
Di tepi air terjun yang sangat indah terdapat dua orang yang sedang berhadapan sembari mengangkat senjata mereka, posisi tubuh mereka sedang memasuki teknik kuda-kuda, tidak ada yang bergerak sedikitpun, mereka hanya saling menatap satu sama lain.
Sang dewa naga menatap Elena dengan tajam, aura yang mengerikan terpancar dari dalam dirinya, hasrat membunuh tergambar jelas di matanya, sedangkan Elena hanya bisa terdiam, tubuhnya gemetar dengan keringat yang mulai bercucuran.
"Apa engkau siap mengambil nyawa seseorang, Elena?"
"Eh? Etoo....."
Elena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang dewa naga, bibirnya terlalu kaku untuk berbicara, ia hanya bisa menunjukkan ekspresi sedih di wajahnya.
"Suatu saat engkau pasti akan melakukannya, karena itu sudah menjadi takdirmu!"
"S-saya mengerti....."
Sebenarnya Elena sudah tahu bahwa sejak ia memutuskan untuk mengangkat senjata maka ia harus siap mempertaruhkan nyawanya kapanpun, namun di dalam hati kecilnya Elena masih belum sanggup melakukannya, melihat hidup seseorang berakhir di tangannya.
"Baiklah, kita mulai!"
"Baik....."
Setelah mereka selesai bicara sang dewa naga dan Elena kembali menatap satu sama lain dengan waspada, Elena terus memperhitungkan apakah ia akan menyerang atau bertahan, namun tanpa ia sadari sang dewa naga mulai bergerak menyerangnya.
"Jangan alihkan pandanganmu!"
"Eh?"
Tiba-tiba sang dewa naga mendekatinya dengan sangat cepat, Elena terkejut karena tidak menyadarinya, sang dewa naga pun mengayunkan pedangnya secara vertikal yang mengarah ke kepala miliknya, dengan sigap Elena pun menangkisnya menggunakan pedang miliknya.
"Khhhh....."
Kedua pedang mereka berbenturan satu sama lain menghasilkan percikan api yang cukup besar, Elena mencoba untuk menahan serangan dari sang dewa naga, namun pedang miliknya terus ditekan dengan sangat kuat oleh beliau.
"Terima ini!"
"Uhhhh....."
Tiba-tiba sang dewa naga mengubah serangan, beliau memutar pedangnya menjadi horizontal dan menebas pinggang Elena, namun sebelum pedang itu menyentuhnya Elena segera melompat kebelakang sehingga serangan itu hanya menggores sedikit perutnya.
"Ummm....."
Darah mulai mengalir dari luka tersebut, Elena pun mencoba menahannya sembari mempertahankan posisi kuda-kuda miliknya, sang dewa naga kembali menatap Elena bersiap melancarkan serangan yang berikutnya.
"Hmm?"
Tiba-tiba sang dewa naga kembali melancarkan serangan, beliau mengayunkan pedang miliknya menuju leher Elena secara diagonal, secara terkejut Elena pun berhasil menghindari serangan tersebut, ujung rambut miliknya terpotong saat bergesekan dengan pedang merah itu.
"Hiaaaa!!!!"
"Awwww....."
Sang dewa naga pun terus menyerang Elena tanpa henti, beliau melancarkan serangan bertubi-tubi kepadanya, Elena hanya bisa menangkis dan menghindari serangan tersebut tanpa membalasnya.
"Janganlah engkau ragu!"
"Ayunkan pedangmu atau engkau akan terbunuh!!"
"Ba-baik...."
Mereka berdua kembali bertatapan satu sama lain, tampak Elena yang ketakutan menghadapi sang dewa naga, kedua tangannya gemetar saat menggenggam pedang miliknya, bahkan ia hampir tidak bisa mempertahankan posisi kuda-kuda miliknya karena kedua kakinya terlalu lemas.
"Baiklah serang aku tanpa ragu!!"
"Saya mengerti...."
Sang dewa naga menyuruh Elena untuk memulai serangan, Elena pun menuruti perintah tersebut, ia mengangkat pedang miliknya ke posisi siap dan mulai menarik napas dalam-dalam untuk mengatur emosinya.
"Hiaaa!!!!"
Setelah berhasil menekan ketakutannya, Elena pun memberanikan diri untuk menyerang sang dewa naga, ia mengayunkan pedang miliknya dengan sekuat tenaga menuju sang dewa naga, melihat hal itu sang dewa naga pun menatapnya dengan tenang.
Sing~
Kedua pedang mereka kembali berbenturan satu sama lain, sang dewa naga berhasil menahan serangan dari Elena dengan mudah, beliau bahkan hanya menggunakan satu tangannya untuk menggenggam pedang miliknya.
"Khhhh...."
Merasa serangannya belum cukup kuat, Elena pun mengerahkan lebih banyak lagi tenaga miliknya untuk menembus pertahanan sang dewa naga, ia mendorong pedangnya ke depan untuk menyudutkannya.
"Aaghhhh....."
Namun sayang, hal itu masih belum cukup untuk membuat sang dewa naga terpukul mundur, dengan sekali dorongan Elena pun terhempas cukup jauh ke belakang dan jatuh.
"Berdirilah!"
"Baik...."
Elena mencoba bangkit dengan bantuan pedang miliknya, ia pun kembali mengambil posisi siap sembari memikirkan strategi yang lebih efektif untuk menyerangnya.
"Hiaaa!!!"
"Masih belum!"
Elena kembali menyerang sang dewa naga dengan gerakan yang berbeda, namun lagi-lagi serangan tersebut dapat ditangani dengan mudah beliau, ia pun terus mengubah teknik serangan miliknya sembari mencari celah untuk mengalahkannya.
"Engkau hanya berfokus pada cara mengalahkanku!"
"Amatilah keadaan di sekitarmu dan pikirkan strategi yang lebih baik lagi!!"
Sang dewa naga terus menyerang Elena tanpa belas kasihan, beliau melancarkan serangan mematikan kepada Elena, beberapa serangan itu berhasil melukai tubuh Elena dengan sangat dalam, Elena mencoba untuk terus bertahan dari keadaan mengerikan itu.
"Inkarnasi lahir karena tekad yang kuat dari seseorang!"
"Maka dari itu kuatkanlah tekadmu dan biarkan kekuatan itu mengalir dalam dirimu!!"
"Bertarunglah seakan engkau akan mati saat ini juga!"
"Hiaaa!!!"
Elena akhirnya sadar bahwa ia tidak akan bisa bertahan selamanya, ia pun memberanikan diri untuk membalas serangan dari sang dewa naga.
"Itu bagus!"
"Hiaaaa!!!"
Elena mengkombinasikan beberapa teknik yang telah ia pelajari sebelumnya menjadi gerakan-gerakan yang sangat indah, dari gerakan itu tercipta sebuah serangan yang sangat kuat, hal itu membuat sang dewa naga menjadi lebih serius nelawannya.
Kilatan-kilatan cahaya berwarna merah membentang ke segala penjuru disebabkan oleh pedang yang berayun, pertarungan sengit pun terjadi diantara mereka, tidak ada satupun dari mereka berhenti menyerang.
"Uwaaa....."
Elena melancarkan sebuah serangan vertikal menuju sang dewa naga, namun sang dewa naga dengan mudah menangkisnya, serangan itu sangat lemah karena tenaga miliknya sudah habis terkuras, Elena pun terhempas ke belakang dengan pertahanan terbuka.
"Aaghhh....."
"Uhuk....."
Saat Elena lengah, dengan cepat sang dewa naga menusukkan pedang miliknya menuju dada Elena, pedang itu pun menembus jantung miliknya hingga ke bagian punggung, seketika Elena memuntahkan darah yang sangat banyak dari dalam mulutnya sembari merasakan rasa sakit yang amat sangat dahsyat.
"Khhhaaa....."
__ADS_1
Dengan tenang sang dewa naga pun mencabut pedang itu dari dada Elena, bahkan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi belas kasihan, akhirnya Elena jatuh terbaring di atas tanah karena kakinya tidak lagi kuat menopang berat tubuhnya, darah terus mengalir keluar dari bekas luka di dadanya, kini ia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya.
"Apa hanya sampai di sini saja?"
"Khaa......"
Elena terus memuntahkan darah dari mulutnya, tubuhnya tidak lagi bergerak, namun Elena masih bisa bernapas dengan sangat lemah.
"Apakah engkau sudah menyerah?"
"A-a......"
Sang dewa naga hanya berdiri menatapnya dengan tajam, beliau tidak memberinya belas kasihan sedikitpun, Elena membuka mulutnya mencoba mengatakan sesuatu, namun suara itu tidak pernak keluar.
"Apa keinginanmu saat ini?"
"Apakah engkau menerima takdirmu begitu saja?
Darah yang mengalir sudah terlalu banyak, kini kulit Elena berubah menjadi sangat pucat, meski begitu ia masih terus bertahan diambang kematiannya.
"Sa-saya...... tidak..... ingin.... mati....."
"Apakah itu keinginamu yang sebenarnya?"
"Saya tidak ingin mati....."
Suara yang keluar dari mulut Elena sangat lemah, namun semangatnya untuk tetap hidup tidaklah memudar, ia berhasil menggerakkan jari-jemari miliknya dengan perlahan.
"Jika memang seperti itu maka bangkitlah!!"
"Engkau tidak akan mati hanya karena luka seperti itu!!"
"Khhhh......"
Harapan dan tekad yang kuat memenuhi dirinya, dengan sekuat tenaga Elena mencoba untuk mengangkat tubuhnya, ia sempat memuntahkan darah yang sangat banyak dari dalam mulutnya.
"Teruslah berjuang!!"
"Jika itu adalah keinginanmu, maka gapailah dengan kedua tanganmu!!"
Tanpa diduga tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi, darah yang keluar dari dalam tubuh Elena berubah menjadi partikel cahaya berwarna merah terang yang menguap di udara, partikel-partikel cahaya tersebut mulai mengelilingi tubuh Elena dengan cepat.
Elena terus berusaha untuk bangkit, dengan tubuh yang dibungkus oleh cahaya Elena mulai berdiri dengan bantuan pedang di tangannya, tidak lama kemudian cahaya itu meledak menghempaskan energi yang sangat besar dan mulai menyebar ke segala arah.
Kini Elena berhasil berdiri tegak menggunakan kedua kakinya, partikel cahaya merah yang sangat banyak masih menyelimuti Elena, aura yang sangat besar terpancar dari dalam dirinya.
Tampak dengan jelas tubuh yang penuh dengan luka itu mulai kembali mulus seperti sedia kala, tidak ada satupun goresan yang masih membekas di kulitnya, bahkan luka di dadanya telah teregenerasi dengan sempurna.
"Baiklah Elena, kerahkan seluruh kekuatanmu!"
"Baik...."
Elena pun mulai mengambil sikap kuda-kuda, ia menempatkan pedangnya di depan wajahnya, kemudian perlahan Elena memejamkan kedua matanya lalu menarik napas yang sangat dalam.
Dan saat itu juga tiba-tiba angin mulai berhembus kencang, partikel-partikel cahaya berwarna merah yang menyelimuti Elena perlahan mulai berubah warna menjadi biru safir.
Pedang merah yang ia genggam pun berubah, bilah pedang itu menjadi bergelombang dan sedikit transparan seperti kaca, pedang itu juga mengeluarkan partikel cahaya biru yang sangat indah.
"Sword Dance: Water Flow!!"
Energi yang sangat besar berkumpul di pedang milik Elena, kemudian ia mengambil langkan maju dan mengayunkan pedang itu dengan cepat menunju sang dewa naga, seketika sebuah kilatan cahaya biru pun membentang di udara mengikuti jalur tebasan.
Sang dewa naga pun menanggapi serangan itu dengan serius, beliau mengeluarkan aura yang sangat besar sehingga pedang merah miliknya pun menjadi bersinar.
"Hiaaaa!!!"
Boom~
"Khhh....."
"Hiaaa!!!"
Tidak berhenti sampai di situ Elena mencoba menyerang kembali dari arah yang lain, ia mengayunkan pedang miliknya dengan sebuah gerakan tarian yang sangat indah, kilatan cahaya biru yang tercipta membentang berlika-liku mengikuti tarian tersebut.
Pertarungan sengit pun terjadi di antara mereka, Elena menyerang sang dewa naga dengan menggunakan jurus tarian pedang tersebut secara bertubi-tubi.
Namun sang dewa sanggup menahan semua serangan yang diberikan olehnya, bahkan tidak ada satupun dari serangan itu yang berhasil melukai sang dewa naga dengan fatal, hanya sebagian kecil pakaian miliknya saja yang tergores.
"Terima ini!!"
"Uwaaaa....."
Sang dewa naga pun melancarkan serangan balasan kepada Elena, beliau mengayunkan pedangnya secara vertikal dengan sangat kuat, Elena pun segera menangkis serangan tersebut dengan pedangnya namun ia tidak cukup siap sehingga serangan itu berhasil menggores sedikit pipi kirinya.
"Masih belum!"
"Aghhaa...."
Sang dewa naga melancarkan gerakan instan kepada Elena, karena tidak berhasil menghindar, serangan tersebut berhasil menembus perutnya dengan sangat dalam.
"Hiaaa!!!"
Elena menerima rasa sakit yang amat dahsyat dari luka itu, namun meski begitu Elena masih bisa bertahan, saat perutnya tertembus oleh pedang milik sang dewa naga, Elena segera mengayunkan pedang miliknya dengan sangat cepat sebagai serangan balasan.
Melihat hal itu sang dewa naga segera mencabut pedang itu dari Elena dan berusaha melompat ke belakang, namun pedang milik Elena terlebih dahulu menyayat dada sang dewa naga dengan sangat dalam.
Keduanya sama-sama mendapat luka yang cukup mengerikan, Elena mencoba menutupi bekas tusukan di perutnya menggunakan salah satu telapak tangan miliknya, namun darah yang mengalir sangat banyak dan tidak dapat dihentikan, sedangkan sang dewa naga masih bisa berdiri tegak dengan tubuh yang bersimbah darah.
"Khhhh....."
Elena menggigit bibirnya dengan kuat mencoba untuk menekan rasa sakit di perutnya, meskipun bukan pertama kali ia menerima rasa sakit seperti ini namun tetap saja Elena tidak bisa menahannya.
"Eh?"
"Lukanya?"
Tidak lama kemudian sebuah keajaiban kembali terjadi, luka itu perlahan meregenerasi dengan sendirinya, Elena yang melihat hal itu pun menjadi sedikit terkejut, rasa sakit yang ia terima juga mulai pudar.
"Itulah inkarnasi!"
"Kekuatan yang bisa mengubah apapun menjadi sebuah keajaiban!"
Sang dewa naga memberitahunya tentang kejadian itu, Elena pun segera menatap ke arah sang dewa naga, saat ia melihat luka yang ada di dada beliau belum sembuh sama sekali, seketika Elena pun mengerutkan alisnya.
Luka yang diakibatkan oleh serangan darinya tidak disembuhkan oleh sang dewa naga, dilihat dari kemampuan beliau, seharusnya sang dewa naga dapat menyembuhkannya dengan mudah, tapi mengapa beliau tidak melakukan hal itu?
Melihat ada kesempatan Elena pun segera bangkit, ia menggenggam kembali pedang miliknya dan bersiap menyerang.
"Uhaaa...."
Elena melepaskan semua inkarnasi miliknya yang sangat besar ke segala arah, aura yang ia pancarkan memiliki suasana yang hangat dan tenang bagaikan air, berbeda dengan aura milik sang dewa naga yang sangat dingin dan mencekam.
Kedua inkarnasi mereka saling berbenturan satu sama lain menyebabkan atmosfer di sekitar mereka sangat kacau, siapapun yang merasakan aura itu pasti merasa tidak nyaman dan berharap ingin segera mati.
"Sword Dance: Water Flow!!"
Elena kembali melancarkan jurus yang sama seperti sebelumnya, itu adalah teknik yang diciptakan oleh dirinya sendiri, gerakan indah dan mematikan itu menciptakan ilusi menakjubkan yang dapat menghipnotis mata.
"Hiaaa!!!"
__ADS_1
Pertempuran tak berujung itu terus berlanjut, serangan mereka berdua menyebabkan daerah di sekitarnya luluh lantah, semua makhluk hidup yang ada di hutan berhamburan menjauh dari tempat pertempuran itu.
"Aghhhaa...."
Meskipun Elena terhempas dan jatuh berkali-kali, Elena masih terus saja bertarung, sebanyak apapun luka yang ia terima dapat sembuh dalam sekejap mata, namun tetap saja ia masih merasakan rasa sakit akibat luka tersebut, sedangkan luka yang diterima oleh sang dewa naga tidak sembuh sama sekali, hal itu membuat banyak sekali darah yang mengalir di tubuhnya namun beliau membiarkannya begitu saja.
"Engkau lengah!!"
"Khhaaa....."
Saat Elena ingin menebas kepala milik sang dewa naga dari atas, tiba-tiba beliau dengan cepat menebas tangan kiri Elena hingga putus, seketika Elena pun menjerit kesakitan.
"Hiaaaa!!!"
Namun ia tetap melanjutkannya, dengan segala tenaga yang tersisa ia mencoba menusukkan pedang miliknya ke dada sang dewa naga, dan serangan itu berhasil menembus dada beliau hingga punggungnya.
"Uwaaa...."
Seketika sang dewa naga menghempaskan Elena dengan sangat kuat hingga pedang itu tercabut dari dadanya, Elena pun terjatuh dengan cukup keras hingga beberapa tulang rusuk miliknya patah, namun ia berhasil bangkit dengan tumpuan pedangnya.
Crakk~
"Eh?"
Saat ia ingin memperbaiki posisi tubuhnya tiba-tiba suara yang keras bergema dan pedang miliknya hancur berkeping-keping, hal itu membuat Elena terkejut dan tidak bisa menyeimbangkan posisinya, ia pun terhuyung ke depan dan akan jatuh.
"Uhkhhaaa...."
Tanpa ia sadari tiba-tiba sang dewa naga sudah berada di hadapannya, beliau menghunuskan pedang merah miliknya ke arah Elena, seketika Elena terkejut dan mencoba untuk menghindar, namun itu sudah terlambat.
Pedang itu dengan cepat menyayat lehernya sangat dalam, Elena pun merintih kesakitan, darah yang mengalir sangat banyak dan perlahan kesadaran Elena mulai hilang.
Akhirnya Elena jatuh, ia sudah tidak bisa lagi menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah merasakan penderitaan yang amat dahsyat itu.
Setelah mencoba bertahan sekuat tenaga, Elena berpikir bahwa mungkin inilah akhir dari hidupnya, dan akhirnya Elena pun perlahan mulai menutup mata.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hari semakin gelap, matahari sudah terbenam, sang dewa naga duduk di samping Elena sembari menatap ke arah api unggun, sedangkan Elena masih terbaring dalam tidurnya.
"Ummm....."
Tidak lama kemudian Elena perlahan mulai membuka matanya, lalu Elena melihat ke arah tubuhnya dan seketika Elena pun terkejut.
"Uh, tanganku?"
Elena menggerakkan tangan kirinya beberapa kali untuk memastikan tidak ada hal yang aneh, Elena merasa bahwa tangan kiri miliknya telah putus beberapa saat yang lalu, namun saat ini bagian yang hilang itu telah kembali seperti semula.
Kemudian ia mulai memeriksa bagian-bagian tubuh yang lain, Elena mencoba memegangi lehernya untuk memeriksa apakah masih ada bekas luka yang tertinggal, tapi lagi-lagi ia tidak bisa menemukannya, seluruh luka yang ada di tubuhnya telah hilang, Elena tidak percaya akan hal itu, seharusnya kejadian itu belum berlalu lama, tapi ia merasa itu hanyalah perasaannya saja.
"Elena!"
"Ba-baik...."
Kemudian sang dewa naga memanggilnya, Elena pun segera menoleh ke arah beliau sebagai respon darinya.
"Apakah engkau sudah merasa lebih baik?"
"Ba-baik...."
Seperti biasa sang dewa naga hanya menunjukkan wajah datar miliknya, namun meski begitu Elena mengaguminya, wajah Elena menjadi merah merona setiap kali ia menatap sang dewa naga.
"Baiklah Elena, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu!"
"Ummm...."
"Akan kuberi tahu alasan mengapa aku melatihmu seperti ini!"
Tiba-tiba sang dewa naga membicarakan hal yang serius, mendengar hal itu Elena pun menjadi sedikit penasaran.
"Aku memiliki sesuatu hal yang harus aku lakukan."
"Yaitu memusnahkan seluruh umat manusia!"
"Eh?"
Seketika Elena terkejut saat mendengar pernyataan dari sang dewa naga, itu adalah suatu hal yang benar-benar tidak terduga, namun dari tatapan mata sang dewa naga yang sangat tajam, sepertinya beliau memang serius melakukannya.
"Me-mengapa?"
"Karena itulah alasanku bangkit dari tidurku!"
Elena mencoba memberanikan diri bertanya kepada beliau, tubuhnya gemetar dan katanya menjadi terbata-bata, Elena merasakan aura membunuh yang sangat besar terpancar dari sang dewa naga.
"Seperti yang engkau tahu, manusia terus-menerus berbuat kerusakan!"
"Maka dari itu aku ingin menghentikan mereka!"
Elena hanya bisa diam mendengarkan sang dewa naga, ia tidak memiliki hak untuk membantah beliau, meski begitu ada sedikit kesedihan yang tergambar di wajahnya.
"Aku tidak memaksamu untuk berpihak kepadaku!"
"Engkau bebas memilih dimanakah engkau akan berjuang, karena itu akan menentukan takdirmu sendiri!"
"Jika suatu saat engkau memilih untuk menjadi musuhku, maka aku sudah mengajarimu cara untuk melawanku!"
Sekarang Elena memiliki dua pilihan yang sangat sulit baginya, ia harus memutuskan di manakah ia akan berpihak.
"Ti-tidak, saya tidak bermaksud seperti itu....."
Elena tampak sangat ragu untuk memilih, namun di sisi lain ia juga merasa takut akan kemarah dari sang dewa naga.
"Dengarlah Elena, mungkin ini akan sangat menyakitkan bagimu!"
"Tapi aku akan memberi tahumu suatu hal yang belum engkau ketahui"
"Etooo..... apa itu?"
Tiba-tiba sang dewa naga beralih ke sebuah topik yang lain, hal itu pun membuat Elena kembali merasa penasaran, tapi Elena juga takut mendengarnya.
"Kedua orang tuamu telah mati!"
"Eh?"
Setelah Elena mendengar pernyataan dari sang dewa naga, ia pun menjadi sangat terkejut, tubuhnya seketika membeku dan kata-katanya terputus.
"Akulah yang telah membunuh mereka!"
"Ap-"
"Ti-tidak mungkin....."
Perlahan air mata mulai mengalir di pipi Elena, ia merasakan sebuah kesedihan disebabkan oleh kabar duka yang baru saja ia dengar, Elena tidak percaya bahwa orang tuanya telah meninggal.
"Itu memang benar, aku telah membunuh mereka!"
"Me-mengapa anda melakukan hal seperti itu?"
"Apa kedua orang tuaku berbuat salah....."
__ADS_1
"Hiks~"
Dengan berlinang air mata ia mencoba menanyakan penyebab kematian kedua orang tuanya, bagaimanapun juga Elena yakin bahwa sang dewa naga tidak akan melakukan tindakan seperti itu kepada mereka tanpa alasan.