God Of Disaster

God Of Disaster
Kecemburuan.


__ADS_3

Sang dewa naga berjalan menuju sebuah gerbang kuil, gerbang itu memiliki bentuk yang khas dengan warna merah, terdapat ornamen-ornamen yang terbuat dari lilitan tali berwarna putih yang menghiasinya.


Saat beliau memasuki gerbang tersebut seketika pemandangan di sekitarnya berubah, hamparan pegunungan terbentang sejauh mata memandang, pepohonan yang rindang berwarna oranye dan merah, suasana di tempat itu tampak seperti sedang musim gugur, namun terdapat bunga-bunga liar yang bermekaran, tidak seharusnya bunga mekar pada musim gugur.


Pasukan dragonoid pun ikut memasuki gerbang tersebut, namun pemandangan yang mereka lihat tidak sama, mereka terpisah dari Sang Dewa Naga.


"Tempat apa ini?"


"Dimana tuan berada?!"


"Bukankah beliau bersama kita?"


"Tidak, sepertinya ini adalah sebuah ilusi!"


"Kita terpisah dari beliau!"


Vritra yang memimpin pasukan itu merasakan keanehan yang terjadi, apa yang ada di depan mereka hanyalah lembah yang sangat luas dengan pepohonan rindang.


"Ada apa ini?!"


"Tempat ini terus berubah-ubah! "


Setiap kali mereka melangkah pemandangan di sekitarnya terus berubah, meskipun mereka mengambil jalan kembali itu sudah terlambat.


"Tuan Vritra, apa kita harus kembali?"


"Tidak, apa anda akan berpaling meninggalkan tuan di sini hah?!"


"Tidak, saya tidak bermaksud seperti itu..."


"Hanya saja sepertinya tempat ini sangat berbahaya!"


Seorang prajurit memberitahunya untuk kembali, ia merasakan hal yang tidak masuk akal di tempat itu, namun demi kehormatan dan kesetiaan, Vritra menolaknya, ia tidak ingin menghianati Sang Dewa Naga dengan berpaling dan meninggalkannya.


"Tidak aja pilihan lain, kita akan terus melanjutkan perjalanan ini! "


"Tetaplah berhati-hati, jangan terpisah dari barisan!!"


Di tengah perdebatan itu akhirnya Vritra memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan mereka, mencari jalan keluar dari ilusi ini.


"Huh?"


"Shhht!!"


Beberapa saat kemudian Vritra merasakan hal yang aneh, seketika ia pun menjadi sangat waspada, ia segera meraih pedang miliknya bersiap jika ada sesuatu hal yang tidak terduga.


"Ada yang mengawasi kita!!"


"Tetap waspada!"


Sekilas tidak ada yang aneh dengan pemandangan di sekitar, hanya ada pepohonan yang berguguran tertiup angin dan bunga liar yang bermekaran.


Namun insting mereka sangat yakin bahwa terdapat banyak sekali orang yang sedang mengawasi mereka dari balik semak-semak.


"Keluarlah, kami tidak ingin bermusuhan dengan kalian!"


Vritra pun menyuruh mereka menampakkan diri, tidak lama kemudian dari balik semak-semak muncul seekor rubah putih yang menghampiri mereka.


"Hmmm...."


"Siapa kau!"


Rubah itu pun seketika berubah menjadi sesosok pria bertopeng rubah dengan mengenakan pakaian khas berwarna putih seperti seorang pendeta kuil.


"Wahai orang asing,apa tujuan engkau kemari!"


Pria itu bertanya kepada Vritra tentang tujuannya ke tempat itu, dari sorot matanya tampak pria itu sangat mewaspadai kehadiran pasukan dragonoid.


"Kami datang hanya ingin memenuhi perintah tuan kami, apapun yang beliau katakan adalah perintah bagi kami!"


"Kami ingin mencari tuan kami, tidak ada maksud apapun!"


"Bisakah engkau menunjukkan tempat dimana tuan kami berada?"


Vritra mencoba bernegosiasi dengan pria tersebut agar mengantarnya menuju ke tempat kuil Dewi Rubah.


"Maaf tapi kami tidak bisa mempercayai kalian!"


"Cukup sampai di sini, kami tidak akan membiarkan kalian lewat!"


"Tugas kami adalah untuk menjaga daerah ini, itu adalah perintah Dewi kami!"


Namun pria itu menolak negosiasi Vritra, tidak lama kemudian dari balik semak-semak mulai bermunculan pasukan bertopeng rubah yang berpenampilan mirip satu sama lain, mereka membentuk sebuah formasi siap tempur yang menandakan akan dimulainya pertempuran.


"Hooh, sepertinya kita sama-sama menjalankan tugas tuan kita!"


"Kami tidak ingin ada pertumpahan darah yang sia-sia!"


"Tidak masalah, kami persembahkan segalanya untuk Dewi kami, nyawa kami bukanlah sesuatu hal yang berharga!"


"Sayang sekali ini akan menjadi pilihan yang sangat sulit!"


Vritra sekali lagi mencoba berdamai dengan mereka namun tetap saja tidak berhasil, seketika pakaian pasukan Dewi rubah pun berubah, seluruh tubuh mereka ditutupi oleh zirah khas samurai dengan bentuk yang berbeda-beda, terdapat perbedaan yang mencolok yaitu pada topeng yang ia kenakan.


Pemimpin mereka mengenakan topeng yang tampak seperti wajah iblis yang sangat menyeramkan dengan ornamen zirah yang sangat megah menambah kesan mengerikan.


Pemandangan sekitar pun ikut berubah, pepohonan yang rindang seketika menghilang menjadi hamparan bunga di tengah lembah yang sangat luas, tempat ini akan menjadi medan pertempuran yang sangat mengerikan.


"Namaku adalah Vritra Charizard, pemimpin dari pasukan dragonoid!"


"Namaku adalah Masaki Igura, pemimpin pasukan Onimusha!"


"Senang bertemu dengan anda!"


Akhirnya mereka saling memperkenalkan diri masing-masing sebagai tanda kehormatan untuk seorang kesatria.


Vritra segera mencabut pedang miliknya dan memerintahkan pasukannya untuk bersiap, pertempuran pun tidak dapat terhindarkan.


Terdapat sebuah jalan menuju ke atas bukit, sang dewa naga pun berjalan menyusuri tempat itu untuk mencapai kuil Dewi Rubah, angin berhembus kencang menggugurkan daun-daun yang membuatnya tampak sangat indah.


Saat Sang Dewa Naga mencapai puncak bukit itu, beliau melihat sebuah bangunan besar dengan arsitektur yang sangat unik, terdapat beberapa pohon sakura yang bermekaran mengelilingi kuil tersebut, di depan bagunan itu terdapat sebuah altar yang sangat luas dengan dikelilingi tanaman bunga berwarna ungu dan merah muda yang sangat indah dan sebuah kolam air yang besar.

__ADS_1


"Saya telah menunggumu, kekasihku!"


Sebuah suara terdengar menyambut kedatangan Sang Dewa Naga, nada suara itu terdengar sangat indah dan menggoda.


Sang dewa naga pun langsung menatap ke arah seorang wanita yang sedang duduk bersandar di sebuah dipan dengan ditemani oleh seekor rubah yang berekor sembilan.


Wanita itu mengenakan gaun panjang yang disebut sebagai kimono, perpaduan warna antara ungu dan merah muda membuatnya tampak sangat anggun, dengan motif bunga sakura dan westeria menambah kesan yang begitu sempurna.


Pada bagian pundaknya tampak sedikit terbuka sehingga bagian dada depannya cukup terlihat, ukuran dadanya yang sangat besar terlihat begitu menggoda.


Wanita itu menatap sang dewa naga dengan mengenakan topeng rubah berwarna putih, dapat terlihat di balik topengnya tampak wajah yang tersenyum kepada beliau, namun sayangnya Sang Dewa Naga tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Apa kau mengenalku? "


"Khihihi..... Tentu saja! "


Sang Dewa Naga bertanya kepada wanita itu mengapa ia bisa mengenal dirinya, padahal mereka belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya.


"Apakah engkau tidak mengenali suaraku?"


"Wahai kekasihku...."


"Khihihihi....."


Kemudian wanita itu berjalan menghampiri Sang Dewa Naga, ia perlahan melepas topeng miliknya, sebuah aura yang sangat besar memancar dari dalam dirinya, tampak wajah yang sangat cantik dan menggoda, bola mata yang Indah berwarna ungu gelap menatapnya dengan penuh kegembiraan, namun Sang Dewa Naga pun waspada akan hal itu.


"Hmmm...."


"Suara itu."


"Ah, akhirnya engkau menyadarinya!"


"Khihihi....."


Sang Dewa Naga merasakan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya, suara wanita itu mengingatkannya pada saat dimana ia bangkit dari tidur panjangnya.


"Kau?!"


"Benar, dirikulah yang telah membangkitkanmu!"


"Saya sangat merindukan anda!"


"Ah, meskipun harus menunggu lama itu tidak masalah, karena sekarang anda telah datang kepadaku!"


Tangan wanita itu meraih dada Sang Dewa Naga, ia berjalan perlahan mengitari beliau sambil menggodanya, suaranya terdengar sangat lembut dan menggoda.


"Apa tujuanmu yang sebenarnya?"


"Khihihi..... Tidak ada maksud apapun, saya benar-benar merindukan anda!"


"Saya benar-benar mencintai anda!!!"


"Ahhhh~ perasaan ini sudah tak terhankan lagi...."


Wanita itu terus menggoda Sang Dewa Naga, ia terus menunjukkan keelokan tubuhnya kepada beliau, sungguh pemikat hati yang luar biasa.


"Katakanlah yang sebenarnya!"


"Khhihihi.... Apa yang kukatakan itu memang benar!"


"Saya ingin engkau menghancurkan dunia ini!"


Kemudian wanita itu memegang dagu Sang Dewa Naga sembari mengusapnya dengan lembut, tatapan wajahnya yang terlihat begitu bergairah memandang wajah Sang Dewa Naga.


Meskipun wanita itu terus menggodanya, namun Sang Dewa Naga tidak menunjukkan ketertarikan padanya, ia tetap merasa waspada dengan apa yang dilakukannya.


"Lihatlah, manusia telah banyak melakukan kerusakan di muka bumi ini, perbuatan mereka telah melampaui batas!"


"Maka dari itu mari kita bersama-sama memusnahkan makhluk tidak berguna itu! "


Wanita itu mencoba mengajak Sang Dewa Naga untuk bergabung bersamanya, tujuan sebenarnya adalah untuk menghancurkan umat manusia.


"Aku tidak tertarik bergabung denganmu!"


"Aku di sini hanya untuk mengambil sesuatu yang telah kau rebut dariku!"


Namun Sang Dewa Naga sepertinya tidak tertarik dengan tawaran itu, beliau hanya ingin menyelamatkan Elena dari wanita itu.


"Hmmm....."


"Saya tidak menyukai ini!"


Saat mendengar perkataan Sang Dewa Naga seketika ekspresi wajah wanita itu berubah, tatapan matanya menjadi sangat tajam dan nada bicaranya sangat keras.


"Lupakan saja gadis itu, kita berdua bisa melakukannya dengan baik!"


"Aku menolak!"


Dengan tatapan dingin Sang Dewa Naga menolak ajakan wanita itu, beliau mengetahui bahwa wanita itu sangat licik.


"Percayalah padaku, engkau akan merasakan kenikmatan yang belum pernah ada!"


"Akan aku persembahkan tubuhku, jiwaku!"


"Segalanya kepadamu!"


Wanita itu kembali menggoda Sang Dewa Naga, ia membuka sedikit pakaian miliknya sehingga bagian dadanya lebih terlihat sangat jelas, senyuman di wajahnya dapat membuat siapa saja terlena.


Sing~


Namun tiba-tiba Sang Dewa Naga menebas tubuh wanita itu dengan sangat cepat hingga membuatnya terbelah menjadi dua.


"Hmm..."


Seketika tubuh wanita itu pun hancur menjadi mahkota bunga sakura yang berterbangan di udara, ternyata itu hanyalah sebuah ilusi, kemudian Sang Dewa Naga pun langsung menatap ke arah kuil.


"Sayang sekali!"


"Anda telah menukar sebuah bunga dengan tanaman gulma!"


"Mengapa anda begitu tertarik dengan gadis itu?!"

__ADS_1


"Biarkanlah diriku ini memuaskanmu!"


Ternyata wanita itu masih hidup, ia duduk bersila dengan seekor rubah yang ada di depannya, rubah itu menggigit sebuah katana di mulutnya.


Kemudian wanita itu mengambil katana miliknya dari rubah itu dan mulai berdiri, seketika angin berhembus kencang membuat bunga-bunga yang ada si sekitar kuil berguguran, di saat yang sama tempat itu juga berubah, kuilnya perlahan menghilang dan hanya menyisakan sebuah altar yang sangat luas.


"Tenang saja, saya akan melakukannya dengan lembut!"


Wanita itu mencabut katana miliknya dari dalam sarung dan segera menuju ke arah Sang Dewa Naga dalam sekejap mata.


Sing~


Saat Sang Dewa Naga ingin mengangkat pedangnya, tiba-tiba wanita itu sudah berada di belakangnya dan seketika dada milik Sang Dewa Naga telah tersayat dengan sangat dalam.


"Akan saya katakan sekali lagi, apakah anda masih ingin menemui gadis itu?!"


"Sepertinya kau sudah tahu jawabannya!"


"Cih!!"


"Hiiiaaa!!!"


Wanita itu pun berbalik dan kembali menyerang Sang Dewa Naga, seketika pertarungan berlangsung sangat sengit.


Sing~


Sing~


Kedua pedang mereka berbenturan satu sama lain menghempaskan energi yang sangat besar, wanita itu merasa sangat kesal karena Sang Dewa Naga menolak ajakannya dan terus memikirkan Elena.


"Apa yang telah membuatmu lupa wahai Dewa Naga?"


"Mengapa anda begitu terpaku dengan gadis itu?!"


"Bukankah keinginanmu adalah membalaskan dendam kepada manusia itu!"


Wanita itu menyerang Sang Dewa Naga dengan sangat agresif, gerakannya yang sangat lincah membuat serangannya sulit ditahan.


"Spring Breeze!! "


Wanita itu memasukkan katana miliknya kembali ke dalam sarungnya, kemudian mengambil kuda-kuda menyerang yang sangat khas, di saat ia mencabut katananya seketika angin berhembus dengan sangat kencang membuat bunga-bunga yang ada di sekitarnya beterbangan.


Hembusan angin itu membentuk jalur tebasan yang sangat banyak bahkan dapat membelah atmosfer di sekitarnya.


"Khhh...."


Sang Dewa Naga berusaha menahan serangan tersebut menggunakan sayap miliknya, namun angin itu dapat menembus dan mencabik-cabik tubuhnya dengan sangat cepat.


"Hiiiaaa!! "


Kemudian Sang Dewa Naga mengayunkan pedang miliknya memutar secara horizontal sehingga memecah angin tersebut ke segala arah.


"Blood of Despair!"


Sang Dewa Naga menancapkan pedang miliknya ke tanah, seketika gelombang darah yang sangat besar meluap dan menerjang ke arah wanita itu.


"Hiiiaaaa! "


Wanita itu kembali mengambil kuda-kuda sambil memejamkan kedua matanya, dengan tenang ia menunggu ombak itu datang menerjangnya, kemudian saat ombak tersebut hampir melahapnya, ia menarik katana miliknya dan langsung mengayunkannya dengan sangat cepat, seketika ombak itu terpecah menjadi dua dan tidak ada satupun yang dapat mengenainya.


Sing~


Sing~


Mereka saling beradu pedang dengan sangat sengit, saat kedua pedang mereka berhimpitan satu sama lain, wanita itu kembali berbicara kepada Sang Dewa Naga.


"Berhentilah memikirkan gadis itu!!"


"Diriku lebih baik darinya, anda seharusnya memilihku!!"


"Mengapa?!"


"Mengapa harus dia yang engaku pilih!!"


Wanita itu meluapkan semua kekesalannya, dirinya merasa sangat cemburu oleh Elena yang menjadi pusat perhatian dari Sang Dewa Naga.


Keduanya saling mendorong pedang mereka satu sama lain hingga membuat tanah yang dipijaknya menjadi retak dan hancur.


"Khhaaaa...."


Namun Sang Dewa Naga tidak menanggapinya sama sekali, kemudian beliau pun menghempaskan katana wanita itu ke atas hingga membuat pertahanannya terbuka, dengan cepat memutar badan dan langsung mengayunkan kedua pedangnya secara bertubi-tubi.


Wanita itu pun terhempas ke belakang dengan luka yang cukup parah, namun dirinya masih bisa berdiri dengan tegak.


"Khhhh, tidak ada pilihan lain!"


"Jika itu keputusan anda maka..."


"Saya akan membangkitkan ingatan dirimu yang baru!"


"Hingga engkau benar-benar menjadi milikku!"


Wanita itu melepaskan aura yang sangat dahsyat, seluruh daratan berguncang hebat, bunga-bunga di sekitarnya beterbangan dihepaskan oleh angin.


"Tunggulah, saya akan menyelamatkan anda...."


"Khihihihi....."


Perlahan tubuh wanita itu berubah, satu per satu ekor rubah mulai tumbuh di balik pinggulnya, ekor itu keseluruhan berjumlah sembilan.


Partikel-partikel cahaya ungu bercampur merah muda mengelilingi wanita itu, senyuman di wajahnya benar-benar menakutkan.


"Ahhh~ sudah lama diriku tidak merasakan sensasi ini!!"


"Saya sangat menginginginkan dirimu!"


"Wahai kekasihku, kembalilah kepadaku!!"


"Namaku adalah Inari Kitsune, seseorang yang akan menyelamatkanmu dari pengaruh gadis itu!"


"Diriku pasti akan membuatmu menjadi mikikku!"

__ADS_1


"Khihihihi....."


Kini Dewi Rubah mengeggam katana miliknya yang bersinar, dengan senyuman licik dan nada bicara yang sangat mengerikan ia pun bersiap menyerang, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai.


__ADS_2