
Peperangan telah selesai, pasukan manusia telah berhasil dikalahkan, sebagian besar dari mereka tewas dalam pertempuran tersebut, bahkan tidak sampai 20 persen dari seluruh jumlah prajurit yang tersisa, dan mereka semua melarikan diri dari Alfheim.
Elena berjalan menuju sisa-sisa medan pertempuran, hamparan rumput yang sebelumnya hijau kini dihiasi oleh darah dan mayat.
Bau menyengat mulai menyebar di udara, rasanya siapapun yang berada di tempat tersebut akan mengalami tekanan mental yang luar biasa disebabkan oleh apa yang mereka lihat.
"Hueeekkk..."
Tiba-tiba Elena merasa mual setelah melihat mayat-mayat yang ada di sekitarnya, luka yang mereka alami sangat parah sehingga bagian-bagian organ mereka terpisah, bahkan ada beberapa yang sampai organ dalamnya berhamburan keluar.
Tidak sedikit pula hewan-hewan yang mati bergelimpangan, para pasukan peri yang tersisa mulai mengevakuasi korban yang tewas dalam pertempuran tersebut.
"Yang Mulia!!"
"Ah, saya baik-baik saja..."
Seorang peri yang bersamanya mengkhawatirkan Elena, namun dengan segera Elena memberi tahu peri tersebut bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kejam!!"
"Mengapa mereka melakukan semua ini?!"
Air matanya mengalir keluar, melihat betapa kejamnya mereka yang telah membinasakannya, peri-peri itu terbaring tak bernyawa dengan luka yang sangat mengerikan.
"Maaf saya tidak bisa menjawabnya!"
"Namun tidak ada cara lain, mereka telah berjuang keras melindungi Alfheim ini!"
"Dan itu tidak sia-sia!"
Peri itu tidak bisa menjawab apapun, kesedihan bercampur kemarahan tampak sangat jelas di wajahnya, ia mengepalkan telapak tangannya dengan kuat mencoba untuk menyembunyikan rasa kesalnya tersebut, seandainya saja para manusia itu tidak menginvasi Alfheim, maka semua ini tidak akan terjadi.
"Ta-tapi itu terlalu kejam!!"
"Bukankah masih ada cara lain tanpa harus berperang?!"
Elena mencoba membantah kenyataan itu, betapa naif dirinya yang mengharapkan perdamaian dengan manusia, karna pada dasarnya manusia adalah makhluk yang hina, mereka tidak memperdulikan apapun selain hawa nafsunya.
"Maafkan saya, namun inilah kenyataannya!"
"Apa yang telah terjadi tidak akan pernah bisa diulang kembali!"
"Namun itu adalah sebuah kehormatan bagi kami untuk melindungi keselamatan anda dan kedamaian Alfheim!"
"Dan kami tidak pernah menyesalinya sama sekali!"
Kemudian peri itu memeluk tubuh Elena dengan erat sembari tersenyum, Elena pun menangis di pelukan peri tersebut.
"Karena itu, berhentilah menangis Yang Mulia..."
"Itu tidak cocok untuk anda!"
Peri tersebut pun segera mencoba menenangkan Elena yang terus menangis terisak-isak.
"Grrraaaa..."
"Huh?"
Tidak lama kemudian bayangan hitam muncul di atas mereka, itu adalah Hydra dan sang dewa naga yang sedang terbang mendekat.
Seketika Elena pun menatap ke atas, sembari mengepalkan kedua tangannya di dada Elena sedikit merasa lega atas kembalinya Sang Dewa Naga.
"Elena apa engkau baik-baik saja?!"
"Ah, baik..."
Sang Dewa Naga segera turun dari Hydra, beliau pun langsung menanyakan keadaan Elena dengan wajah dinginnya seperti biasa, Elena pun menjawabnya dengan nada lemah.
"Selamat datang kembali tuan..."
"Ya."
Elena mengucapkan selamat datang kepada Sang Dewa Naga sembari mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Ada apa Elena?"
"Eh?"
"Engkau tampak sedih!"
Namun Sang Dewa Naga dengan mudah mengetahuinya, beliau pun menanyakan hal itu kepada Elena dan seketika membuatnya terkejut.
"Tidak, saya baik-baik saja..."
Kemudian Elena segera mengelak dari pertanyaan tersebut dan menyakinkan beliau bahwa dirinya baik-baik saja.
"Umm... tuan..."
"Hmm?"
"Bo-bolehkah saya meminta sesuatu?"
Tiba-tiba Elena mencoba mengatakan sesuatu kepada Sang Dewa Naga, namun suaramya yang lemah membuatnya hampir tidak terdengar.
"Apa itu?"
Sang dewa pun menanyakan kembali kepada Elena tentang permintaannya.
"Kumohon hidupkanlah kembali mereka!"
"Saya tahu bahwa saya tidak pantas mengatakannya..."
"Namun kumohon, tolonglah mereka!"
Elena pun mengatakan permintaannya itu dengan keras, kedua matanya kembali berkaca-kaca.
Elena menangis memininta pertolongan dari Sang Dewa Naga, ia tidak tega melihat peri-peri tersebut tewas begitu saja.
"Maaf, aku tidak bisa melakukannya!"
Namun syang, jawaban yang diberikan oleh Sang Dewa Naga bukanlah seperti yang diharapkan Elena.
"Ta-tapi bukankah anda bisa melakukannya...."
"Aku mengerti akan kesedihanmu itu!"
"Namun aku tidak bisa membangkitkan orang yang tidak terikat dengan darahku!"
"Karena secara harfiah mereka bukanlah keturunanku!"
Sang Dewa Naga pun menjelaskan dengan perlahan kepada Elena bahwa beliau tidak bisa melakukannya.
"Peri terlahir dari berkah Pohon Kehidupan!"
"Seperti halnya biji tanaman yang tumbuh dari dalam tanah!"
"Mereka menyerap energi alam yang ada di sekitarnya sebagai sumber kekuatan!"
"Dan sayangnya aku tidak bisa melakukan hal itu!"
Sang Dewa Naga tidak bisa membangkitkan kembali para peri yang tewas tersebut karena kekuatan mereka yang berbeda.
"Begitu kah....."
"Maaf atas keegoisan saya...."
Mendengar hal itu Elena pun merasa sedikit kecewa, namun tidak ada pilihan lain, hanya ras peri dan manusia sajalah yang dapat menggunakan energi alam, sedangkan ras binatang buas dan malaikat tidak dapat melakukannya.
Manusia adalah makhluk yang spesial, mereka dapat berevolusi menjadi ras lain setelah mendapatkan kekuatan tertentu, seperti Elena yang berubah menjadi ras peri dan juga penduduk Kekaisaran Naga yang berubah menjadi ras naga.
Dalam kasus Elena, Sang Dewa Naga dapat menyembuhkannya kembali karena sebelumnya ia adalah seorang manusia, berbeda dengan ras peri sejati yang terlahir dari energi alam murni.
"Pohon yang sudah tua akan tumbang dan digantikan oleh pohon baru yang lebih indah!"
"Begitulah siklus kehidupan!"
Tidak lama kemudian salah seorang peri yang berdiri di samping Elena mengatakan sesuatu, ia mencoba membuat Elena merasa sedikit lebih tenang.
"Benar Yang Mulia...."
"Anda tidak perlu bersedih!"
"Mereka telah berjuang sekuat tenaga untuk melindungi Alfheim!"
"Maka kita harus menghormati jasa mereka dan membiarkan mereka beristirahat dengan tenang!"
__ADS_1
"Kita harus mengantar kepergian mereka dengan senyuman!"
Beberapa peri lain juga ikut menyemangati Elena, perlahan Elena dapat mengendalikan emosinya, ia mengusap air mata di wajahnya dan segera berbalik membantu membereskan medan pertempuran.
Hari telah gelap, para peri memutuskan untuk melanjutkan pembersihan pasca perang dan pengevakuasian korban tewas pada keesokan harinya.
Di dalam kastil peri, Elena sedang duduk di sebuah kursi menghadap ke arah seorang peri yang sedang terbaring di tempat tidurnya, ekspresi wajahnya tampak sedikit khawatir dengan keadaan peri tersebut.
Gadis yang terbaring itu adalah orang yang telah membantu Elena dalam pertarungan melawan kesatria tombak.
Karena ia menerima luka yang sangat parah di dalam pertarungan tersebut, maka peri itu tidak sadarkan diri, beruntungnya ia berhasil dirawat dengan segera, dan sekarang peri tersebut sedang dalam masa pemulihan.
Di dalam keheningan ruangan, Elena duduk termenung menatap ke arah peri tersebut, rasa kantuk yang menyerangnya membuat Elena perlahan kehilangan kesadarannya.
"Hmmm....."
Tubuhnya terasa lemas tidak bertenaga, keseimbangannya pun mulai goyah dan ia akan jatuh dari kursinya.
"Huh?"
"Sepertinya saya kelelahan...."
Namun Elena berhasil mengendalikan tubuhnya agar tidak jatuh, ia pun mengusap kedua matanya untuk memperjelas kembali padangannya.
Elena kembali menatap peri itu, kekhawatiran dirinya tampak sangat jelas di wajahnya, ia selalu berharap bahwa peri tersebut segera bangkit.
"Maafkan saya...."
"Semua ini salah saya...."
Kemudian Elena mulai bergumam, tampaknya ia masih menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa mereka.
"Saya berjanji akan berusaha keras!"
"Agar tidak merepotkan orang lain...."
Elena berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha lebih baik lagi, selama ini ia pikir dirinya hanya menjadi beban untuk orang lain.
Dirinya masih ragu untuk membunuh seseorang lagi, setiap kali Elena menatap telapak tangannya, ia selalu mengingat kejadian itu, kedus tangannya gemetar dan rasa mual seketika muncul begitu saja.
Namun Elena mencoba untuk tidak memikirkannya, karena hal itu dapat membuatnya tenggelam dalam penyesalan.
Apa yang harus ia lakukan sekarang adalah memperbaiki diri dan terus melangkah ke depan, ia tidak ingin Sang Dewa Naga merasa kecewa padanya.
Perlahan Elena kembali merasakan kantuk yang berat, waktu berlalu dan tanpa ia sadari dirinya telah terlelap di samping peri tersebut.
Sang Dewa Naga sedang berada di luar istana bersama Hydra, beliau melihat seekor burung merpati terbang mendekat ke arahnya, Sang Dewa Naga pun menjulurkan lengan kanan miliknya menyambut burung tersebut.
Tidak lama kemudian merpati itu bertengger di lengan miliknya, itu adalah burung pembawa pesan, beliau menerima sebuah surat yang nampaknya itu berasal dari Kekaisaran Naga.
Beliau oun membuka gulungan kertas tersebut, di atas kertas tersebut tertulis sebuah pesan:
"Dengan segala hormat kami kirimkan surat ini kepada anda, saat ini Kekaisaran sedang mengalami konflik dengan negara-negara di sekitar, mereka membentuk aliansi dan menolak berdirinya Kekaisaran ini, kemungkinan besar beberapa hari kedepan pertempuran akan segera terjadi."
"Namun anda tidak perlu khawatir tuan, kami bisa mengatasi ini sendiri, kami bersiap menunggu perintah anda selanjutnya, maaf atas kelancangan kami, Alpha."
Setelah membaca pesan tersebut, Sang Dewa Naga pun membalasnya, beliau menuliskan pesan menggunakan darah miliknya di bagian kertas yang masih kosong.
"Pergilah!"
Kemudian beliau meletakkan kembali surat itu di dalam kotak kecil yang terletak di punggung merpati tersebut, perlahan merpati itu terbang pergi membawa surat miliknya.
Setelah itu Sang Dewa Naga duduk di dekat Hydra dan menatap ke arah bulan, perlahan Hydra melingkarkan tubuhnya di menyelimuti beliau.
"Ummm...."
Elena perlahan membuka matanya, pandangannya tampak sedikit buram dan kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
"Selamat pagi Yang Mulia!"
"Uh?"
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang memanggilnya, Elena pun seketika terkejut dan segera menoleh ke belakang.
"Nona Sylvia?"
"Ya...."
Apa yang ia lihat adalah seorang peri yang sedang berdiri sembari membawa sebuah teko dan peralatan minum lainnya.
"Apa tubuh anda sudah sembuh?"
"Benar, saya baik-baik saja!"
"Maaf telah membuat anda khawatir..."
Kemudian Elena menanyakan keadaan peri tersebut, ia pun menjawabnya dengan ceria seakan tidak terjadi apapun pada dirinya.
"Ah tidak, saya seharusnya yang meminta maaf kepada anda...."
"Anda tidak perlu melakukannya, itu bukan kesalahan anda Yang Mulia!"
Peri tersebut menuangkan teh yang ada di dalam teko, kemudian ia menyuguhkannys kepada Elena dengan lembut.
"Silahkan nikmati teh ini agar tubuh anda kembali segar!"
"Ah terima kasih...."
Elena mengambil secangkir teh tersebut dan perlahan meminumnya, aroma harum dari bunga yang ada di dalam teh membuatnya merasa segar kembali.
"Bagaimana situasi saat ini?"
"Hmmm, pertempuran telah selesai dan kita berhasil mengalahkan mereka!"
"Syukurlah...."
Sembari mebikmati secangkir teh bersama, perlahan perbincangan kecil mulai terjadi diantara mereka.
"Namun, ada banyak peri yang tewas dalam pertempuran ini...."
Perlahan Elena meletakkan cangkirnya, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit gelisah.
"Begitu kah...."
"Namun yang terpenting kita berhasil melindungi Alfheim!"
"Benar...."
Kemudian peri itu pun mencoba mengalihkan topik pembicaraan, ia tahu bahwa Elena merasa sensitif akan masalah ini, maka dari itu ia tidak ingin membuat Elena terus menerus memikirkannya.
"Baiklah saya akan membantu!"
"Eh?"
"Kita harus segera mensemayamkan mereka!"
Tiba-tiba peri itu bangkit dari tempat duduknya dan ingin mengajak Elena pergi.
"Ah, jika anda tidak ingin melakukaannya tidak masalah, anda boleh tetap tinggal di sini!"
"Tidak, saya akan ikut bersama anda!"
"Baiklah."
Peri itu menyuruh Elena untuk tidak memaksakan diri, namun Elena menolaknya, ia bersikeras ingin tetap ikut bersamanya, akhrinya mereka berdua pun pergi keluar.
Setelah beberapa saat mereka sudah tiba di depan kastil, mereka melihat Hydra yang sedang berbaring, halaman kastil itu cukup luas untuk menampung seekor naga raksasa.
"Oh, hai...."
Mereka terkejut saat Hydra menatapnya, dan secara tidak sengaja peri itu menyapa Hydra.
"Ummm, kami permisi dulu!"
Namun Hydra tampaknya mengabaikan mereka berdua, ia pun menalingkan pandangan dan kembali melanjutkan tidurnya.
Kemudian Elena dan peri tersebut memutuskan untuk pergi, peri itu mengembangkan empat sayap kupu-kupu miliknya dan terbang menuju tempat bekas medan perang.
"Ummm..."
Elena pun mencoba menirunya, ia memejamkan matanya dan membayangkan ada sayap yang tumbuh di punggungnya, tidak lama kemudian partikel cahaya mulai berkumpul di punggungnya, menumbuhkan enam sayap kupu-kupu yang sangat besar dan indah.
"Yang Mulia?"
Saat peri itu menoleh ke belakang, ia melihat Elena yang sedang kesulitan untuk terbang, ia mencoba mengepakkan sayapnya dengan kuat agar tubuhnya terangkat, namun hempasan angin yang sangat kuat membuatnya sulit menjaga keseimbangan.
__ADS_1
"Ah maaf, sepertinya anda belum terbiasa dengan sayap itu!"
Melihat hal itu peri tersebut pun segera turun dan menghampiri Elena.
"Biarkan saya bantu!"
"Ma-maaf..."
"Tidak masalah!"
Peri tersebut menggenggam tangan Elena dengan lembut, kemudian ia mengajarinya cara mengepakkan sayap kepada Elena dengan benar.
"Baiklah sekarang kepakkan sayap anda!"
"Ummm...."
Elena menuruti istruksi dari peri tersebut, peri itu menarik dirinya perlahan ke atas sehingga tubuhnya mulai terangkat, Elena terus mengepakkan sayapnya secara perlahan sembari menyeimbangkan tubuhnya.
"Uppss..."
"Jangan khawatir, terus seimbangkan tubuh anda!"
Sesekali dirinya tergelincir dan akan jatuh, namun peri itu senantiasa membimbingnya dengan lembut.
"Waahh...."
"Bagus, tetap pertahankan posisi anda..."
Perlahan dirinya mulai terbiasa dengan hal itu, peri tersebut pun memuji Elena karena berhasil melakukannya walau hanya dalam beberapa kali percobaan.
"Terima kasih banyak...."
"Tidak masalah, sudah seharusnya saya membantu anda."
Elena pun berterima kasih kepada peri tersebut, di dalam hatinya ia merasakan sebuah kasih sayang yang telah hilang, seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya.
Dilihat dari penampilannya, peri itu memang lebih tua dari Elena, mungkin di situlah sosok keibuan melekat pada dirinya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka pun tiba di hamparan rumput yang berlumuran darah.
"Perlahan....."
"Baik sudah selesai!"
Mereka pun mendarat, peri itu kembsli membantu Elena untuk mendarat dengan selamat, kaki Elena sedikit gemetar saat menyentuh tanah, namun dengan cepat peri itu menahan tubuhnya agar tetap bisa berdiri.
"Terima kasih...."
"Sama-sama...."
Setelah itu mereka segera membantu peri ysng lain untuk mengevakuasi mayat yang sudah mulai membusuk.
Sang Dewa Naga juga ikut membantu, beliau mengumpulkan sisa-sisa peralatan perang yang masih bisa digunakan.
Dan beliau juga menghisap darah ysng menggenang di tempat itu menggunakan pedang merah miliknya.
"Biarkan saya membantu!"
"Ta-tapi Yang Mulia...."
"Tidak apa-apa, saya bisa melakukannya!"
"Ah baiklah...."
Elena menawarkan bantuan kepada seorang peri yang sedang membungkus mayat menggunakan sulur tumbuhan, melihat hal itu peri tersebut ragu untuk mempersilahkannya.
Sebuah tindakan tercela baginya karena mempekerjakan Elena yang dianggap sebagai kandidat ratu peri, namun karena Elena yang memaksanya, akhirnya peri itu pun memberikan kesempatan kepada Elena untuk membantunya.
"Kita akan membungkus tubuhnya terlebih dahulu!"
"Baik!"
Peri itu pun memberi tahu Elena cara untuk membungkus mayat tersebut, ia meletakkan kedua tangannya di tubuh mayat itu, Elena harus mengalirkan inkarnasi miliknya ke tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.
Dari balik telapak tangannya perlahan tumbuh sulur-sulur hijau yang merambat ke tubuh mayat tersebut.
Sulur itu menyelimuti seluruh tubuh mayat itu dengan sangar rapat, perlahan bunga-bunga kecil mulai bermekaran dengan sangat indah.
"Baiklah kita beralih ke mayat selanjutnya!"
"Saya mengerti!"
Elena dan para peri lainnya terus membungkus tubuh mayat-mayat peri yang tidak terhitung jumlahnya, dibutuhkan tenaga yang sangat besar untuk membungkus semuanya, bshksn Elena pun merasa kelelahan.
"Sebaiknya Yang Mulia istirahat terlebih dahulu!"
"Biarkan kami yang mengurus masalah ini!"
"Tidak masalah, izinkan saya melakukannya hingga akhir!"
Meskipun ia telah diminta untuk beristirahat, namun Elena tetap bersikeras untuk membantu mereka.
"Baiklah jika itu keinginan anda...."
"Terima kasih..."
Peri itu pun tidak mempunyai hak untuk melarangnya, akhirnya Elena terus berjuang membantu yang lain hingga selesai.
Setelah sekian lama akhirnya mereka pun selesai, para mayat yang telah di bungkus dikumpulkan secara berbarisan di sebuah lahan.
Di sekelilingnya terdapat pohon-pohon besar yang tumbuh mengelilingi mayat itu seperti sebuah pagar pembatas.
"Huh?"
"Apa ini?"
Elena berjalan untuk bergabung dengan peri lainnya, namun ia tidak segaja melihat dua buah batu permata yang bercahaya terang.
Di sekelilingnya terdapat bongkahan-bongkahan batu besar menyerupai golem dan juga pohon besar yang tumbang, sepertinya mereka adalah para Guardians Of Nature yang telah dikalahkan oleh pasukan manusia.
Elena pun mengambil dua buah permata itu dengan sangat hati-hati, masing-masing mempunyai warna berbeda yaitu hijau dan biru, kedua permata itu memiliki retakan yang cukup besar pada bagian tengah yang membuatnya tampak sangat rapuh.
Setelah itu ia pun membawanya menuju ke tempat para peri lain berkumpul.
Sang Dewa Naga berdiri di tengah-tengah barisan mayat, beliau menggenggam sebuah pedang merah di tangannya.
"Untuk setiap jiwa yang hilang!"
"Kami berikan kepadamu sebuah kehormatan!"
"Purification!"
Kemudian Sang Dewa Naga menancapkan pedangnya ke tanah, perlahan gumpalan darah meluap dari dalam tanah, darah itu membentuk gelombang besar yang menelan mayat-mayat yang berada di sekitarnya hingga tak tersisa.
Perlahan genangan mulai surut, mayat-mayang yang sebelumnya utuh kini telah larut menjadi cairan yang terhisap ke dalam tanah.
Kemudian sang dewa naga pun berjalan keluar dari lokasi tersebut meninggalksn sebuah pedang merah yang masih tertancap di tanah.
Para peri yang berbaris serempak mengangkat kedua tangan mereka ke atas, mereka memejamksn kedua matanya dan menarik napas dalam-dalam.
Perlahan sebuah lantunan nada mulai terdengar, para peri itu menyanyikan lagu Requiem secara bersamaan, suara yang merdu nan indah bergema ke seluruh penjuru langit.
Sembari memeluk permata di dadanya, Elena pun ikut mendengarkan lantunan nada tersebut.
Perlahan partikel-partikel cahaya merah menguap dari tempat pemakaman, partikel itu bagaikan jiwa yang keluar dari raganya.
Tanpa di segaja tiba-tiba enam sayap kupu-kupu membentang di punggung Elena, batu permata yang ia genggam juga ikut memancarkan cahaya terang.
Tidak lama kemudian dari dalam tanah tumbuh tanaman-tanaman kecil yang memenuhi tempat pemakaman, ada dua buah sulur yang tumbuh melilit pedang merah yang tertancap di sana, sukur tersebut perlahan mengeluarkan kuncup bunga mawar merah yang mekar.
Di saat yang sama, tanaman lain yang berada di sekitarnya terus tumbuh dan mulai mengeluarkan kuncup bunga berwarna merah pula.
"Waaah....."
Seketika kuncup bunga itu mekar secara bersamaan, angin berhembus dengan kencang menyebabkan mahkota bunga yang berguguran menyebar ke segala arah.
Itu adalah bunga Red Spider Lily, bunga yang melambangkan kematian dan bencana, persis seperti yang sedang mereka alami sekarang.
Orang-orang terdekat mereka meninggal disebabkan peperangan yang sangat mengerikan, dan sekarang apa yang mereka terima hanyalah kesedihan yang mendalam.
Tidak lama kemudian para peri berhenti bernyanyi, mereka menatap ke arah taman bunga yang berwarna merah pekat itu sembari meneteskan air mata.
Pemakaman pun akhirnya selesai, semua peri yang ada di sana telah mengantarkan kepergian para prajurit yang gugur dalam pertempuran.
__ADS_1