God Of Disaster

God Of Disaster
Dewi Rubah.


__ADS_3

Kring~


Kring~


"Hmm...."


"Selamat datang kupu-kupu kecil yang tersesat!"


"Khihihi...."


"Huh?"


Suara dering lonceng terdengar mendekati Elena membuat ia perlahan membuka matanya, dan apa yang ia lihat adalah seorang wanita yang berdiri di hadapannya.


Wanita itu mengenakan pakaian Kimono panjang berwarna gradasi ungu dan merah muda dengan motif bunga sakura dan westeria.


Pada bagian bahunya cukup terbuka sehingga tampak lekukan tubuh yang indah dan dada yang sangat besar, rambutnya disanggul menggunakan semacam tusuk yang menyerupai mahkota berwarna emas dengan ornamen-ornamen yang menghiasinya.


Di lehernya terdapat sebuah liontin berbentuk lonceng bulat yang terus berdering setiap kali ia berjalan, wanita itu juga mengenakan topeng berbentuk wajah rubah berwarna putih.


Tubuh Elena merinding saat merasakan aura pekat yang dipancarkan oleh wanita itu, ia juga mencium bau harum dari bunga-bunga yang tumbuh mengelilingi altar kuil tersebut.


"Dimana ini?"


Tangan dan kaki Elena terikat dengan rantai yang membuatnya kesulitan bergerak.


"Khhh....."


"Huh...."


Elena pun mencoba melepaskan diri dari rantai tersebut, namun tiba-tiba muncul dua buah bilah katana yang menyilang tepat di lehernya.


Bilah itu hampir memenggal kepalanya hingga putus, ternyata di belakang Elena terdapat pula dua orang gadis berpakaian kimono dan bertopeng rubah yang sedang berjaga, mereka siap memenggal kepala Elena kapanpun bila ia memberontak.


"Tenanglah, saya hanya ingin mengobrol dengannya!"


"Baik Miko-sama..."


Wanita itu pun menyuruh mereka untuk menarik kembali katananya dan membiarkan Elena bicara, para gadis itu pun menuruti perintah tersebut dan langsung memasukkan kembali katana mereka ke dalam sarungnya.


"Kihihihi...... hmmm, maaf membuatmu terkejut!"


"Apa yang anda inginkan dariku?"


Elena pun bertanya kepada wanita itu maksud mereka menculik dirinya.


"Khihihi......


Wanita itu tertawa menanggapi pertanyaan tersebut, meakipun wajahnya ditutupi oleh topeng yang ia kenakan, namun nada tawanya terdengar sangat mengerikan.


"Tidak ada."


"Saya hanya ingin menggunakanmu sebagai umpan!!"


"Tujuanku adalah untuk mengundang Kekasihku Ozario kemari!"


"Eh?"


Elena terkejut mendengar jawaban darinya, sepertinya wanita itu sangat mengenal Sang Dewa Naga, dadanya seketika terasa sesak saat wanita itu menyebut beliau kekasihnya.


"Siapa anda?"


"Ah maaf, saya belum memperkenalkan diri!"


"Saya adalah Inari Kitsune, orang-orang menyebutku Dewi Rubah!"


Wanita itu menanggapi Elena dengan santai, namun aura yang ia pancarkan menunjukkan rasa bencinya kepada Elena.


"Hmmmm...."


"Saya merasa iri padamu!"


"Kau selalu bersamanya dan terus menggodanya setiap saat!"


"Itu sangat membuatku kesal!"


Wanita itu menyentuh dagu Elena dengan sedikit kasar, kuku-kukunya yang tajam pun hampir menggores kulit Elena.


"Ma-maaf saya tidak mengerti maksud anda...."


"Haaahhh...."


Elena merasa sedikit ketakutan oleh tatapan wanita tersebut, kemudian wanita itu pun menghela napas panjang dan berat.


"Berhentilah berpura-pura!!"


"Apa kau masih belum mengingat siapa dirimu yang sebenarnya?"


"Apa engkau lupa bahwa dirimulah yang menyegel Dewa Naga di gunung itu?"


"Eh?"


Mendengar apa yang wanita itu katakan membuat Elena tersadar akan sesuatu, perlahan ingatan masa lalunya bermunculan di dalam pikirannya.


"Hmmppp...."


"Apa sekarang engkau mulai menyadarinya Ratu Peri?"


"Itu...."


Serpihan-serpihan ingatan tersebut perlahan tersusun kembali menjadi rangkaian yang utuh.


"Itu semua demi menjaga keseimbangan tatanan dunia!"


"Saya tidak ingin terjadi kehancuran dunia ini..."


Elena menyegel Sang Dewa Naga dengan mengorbankan dirinya untuk menjaga keseimbangan dunia, itu adalah tugasnya sebagai seorang Ratu Peri.


"Kau tahu, melestarikan populasi manusia tidak akan mengubah apapun!"


"Lihatlah apa yang mereka perbuat sekarang!"


"Manusia memang seharusnya dimusnahkan sejak awal!"


Wanita itu memarahi Elena dengan nada yang kasar, ia sangat kesal karena Elena menghalangi jalannya.


"Apa anda ingin menghancurkan dunia ini?"


"Hmmpp, tatanan dunia katamu?"


"Tidak ada gunanya lagi membicarakan itu sekarang!"


Elena menatap wanita itu dengan wajah serius, ia merasa bahwa ada hal buruk akan terjadi dalam waktu dekat.


"Manusia telah menghancurkan keseimbangan itu sendiri!"


"Keserakahan membuat mereka lupa dengan siapa yang telah memberi mereka perlindungan!"


Elena hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, manusia memanglah makhluk yang berbuat kerusakan, meskipun tidak semua dari mereka seperti itu, namun hawa nafsu lah yang menyebabkan mereka menjadi serakah.


"Tapi...."

__ADS_1


"Yaah itu tidak penting, berdebat denganmu tidak akan menyelesaikan apapun!"


"Meskipun ada beberapa dewa yang mencoba memanfaatkan mereka untuk berperang melawan dewa yang lain!"


"Saya tidak peduli, selama pada akhirnya Ozario menjadi milikku maka saya akan mengorbankan semuanya!"


"Khihihihi, saya tidak sabar ingin menemui kekasihku!"


Wanita tersebut pun berbalik dan meninggalkan Elena sendirian.


Sang Dewa Naga pergi mencari Elena yang diculik oleh Dewi Rubah Inari, beliau pergi menuju Shangri-La yaitu wilayah kekuasaan Dewi Inari.


Dari kejauhan beliau melihat sebuah badai besar uang sedang melanda sebuah kota, awan-awan menjulang tinggi di angkasa menjadikan seluruh tempat tertutupi oleh kabut tebal.


Suara gemuruh menggelegar, petir-petir menyambar tempat itu tanpa henti, di antara badai itu terdapat pasukan dengan jumlah yang sangat besar yang sedang bertarung.


"Grrraaa....."


Hydra mengaum dengan sangat keras mencoba memanggil seseorang, Sang Dewa Naga menatap tajam ke arah tempat itu, beliau mengambil dua pedang merah miliknya dan mengepakkan keenam sayap naga di punggungnyaseakan bersiap untuk pertempuran.


"Uh?"


Orang-orang di kekaisaran tiba-tiba terhenti dari aktifitasnya, kemudian mereka serentak menoleh ke atas seakan mendengar panggilan.


"Tuan!"


Para prajurit dari kalangan ras dragonoid dan serigala pun ikut menoleh menyadari bahwa Sang Dewa Naga memanggil mereka.


"Grrraaa....."


"Auuuuu......"


Satu per satu dari mereka mulai berubah menjadi wujud naga, Jenderal Vritra pun segera memimpin para naga itu untuk terbang menuju tempat Sang Dewa Naga berada.


Para naga terbang dengan jumlah yang sangat besar menghiasi langit bagaikan sebuah pertanda malapetaka, langit yang semula biru cerah kini tertutupi oleh bayangan hitam yang sangat menyeramkan.


"Alpha!"


"Ya, tuan memanggil kita!"


Orang-orang yang ada di dalam istana pun mendengar panggilan tersebut, mereka semua berkumpul dan menatap ke atas langit.


"Segera kirimkan pasukan!"


"Baik yang mulia..."


Alpha pun memerintahkan bawahannya untukĀ  ikut memenuhi panggilan Sang Dewa Naga.


"Sepertinya beliau murka!"


"Benar, apa ini ulah manusia bodoh itu lagi?"


"Aku tidak tahu..."


Alpha mengirim Sigma untuk memimpin pasukan serigala, mereka pun pergi meninggalkan kekaisaran.


Di dekat perbatasan Lembah Minotaur, terjadi sebuah peperangan, pasukan manusia bertarung melawan sekumpulan monster menyerupai banteng nesar yang dapat perdiri menggunakan dua kaki.


"Maju!!"


"Hiiaaaa!!!"


"Grrraaaaa....."


Monster-monster itu menyerang dengan sangat agresif sehingga pasukan manusia menjadi kewalahan.


Hamparan salju yang semula putih kini telah ternodai oleh darah yang tumpah, mayat-mayat berserakan dengan kondisi yang sangat mengerikan.


"Manusia menjijikkan!!"


"Khhaaaa....."


"Akan aku bantai kalian semua!!!"


Sesosok monster banteng yang paling besar diantara mereka berbicara dengan nada penuh kebencian, ia meremas dan menghempaskan siapapun yang ada di dekatnya dengan sangat kejam, sepertinya ia adalah pemimpin dari kawanan monster tersebut.


"Bunuh dan rampas semuanya!!"


"Grrraaa...."


"Hiiiaaa!!!"


Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki dengan tubuh kekar yang menggunakan jubah kerudung seperti bulu hewan dengan kepala singa yang menutupi kepalanya.


Ia pun melompat dan memukul kepala bagian belakang monster tersebut hanya dengan tangan kosong, seketika pemimpin minotaur tersebut jatuh tersungkur.


"Sialan!!!"


"Rasakan ini!!!"


"Ghhhaaa....."


Pemimpin minotaur tersebut segera bangkit dan mencoba menyerang laki-laki itu, namun sebelum tangannya menggapai tubuhnya, pria itu dengan cepat melancarkan sebuah pukulan tepat di wajah minotaur tersebut.


Benturan yang sangat keras membuat monster itu terhempas jauh ke belakang, bahkan salah satu tanduknya pun patah akibat pukulan pria tersebut.


"Aku tidak akan membiarkan kalian mengacaukan negeri kami!!"


"Pergilah, atau tempat ini akan menjadi kuburanmu!"


"Khhhaaaa...."


Pria itu perlahan berjalan mendekati pemimpin minotaur yang sedang terbaring di tanah, pria itu menginjak kepala minotaur dengan sangat kuat membuatnya terhimpit di tanah.


"Khhh....."


"Masih belum!!"


"Hiiiaaaa!!!"


Namun pemimpin minotaur tersebut tidak menyerah begitu saja, ia mencoba bangkit kembali dan melawan pria tersebut, ia menghempaskan pria itu ke udara dan menyeruduknya.


"Hiiiaaaa!!!"


"Jangan sombong dulu kau!!"


"Hiiaaaa!!!"


Saat tubuh pria itu hampir tertancap oleh tanduk minotaur, ia memutar tubuhnya dwngan sangat cepat dan menghindari serangan tersebut.


"Khhhaaaa....."


Pria itu mendarat tepat di atas kepala pemimpin minotaur tersebut tanpa terluka, kemudian ia mencengram tanduk minotaur tersebut dengan sangat kuat dan mematahkannya.


"Huuuaaaaa....."


"Beraninya kau!!!"


Pemimpin minotaur tersebut meronta-ronta mencoba menjatuhkan pria tersebut, ia bahkan menabrakkan dirinya ke pepohonan dengan sangat kuat agar pria itu terjatuh.


Kemudian pria itu melompat dari atas kepala minotaur tersebut dan menusukkan tanduk di tangannya tepat di dada milik minotaur.

__ADS_1


"Khhhhaaaa...."


"Sialan!!"


Pria itu terus menusukkan tanduk tersebut semakin dalam membuat pemimpin minotaur menjerit kesakitan.


"Rasakanlah hukumanmu!!"


Crack~


"Aaghhhh...."


Saat pemimpin minotaur tersebut kehilangan tenaganya dan jatuh berlutut, pria tersebut mencengram lehernya dengan sangat kuat dan memutarnya hingga terdengar suara yang sangat keras seperti tulang yang patah patah.


Seketika pemimpin munotaur tersebut kehilangan kesadarannya dan terbaring di tanah.


"Pergilah kalian, atau rasakanlah kemarahan kami!!"


"Huh?"


Para minotaur yang lain terkejut melihat pemimpin mereka telah dikalahkan, wajah mereka seakan menunjukkan ketakutan saat menatap pria itu.


"Mundur!!"


Akhirnya para minotaur itu pun berlarian pergi meninggalkan area pertempuran.


"Kita menang!!!"


"Hiiiaaaaa....."


"Hidup Hercules!!!"


Para prajurit yang ada di medan pertempuran bersorak ria atas kemenangan mereka mengusir para minotaur, sedangkan pria kekar itu sedang menatap ke arah langit dengan ekspresi serius.


"Huh?"


Seketika semua orang terdiam, pandangan mereka teralihkan dengan sekumpulan bayangan hitam yang mendekat ke arah mereka.


"Grrraaaa....."


Ratusan naga terbang tepat di atas mereka membuat seluruh langit menjadi gelap gulita, naga-naga itu menuju ke arah gerombolan pasukan minotaur yang sedang melarikan diri.


"Huuuaaaaa....."


"Agghh....."


"Ghhaaaa...."


Naga itu seketika mendarat dengan tajam dan menerkam para minotaur dari belakang, beberapa dari mereka membakarnya hingga tak tersisa.


"Ada apa ini?"


Orang-orang yang melihatnya pun tercengang dengan hal itu, kekejaman para naga itu dalam membantai minotaur membuat tubuh mereka gemetar.


"Fiuittt....."


"Nemea!!"


Kemudian Hercules pun bersiul mencoba memanggil seseorang, seketika datang seekor singa raksasa yang berlari di tengah hamparan salju yang tebal menuju ke arah Hercules.


"A-apa yang akan anda lakukan?"


"Aku akan memastikan siapa mereka sebenarnya!"


Para prajurit itu memperingatkan Hercules untuk tidak mendekati mereka, namun dengan tekad yang kuat ia tetap pergi dengan menunggangi singa miliknya.


"Grrraaaa....."


Para naga membantai minotaur itu tanpa belas kasihan, kemudian mereka mencabik-cabik bangkai mereka dan memakannya.


"Hmmm?"


Hercules melihat seorang kesatria ysng berdiri diantara para naga itu, menyadari bahwa ada yang mengawasinya, kesatria itu pun menoleh ke arah Hercules.


"Siapa kalian?"


"Grrrr....."


"Hentikan!"


Dengan gagah berani Hercules bertanya kepada kesatria dan para naga itu, seketika mereka semua bersiap ingin menyerangnya, namun kesatria itu mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk berhenti.


"Kami adalah pasukan Kekaisaran Naga!"


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


"Kami hanya melaksanakan perintah tuan kami, kami tidak berniat mengusik ketenanganmu!"


Kemudian mereka pun berbincang-bincang sedikit, para pasukan kekaisaran menanggapi Hercules dengan tenang meskipun mereka dicurigai oleh Hercules.


"Kami tidak punya banyak waktu!"


"Selamat tinggal!"


Kesatria itu pun berbalik dan seketika berubah menjadi seekor naga raksasa, ia pergi meninggalkan Hercules bersama para naga yang lainnya.


Hercules hanya bisa terdiam melihat apa yang ada di hadapannya, ia tidak percaya bahwa keberadaan naga masih ada di dunia itu, semua orang percaya bahwa seharusnya mereka telah musnah ratusan tahun yang lalu.


Dewi Rubah sedang duduk di dekat kolam mata air, bunga-bunga sakura yang gugur menghiasi kolam tersebut dan menjadikannya sangat indah.


Dari pantulan air kolam itu terdapat sebuah bayangan seorang laki-laki yang sedang duduk di atas singgahsana.


"Inari!!"


"Apa yang sedang kau rencanakan?!!"


"Huh?"


Laki-laki yang ada di pantulan air itu berbicara kepada Dewi Rubah dengan nada marah, tatapan matanya tampak sangat tajam dan penuh kebencian.


"Saya tidak punya waktu untuk meladenimu!"


"Cih dasar rubah betina, apa kau tidak pernah berhenti menghalangiku hah?!!"


Dewi Rubah hanya menanggapinya dengan acuh, laki-laki itu pun menjadi semakin marah, sekumpulan awan tampak berkumpul di belakangnya menghasilkan petir yang menggelegar di udara.


"Apa kau pikir diriku akan membiarkan manusia bodoh itu mengganggu para pengikutku?"


"Lebih baik aku musnahkan mereka semua!"


"Aku masih memberi belas kasihan padamu, namun ingatlah!"


"Kau akan merasakn akibatnya jika terus menghalangi jalanku!!"


Duuaaaarrr~


Suara gemuruh semakin menggelegar hingga membuat air di kolam terlihat bergetar, namun Dewi Rubah seakan tidak takut sama sekali dengan gertakan itu.


"Hhmmpp, diriku sudah bosan mendengar ocehanmu!!"


"Mari lihat siapa yang akan terakhir tertawa!!"

__ADS_1


Tidak lama kemudian bayangan pria itu menghilang dan kembali menjadi pantulan air biasa, Dewi Rubah menatap ke suatu tempat, ia masih mengenakan topengnya sehingga sulit mendeskripsikan perasaan yang tergambar di wajahnya.


__ADS_2