
"Wahai leluhur naga!"
"Kami mohon...."
"Bagunlah....."
Di dalam kegelapan yang pekat Sang Dewa Naga mendengar sebuah suara yang bergema, suara itu memanggil dirinya, nada bicaranya terdengar seperti jeritan penderitaan dan keputusasaan.
"Selamatkanlah kami!!"
"Wahai raja yang agung....."
"Kumohon...."
"Hiks...."
"Aggghhh....."
"Bangkitlah wahai rajaku!!"
"Musnahkan semua musuhmu....."
"Kumohon akhiri penderitaan ini!!!"
Suara itu bergema tanpa henti, namun Sang Dewa Naga tidak tahu darimana suara itu berasal, apa yang ada di sekeliling beliau hanyalah kegelapan tanpa akhir.
Tidak lama kemudian secercah cahaya muncul dihadapan beliau, cahaya itu terus memancar menyelimuti kegelapan. Sang Dewa Naga berjalan menuju arah sumber cahaya tersebut dan disanalah ia menemukan sebuah petunjuk.
"Kau!"
"Khihihi...."
"Selamat datang di dunia mimpi wahai kekasihku!"
Tiba-tiba Sang Dewa Naga melihat seorang wanita berdiri di hadapannya, beliau pun segera menatapnya dengan tajam dan menunjukkan ekspresi tidak senang.
Wanita tersebut adalah Dewi Rubah yang tiba-tiba muncul, wajahnya tersenyum, namun ekspresi wajahnya tampak sangat berbeda dari biasanya, aura yang ia pancarkan tampak lebih tenang, dan keanggunannya tidak pernah luntur darinya.
"Ah tenanglah!"
"Ini hanyalah mimpi."
"Anda sedang berada di dalam ilusi yang saya buat!"
Kemudian Dewi Rubah pun mulai berbicara kepada Sang Dewa Naga, ia menunjukkan tanda-tanda tidak memiliki niat buruk apapun kepada beliau.
"Tenanglah, saya tidak akan menyerang anda!"
"Saya adalah kepribadian lain dari Inari!"
"Dan sifat saya berbanding terbalik dengan dirinya!"
Dewi Rubah terus mencoba meyakinkan Sang Dewa Naga, dari tutur katanya sangat lembut, aura yang dipancarkan benar-benar seperti orang lain, namun tidak salah lagi ia adalah Dewi Rubah itu sendiri.
"Saya tidak memiliki kendali atas tubuhku, saya hanyalah perwujudan alam bawah sadar milik Inari itu sendiri!"
"Tapi saya memiliki kekuasaan mutlak di dalam dunia ilusi ini, dan hanya dirikulah yang dapat mengeluarkan anda dari tempat ini!"
"Apa tujuanmu yang sebenarnya?
Sang Dewa Naga bertanya kepada Dewi Rubah, beliau tidak bisa mempercayai setiap kata yang ia ucapkan, setelah semua yang ia lakukan pada beliau.
"Saya tidak mempunyai niat apapun!"
"Saya hanya ingin memberitahu anda sesuatu!"
"Tapi sebelum itu...."
"Saya akan mengantar anda berkeliling!"
Kemudian Dewi Rubah berjalan mendekati Sang Dewa Naga, kemudian ia merangkul tangan beliau dan menariknya, sepertinya ia ingin menunjukkan sesuatu kepada Sang Dewa Naga.
Perlahan pemandangan sekeliling mereka berubah, ruang yang gelap itu mulai memancarkan cahaya, kini mereka berada di sebuah medan peperangan. Langit yang gelap, hawa dingin menerpa tubuh mereka, di sekeliling mereka banyak sekali mayat-mayat berserakan, di tempat itu tidak ada tanda-tanda kehidupan, mereka semua mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
"Lihatlah, ini yang terjadi di saat engkau tidak ada!"
Dewi Rubah menunjukkan kepada beliau kondisi yang sebenarnya, pemandangan itu terus berubah-ubah menggambarkan setiap peristiwa kelam yang terjadi.
"Manusia menjadi sangat serakah dan terus membuat kerusakan!"
"Mereka selalu bersaing dan memperebutkan kekuasaan!"
Sang Dewa Naga melihat sebuah gambaran masa lalu tentang raja-raja yang kejam, mereka saling berperang satu sama lain demi mendapatkan kekuasaan.
Banyak sekali genosida yang terjadi, ekosistem alam telah rusak, dan makhluk hidup lainnya mengalami penurunan populasi.
"Hiihhaaa..."
Suara langkah kaki kuda bergema dengan keras, seorang Raja yang menunggangi seekor kuda mendekat kearah seorang Raja lain yang sedang jatuh tersungkur.
Raja itu kemudian turun dari kuda miliknya dan berjalan menuju orang itu, ia menatapnya dengan wajah dingin dan niat membunuh yang kuat.
"Khuhuhukkk... Khuhukkk..."
"Sialan!!"
"Kau akan mendapatkan balasan yang setimpal suatu hari nanti!!"
"Terkutuklah kau wahai Dracula!!"
Kemudian tanpa mengatakan apapun Raja itu langsung mencekik leher orang itu dengan sangat kuat, ia meronta-ronta mencoba melepaskan diri darinya, namun tidak lama kemudian kuku tangan Raja itu tumbuh sangat panjang, ia pun menusukkan tangannya ke jantung orang itu hingga menembus dadanya, seketika orang itu pun mati di tangan raja tersebut.
Raja itu mengangkat tangannya yang berlumuran darah, kemudian ia membuka mulut lebar-lebar, darah segar bercucuran masuk ke dalam mulutnya, ia pun tampak sangat menikmati kemenangannya itu.
Sang Dewa Naga menatap ke arahnya, beliau merasa tidak asing dengan raja itu, ia adalah Vlad Dracula. Seorang Raja yang pernah mencoba menaklukan Kekaisaran Naga, ia adalah raja yang haus akan keabadian, Vlad terus mencari cara untuk dapat hidup abadi dan bersanding dengan para dewa.
Ratusan tahun berlalu dan seharusnya ia sudah mati oleh usia, namun Sang Dewa Naga melihatnya masih hidup hingga sekarang. Tidak mungkin seorang manusia dapat hidup selama itu, apakah Vlad telah benar-benar menemukan cara untuk hidup abadi?
"Benar, Vlad terus mencari cara untuk memenuhi ambisinya agar bisa hidup abadi!"
"Tak peduli seperti apapun caranya, ia terus berusaha untuk menaklukan dunia!"
"Bahkan ia telah berani menantang dewa!"
Sang Dewa Naga menatap orang itu dengan tajam, tampak jelas kebencian dan dendam yang sangat besar kepadanya.
"Kita para dewa adalah penyeimbang dunia!"
"Saya tidak ingin tatanan yang telah saya buat runtuh akibat kebodohan manusia!"
"Maka dari itu saya ingin mengajak ada bergabung!"
"Marilah kita bersama-sama memusnahkan manusia itu!"
Dewi Rubah mengelus pipi Sang Dewa Naga, wajahnya tampak sangat sedih, bisa saja ia berpura-pura berbelas kasih kepada beliau, namun ekspresi wajahnya tampak sangat nyata.
"Saya tidak ingin menghancurkan keseimbangan ini, saya hanya ingin melindungi sesuatu yang berharga bagiku!"
"Maukah anda bergabung bersama saya?"
"Wahai kekasihku!"
Dewi Rubah terus mengelus pipi Sang Dewa Naga dengan lembut, kemudian beliau pun menatapnya, tampak Dewi Rubah tersenyum meminta belas kasihan dari beliau.
"Aku tidak berjalan dalam kebenaran, tidak pula dalam kejahatan!"
"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan!"
"Aku tidak peduli dengan apapun yang terjadi, aku akan melindungi sesuatu yang berharga bagiku!"
"Meskipun aku akan mengotori tanganku sendiri!"
Sang Dewa Naga mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, mendengar hal itu Dewi Rubah pun tersenyum gembira.
__ADS_1
"Khihihi...."
"Jadi itu kah jawaban anda..."
"Baiklah, saya akan menemani anda mulai sekarang dan untuk selamanya!"
Perlahan Dewi Rubah mendekatkan wajahnya kepada Sang Dewa Naga, kedua bibir mereka saling bersentuhan, Dewi Rubah mencium beliau dengan lembut.
"Tapi bolehkah saya meminta sesuatu?"
"Apa itu?"
Dewi Rubah pun berbisik di telinga Sang Dewa Naga, beliau mendengarkannya dengan serius, dan setelah itu Dewi Rubah kembali tersenyum kepada beliau.
"Khihihi....."
"Selamat tinggal!""
"Mari kita bertemu lagi...."
Tiba-tiba cahaya putih memancar di sekeliling mereka, dimensi itu perlahan berubah menjadi ruang hampa yang mengantarkan Dewa Naga bangun dari tidurnya.
"Hiiaaa...."
Boom~
Pertarungan hebat terjadi antara Elena dan Dewi Rubah, perbandingan kekuatan mereka cukup jauh, meskipun kekuatan Elena telah banyak terkuras namun ia masih bisa melawan Dewi Rubah dengan sekuat tenaga.
"Khhhaa...."
Elena terhempas berkali-kali karena tidak kuat menahan serangan Dewi Rubah yang sangat dahsyat, teknik pedang miliknya belum cukup hebat melampaui teknik katana milik Dewi Rubah.
"Root of Life!"
"Hmmpp..."
Sing~
Sing~
Elena menyerang Dewi Rubah menggunakan akar miliknya, namun dengan mudah Dewi Rubah menebas akar-akar tersebut menggunakan katana miliknya.
"Sword Dance: Water Flow!"
"Spring Breeze!"
"Hiiaaa!!!"
Elena menerjang ke arah Dewi Rubah dan menyerangnya, sebuah percikan air menyebar di jalur tebasan pedangnya, ia mengayunkan pedangnya bertubi-tubi ke arah Dewi Rubah, kemudian Dewi Rubah pun menangkis serangan tersebut dengan cepat.
"Dasar menyebalkan!"
"Apa kau pikir bisa mengalahkanku hah?"
"Khhh...."
"Menjauhlah dari Dewa Naga!"
Pedang mereka saling berbenturan satu sama lain menyebabkan percikan air dan bunga-bunga bertebaran di udara, efek serangan yang ditimbulkan sangat dahsyat namun tampak Indah, perpaduan antara air dan bunga yang bercampur dapat menghipnotis mata.
"Khihihi..... Lucu sekali!"
"Kaulah yang telah mencuri kekasihku!"
"Wanita ******, beraninya kau mengambil Ozario dariku!!"
"Hiiaaa!!!"
Dewi Rubah bertambah kesal kepada Elena, kecemburuan dalam dirinya berkobar membuat inkarnasi yang terpancar menjadi tidak terkendali. Ia terus menyerang Elena dengan sangat agresif dengan niat membunuhnya.
"Itu tidak benar!"
"Beliau lah yang telah memilih saya, saya tidak pernah sekalipun berniat buruk kepada beliau!"
"Saya tidak ingin mendengar kata-kata busukmu itu!"
"Kau pantas untuk mati!"
"Agghhh...."
Perdebatan sengit terjadi diantara mereka, Elena mencoba membenarkan kesalahpahaman ini, namun Dewi Rubah tidak memperdulikan itu, ia benar-benar membenci Elena.
"Sword Dance: Snow Hurricane!"
Di saat bintik-bintik air bercampur bunga menyebar di udara, Elena segera memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang miliknya dengan sangat cepat, seketika angin berhembus sangat kencang menciptakan pusaran yang besar.
Bintik-bintik air itu seketika membeku menjadi gumpalan es yang tajam, pusaran angin itu menerjang ke arah Dewi Rubah dan mencabik-cabik nya.
"Lumayan juga..."
"Tapi terlalu lemah!"
"Blooming Sakura!"
Saat pusaran angin itu mendekati Dewi Rubah, seketika ia menancapkan katana miliknya ke tanah, seketika bunga-bunga yang berserakan di sekitarnya berkumpul di bawah kaki Dewi Rubah dan membentuk sebuah bunga sakura yang sedang mekar.
Seketika kedua pusaran itu bertabrakan hingga menyebabkan ledakan energi yang sangat besar, seketika hujan salju pun terjadi bersamaan dengan gugurnya bunga.
"Matilah!"
"Huh?"
"Khhhaa...."
Di saat Elena lengah seketika Dewi Rubah menusukkan katana miliknya di dada Elena, ia memanfaatkan ilusi salju dan bunga-bunga itu sehingga membuat Elena tidak menyadari serangan tersebut.
"Khuhukkk...."
Elena memuntahkan darah dari mulutnya, tubuhnya seketika membeku, katana itu menembus jantungnya, rasa sakit yang amat dahsyat menyebar ke seluruh tubuhnya, Elena mencoba menggerakkan tubuhnya namun tidak berhasil.
"Khhh..."
Boom~
"Heeehhh...."
"Ternyata kau masih hidup!"
Sebelum Elena kehilangan kesadaran, tiba-tiba keenam sayap kupu-kupu miliknya mengembang dan menghempaskan Dewi Rubah.
"Huuuhhaaa.... Huuhhaa...."
"Khhaa...."
Sebelum Elena mendapatkan kembali kesadarannya dengan cepat Dewi Rubah menendangnya dengan sangat kuat hingga membuat Elena terhempas dan menghantam bangunan kuil. Reruntuhan kuil itu pun roboh mengubur Elena di dalamnya.
"Ggrrr...."
"Ayo bermain kupu-kupu kecil!"
Kesembilan ekor rubah muncul di balik pinggul Dewi Rubah, taring dan cakarnya tumbuh menjadi sangat panjang, tatapan matanya sangat tajam bagaikan seekor binatang buas, sang Dewi Rubah pun memasuki mode Beast nya.
Elena bangkit dari reruntuhan yang menimpanya, kemudian ia pun mengangkat kedua pedangnya dalam posisi siaga. Dewi Rubah mengambil kuda-kuda dan siap menyerang Elena, inkarnasi yang sangat besar berkumpul di bilah katana miliknya, dalam sekejap mata Dewi Rubah pun menerjang ke arah Elena.
"Hiiaaa!!!"
Boom~
Dewi Rubah mengayunkan katana miliknya dengan sangat kuat dan segera Elena menangkis serangan tersebut dengan kedua pedangnya, hempasan energi yang sangat dahsyat menyebabkan reruntuhan kuil itu terhempas ke segala arah.
"Sword Dance: Burning Waves!"
Kemudian Elena menghempaskan katana milik Dewi Rubah dan memutar tubuhnya dengan cepat, sebuah gelombang api muncul dari jalur tebasan itu dan melahap tubuh Dewi Rubah.
"Tidak semudah itu!"
__ADS_1
Seketika tubuh Dewi Rubah diselimuti oleh kesembilan ekor miliknya, ia pun berdiri tanpa menerima luka sedikitpun.
"Huh?"
Saat Elena sedang menatap ke arah Dewi Rubah, dalam sekejap mata ia telah menghilang dari pandangannya, Elena pun terkejut dan segera mengambil posisi siaga.
"Khhh....."
"Khihihi...."
"Agghhhh...."
Dewi Rubah menyerang Elena dari belakang, menyadari hal itu ia pun segera berbalik dan mencoba menangkis serangan darinya. Kedua pedang mereka berhimpitan satu sama lain, dan Dewi Rubah memutar arah ayunan katana miliknya kemudian menyayat dada Elena dengan cepat.
"Khhaaa...."
Elena terus menerima serangan dari Dewi Rubah, kecepatan serangannya bahkan tidak bisa diprediksi olehnya.
"Hiiaaa!!"
Elena menari dengan kedua pedangnya mencoba menangkis semua serangan yang dilancarkan Dewi Rubah, meskipun begitu tubuhnya terus menerima luka sayatan yang cukup dalam.
Saat kedua pedang milik Elena berhasil menghimpit katana Dewi Rubah, ia pun segera melancarkan serangan balasan kepadanya. Elena mengayunkan kedua pedangnya bertubi-tubi ke arah Dewi Rubah dan berhasil menyayat tubuhnya.
"Hiiiaaa!!"
"Flower Charm!!"
Dewi Rubah mengepalkan tangannya, seketika bunga-bunga di taman itu bermekaran secara setentak melepaskan serbuk Sari yang sangat banyak ke udara.
"Khuhukkk.... Khuhukkk...."
"Ini sangat beracun!"
Elena tidak sengaja menghirup serbuk Sari tersebut, seketika lehernya terasa seperti tercekik, ia pun menjadi kesulitan bernapas.
"Khhhaaa...."
Tubuhnya pun seketika menjadi lemas, Elena mencoba mempertahankan posisinya namun ia terus kehilangan kesadarannya sedikit demi sedikit.
"Hiiaaa!!!"
Sing~
Sing~
Dewi Rubah melancarkan serangan kepada Elena, karena posisinya yang tidak stabil membuatnya mudah goyah, Elena terhempas dan jatuh.
"Khuhuk...."
"Huuuhhaaa...."
Elena menarik napas dalam-dalam, dengan sekuat tenaga ia mencoba bangkit dan mengambil kuda-kuda, keenam sayapnya membentang lebar, bayangan kupu-kupu muncul mengelilingi tubuh Elena bersamaan dengan partikel cahaya biru terang, tidak salah lagi ia kan menggunakan jurus terkuatnya lagi.
"Kali ini akan aku habisi kau!"
Dewi Rubah pun segera memasukkan katana miliknya ke dalam sarung dan mengambil posisi kuda-kuda, aura yang sangat besar terpancar dari dalam tubuhnya, bunga-bunga di sekelilingnya berterbangan, mereka sama-sama akan mengeluarkan serangan habis-habisan.
"Hiiiaaa!!!!"
"Hiiiaaa!!!"
Sebuah hempasan energi hebat terjadi akibat kedua pedang mereka saling berbenturan, tanah di sekitarnya retak membentuk sebuah kawah besar. Elena memutar pedangnya dengan cepat dan langsung menyayat dada Dewi Rubah, di saat yang sama Dewi Rubah berhasil memotong tiga sayap kiri milik Elena.
"Khhhaa...."
"Hiiiaaa...."
Keduanya terus mengayunkan pedang mereka tanpa henti sebelum salah satu dari mereka tumbang, luka sayatan memenuhi tubuh mereka, darah bercucuran tanpa henti.
Boom~
"Huh?"
Di saat mereka sedang mengayunkan pedang secara bersamaan tiba-tiba serangan mereka tertahan oleh dua buah pedang merah, kemudian Sang Dewa Naga yang baru saja terbangun dari tidurnya menghentikan pertarungan itu.
"Huuaaa...."
"Khhhh....."
Sang Dewa Naga menghempaskan mereka berdua secara berlawanan arah, Elena terhempas dan jatuh sedangkan Dewi Rubah masih bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan bantuan katana miliknya.
Keduanya sudah sangat kelelahan dan terluka parah, Sayap Elena yang sudah hancur terpotong perlahan menguap menjadi kupu-kupu biru yang beterbangan, sedangkan ekor milik Dewi Rubah juga ikut hancur menjadi bunga-bunga yang berhamburan.
"Bagaimana kau bisa terbangun?!"
"Huuhhaaa..... Huuuhhaa...."
Dewi Rubah sangat terkejut melihat Sang Dewa Naga terbangun dari mimpinya, seharunya tidak ada yang bisa membangunkan beliau kecuali dirinya, sedangkan Elena merasa gembira melihat tuannya kembali sembari menahan rasa sakit yang dahsyat akibat luka yang diterimanya.
"Kaulah yang telah melepaskan ku dari mimpi itu!"
"Itu tidak mungkin!"
Sang Dewa Naga menjawabnya dengan tenang, namun Dewi Rubah tidak mempercayai hal itu.
"Benar, aku bertemu dirimu yang lain!"
"Dia berkata kepadaku untuk melepaskan belenggu dari dirimu!"
"Hah, apa yang anda bicarakan...."
"Khhaaa....."
Saat Dewi Rubah mulai memikirkan apa yang dikatakan Sang Dewa Naga, tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya, ia menjerit kesakitan dengan sangat keras.
"Tidak!!!"
"Kau....."
"Huuaaa....."
Dewi Rubah terus berbicara sendiri seakan mengingat seseorang di dalam kepalanya, rasa sakit itu terus menyebar membuatnya tidak tahan.
Tiba-tiba sebuah sebuah gumpalan darah membentuk duri besar yang menusuk perut Dewi Rubah hingga menembusnya, Dewi Rubah pun menjadi tidak bisa bergerak, seketika Sang Dewa Naga menusukkan tangannya ke dada Dewi Rubah dan mencabut sebuah kristal di dadanya.
"Mengapa...."
"Khhhaaa...."
Dewi Rubah pun akhirnya kehilangan kesadaran dan jatuh tersungkur di tanah, Sang Dewa Naga menggenggam kristal itu yang berisikan sebuah bunga Sakura yang membeku di dalamnya.
Kemudian ia berjalan menuju reruntuhan kuil yang telah hancur itu, seketika angin berhembus kencang menerbangkan bunga-bunga hingga menutupi pandangan Sang Dewa Naga. Di saat angin itu telah berlalu tampak kuil yang sebelumnya hancur lebur itu telah berdiri kokoh seperti sedia kala.
Beliau perlahan memasuki kuil tersebut, di sana beliau melihat sebuah ruangan yang tampak seperti singgasana, terdapat sebuah wadah yang terbuat dari kayu, kemudian Sang Dewa Naga pun meletakkan kristal itu di wadah tersebut dan melilitkan sebuah pita merah di atasnya, dan beliau pun mengikat pita itu dengan simpul kupu-kupu.
Setelah itu tiba-tiba zirah-zirah samurai yang ada di tempat itu bergerak dengan sendirinya, mereka berjalan seakan ada seseorang yang mengenakannya. Para zirah itu pun berbaris menghadap ruangan tempat dimana kristal itu di segel dan mulai duduk bersila seakan sedang menanggapi panggilan tuan mereka.
Sang Dewa Naga yang melihat itu menjadi waspada, namun sepertinya mereka tidak berniat menyerang beliau, kemudian Sang Dewa Naga pun meninggalkan tempat itu.
"T-tuan...."
Di luar terdapat Elena yang menunggu beliau, dengan tubuh yang penuh luka Elena mencoba menghampiri Sang Dewa Naga. Kondisi tubuhnya sangat parah namun Elena tetap bersikeras untuk berjalan.
"Engkau tidak perlu memaksakan diri, sekarang istirahatlah!"
"Ma-maafkan saya.... Saya telah merepotkan anda!"
"Tidak perlu khawatir, masalah ini telah selesai!"
"Ba-baiklah...."
Kemudian Sang Dewa Naga membantu Elena untuk beristirahat memulihkan tubuhnya, butuh waktu yang cukup lama untuk meregenerasi tubuhnya setelah pertarungan itu.
Sang Dewa Naga pun berjalan menuju Dewi Rubah yang tergeletak di tanah, kemudian beliau menggendongnya menuju kuil bersama Elena yang sedang beristirahat.
__ADS_1