangnya yang telah tertangkap, mereka dibaringkan di sebuah meja dalam keadaan kaki dan tangan yang terikat.


"Lakukan!"


"Baik!!"


"Huuuaaaa....."


"Tidakkkk....."


Kemudian para algojo yang ada di sampingnya mengambil sebuah galah panjang dengan ujung yang sangat runcing, mereka pun menusukkan galah tersebut tepat di anus para pemberontak tersebut.


"Uuuaaa....."


"Khhhaaaaa....."


Suara jeritan mulai terdengar dari para pemberontak tersebut, namun mereka tidak bisa melarikan diri, para algojo itu tidak berhenti melakukannya, mereka terus menusukkan galah itu hingga menembus keluar dari mulut pemberontak tersebut.


"Hiii...."


"Mengerikan....."


"Kejam....."


"Jangan lihat!"


Rasa sakit dan penderitaan yang amat dahsyat dialami oleh mereka, darah dan cairan menjijikkan lainnya berceceran keluar dari mulut dan anus mereka, seluruh organ dalamnya tertembus oleh galah tersebut, bahkan orang-orang yang melihatnya pun menjadi sangat ketakutan.


"Hentikan!!"


"Huuaaaa....."


"Khhhaaa...."


Satu per satu pemberontak itu ditusuk menggunakan galah tersebut hingga mati, cara ini sungguh kejam dan tidak manusiawi karena mereka harus menderita secara perlahan dan lama sebelum akhirnya benar-benar mati.


Setelah itu galah yang digunakan untuk menusuk para pemberontak tersebut ditancapkan di dalam tanah sehingga membuat mayat-mayat itu menggantung di atas.


Sekelompok burung pemakan bangkai mulai berdatangan dan memangsa mayat-mayat tersebut, ada beberapa di antara mereka yang masih hidup sehingga merasakan penderitaan yang amat sangat pedih.


Pria itu mencoba mengintimidasi dan memperingatkan mereka akan konsekuensi jika mereka berani memberontak.


Tidak hanya itu beberapa orang juga dipenggal kepalanya menggunakan Guillontine, dimutilasi menjadi beberapa bagian untuk dijadikan mangsa hewan buas, dan ada juga yang tubuhnya dikuliti hidup-hidup lalu dibelah dadanya hingga organ dalamnya terlihat, kemudian digantung di sebuah tiang agar burung pemakan bangkai datang memangsanya.


Sedangkan pria itu hanya duduk bersantai sembari meminum anggur di cawan miliknya, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, tanpa belas kasih ia mengeksekusi semua orang yang berani menentangnya, tidak peduli meskipun mereka adalah bangsawan sekalipun.


Orang-orang merasa gelisah dan tertindas, mereka dipaksa untuk mematuhi perintah raja mereka atau hanya akan berakhir seperti orang-orang itu.


Trauma yang sangat mendalam akan terus membekas di hati mereka, terlebih lagi di kalangan anak-anak yang juga menyaksikan kekejian pria itu.


Setelah eksekusi selesai para warga yang ada di tempat itu pergi kembali ke tempat tinggal masing-masing, wajah mereka menjadi pucat dan tatapan matanya kosong, mereka harus bisa menjaga sikap dan perilakunya atau bisa saja mereka akan dijadikan target eksekusi selanjutnya.


Vald pun pergi menemui Bedivere yang sedang terbaring lemah, di seluruh bagian tubuhnya terdapat luka yang sangat parah, bahkan dagingnya sudah mulai membusuk.


Seluruh tubuhnya dibalut oleh kain perban agar mencegah pembusukan menyebar dengan cepat, para petugas medis merawatnya dengat hati-hati tanpa henti.


Luka itu tidak bisa disembuhkan menggunakan obat dan ramuan biasa, ada racun mematikan yang menggerogoti tubuhnya secara perlahan membuatnya merasakan penderitaan yang dahsyat.


"Yang Mulia...."


Bedivere menyadari bahwa Vlad datang menemuniya, dengan suara yang lemah ia mencoba mengatakan sesuatu padanya.


"Kau telah gagal Bedivere!"


"Ma-maafkan saya Yang Mulia....."


"Berbahagialah karena aku masih mengampuni nyawamu!"


Vlad pun duduk di samping Bedivere, ekspresi wajahnya tidak menunjukkan kepeduliannya sama sekali dengannya, ia hanya kecewa karena kegagalan Bedivere menaklukan Alfheim.


"Ada orang misterius yang menghalangi kami...."


"Ia memiliki kekuatan yang sangat tidak masuk akal, ia bersama seekor naga raksasa dengan sembilan kepala!"


"Aku yakin ia bukanlah manusia...."


"Khuhukk...."


Bedivere pun menceritakan semua tentang orang misterius tersebut, ia curiga dengan keberadaan pria misterius tersebut, karena tidak mungkin manusia akan beraliansi dengan para peri.


"Hooo..."


Mendengar pernyataan Bedivere, Vlad pun merenungkan sesuatu, ekspresi wajanya tampak sangat serius.


"Aku tidak menyangka akan dikalahkan seperti ini!"


"Namun ketahuilah, aku tidak takut dengan siapapun!"


"Aku akan menguasai segalanya!"


"Bahkan jika dewa mencoba menghalangiku, akan aku musnahkan mereka!"


Dengan percaya diri Vlad menantang para dewa yang mencoba menghalangi jalannya, demi kejayaan dan kekuasaan ia akan melakukan cara apapun.


"Beristirahatlah, untuk sementara posisimu akan digantikan oleh Tristan!"


"Baik Yang Mulia...."

__ADS_1


Setelah mengatakan sesuatu padanya, Vlad pun segera bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Bedivere yang terbaring tak berdaya.


__ADS_2