God Of Disaster

God Of Disaster
Kilas Balik


__ADS_3

Hari telah berganti, sang dewa naga dan Elena sedang berlatih pedang bersama,di tengah padang rumput yang luas mereka berdua berhadapan satu sama lain sembari menggenggam pedang mereka.


“Elena seranglah aku!!”


“Baik....”


Sang dewa naga menyuruh Elena untuk menyerangnya, Elena pun segera mengambil langkah siap dan mengangkat pedang miliknya ke atas tepat di depan wajahnya, namun kedua tangannya masih sedikit gemetar.


“Huuuhhaaa.....”


Kemudian Elena mengambil napas dalam untuk mengatur emosinya, ia menguatkan genggaman tangannya agar tidak gemetar lagi, perlahan angin mulai berhembus kencang menerpa dirinya, pedang merah miliknya seketika berubah warna menjadi biru terang, partikel-partikel cahaya mulai berterbangan menyelimuti dirinya.


“Sword dance: Water Flow!”


Elena melepaskan inkarnasi yang sangat besar ke segala arah, dan dalam satu hentakan Elena pun menyerang sang dewa naga menggunakan teknik miliknya.


“Hiaaa!!!”


Elena mengayunkan pedang miliknya tepat ke arah leher sang dewa naga, kilatan cahaya biru membentang mengikuti jalur tebasan, sang dewa naga pun segera mengambil posisi bertahan, pedang merah miliknya mulai bersinar terang.


Sing~


Benturan hebat pun terjadi, kedua pedang mereka saling berhimpitan menghasilkan percikan api dan gelombang energi yang cukup besar, seluruh hewan yang terkena gelombang itu pun sedikit terpental ke belakang dan burung-burung mulai beterbangan.


“Enkau masih ragu Elena!!”


“Buang keraguanmu itu dan seranglah aku!!”


Sang dewa naga pun menangkis serangan dari Elena dengan mudah, kemudian beliau menghempaskan Elena ke belakang dengan sangat kuat hingga ia terpental.


“Aggghhh....”


Sang dewa naga segera melesat menuju Elena dan megayunkan pedangnya menuju perut Elena, melihat serangan itu Elena pun spontan menangkisnya, namun karena tubuhnya masih belum siap maka ia pun kembali terdorong ke belakang.


“Ada apa Elena?”


“Pertahananmu sangat lemah!!”


“Ma-maafkan saya....”


Elena pun kembali berdiri dengan bantuan pedangnya, sang dewa naga menatapnya dengan tajam, aura membunuh yang sangat mengerikan terpancar dari dalam dirinya.


“Seranglah aku!!!”


“Baik....”


Pertarungan mereka berlangsung sangat sengit, kedua belah pihak terus mencoba melancarkan serangan mereka kepada lawannya, Elena terus menayunkann pedang miliknya ke segala arah berusaha menembus pertahanan milik sang dewa naga, namun ia juga harus bisa bertahan dari serangan beliau.


“Hiaaa!!!”


Sang dewa naga mengayunkan pedang miliknya seraca vertikan menuju ke arah kepala Elena, dengan cepat Elena menghindari serangan tersebut dan memutar tubuhnya, ia pun melancarkan tebasan horizontal ke perut sang dewa naga, seketika pedang miliknya menyayat perut beliau dengan sangat dalam.


“Khhaaa....”


“Blood Of Despair!!!”


Sang dewa naga pun menancapkan pedang miliknya ke tanah, seketika gumpalan darah mengalir keluar dari bilah pedang tersebut dan membentuk gelombang besar dengan wujud 9 kepala naga.


“Aghhhh....”


Gelombang itu pun dengan cepat menerjang Elena, ia pun segera melompat mengindarinya namun ombak itu terus mengejar mencoba melahap dirinya.


”Hiaaa!!!”


Akhirnya Elena mengangkat pedang miliknya dan mencoba memotong ombak tersebut, ia menari-nari di sekeliling pusaran ombak sembari mengayunkan pedang miliknya, ombak itu seketika berputar mengikuti gerakan tarian milik Elena, satu persatu ombak yang menyentuh bilah pedang tersebut seketika terbelah dan hancur.


“Huuuhhaaa.... huuhhaaa....”


Akhirnya ia berhasil menghentikan terjangan ombak tersebut, namun tenaga miliknya cukup banyak terbuang oleh tarian itu, Elena pun berdiri dengan napas terengah-engah dan tubuh yang basah terkena percikan darah.


“Khaaa.....”


Namun sang dewa naga tidak memberinya waktu untuk beristirahat, dengan cepat beliau melesat ke arah Elena dan menusukkan pedang miliknya ke arah dada Elena, beruntungnya Elena segera menghindar hingga serangan tersebut meleset, pedang tersebut pun menancap di sela tulang selangka miliknya.


“Hiaaa!!!!”


Elena pun mencoba membalas dengan mengayunkan pedang miliknya menuju leher sang dewa naga, namun beliau segera melepaskan genggaman pedangnya dan melompat ke belakang, alhasil serangan milik Elena tidak bisa menjangkaunya.


“Cukup!!”


“Kita akhiri latihan kali ini!”


“Saya mengerti....”


Sang dewa naga pun mengakhiri sesi latihan tersebut, Elena dan sang dewa naga sama-sama menerima luka yang cukup banyak di tubuh mereka, lengan Elena yang masih tertancap oleh pedang merah kini mati rasa dan tidak bisa lagi ia gerakkan.


“Aghhhh....”


“Khaaa.....”


Elena pun perlahan mencabut pedang itu dari tubuhnya dengan sekuat tenaga, rasa sakit yang amat dahsyat seketika menyerangnya membuat Elena merintih kesakitan.


Kemudian ia pun bersandar di sebuah pohon yang letaknya tidak jauh darinya, ia membaringkan kedua lengannya di tanah untuk beristirahat, perlahan luka-luka yang ada di tubuhnya mulai beregenerasi, tangan kirinya mulai bisa digerakkan lagi.


“Ummm?”


Dari kejauhan datang burung-burung kecil, kupu-kupu dan seekor binatang buas. Elena pun terkejut dengan hal itu, para binatang tersebut terus mendekat ke arah Elena yang sedang bersandar di bawah pohon.


“A-aa....”


Saat seekor singa itu sudah sangat dekat dengan Elena ia pun memejamkan matanya karena ia pikir singa itu akan menerkamnya, namun saat ia membuka mata Elena merasa sedkit aneh karena singa itu hanya diam di depannya.


“Tenanglah.”


“Saya tidak ingin menyakitimu!!”


“Eh?”


Tiba-tiba sebuah suara muncul di dalam pikirannya, Elena pun terkejut karena tidak ada satu orang pun yang mengajaknya bicara, ia pun menoleh ke arah para singa tersebut.


“Ap-apakah anda yang mengajakku bicara?”


“Benar yang mulia....”


Elena pun mencoba bertanya kepada singa tersebut, mungkin ia hanya berhalusinasi saja, namun seketika suara itu pun kembali terdengar dan wajah singa tersebut seperti tersenyum.


Elena tidak mengerti dengan situasi ini, ia tidak yakin apakah snga itu benar-benar berbicara kepadanya, dan mengapa ia bisa mendengarnya, hal ini berbeda dengan para manusia serigala yang bisa berbicara melalui mulut karena mereka sejatinya adalah manusia, sedangkan singa tersebut berbicara melalui media pikiran seperti kemampuan telepati.


“Haaaahh.....”

__ADS_1


Elena mencoba memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya menuju singa tersebut, singa itu pun menempelkan kepalanya di telapak tangan milik Elena dan menggerakkannya seakan Elena sedang mengelusnya, seketika sensasi lembut menjalar di tangan Elena saat bersentuhan dengan bulu milik singa tersebut.


Perlahan rasa takut di dalam dirinya memudar, ia pun mengelus kepala singa tersebut dengan lembut, singa itu pun bereaksi yang menandakan ia menyukainya.


Burung-burung kecil yang bertengger di pundak Elena pun melakukan hal yang sama, mereka menggosok-gosokkan paruhnya di pipi Elena sembari berkicau dengan keras, suara yang dihasilkannya sangat merdu seperti lantunan lagu yang menyejukkan hati.


Elena pun mulai memejamkan kedua matanya sembari mendengarkan kicauan tersebut, ia merasa seakan seluruh penat di tubuhnya menghilang seketika, dan tanpa ia sadari dirinya mulai jatuh kedalam tidurnya.


Singa yang berada di dekat Elena pun ikut membaringkan tubunya di paha miliknya, ia akan menemani Elena di dalam mimpinya.


“Apakah anda lelah tuan?”


Sang dewa naga yang menatap Elena dari kejauhan tiba-tiba didatangi oleh seorang peri, ia membawakan air minun dan makanan bagi beliau.


“Terima kasih.”


“Ah anda tidak perlu berterima kasih kepada saya....”


“Sudah sepantasnya saya melakukan hal itu...”


Sang dewa naga pun menerimanya, beliau mengambil air yang ada di dalam tumbuhan berbentuk tabung, itu dalah tumbuhan Kantong Semar yang dapat menampung air di dalamnya seperti cawan, dan sang dewa naga juga mengambil sepotong madu yang disuguhkan padanya.


“Bagaimana perkembangan yang mulia Elena?”


“Anak itu masih belum mengingat kehidupannya yang sebelumnya!”


Kemudian mereka berdua menatap ke arah Elena yang sedang tidur di bawah pohon sembari membicarakan sesuatu tentangnya, raut wajah peri itu menjadi sedikit khawatir.


“Apakah anda tidak berniat memberi tahunya tuan?”


“Bahwa sesungguhnya beliau adalah permaisuri anda?”


Kemudian peri itu pun bertanya kepada sang dewa naga mengenai diri Elena yang sebenarnya, dan sesungguhnya ratu peri adalah permaisuri dari sang dewa naga.


“Aku tidak akan memberi tahunya sekarang!”


“Aku akan tetap memainkan peran sebagai pengawas baginya, agar aku dapat menebus kesalahanku yang dulu padanya!”


Sang dewa naga pun menjawab pertanyaan itu dengan tegas, wajahnya menunjukkan sedikit kesedihan dan rasa bersalah.


“Dia telah mengorbankan hidupnya demi menyegelku!”


“Agar aku tidak menghancurkan umat manusia pada saat itu!”


Kemudian tatapan mata sang dewa naga berubah menjadi sangat mengerikan, beliau pun sedikit menaikkan nada bicaranya.


“Tapi kini aku telah menemukannya lagi!”


“Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terulang kembali”


“Baiklah, saya bersumpah akan menjaga rahasia ini dengan baik!!”


"Baiklah saya permisi dulu...."


Peri tersebut pun mengerti dengan apa yang beliau katakan, ia berjanji akan menutup mulut kepada siapapun, setelah itu ia pergi meninggalkan sang dewa naga ke suatu tempat.


Sang dewa naga pun kembali menatap kearah Elena sembari menyandarkan pipinya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Jauh di masa lalu sempat terjadi sebuah perang besar yang mengguncang dunia, itu adalah era dimana umat manusia berperang melawan bangsa naga.


Bangsa manusia ingin merebutkan sebuah relik suci berupa cawan emas, mereka percaya bahwa siapapun yang meminum air dari cawan tersebut akan mendapatkan keabadian.


12 kesatria memimpin para pasukan manusia dengan jumlah yang sangat banyak, mereka mengepung kuil dewa naga, para kesatria itu yakin bahwa relik itu tersimpan di dalam kuil tersebut.


“Graaa…..”


Namun pencarian itu tidak berlangsung mudah, ada banyak sekali naga raksasa yang menjaga tempat itu, para naga itu menghancurkan pasukan manusia itu dengan ganas, mereka tidak membiarkan satupun orang masuk ke dalam kuil.


“Sekarang!!!”


“Hiaaaaa!!!”


Seorang kesatria memerintahkan pasukannya untuk menyergap seekor naga hitam yang menjaga tempat tersebut, mereka menembakkan anak panah dan tombak kepada naga tersebut secara bersamaan.


“Graaaa…..”


“Khaaa…..”


Namun serangan tersebut tidak mempan bagi naga itu, ia menghempaskan semua anak panah dan tombak yang dilemparkan kepadanya menggunakan kedua sayapnya, seketika hempasan angin yang sangat kuat meluluhlantahkan pasukan manusia itu.


“Aku memerintahkanmu atas nama Siegfried!!”


“Wahai Pedang Suci Gram, pinjamkanlah kekuatanmu!!!”


Seorang kesatria dabat bertahan dari serangan naga hitam itu, ia berdiri dengan mengangkat pedangnya ke atas, perlahan cahaya biru berkumpul di bilah pedang milik kesatria tersebut, naga hitam yang melihat kesatria itu pun segera mengeluarkan aura yang sangat mengerikan, kedua inkarnasi mereka berbenturan satu sama lain menyebabkan hempasan energi yang dahsyat ke segala arah.


“Lenyaplah wahai Fafnir!!!”


“Graaa…..”


Kesatria itu pun mengayunkan pedangnya menuju naga hitam yang dating menerkamnya, seketika kilatan cahaya biru membentang dengan sangat cepat dan membentur kepala naga hitam tersebut, sebuah ledakan besar terjadi dan membuat daerah di sekitar mereka hancur seketika.


Sang naga hitam pun terbelah menjadi dua dan jatuh, sedangkan kesatria itu terpental sangat jauh dan tidak sadarkan diri.


“Agghhh…..”


“Grrraaa…..”


Di sisi lain ada seekor naga merah sedang dikepung oleh para pasukan manusia, naga itu diikat oleh rantai yang melilit seluruh tubuhnya, para manusia terus menarik rantai tersebut dengan sangat kuat hingga membuat naga merah tersebut merasa tersiksa.


“Khaaa……”


“Terus tarik!!!”


“Jangan sampai lepas!!!”


Naga merah itu pun meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari jeratan rantai yang mengikatnya, namun para manusia tetap teguh mempertahankan rantai itu, tidak peduli meskipun terhempas berkali-kali mereka tetap mencoba menjinakkan naga tersebut.


“Graaa…..”


“Hati-hati!!!”


“Serangan datang!!!”


Naga merah itu pun murka, ia menyemburkan api dan membakar segalanya, para manusia itu pun mulai terpecah mencoba menghindari serangan itu, rantai yang mengikat naga tersebut mulai mengendur, seketika naga itu pun meronta-ronta lagi hingga membuat rantai itu putus, para manusia yang ada di sekitarnya pun terhempas dengan sangat keras.


“Graaa……”

__ADS_1


“Huaaaa…..”


“Tolong!!!”


Naga merah itu kembali menyemburkan api dan membakar habis para manusia itu, namun tiba-tiba datang seorang kesatria yang membawa sebuah tombak merah di tangannya, kesatria itu berjalan dengan tenang menuju naga merah itu tanpa merasa takut sedikitpun.


“Graaa…..”


Naga merah itu pun segera menyemburkan api dan membakar kesatria itu, namun seketika ia memutar-mutar tombak miliknya dengan sangat cepat menghadapi semburan api yang sangat panas itu.


Tiba-tiba api itu pun berbelok arah saat mengenai tombak milik kesatria tersebut, naga merah itu kembali menyemburkan api kepadanya namun setiap kali api itu mengenai pusaran tombak milik kesatria itu seketika berbelok dan malah membakar daerah sekitarnya.


Kesatria itu berjalan di atas tanah yang terbakar tanpa menerima luka sedikitpun, ia menatap kearah naga merah itu dengan sangat tajam.


“Ascalon!!!!”


“Ghaaaa…..”


Kesatria itu pun melemparkan tombak ditangannya, seketika kilatan cahaya merah membentang seperti kilat, tombak itu pun menembus tenggorokan naga merah itu hingga hancur, seketika naga merah itu pun tumbang dan mati.


Peperangan tersebut terus berlanjut, banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak, para pasukan manusia telah berhasil masuk ke dalam kuil, mereka ingin mengambil cawan suci itu dari dalam sana.


“Wahai makhluk bodoh!!”


“Engaku telah menghancurkan kedamaian kami!!”


“Binasalah kalian bersama keserakahan kalian!!!”


Tiba-tiba seluruh tanah berguncang dengan sangat dahsyat, kuil naga yang terletak di tengah-tengah kawah gunung berapi itu pun mulai runtuh, tidak lama kemudian seekor naga raksasa berkepala 9 muncul dari dalam kawah gunung.


“Graaaa……”


“Agghhhh…..”


“Khaaa……”


Naga itu pun segera menerjang para pasukan manusia yang berada di atasnya dengan sangat kejam, naga itu mencabik-cabik para manusia dengan giginya, satu per satu manusia itu tewas dengan luka yang sangat mengerikan, bahkan sebagian besar tubuh mereka hancur tidak tersisa, darah mereka pun perlahan mulai membanjiri kawah itu hngga penuh.


“Khhh…..”


“Ascalon!!!”


“Agghhh….”


“Khaaa….”


Seorang kesatria yang membawa tombak di tangannya mencoba menghindar dan ingin melemparkan tombak itu kearah kepala naga tersebut, namun sayang dengan cepat kepala-kepala yang lain segera mencabik tubunya hingga tidak tersisa sebelum ia berhasil melemparkan tombak itu.


“Agghhh…..”


“Sialan!!!”


Kedua tangan kesatria itu digigit oleh dua kepala naga tesebut, kemudian naga itu pun menariknya dengan sangat kuat hinga kedua lengan kesatria itu lepas dari sendinya, seketika darah pun menyembur keluar dari luka itu.


“Khaaa…..”


Tidak lama kemudian datang kepala naga yang lain dan segera melahap kepala kesatria itu, naga itu pun mengunyah kepala milik kesatria tersebut hingga hancur berkeping-keping, akhirnya kesatria itu pun mati di makan habis oleh sang naga.


“Tuan!!”


“Kumohon hentikan!!”


Tiba-tiba seorang wanita dengan 6 sayap kupu-kupu datang kepada naga tersebut, dengan berliang air mata peri itu pun meminta sang naga untuk berhenti.


“Graaa……”


Namun sang naga tidak menghiraukan wanita tersebut, ia terus menyerang para manusia dengan sangat brutal, seluruh tubuhnya telah dikendalikan oleh amarah hingga membuatnya haus darah.


“Wahai dewa naga kumohon…..”


“Hentikanlah….”


Peri itu pun terbang mendekat kearah sang naga yang sedang mengamuk itu, ia mencoba menenangkan naga tersebut, seketika sulur-sulur mulai tumbuh dan menjalar dengan sangat cepat, sulur itu pun mengikat tubuh sang naga dengan sangat kuat.


“Graaa……”


“Tenangkan diri anda!!!”


Naga itu pun meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari sulur yang mengikatnya, namun sang peri tidak membiarkannya, ia terus mencoba menenangkan sang naga tersebut agar berhenti mengamuk.


Meskipun seluruh pasukan manusia telah musnah, namun hal itu tidak membuat sang naga berhenti mengamuk, hasrat membunuh telah menguasai dirinya sepenuhnya.


“Grrrr…..”


“Grrraaaa….”


Peri itu pun semakin mengencangkan ikatannya, hal itu membuat sang naga merasa tertekan, seketika ia pun segera mengalihkan pandangannya kearah peri tersebut.


“Khaaa…..”


Dengan cepat naga itu menerkam peri tersebut hingga mengoyak sebagian tubuhnya, seketika peri itu pun memuntahkan darah dari dalam mulutnya.


“Tidak apa-apa….”


“Semuanya telah berakhir….”


“Anda tidak perlu membunuh mereka lagi!”


Perlahan peri itu mulai mengatakan sesuatu kepada sang naga dengan wajah yang tersenyum, seketika naga itu pun terdiam seakan tersadar, tatapan matanya mengarah pada peri itu.


“Benar, semuanya telah berakhir….”


Kemudian peri itu mulai menempelkan bibirnya di kepala naga tersebut, ia memeluk naga itu dengan hangat dan perlahan peri itu mulai menutup matanya.


Seketika partikel cahaya hijau mulai berkumpul di udara, tubuh peri itu pun memancarkan cahaya hijau terang.


Dari balik punggungnya mulai tumbuh sulur-sulur tanaman yang menjalar ke tubuh naga itu, sulur itu pun menyelimuti seluruh tubuh naga tersebut dengan sangat kuat.


Namun naga itu hanya terdiam, ia tidak mencoba melepaskan diri dari sulur tersebut, tubunya seakan membatu, ke Sembilan kepalanya menatap peri itu dengan penuh duka, perlahan seluruh tubuh peri itu berubah menjadi sulur hijau yang bercahaya.


“Selamat tinggal…..”


Para sulur tanaman itu seketika menyerap daya hidup sang naga dan menjadikannya semakin subur, perlahan bunga-bunga kecil yang indah mulai bermekaran, tubuh sang naga pun melemah, kakinya tidak lagi bisa menopang tubunya hingga naga itu pun jatuh ke dalam lautan darah bersama dengan sulur yang mengikatnya.


“Cih!!”


Dari baik pantulan air ada seorang wanita yang sedang melihat kejadian itu, ia mengenakan kimono berwarna ungu dengan motif bunga sakura dan wisteria, ia menatap kearah pantulan air dengan ekspresi kesal.


“Ratu Peri itu sangat mengganggu!!!”

__ADS_1


“Tunggulah wahai dewa naga, saya akan membangkitkan anda suatu saat nanti!!”


Setelah mengatakan sesuatu, wanita itu pun memakai topeng rubah berwarna putih dan berbalik pergi.


__ADS_2