
Di sebuah balkon istana, tiga orang raja berbaris menatap ke arah lautan manusia, semua orang berkumpul di sana menyaksikan para pemimpin mereka bicara.
Di belakang mereka terdapat para Assassin yang bersembunyi dan mengawasi keadaan sekitar.
"Dengarlah wahai prajurit yang gagah berani!"
"Kami berdiri di sini atas nama pemimpin Aliansi menyatakan bahwa kita menyerah kepada Kekaisaran!"
"Eh?"
"Apa maksudnya itu?"
Tiba-tiba para raja itu menyatakan menyerah kepada Kekaisaran, seketika semua orang pun terkejut.
"Kami telah dimanipulasi oleh pihak oposisi yang menginginkan kekuasaan!"
"Sejak awal kami tidak ingin berperang!"
Para raja tersebut menjelaskan situasi yang sebenarnya, para prajurit tidak tahu tentang hal itu, mereka hanya diperintahkan untuk pergi berperang.
"Apa maksud anda kami hanya dikorbankan begitu saja?!"
"Mengapa anda tidak mengatakannya sejak awal, anda kira berapa banyak rekanku yang telah mati karena ini?!"
"Benar, kami sudah berjuang sekuat tenaga dan anda menyembunyikan kebenarannya dari kami!!"
Para prajurit itu pun mulai memprotes, amarah bergejolak, semua orang merasa telah dibohongi selama ini.
"Tenanglah!"
"Kami mengakui kesalahan kami, tidak seharusnya hal ini terjadi!"
"Namun kami berjanji untuk memperbaiki semuanya dari awal!"
"Dengan segala hormat kami memohon maaf..."
Para raja itu menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada rakyat mereka, namun sepertinya orang-orang tidak mempercayainya.
"Kami tidak percaya lagi dengan anda!!"
"Anda telah menipu kami, turunlah dari tahta!"
"Benar, turunlah!!"
Situasi menjadi semakin menegangkan, para prajurit yang menentang mulai mengangkat senjata mereka, dalam sekenario terburuk akan terjadi kudeta tidak lama lagi.
"Huh?"
Sing~
Tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arah para raja itu, namun sebelum anak panah itu mengenai salah seorang raja, Gilbert segera bergerak dan menangkisnya.
"Mundurlah!"
Para Assassin yang lain pun segera mengamankan raja-raja itu dari tempat tersebut, para prajurit mulai bergerak mencoba masuk ke dalam kastil.
"Cepat pergi dari sini!"
"Tidak, biarkan kami tetap di sini!"
"Kami berhak mendapatkan hukuman ini!"
Delta menyarankan para raja itu untuk segera pergi, namun dengan tegas mereka menolaknya, mereka pasrah jika harus mati di sini.
"Cih merepotkan!"
"Turunlah!!"
"Turunlah!!"
"Turunlah!!"
Orang-orang yang ada di liar kastil mulai menembaki mereka dengan anak panah, kerusuhan terjadi di mana-mana, semua orang menginginkan raja-raja itu turun tahta.
"Setidaknya bergunalah untuk kami!"
Kemudian Delta menyeret para raja itu masuk ke dalam istana, mereka terus ditembaki anak panah oleh kelompok pemberontak yang menvoba menerobos masuk.
"Amankan daerah sekitar!"
"Baik!"
Para Assassin segera berpencar dan memeriksa seluruh ruangan, para pemberontak sudah mulai masuk ke dalam kastil dan ingin membunuh para raja tersebut.
"Dimana kalian!!"
"Keluarlah!!"
Kelompok pemberontak itu mencari keberadaan para raja tersebut di segala tempat, mereka mengacak-acak seluruh isi ruangan demi menemukan para raja tersebut.
"Jangan pedulikan kami, selamatkan saja anak dan istri kami!"
"Jangan khawatir, mereka berada di tempat yang aman!"
Para raja tersebut bersembunyi dari para pemberontak yang sedang mencari mereka.
"Dimana kau!!!"
"Huh?"
"Khhhaaa...."
Salah seorang pemberontak memasuki sebuah ruangan, tanpa ia sadari dari balik pintu terdapat seorang Assassin yang sedang mengawasinya, dengan segera Assassin tersebut pun menikamnya.
"Ayo pergi!"
"Itu mereka!!"
"Tangkap!!"
Kemudian Delta menyuruh raja-raja itu untuk pergi dari tempat itu, namun dari sisi kanan terdapat para pemberontak yang melihat mereka, para pemberontak itu pun segera mengejar.
"Cih!"
"Hiiiaaaa!!"
"Aghhhh...."
"Kkhhhaaa..."
Delta pun melawan mereka sendirian, dengan kelincahannya ia membunuh satu per satu dari mereka.
"Rasakan ini!!"
"Khhaaa...."
"Huuaaaa...."
Salah seorang pemberontak menyaunkan pedangnya ke arah Delta, dengan sigap ia pun menghindar dan menggenggam tangan pria tersebut.
Kemudian ia memotong tangan pria itu menggunakan kuku-kuku miliknya yang tajam dan menusukkan pedang pria tersebut ke dadanya sendiri.
"Matilah kau!!"
__ADS_1
"Hiiaaa!!!"
Tidak lama kemudian datang pemberontak dari belakang dan menyerangnya, seketika Delta membalikkan badan dan menghindari serangan tersebut.
"Diamlah!!"
"Aghhh..."
Delta melompat ke arah tembok dan bermanuver 360 derajat di udara, kemudian ia menusukkan kukunya ke perut pria tersebut dari belakang dan mencabut seluruh organ dalamnya, seketika darah menyembur keluar, dan organ miliknya berhamburan.
"Hiiiaaa!!!"
Para pemberontak terus berdatangan tanpa henti, Gilbert dan para Assassin lainnya melawan mereka dengan taktik yang cerdik.
Mereka memasang perangkap di sepanjang jalan dengan sebuah benang sebagai pemicunya, para pemberontak yang tidak sengaja menginjaknya langsung dihujani oleh bom asap yang berisi gas beracun.
"Kuhukkk....."
"Huuuaaa...."
Seketika mereka menjadi kesulitan bernapas karena menghirup gas tersebut, seluruh tubuh mereka menjadi kaku dan pandangan mata buram.
Boom~
"Khhaaa...."
"Huuuaaa....."
Kemudian Gilbert menembakkan belati dari pergelangan tangan miliknya menuju ke lantai, benturan yang keras antara belati dan batuan keramik tersebut menghasilkan percikan api yang cukup besar.
Seketika api itu menyambar gas dengan sangat cepat sehingga menghasilkan ledakan yang besar, seluruh orang yang ada di dalamnya terbakar hidup-hidup dan menjerit kesakitan.
Mereka berhasil menghambat pergerakan para pemberontak tersebut dan berhasil meloloskan dari kejaran mereka.
Delta dan para Assassin tiba di atap kastil, mereka melihat seluruh bagian luar kastil telah dikepung, dan tidak lama lagi para pemberontak itu berhasil menemukan mereka.
Di sisi lain pasukan Kekaisaran mulai memasuki wilayah Aliansi, mereka telah menerima surat yang berisi pesan bahwa pihak Aliansi telah menyerah.
"Tempat ini terlalu sepi!"
Sesampainya mereka di depan gerbang, Jenderal Vritra merasa aneh dengan situasi di sana, tidak ada satupun penjaga yang mengawasi tempat tersebut.
"Jenderal, lihat itu!"
"Mmm?"
Namun tidak lama kemudian mereka melihat kumpulan asap besar yang berasal dari bangunan kastil.
"Apa yang sedang terjadi?"
Mereka pun memutuskan untuk menerobos masuk melalui gerbang, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat para prajurit sedang berbondong-bondong menyerbu kastil.
"Tuan Delta, pasukan kita telah tiba!"
"Cepat beri mereka sinyal!"
"Baik!"
Delta yang melihat pasukan Kekaisaran telah tiba segera bergegas menyuruh bawahannya untuk memberikan sinyal kepada mereka.
Sedangkan saat ini mereka masih dikepung oleh pasukan pemberontak yang terus menerobos masuk ke dalam.
Boom~
"Itu...."
"Itu adalah sinyal dari Delta!"
"Semuanya bersiap!!"
"Kita serbu kastil itu!"
"Haaaaaa!!!"
Vritra pun segera menyuruh pasukannya bersiap dan menyerbu kastil tersebut, dengan jumlah pasukan yang sangat banyak mereka menyerang para kelompok pemberontak yang menerobos ke dalam istana.
"Hiiiaa!!"
"Kkhhaaaa..."
"Agghh...."
Para pemberontak telah menemukan tempat mereka, Gilbert dan yang lainnya mencoba melindungi raja-raja tersebut dari incaran mereka.
"Sial, mereka terlalu banyak!"
Delta dalam wujud serigalanya menerkam para pemberontak tersebut dengan sangat brutal, saat ini ia hanya bisa bertarung dalam wujud serigala, karena saat sinar matahari menerpa dirinya, maka tubuhnya berubah seketika.
"Hiiiaaa!!!"
"Aggghhh...."
Prajurit Kekaisaran yang baru saja tiba langaung menerobos barisan pemberontak, seketika pandangan mereka teralihkan.
"Edward, tutup pintu gerbang itu!"
"Baik!!"
"Kalian ikutlah bersamaku!"
"Siap!!"
Melihat para pemberontak tersebut sedang melawan pasukan Kekaisaran, Delta segera menyuruh Gilbert dan yang lainnya untuk menutup akses masuk ke dalam kastil.
"Agghhh...."
Para Assassin itu melompat dari atas kastil menuju kerumunan pemberontak tersebut seperti burung elang yang sedang mendarat, dan seketika mereka langsung menikam para pemberontak tersebut tepat di lehernya.
"Hiiaaa!!"
"Kkhhhaa..."
Meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding dengan para pemberontak tersebut, namun para Assassin itu tidak gentar sedikitpun, mereka siap mengorbankan nyawa demi keberhasilan misi ini.
"Tutup gerbangnya!!"
"Baik!!"
Dengan segala kelincahan yang mereka miliki, para Assassin itu berhasil mengalahkan para pemberontak yang ada di sekitar kastil.
"Huuaaa..."
"Khhaaa...."
Kemudian salah seorang Assassin memanjat dinding dengan sangat lincah dan memotong tali yang menahan pintu gerbang kastil, seketika jeruji-jeruji besar jatuh menimpa para pemberontak tersebut dan menutup akses masuk.
"Serang!!"
"Hiiaaa!!"
Senjata yang digunakan para Assassin lebih praktis sehingga memudahkan mereka untuk bergerak cepat, berbeda dengan kesatria yang memakai zirah dan pedang berat.
"Hii..."
__ADS_1
"Lari!!"
"Huuaa..."
Sebagian pemberontak menyerah kepada pasukan Kekaisaran dan sisanya melarikan diri, sedangkan pemberonyak yang masuk ke dalam kastil telah berhasil dikalahkan oleh Delta dan lainnya.
"Kerja bagus!!"
"Terima kasih tuan..."
Para Assassin dan pasukan Kekaisaran bertemu di depan gerbang, Jenderal Vritra memuji keberhasilan Gilbert dan yang lainnya atas misi tersebut, dengan senang hati mereka pun menerima pujian tersebut.
Akhirnya konflik pun mereda, para pemberontak yang menyerah dilucuti senjatanya dan dikumpulkan menjadi satu, sedangkan warga sipil yang ketakutan berlindung di dalam rumah mereka masing-masing.
"Apakah kalian Pemimpin Aliansi ini?!"
"Benar, kami adalah raja yang membentuk Aliansi!"
Jenderal Vritra bertemu dengan para Pemimpin Aliansi tersebut, wajah mereka menunjukkan ekspresi bersalah yang mendalam.
"Kami sungguh meminta maaf atas kejadian ini!"
"Semua ini salah kami..."
"Kami tidak bermaksud memerangi Kekaisaran kami hanya dimanipulasi dan dihianati oleh kelompok pemberontak..."
Kemudian para raja itu menjelaskan semuanya, hanya karena kesalahpahaman bisa menyebabkan ribuan nyawa melayang sia-sia.
"Kami mengerti!"
"Kami memberikan dua pilihan untuk kalian!"
"Menjadi bagian dari Kekaisaran!"
"Atau kami akan mengadili kalian sesuai dengan perbuatan kalian!"
Jenderal Vritra memberi mereka dua pilihan kepada mereka, itu telah ditetapkan oleh pihak Kekaisaran kepada mereka, hanya menunggu keputusan mereka sendiri.
"Kami bersumpah akan melayani Kekaisaran dengan sepenuh hati!"
"Baiklah jika itu pilihanmu!"
"Baik..."
Seketika raja-raja itupun tunduk di hadapn Vritra dan bersumpah setia kepada Kekaisaran, itu adalah keputusan yang tepat daripada harus menanggung ganti rugi.
"Kumpulkan semua orang!"
Setelah itu mereka semua pergi ke alun-alun kota, ada banyak orang yang berkumpul di sana, ekspresi wajah mereka sangat cemas dan ketakutan, mungkin kehidupan damai mereka akan berakhir.
"Dengarkanlah wahai penduduk Aliansi, aku adalah Vritra, jenderal dari Kekaisaran Naga mengumumkan bahwa wilayah Aliansi Tiga Kerajaan telah jatuh ke tangan Kekaisaran!"
"Dengan begitu wilayah ini telah dikendalikan penuh oleh pihak Kekaisaran!"
"Kaliam bebas memilih untuk tetap tinggal di sini dan bersumpah setia kepada Sang Dewa Naga, atau pergi dari kota ini bersama dengan harta benda yang kalian miliki!"
Jenderal Vritra berpidato di depan warga sipil dan para pemberontak yang ditawan, ia kembali memberikan dua pilihan kepada mereka.
"Kami berjanji akan memperlakukan kalian dengan adil tanpa membedakan ras dan status kalian!"
"Namun ketahuilah, bahwa siapapun yang berhianat kepada Sang Dewa Naga maka kami tidak akan memberikan belas kasihat sedikitpun!"
Semua orang terdiam dan bimbang tentang apa yang akan mereka putuskan, meskipun seluruh harta mereka akan dikembalikan jika mereka pergi dari kota tersebut, namun tidak mudah untuk melupakan kenangan yang telah mereka bangun selama ini.
"Saya memilih untuk tetap tinggal!"
"Huh?"
Tidak lama kemudian seorang laki-laki mengangkat tangannya, dengan lantang ia pun mengatakan bahwa ia tetap tinggal.
Seketika semua orang menatapnya seakan tidak percaya akan keputusan pria tersebut, namun ia tidak memperdulikan hal itu dan tetap teguh dengan pendiriannya.
"Ummm..."
"Saya ikut!!"
"Saya juga....."
"Saya...."
Tidak disangka orang-orang mulai mengikutinya, mereka mengangkat tangan secara bersamaan dan menyatakan patuh terhadap Kekaisara.
Tidak ada pilihan lain kecuali tetap tinggal di kota itu, daripada harus berkelana mencari tempat tinggal yang baru, belum tentu orang-orang di luar sana mau menerima dan memperlakukan mereka dengan baik.
"Baiklah, kami sangat menghargai keputusan kalian!"
"Bagi yang memilih untuk meninggalkan tempat ini akan kami antarkan kalian menuju gerbang dengan selamat!"
Namun ada beberapa orang yang tetap memilih untuk pergi dari kota itu, dan Vritra pun berjanji akan mengantakan mereka dengan selamat hingga pintu gerbang.
Dengan begitu Aliansi Tiga Kerajaan resmi dububarkan, Wilayah mereka kini berada di bawah kendali Kekaisaran, namun masih tetal dipimpin oleh raja-raja sebelumnya, dengan kata lain wilayah tersebut menjadi daerah otonom dari Kekaisaran Naga.
Sang Dewa Naga yang masih berada di Alfheim bersama dengan Elena memutuskan untuk berangkat pergi, semua peri berbaris mengantarkan kepergian mereka.
"Hati-hati Yang Mulia, Tuan, kami akan menyambut anda semua...."
"Terima kasih, saya berjanji akan memenuhi tugas saya sebagai ratu!"
"Baiklah selamat jalan...."
"Mmmm, sampai bertemu lagi..."
Sylvia memeluk erat tubuh Elena sembari mengucapkan salam perpisahan, seketika air mata Elena mulai menetes saat merasakan kehangatan dan kasih sayang yang diberikan padanya.
"Akan aku sampaikan permohonan kalian kepada Kekaisaran!"
"Baik, terima kasih Tuan..."
Setelah itu mereka pun berangkat pergi dari Alfheim, Elena mencoba mengusap air mata yang masih menetes, tidak ada yang perlu ia tangisi karena suatu saat ia akan kembali lagi kemari untuk menunaikan tugasnya sebagai seorang ratu.
Sampai saat itu tiba Alfheim akan diserahkan kepada Sylvia, ia adalah salah satu orang paling dipercaya di Alfheim, jadi mereka yakin bisa menjaganya dengan baik.
"Wahh...."
Saat mereka keluar dari portal seketika Elena melihat seluruh hutan telah dipenuhi oleh salju, musim telah berganti namun seakan hal itu baru terjadi.
Waktu di Alfheim terasa lebih lambat dibandingkan dengan dunia luar, bahkan rasanya mereka baru berada di sana beberapa hari saja.
"Hmm, apa itu?"
"Bukankah mereka....."
Tidak lama kemudian Elena melihat banyak sekali manyat yang tertimbun oleh salju, mereka adalah sisa pasukan yang kabur dari Alfheim saat invasi berlangsung.
"Mereka mencoba melarikan diri, namun mereka tidak mengetahui bahwa musim telah berubah!"
Para prajurit tersebut tidak dapat bertahan dalam perubahan musim yang ekstrim, tidak-ada sedikitpun makanan dan tempat berteduh sehingga mereka akhirnya mati bergelimpangan.
"Elena ayo pergi!"
"Baik...."
Kemudian mereka melanjutkan kembali perjalanan, kali ini tujuan mereka adalah kembali ke Kekaisaran untuk menyampaikan permohonan kerja sama dari pihak Alfheim.
__ADS_1