God Of Disaster

God Of Disaster
Rasa Bersalah


__ADS_3

Di dalam ruang tahta yang megah, terdapat 12 kesatria yang sedang berbaris menghadap sang raja.


Kemudian ke 12 kesatria itu pun tunduk di hadapan sang raja secara bersamaan, pandangan mata mereka menghadap ke bawah, sang raja yang sedang duduk bersandar di singgahsana miliknya pun menatap mereka dengan tajam.


Aura yang mengerikan terpancar dari dalam dirinya yang membuat semua orang merasa terintimidasi.


“Yang mulia, kami datang untuk melapor!!!”


“Kuizinkan kau bicara!!”


“Baik...”


Setelah mendapat persetujuan dari sang raja, salah seorang kesatria diantara mereka pun mulai berbicara.


“Kerajaan Wilsburn berhasil ditaklukan!!”


“Seluruh pasukan musuh telah dimusnahkan!!!”


“Baguslah....”


Kesatria itu pun melaporkan hasil peperangan kepada sang raja dengan sangat rinci, menanggapi hal itu sang raja hanya menunjukkan wajah datar seakan tidak peduli.


“Saat ini pasukan kita sedang menduduki ibu kota Wilsburn!”


“Para warga sipil dan keluarga kerajaan telah ditangkap!”


“Apa yang harus kami lakukan kepada mereka?”


Pasukan kesatria itu berhasil menawan keluarga kerajaan yang tersisa, itu bukanlah suatu hal yang aneh, setiap salah satu pihak kerajaan kalah dalam peperangan maka keluarga mereka akan menjadi tawanang perang, hak asasi mereka juga akan dicabut dan dalam sekenario terburuk seluruh keluarga kerajaan dari pihak yang kalah akan dibunuh atau dijadikan budak oleh pihak yang berkuasa.


“Biarkan ratu dan putri tetap hidup dan bawa kemari!!!”


“Sisanya jadikanlah budak!!!”


“Jika ada yang memberontak maka bunuh mereka semua!!!”


Kemudian sang raja pun memberikan sebuah perintah yang sangat tidak manusiawi, mereka


membiarkan sang ratu dan putri mahkota untuk tetap hidup agar dijadikan budak **** bagi sang raja, dan para warga sipil yang tertangkap harus kehilangan kebebasan mereka dan menjadi budak pekerja oleh pihak kerajaan tersebut.


“Dimengerti yang mulia...”


“Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan!”


“Apa itu?”


Sebelum kesatria itu pergi melaksanakan perintah dari sang raja, ia kembali menyampaikan sesuatu kepada beliau.


“Ada rumor yang mengatakan bahwa Dewa Naga telah bangkit!”


“Dan merreka juga ingin membangun kembali Kekaisaran Naga yang baru!”


Mendengar apa yang dikatakan oleh kesatria itu, sang raja pun menunjukkan ekspresi yang


serius, kemudian seorang wanita yang berdiri di samping beliau mulai membisikkan sesuatu


di telinga sang raja, wanita itu mengenakan mahkota layaknya sang satu dengan paras yang cantik mempesona.


“Sepertinya kita tidak punya banyak waktu lagi!”


“Sir Bedivere, aku memerintahkanmu untuk pergi ke Alfheim dan carilah buah pohon suci!”


“Sedangkan yang lain akan tetap melanjutkan penaklukan benua Larens!!”


“Mordred kaulah yang memimpin!!!”


Dengan cepat sang raja pun mengambil keputusan, beliau memerintahkan para kesatria miliknya untuk pergi mencari buah pohon suci dan juga melanjutkan penaklukan kerajaan-kerajaan yang ada di sekitarnya.


“Dimengerti yang mulia...”


“Kami akan melaksanakannya dengan senang hati!’


Para kesatria itu pun menuruti perintah beliau dan segera berdiri, mereka meberi penghormatan kepada sang raja sebelum akhitnya berbalik pergi, dan dengan begitu


pertemuan pun berakhir.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sang dewa naga dan Elena berjalan menuruni lembah, mereka melihat sebuah kota kecil yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri, dan mereka pun memutuskan utuk singgah di kota tersebut.


“Sepi sekali!”


“Apa tidak ada orang di sini?”


Perlahan sang dewa naga dan Elena memasuki pintu gerbang, saat Elena melihat sekeliling ia


merasa heran karena tidak ada satupun orang yang terlihat disana, suasana kota terasa begitu hening, bangunan-bangunan yang berdiri di sana terlihat sangat tua dan rapuh, sepertinya kota ini telah lama ditinggalkan.


Mereka berjalan menyusuri kota, namun tetap saja tidak ada orang yang dapat mereka temui, hingga tiba-tiba mereka melihat seorang anak kecil yang sedang terbaring di tengah jalan.


“Hei apa kamu baik-baik saja?”


Elena pun segera berlari menuju kearah anak kecil tersebut, dengan ekspresi khawatir Elena


mencoba membangunkannya, tubuh anak itu sangatlah kurus, pakaian yang dikenakannya pun sangat lusuh dan sudah tidak layak dipakai.


“Bertahanlah!”


Anak itu terbaring tidak sadarkan diri, namun meski begitu ia masih bernapas, mungkin ia lemas karena kelaparan, Elena pun segera menolongnya dengan memberinya sedikit makanan.


"Huuwaaa...."


“Eh?”


Namun saat Elena ingin mengambil makanan yang ada di dalam tas miliknya, tiba-tiba ia


dikejutkan oleh anak tersebut yang segera sadar dan langsung mendorongnya ke belakang hingga jatuh, kemudian anak itu meraih kantong emas dan menariknya sekuat tenaga hingga ia berhasil meggenggamnya, Elena yang terjatuh tidak bisa menghindari hal itu.


Anak itu pun segera bangkit dan ingin melarikan diri, namun dengan cepat sang dewa naga mencengkram tangan anak tersebut dengan sangat kuat hingga ia terhenti.


“Huh?”


Anak itu menoleh kearah sang dewa naga, seketika matanya pun terbelalak, sang dewa naga menatapnya dengan sangat tajam dan mengeluarkan aura intimmidasi yang sangat mengerikan.


“Ti-tidak...”


“Le-lepaskan....”


Seketika tubuh anak itu gemetar ketakutan merasakan aura yang sangat mengerikan tersebut, ia ingin berteriak dengan kencang namun mulutnya terlalu kaku untuk bicara.


“To-tolong....”


Crack~


“Aaaghhhhh...”


Anak itu pun meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari cengkraman sang dewa naga, namun beliau tidak membiarkannya lolos begitu saja, sang dewa naga semakin kuat mencengram tangan anak itu hingga tulang miliknya berbunyi.


“Sakit!!!”


“Aaaghhh....”


Akhirnya kantong emas itu jatuh dari genggaman tangan anak tersebut, kemudian sang dewa naga pun melepaskan cengkramannya dari anak itu dan membiarkannya kabur.


“Hih....”


“Huaaa....”


“Tu-tunggu...”


Anak itu pun segera lari terbirit-birit meninggalkan sang dewa naga, Elena yang melihatnya mencoba memanggil, namun anak itu sudah sangat jauh dari mereka.


“Engkau lengah Elena!”


“Jangan pernah mengendurkan kewaspadaanmu!”

__ADS_1


Kemudian sang dewa naga pun mengambil kantoing emas tersebut dan segera berbaik menuju Elena, beliau mengulurkan tangannya mencoba membantu Elena untuk berdiri.


“Maafkan saya tuan....”


“Saya berjanji tidak akan mengulanginya....”


Elena pun meraih tangan sang dewa naga dan mulai berdiri, ia menatap sang dewa naga dengan rasa bersalah, dirinya masih terlalu naif sehingga mudah untuk ditipu oleh orang lain.


"Hmm!"


Ting~


“Eh?”


Tiba-tiba tanpa disadari sebuah belati melesat menuju mereka, dengan segera sang dewa naga pun menagkisnya menggunakan punggung tangan miiknya hingga belati itu terpental dan menancap di tanah.


Elena pun merasa terkejut dengan serangan mendadak itu, beruntungnya sang dewa naga


segera melindunginya sehingga ia serangan itu tidak mengenainya.


“Oi.... oi.... oi.....”


“Sepertinya kita kedatangan tamu!”


Tidak lama kemudian muncul suara laki-aki dari dalam bayang-bayang, dan perlahan mulai


terdengar suara langkah kaki yang bergemuruh mendekat ke arah mereka.


“Elena jangan menjauh darriku!”


“Baik...”


Seketika sang dewa naga menjadi waspada dan beliau pun menyuruh Elena untuk tetap


bersamanya, dengan segera Elean pun menuruti perintah tersebut.


“Sepertinya kalian salah memilih tempat bersinggah!!!”


“Ah tapi kami sangat senang menyambut kedatangan kalian!!”


Dari balik bayangan muncul gerombolan laki-laki yang membawa senjata, mereka berpenampilan layaknya seorang bandit yang mengerika, salah seorang dari mereka berbicara kepada sang dewa naga dan Elena dengan kegirangan.


“Selamat datang di rumah kami!!”


“Kami telah menyiapkan pesta yang meriah untuk kalian!!”


Bandit itu terus berbicara kepada sang dewa naga dengan ekspresi yang menjijikkan, sang dewa naga hanya diam menatapnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun.


“kami tidak membutuhkannya!!”


Akhirnya beliau pun membalas perkataan bandit itu dengan acuh dan menolak tawaran darinya, seketika ekspresi wajah bandit tersebt berubah menjadi sedikit kesal.


“Hoo....”


“Apa kalian tidak suka berpesta?”


Kemudian bandit itu pun bertanya kepada sang dewa naga dengan nada yang serius, dan di saat yang sama tiba-tiba rombongan bandit lain mulai berdatangan menuju kearah mereka, para bandit itu pun mengepung sang dewa naga dan Elena dari segala arah.


“Kalau begitu apakah kalian lebih suka jika kami menyediakan peti mati untuk kalian?!!”


"Semuanya serang!!!"


“Hiaaa!!!!”


Seketika semua bandit itu mulai menyerang sang dewa naga secara bersamaan, sang dewa naga mencoba menutupi Elena yang berada di belakangnya agar tidak terluka.


“Matilah kau!!!”


“Aghhhhh...”


Salah seorang bandit mengayunkan kapak miliknya menuju kepala sang dewa naga secara vertikal, namun sebelum kapak itu mengenai beliau, sang dewa naga segera menghindat dan meraih kapak miliknya menggunakan tangan kiri kemudian memukul perut bandit itu dengan sangat keras menggunakan tangan kanan, seketika bandit itu pun tersedak memuntahkan liur dari dalam mulutnya.


“Khhaaa...”


Hal itu membuat kapak yang ada ti dangannya terlepas dan kini berada di genggaman sang


“Sialan, terima ini!!!”


Bandit lain yang ada di belakangnya pun menjadi sangat marah melihat temannya mati, ia mencoba menusukkan pedang miliknya ke arah sang dewa naga sembari berteriak dengan keras.


“Khaaaa....”


Namun sang dewa naga dengan tenang meraih pergelangan tangan bandit itu dan memutarnya, seketika pedang milik bandit tersebut pun berbelok arah dan menusuk dadanya sendiri hingga menembus jantungnya, ia pun merintih kesakitan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.


“Hiaaa!!!!”


“Huaaaa.....”


Sang dewa naga pun mencabut pedang yang tertancap di dada bandit itu dan melemparkannya ke arah bandit lain yang datang menyerang, seketika pedang tersebut pun melesat bagaikan anak panah dan menancap tepat di kepala salah seorang bandit hingga menembus otak miliknnya, seketika bandit itu pun mati dengan luka di kepalanya.


“Aaghhhhh....”


“Khaaaa.....”


Meskpun hanya seorang diri, namun sang dewa naga mampu membantai satu per satu bandit tersebut dan tanpa menerima luka sedikitpun, bahkan beliau tidak menggunakan pedang merah


miliknya sama sekali.


“Hai nona manis!”


“Apa kau ingin bermain denganku?”


Di sisi lain Elena yang sedang dikepung olehh para bandit merasa sedikit ketakutan, ia pun


mengambil posisi siaga dengan tangan kosong karena ia tidak membawa senjata, kemudian salah seorang bandit yang sebelumnya berbicara dengan mereka berdua mencoba untuk menggodanya sembari menunjukkan tatapan mesum kepada Elena.


“Kau memiliki tubuh yang sangat menggoda!!”


“Hehehehe, bolehkah aku menyentuhnya?!”


Bandit itu pun terus menggoda Elena dengan ekspresi yang sangat menjijikkan, dan hal itu


membuat Elena merasa tidak nyaman.


“Kumohon menjauhlah dariku!”


“Ayolah, biarkan aku menikmati tubuh indahmu itu!”


“Tidak!”


Bandit itu pun perlahan mendekat menuju Elena, ia mencoba menyentuh dada milik Elena dengan kedua tangannya, namun Elena dengan cepat mendorong bandit itu ke belakang dengan sangat kuat hingga membuatnya terpental dan hampir jatuh.


“Cih!”


“Sepertinya aku harus sedikit kasar!”


“Hahahaha.....”


Elena menjadi sedikit gemetar melihat bandit itu, tapi mau tidak mau ia harus bisa melindungi diri darinya agar ia tidak menjadi korban pelecehan oleh bandit tersebut.


“Datanglah padaku!!!”


“Jangan mendekat!!!”


“Aaghhhh....”


Saat bandit itu hampir menyentuh tubuh Elena, dengan cepat Elena menepis tangan bandit itu


dengan sangat keras, lalu ia memutar tubuhnya untuk menghindar dan melancarkan sebuah tendangan di perut bandit itu, seketika bandit tersebut pun terpental cukup jauh ke belakang dan jatuh berguling di tanah.


“Cih!!!”


“Dasar ******!!!”


“Beraninya kau melakukan ini padaku!!!”

__ADS_1


Bandit itu pun perlahan bangkit dan menjadi sangat marah kepada Elena, ia mengeluarkan sebuah pedang miliknya dan mencoba menyerang Elena.


“Hiaaa!!!”


“Aagghhh....”


Ia mengayunkan pedang miliknya menuju Elena dengan brutal, Elena mencoba melakukan pertahanan diri dengan menghindari serangan itu, namun bandit tersebut tidak berhenti menyerangnya sebelum amarahnya terlampiaskan.


“Elena tangkap ini!”


“Huh?”


Kemudian Elena melihat sebuah pedang merah melayang di atasnya, di saat yang sama bandit itu pun kembali melancarkan serangan menuju ke arahnya, dengan cepat ia pun menghindar


dan segera mengambil pedang merah tersebut.


“Matilah kau ******!!!!”


Saat bandit itu melancarkan serangan vertikal menuju Elena, ia pun memblokir serangan tersebut menggunakan pedang merrah yang ada di tangannya, kedua pedang mereka saling berbenturan menghasilkan percikan api yang cukup besar.


“Hooo....”


“Sepertinya kau cukup keberanian melawanku!!”


“Khhhh....”


Kedua pedang mereka saling berhimpitan satu sama lain, si bandit itu mendorong pedangnya


mencoba untuk menembus pertahanan milik Elena, namun di sisi lain Elena mencoba untuk menahan serangan dari bandit itu dengan sekuat tenaga.


“Hahahaha, tapi itu sia-sia!!!”


“Aku bersumpah akan memperkosamu dan menjadikanmu budak **** ku!!!”


“Aku sangat menantikan ekspresi mesummu itu!!!”


Bandit itu pun mencoba memprovokasi Elena dengan kata-kata yang sangat tidak pantas, Elena hanya bisa diam mendengarkannya tanpa membalas sedikitpun.


“Ini Sudah berakhir!!!”


“Eh?”


Karena tidak terpengaruh oleh perkataan bandit itu, Elena pun menjadi lengah, pertahanan miliknya pun melemah dan akhirnya si bandit itu mendorong pedang miliknya hingga membuat


Elena terpental ke belakang dengan pertahanan terbuka.


“Kena kau!!!”


Bandit itu dengan cepat mengayunkan pedang miliknya, Elena yang sudah pasrah pun menutup matanya sembari menusukkan pedang miliknya ke depan sebagai bentuk pertahanan terakhirnya, ia pun mempertaruhkan nyawanya dalam satu serangan tersebut.


“Agghhh....”


“Huh?”


Tiba-tiba suara rintihan pun terdengar, dan saat Elena membuka matanya ia dikejutkan oleh bandit tersebut yang sudah ada di hadapannya dengan dada yang tertembus oleh pedang miliknya, bandit itu pun memuntahkan darah dari mulutnya.


“Mengapa.....”


Perlahan bandit itu pun kehilangan kesadarannya dan mulai menutup mata, Elena menatapnya dengan terkejut, dan kedua matanya terbelalak, darah segar perlahan mengalir dari luka itu melumuri tangan Elena, dan dengan panik Elena mencabut pedang miliknya dari dada bandit itu, akhirnya tubuh bandit itu pun jatuh ke tanah.


“Huha...huhaa....”


Seketika tubuh Elena membeku, kedua tangannya gemetar hingga membuat pedang yang ada di genggamannya jatuh dan menancap di tanah.


“Hiaa!!!!”


Dari arah belakang mulai berdatangan bandit-bandit lain yang ingin menyerangnya, namun Elena tidak bergerak sedikitpun, ia hanya memandangi mayat seorang bandit yang ada di


hadapannya.


“Huaaa.....”


“Aaghhhhh....”


“Khaaa....”


Namun dengan segera sang dewa naga datang dan melindungi Elena, dengan pedang merah miliknya beliau membantai satu per satu bandit itu hingga tidak tersisa, akhirnya semua bandit yang ada di sana telah musnah dan hanya menyisakan tumpukan mayat, darah menggenang di bawah kaki merreka bagaikan lautan.


“Huuuhhaaa... huuhhaa....”


Elena masih terdiam memandangi kedua tangannya yang sudah berlumuran darah, tubuhnya gemetar dan napasnya menjadi tidak beraturan, ini adalah pertama kalinya ia membunuh seseorang, dan hal itu sangat mengejutkan baginya.


Namun Elena melakukan hal itu bukan karena disengaja, melainkan sebagai tindakan pertahanan diri, jika saja ia tidak membunuh bandit itu maka dirinyalah yang akan mati saat itu.


“Ma-maafkan saya.....”


“Sa-saya tidak berniat melakukannya....”


“Kumohon maafkan saya....”


Perlahan Elena mulai berkata aneh, air matanya mengalir sangat deras membasahi pipi, kesedihan dan rasa bersalah seketika menyelimuti dirinya dengan sangat dalam.


“Elena!”


“Kendalikan emosimu!!”


“Huh?”


Namun dengan segera sang dewa naga pun memeluk Elena dengan erat, beliau mencoba menenagkan Elena yang sedang tenggelam dalam rasa bersalahnya.


“Ma-maafkan saya.....”


“Itu semua salahku....”


“Maaf....”


Elena pun terus bergumam dan meminta maaf, namun dengan pelukan hangat dari sang dewa naga akhirnya Elena pun berhasil mengendalikan emosinya.


“Apa engkau sudah merasa lebih baik?”


“Ah benar, saya baik-baik saja....”


“Terima kasih banyak...”


“Maaf sudah membuat anda khawatir...”


Kini Elean sudah sepenuhnya merasa tenang, lagi-lagi ia meminta maaf atas perbuatannya


tersebut.


“Engkau tidak perlu meminta maaf!”


“Itu semua bukanlah salahmu!”


Namun sang dewa naga tidak menyalahkan Elena sama sekali, beliau tidak ingin membuat


Elena tenggelam dalam rasa bersalah lebih dari ini.


“Sebaiknya kita pergi dari sini!”


“Ah ummm..... bolehkah saya meminta waktu sebentar?”


“Tidak masalah.”


“Terima kasih banyak....”


Sang dewa naga pun mengajak Elena untuk perrgi dari tempat itu, namun Elena meminta agar diberi sedikit waktu untuknya, dan sang dewa naga pun mengizinkannya.


Elena berbalik menghadap ke arah mayat seorang bandit yang terbunuh olehnya, kemudian ia mengepalkan kedua tangannya dam mulai berdoa.


“Apa engkau sudah selesai?”


“Benar....”


“Kalau begitu mari kita pergi!”

__ADS_1


Setelah beberapa saat akhrinya Elena telah selesai berdoa, ia pun segera pergi menghampiri sang dewa naga, meskipun masih ada sedikit rasa bersalah di dalam hatinya, namun Elena mencoba untuk menerima kenyataan itu, dan akhirnya mereka pun berjalan pergi meninggalkan kota tersebut.


__ADS_2