
Sebuah pasukan dengan jumlah yang sangat banyak berkumpul di perbatasan utara Kekaisaran Naga.
Di tengah-tengah barisan itu berkibar tiga buah bendera besar, masing-masing bendera itu memiliki warna dan lambang yang berbeda, hal itu menandakan bahwa mereka terdiri dari beberapa kerajaan.
Kerajaan-kerajaan yang beraliansi tersebut adalah Lavia, Oswaden, dan Armastra. Ketiga kerajaan tersebut menolak berdirinya Kekaisaran Naga yang letaknya berbatasan dengan wilayah mereka.
"Alpha, kita mendapatkan pesan dari Tuan Ozario!"
Seseorang datang kepada Alpha yang sedang berkumpul bersama para petinggi lainnya di sebuah tenda, pria tersebut membawa sebuah surat yang berisikan pesan dari Sang Dewa Naga.
"Bacakanlah!"
"Baik!"
Kemudian Alpha menyuruh pria itu untuk membuka surat tersebut dan membacanya, dengan segera pria itu pun menurutinya.
"Aku telah menerima surat darimu!"
"Engkau berhak melakukan apapun atas kedaulatan negerimu, maka pilihlah apa yang menurutmu benar!"
Sebuah kalimat singkat yang tertulis di dalam surat tersebut menunjukkan bahwa Sang Dewa Naga memberikan kebebasan kepada rakyat Kekaisaran Naga untuk membela negerinya.
"Baiklah, bagaimana menurut kalian?"
"Akankah kita berperang, atau mungkin kita dapat bernegosiasi dengan mereka?"
Setelah mendengarkan isi surat tersebut, Alpha pun bertanya kepada para petinggi yang berkumpul di sekelilingnya.
"Sebaiknya kita mencoba bernegosiasi dengan mereka terlebih dahulu!"
"Biarkan kita dengar apa tuntutan mereka!"
"Aku tidak ingin ada pertumpahan darah yang sia-sia di sini!"
Gamma kemudian bersuara, ia berpendapat bahwa sebaiknya kedua belah pihak harus bernegosiasi untuk mengetahui tujuan aliansi kerajaan tersebut.
"Itu tidak buruk!"
"Tapi jika mereka menolaknya maka kita tidak punya pilihan lain selain membantai para manusia menjijikkan itu!"
Tidak lama kemudian Delta membalas pernyataan tersebut, dengan tatapan tajam dan aura membunuh, ia mengutarakan pendapatnya.
"Tenanglah!"
Kemudian Alpha mencoba menenagkan Delta yang sedang marah, ia harus mempertimbangkan pilihan yang paling memungkinkan untuk saat ini.
"Lalu bagaimana menurutmu Alpha?"
"Hmmm...."
"Sepertinya kita harus bernegosiasi dengan mereka, mungkin suatu saat kita bisa menjalin hubungan yang baik dengan mereka."
Alpha sepertinya menyetujui pilihan negosiasi dengan Aliansi Kerajaan, jika mereka bisa meminimalisir adanya korban jiwa maka itu adalah keputusan yang tepat.
"Jangan naif Alpha, mana mungkin mereka akan menyetujuinya!"
"Kita sudah tahu betapa busuknya mereka!"
Delta yang tidak setuju pun segera memotong pembicaraan, ia berpendapat bahwa itu sangat mustahil untuk bernegosiasi dengan mereka.
"Memang benar, namun setidaknya kita sudah mengambil jalan damai dengan mereka!"
"Jika kita yang menyerang mereka terlebih dahulu maka itu akan membuat citra Kekaisaran Naga menjadi buruk di mata orang-orang!"
"Namun Alpha, apakah kita harus bersujud dan menjilat kepada mereka?"
"Itu sangat memalukan!"
Beberapa orang petinggi tampak tidak setuju dengan ide Alpha, mereka harus tetap menunjukkan harga diri mereka agar tidak dianggap remeh.
"Itu hanya sebatas formalitas!"
"Jika cara ini tidak berhasil maka kita akan tetap berperang melawan mereka!"
"Aku tidak ingin membuat Tuan Ozario kecewa!"
Namun Alpha segera meluruskan peryataannya, dan seketika semua orang terdiam, keheningan menyelimuti ruangan tersebut, para petinggi sedsng berpikir untuk mengambil keputusan yang tepat.
"Baiklah, biarkan aku yang pergi!"
"Umm?"
Salah seorang diantara mereka tiba-tiba angkat bicara, pandangan semua orang pun tertuju padanya, selama ini ia hanya diam mendengarkan perdebatan para petinggi itu, namun kali ini pria itu mengambil keputusan.
"Jenderal Vritra, apa anda yakin dengan hal itu?"
"Ya, saya siap melakukannya!"
Pria itu merupakan pemimpin dari pasukan dragonoid, dengan tegas ia pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh para petinggi tersebut.
"Kaisar, sudah tidak ada waktu lagi!"
"Izinkan saya melakukannya!"
Vritra mencoba meyakinkan semua orang, tidak ada rasa takut sekalipun di wajahnya, seorang utusan dari sebuah negara yang sedang dalam konflik memiliki resiko yang besar, ia bisa saja dibunuh oleh pihak lawan jika mereka tidak mau menerima tawaran negosiasi tersebut.
"Bagaimana semuanya?"
Kemudian Alpha menanyakan pendapat semua orang, satu per satu dari mereka pun menganggukkan kepala menandakan setuju atas usulan tersebut.
"Baiklah, sudah diputuskan!"
"Jenderal Vritra, dengan hormat kami mengutus anda untuk pergi ke wilayah musuh!"
"Siap Kaisar!"
Pertemuan pun akhirnya selesai, Kekaisaran mengutus seorang delegasi untuk berunding dengan Aliansi Tiga Kerajaan sembari menyiagakan pasukannya di medan perang.
Dari pihak Aliansi, mereka melihat seseorang datang dengan menunggangi kuda menuju ke arah mereka, seketika semua orang yang melihatnya pun menjadi waspada atas kedatangan orang itu.
"Semuanya turunkan senjata kalian!"
Kemudian Vritra turun dari kuda miliknya sembari mengangkat tangan sebagai isyarat damai, menyadari hal itu pemimpin kesatria Aliansi pun segera menyuruh semua pasukannya untuk menurunkan senjata mereka.
"Siapa kau?!"
"Aku adalah seorang utusan dari Kekaisaran!"
"Aku ingin bertemu dengan pemimpin kalian!"
Pemimpin pasukan Aliansi pun menanyakan identitas Vritra, kemudian dengan tenang Vritra memberi tahu mereka bahwa ia adalah seorang utusan dari Kekaisaran Naga.
"Benarkah?"
"Jangan berharap kau bisa menipu kami!"
"Tunjukan kepada kami siapa dirimu!"
Namun sepertinya pemimpin pasukan tersebut tidak mempercayai Vritra, ia ingin menunjukkan bukti nyata jika memang ia Vritra bukan seorang mata-mata.
"Ini!"
Kemudian Vritra mengambil sebuah kantong besar yang terletak pada pelana kuda miliknya dan menunjukkannya kepada mereka, pemimpin pasukan itu pun mengisyaratkan salah satu prajuritnya untuk memeriksa isi kantong tersebut.
__ADS_1
"Hmmm...."
"Baiklah, akan kami antar kau menuju pemimpin kami!"
Apa yang ada di dalamnya adalah kepingan emas yang sangat berlimpah dan berkilau, melihat hal itu pemimpin pasukan pun menjadi percaya kepada Vritra, ia pun membiarkannya masuk.
"Bersulang!!"
"Haaaahhh....."
"Hahahaha.... ini sangat menyenangkan!!"
Di dalam sebuah tenda terdapat tiga orang yang sedang berkumpul bersama, mereka sedang meminum arak sembari bersenang ria.
"Permisi Yang Mulia...."
"Hah!!"
Tidal lama kemudian ada seorang prajutit datang bersama Vritra yang juga ikut bersamanya, hal itu membuat tiga orang tersebut terdiam dan menoleh seketika.
"Ada apa kau kemari?!!"
"Maaf menggangu Yang Mulia, kami kedatangan seorang utusan dari Kekaisaran!"
"Oh?"
Kemudian Vritra duduk di hadapan mereka bertiga, ia tetap menunjukkan ekspresi tenang meskipun berada di dalam markas musuh sekalipun.
"Apa tujuanmu kemari!?"
"Saya diutus kemari untuk bernegosiasi dengan anda!"
Vritra pun meletakkan sekantong emas yang dibawanya di atas meja dan memberitahu mereka tujuannya kemari.
"Hohoho....."
"Sepertinya ini menarik!"
Tiga orang itu pun memeriksa isi kantong tersebut, mengetahui apa yang ada di dalamnya ekspresi wajahnya langsung menjadi sangat gembira.
"Apa maumu?"
"Aku hanya ingin kita melakukan gencatan senjata saat ini juga!"
Salah seorang dari mereka bertanya kepada Vritra tentang keinginannya, kemudian Vritra pun menjawabnya dengan singkat.
"Hahahahahaha....."
"Gencatan senjata katamu?"
"Apa kalian takut pada kami?!"
Mendengar hal itu mereka bertiga langsung tertawa dengan sangat keras, dalam kondisi mabuk mereka menertawakan pernyataan Vritra.
"Tidak, kami hanya ingin mencegah terjadinya pertumpahan darah diantara kita!"
Namun Vritra tidak mudah terpancing emosi, ia pun membalas mereka dengan ekspresi yang tenang.
Prakk~
"Hoo....."
"Sepertinya kau pandai bicara!"
Seketika salah seorang dari mereka melemparkan cawan di tangannya ke arah Vritra, dengan sigap Vritra pun memiringkan wajahnya sehingga cawan tersebut meleset dan mengenai seorang pengawal di belakangnya.
Namun ada sedikit percikan air yang menempel di wajahnya, dengan ekspresi tenang Vritra mengusapnya sembari menatap ke atah mereka.
"Bagaimana?"
Kemudian Vritra menanyakan kembali kepada mereka tentang tawaran dari Kekaisaran Naga.
"Kami menolak!"
"Bertempur adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan siapa yang paling kuat!"
"Hahahahahah....."
"Kami akan memastikan bahwa seberapa hebat Kekaisaran Naga yang kau banggakan itu!"
Namun dengan lantang mereka menolaknya, otak mereka tidak bisa berpikir jernih sehingga secara sepihak mengambil keputusan yang bodoh.
"Begitu kah...."
"Jika memang itu keputusan anda maka kami akan menerimanya!"
Setelah mendapatkan jawaban dari mereka, Vritra pun segera berdiri dari tempat duduknya dan ingin pergi.
"Hey tunggulah!"
"Hmm?"
"Jangan terlalu terburu-buru, mari nikmati pesta yang meriah ini!"
"Hahahahah....."
Namun mereka pun berusaha menghentikannya, mereka mengajak Vritra untuk ikut minum bersama sembari menyuguhkan cawan ke arahnya.
"Maaf, aku tidak tertarik dengan orang-orang bodoh seperti kalian!"
"Hah, apa katamu?!!"
Vritra pun melontarkan kata-kata tajam yang menyinggung perasan mereka, seketika semua orang menatap Vritra dengan tajam sembari mengangkat senjata.
"Sadarilah posisimu!"
"Kau pikir dimana kau berdiri saat ini?!"
Para pengawal yang ada di tempat itu segera menodongkan senjata mereka ke arah Vritra, ketiga orang itu menjadi sangat marah dan mencoba mengintimidasi Vritra.
"Kau hanyalah seorang kambing tersesat yang akan binasa di tangan kawanan serigala!!!"
"Serigala?"
"Aku hanya melihat sekumpulan anjing kecil yang menggonggong tidak jelas di sini!"
Mereka saling mencemooh satu sama lain, namun ekspresi Vritra terlihat sangat tenang, bahkan dirinya tidak takut sekalipun dengan mereka.
"Cih, sialan!!!"
"Bunuh dia!!!"
"Hiiaaaa!!!"
Karena merasa terhina oleh perkataan Vritra, orang itu pun memerintahkan para pengawal untuk menyerang Vritra.
"Hahahaha....."
"Rasakan itu keparat!"
Vritra tidak bergerak sedikitpun sehingga para pengawal itu berhasil menusuk dadanya, jantungnya tertembus oleh bilah pedang dari berbagai arah, namun dirinya masih tetap berdiri dengan tenang.
"Apa hanya ini?"
__ADS_1
"Huh?"
"Uuwaaa....."
Tiba-tiba Vritra memutar tubuhnya dan menghempaskan para pengawal yang ada di dekatnya, seketika semua orang terkejut, dengan luka seperti itu Vritra seharusnya sudah mati.
"Kau!!"
"Dasar makhluk bodoh yang tidak pernah belajar!!"
"Tidak mungkin!!!"
Vritra mencabut satu per satu pedang yang menancap di tubuhnya, perlahan gumpalan daging mulai tumbuh membuat ukuran tubuhnya semakin besar, orang-orang pun tecengang melihat wujud Vritra yang berubah.
Boom~
"Grrraaaaa....."
"Kkhhhaaa....."
"Uuwaaa...."
Vritra yang telah berubah menjadi seekor naga mengaum dengan sangat keras, kemudian ia menyemburkan api yang sangat besar dan membakar apapun yang ada di sekelilingnya.
"Ini tidak mungkin!!"
"Si-siapa kau sebenarnya!!"
Tenda itu pun hangus terbakar bersama para pengawal di dalamnya, tiga orang tersebut jatuh tersungkur dengan tubuh gemetar, ketakutan yang sangat besar tergambar jelas di wajah mereka.
"Ada apa ini?!!"
Para prajurit yang berada di luar melihat kumpulan asap hitam yang tebal dari arah tenda, mereka segera menatap dengan wajah kebingungan.
"Mo-monster!!"
Tiga orang itu pun lari terbirit-birit menyelamatkan diri mereka, sikap angkuh pada dirinya seketika sirna dihadapan Vritra, kini mereka tidak lebih dari seorang pengecut.
"Grrrraaaa..."
Vritra menyemburkan api ke udara, hal itu bertujuan untuk memberikan sinyal kepada pasukan Kekaisaran Naga bahwa pertempuran dimulai.
"Alpha, lihatlah!!"
"Hmmm, sepertinya negosiasi telah gagal!!"
"Siagakan seluruh pasukan!!"
"Baik!!"
Melihat semburan api dari Vritra, Alpha pun memerintahkan para pemimpin pasukan untuk segera bersiap.
"Siap!!!"
"Maju!!"
"Hiiiaaaa!!!"
Para prsjurit pun berlarian menyerbu ke arah barisan Aliansi, mereka tampak sangat bersemangat dalam pertempuran kali ini.
"Sudah kubilang itu percuma!"
"Orang-orang bodoh itu memang harus dimusnahkan!!"
Delta yang berlari dengan wujud serigalanya mengatakan sesuatu kepada Sigma, kemudian mereka pun melompat dan menerkam prajurit-prajurit Aliansi Tiga Kerajaan.
Sang Dewa Naga dan seorang peri bersamanya berada di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan kepompong, di dalam kepompong tersebut ada banyak sekali peri yang tertidur.
Seperti halnya janin yang ada di dalam perut, kepompong tersebut memiliki seutas sulur yang menempel, sulur tersebut berfungsi menyuplai energi kepada para peri.
Sulur-sulur tersebut terhubung dengan batang Pohon Kehidupan itu sendiri, para peri akan terus menerima berkah dari Pohon Kehidupan hingga masanya ia menetas menjadi peri baru.
"Perang telah usai!"
"Dan kami kehilangan cukup banyak pasukan...."
Peri yang berdiri di samping Sang Dewa Naga berbicara kepada beliau dengan nada yang berat, tampak kegelisahan di dalam dirinya mengingat tragedi yang belum berlalu lama.
"Populasi peri di Alfheim telah menurun cukup signifikan, meskipun itu tidak berdampak pada keseluruhan tapi kondisi ini sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup kami!"
"Kami takut akan terjadi kelambatan pertumbuhan populasi peri di Alfheim!"
Peri tersebut terus mengatakan kegelisahannya kepada Sang Dewa Naga, beliau mendengarkannya dengan tenang tanpa memotong pernyataannya.
"Maka dari itu, kami ingin menjalin hubungan dengan para dragonoid!"
"Kami memohon kepada anda untuk membentuk kembali aliansi dengan Alfheim...."
"Dengan begitu kami harap populasi peri di Negeri Alfheim dapat meningkat dengan pesat."
Dengan penuh harapan peri itu meminta kepada Sang Dewa Naga untuk menyetujui permintaannya.
"Itu mungkin untuk dilakukan!"
"Namun itu membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, karena Kekaisaran masih belum cukup kuat!"
Sang Dewa Naga pun menanggapi permintaan tersebut, beliau mengatakan bahwa pembentukan aliansi tersebut memakan waktu dikarenakan keadaan Kekaisaran yang masih belum stabil.
Masih banyak negara-negara yang menentang berdirinya Kekaisaran tersebut, bahkan beberapa dari mereka mencoba menaklukannya.
"Kami memahami itu, namun kami yakin hal itu dapat terwujud!"
Peri tersebut pun menerima jawaban dari Sang Dewa Naga dengan penuh senyuman.
"Baiklah."
"Ummm Tuan, bolehlah says meminta satu hal lagi kepada anda?"
"Apa itu?"
Peri tersebut pun kembali mengajukan sebuah permintaan kepada beliau, kemudian Sang Dewa Naga pun menanyakan permintaannya itu.
"Jadikanlah Yang Mulia Elena sebagai permaisuri anda....."
Peri tersebut akhirnya mengatakan permintaannya, dan itu adalah sebuah kalimat yang sangat mengejutkan.
"Saya pikir sudah saatnya beliau mengetahui hubungan anda sebenarnya."
"Ya itu memang benar!"
"Cepat atau lambat pasti ia akan menyadarinya!"
Sang Dewa Naga pun setuju dengan pernyataan peri tersebut, masih ada sebuah rahasia yang mereka sembunyikan dari Elena hingga saat ini yaitu kebenaran hubungan antara beliau dengan Elena.
"Namun sepertinya dia belum siap menerimanya!"
"Elena masih menganggapku sebagai taunnya, perbedaan timgkat derajat kami yang masih jauh membuatnya takut untuk membuka hatinya!"
Namun kemudian Sang Dewa Naga menolak tawaran tersebut dengan alasan bahwa Elena masih belum siap menerima kenyataan tersebut.
Sungguh tindakan yang amat tercela apabila seorang budak jatuh cinta kepada tuannya, mungkin itulah yang dipikirkan oleh Elena sehingga menjaga jarak dengan beliau.
"Saya yakin perlahan demi perlahan Yang Mulia pasti membuka hatinya kepada anda, tuan."
__ADS_1
"Aku harap begitu!"
Namun peri itu pun tetap optimis, seiring berjalannya waktu pasti jarak antara Elena dan Sang Dewa Naga akan menyusut.