
"Hora!!"
"Hidup Kekaisaran Naga!"
"Hidup Tuan Ozario!"
Suara sorak sorai bergema di medan seluruh penjuru langit, para pasukan di baris depan telah berhasil mendominasi pertempuran, formasi musuh yang kacau dan juga pasokan logistik yang di ambil alih membuat prajurit Aliansi Tiga Kerajaan tidak memiliki perlawanan apapun.
"Kami menyerah!"
"Ampunilah kami...."
Para prajurit yang putus asa pun mulai meletakkan senjata mereka, meskipin mereka tidak tahu dengan apa yang akan terjadi pada dirinya namun itu lebih baik daripada harus meregang nyawa.
Prajurit-prajurit tersebut pun dilucuti peralatan mereka lalu digiring menuju kamp, ketakutan yang amat besar tergambar jelas di wajah mereka.
"Apa yang akan kalian lakukan kepada kami?"
"Apakah kami akan dieksekusi?"
Salah satu prajurit itu bertanya kepada penjaga kamp, ekspresi wajahnya seperti sudah tidak memiliki semangat hidup.
"Hukuman yang akan kami berikan kepada kalian tergantung dengan keputusan Kaisar!"
"Dan selama itu berlangsung kalian berada di bawah pengawasan kami!"
Penjaga kamp itu pun menjawabnya dengan tenang, ia tidak bermaksud mengintimidasi para prajurit yang telah kehilangan semangat mereka.
"Cepatlah masuk!
"Baik...."
Kemudian para tawanan perang itu masuk ke dalam kamp yang dijaga ketat oleh pasukan Kekaisaran.
Di dalam sebuah tenda terdapat seorang pria yang duduk dengan seluruh tubuh yang terikat, pria itu adalah mantan pemimpin pasukan Aliansi yang telah ditangkap.
"Baiklah sekarang beritahu aku apa tujuan kalian menyerang kami!?"
Sigma yang berdiri di hadapannya memberikan sebuah pertanyaan kepada pria tersebut, dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang kuat.
Cuihh....
"Apa kau pikir aku akan menjawabnya?"
"Matilah kau keparat!!!"
Pria itu meludah ke arah Sigma dan menolak menjawab pertanyaan darinya, dengan wajah yang angkuh ia mencoba mencoba memberontak.
"Hoo?"
Sing~
Seakan tidak puas dengan jawaban darinya, Sigma pun meregangkan jari jemari miliknya, kuku-kuku yang tajam seketika tumbuh, kemudian Sigma merapatkan telapak tangannya dan membidik ke arah pria tersebut.
"Aku tanya lagi, siapa yang memerintahkan kalian!"
"Hmmmp, itu percuma!"
"Khhhaaaa....."
Pria tersebut tetap menolak memberi tahu Sigma dalang di balik semua ini, namun sesaat setelah ia selesai bicara tiba-tiba Sigma menusukkan jarinya ke telapak tangan pria tersebut dengan sangat kuat hingga memutuskan jari telunjuk sebelah kanan pria tersebut.
Seketika pria itu pun menjerit dengan sangat kuat akibat luka yang diterimanya, darah mulai mengalir keluar dari potongan jari tersebut.
"Sialan kau!!!"
"Jariku!!!"
Namun pria itu tetap enggan memberi tahu Sigma, dan malah memaki-makinya.
"Baiklah jika kau ingin bermain maka aku akan melayani dengan senang hati!!"
"Huuaaaa....."
Sigma pun kembali menusukkan jarinya ke tangan pria itu, kini jari tengah dan Jari manisnya terputus secara bersamaan.
"Keparat, aku berjanji akan membunuhmu!!"
"Khhhaa...."
Pria tersebut masih keras kepala dan enggan mengaku, Sigma pun menjadi lebih serius menyiksanya.
"Seberapa lama kau akan bertahan!"
"Huuaaaa....."
Sigma terus memutuskan satu per satu jari pria tersebut, bahkan setelah semua jari tanggannya hilang, Sigma tidak berhenti menyiksanya.
"Khhhh....."
"Agghhhh...."
Pria tersebut merintih kesakitan menahan luka itu, ia menggigit bibirnya hingga berdarah untuk mempertahankan kesadarannya.
"Kau tahu, otak manusia memiliki batasan dalam menerina rangsangan!"
"Seberapa keras kau mencoba menahan rasa sakit di tubuhmu, otakmu tidak akan kuat menampungnya!"
Crrackk~
"Khhhaaaa....."
Sigma mencengkram pergelangan tangan pria itu dan mematahkannya, suara keras dari tulang yang patah terdengar sangat mengerikan.
Pria itu meronta-ronta merasakan rasa sakit yang sangat dahsyat, Sigma tidak berhenti menyiksanya hingga ia mau mengaku.
"Siapa yang mengirimu?!!"
Crackk~
"Huuuaaa....."
"A-aku tidak tahu!"
Sigma kembali mematahkan pergelangan tangan pria tersebut, perlahan sikap angkuh pada dirinya mulai luntur disebabkan siksaan yang tiada akhir.
"Kami hanya diperintahkan untuk menyerang saja!"
Crackk~
"Khhhaaaa...."
Pria itu pun menjawab pertanyaan Sigma dengan terbata-bata, keringat bercucuran di tubuhnya dan napasnya menjadi terengah-engah.
"Hentikan!!!"
"Siapa yang mengirim mu?!!"
__ADS_1
Sigma terus mematahkan setiap inci tulang pria tersebut hingga ia benar-benar mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari pria itu.
"Aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak tahu!!"
"Sekarang lepaskan aku!!!"
"Agghhh...."
Air mata mengalir deras di wajahnya, sikap angkuhnya seketika runtuh, kini ia tampak seperti seorang anak kecil.
Penyiksaan itu terus berlanjut hingga pria itu telah kehilangan emosinya, ia hanya menatap Sigma dengan tatapan kosong.
"B-bunuhlah aku...."
Pria itu tidak bisa lagi melakukan apapun, cepat atau lambat ia akan mati, maka dari itu ia meminta kepada Sigma untuk membunuhnya agar ia segera terbebas dari penderitaan ini.
"B-biarkan aku mati...."
Dengan segala tenaga yang ia punya, pria itu terus meminta Sigma agar membunuhnya saat itu juga, ia tidak bisa lagi menahan penderitaan ini.
Seluruh tulangnya patah, kaki dan tangannya terpotong-potong, darah yang mengalir terlalu banyak hingga membuat kulitnya pucat.
"Keparat...."
Sigma pun menatapnya tanpa mengatakan apapun, kemudia ia meletakkan telunjuk miliknya tepat di dada pria tersebut dan perlahan menusukkannya ke dalam.
"Aggghhhh...."
"Khhhaaa...."
Kuku tajam itu merobek daging pria itu perlahan-lahan, seketika pria itu memuntahkan darah dari dalam mulutnya, merasakan kematian secara perlahan dan sangat tersiksa.
Akhirnya denyut jantung pria itu terhenti, kesadarannya pun perlahan menghilang, dan ekspresi wajahnya tampak sangat mengerikan.
Kemudian Sigma keluar dari dalam tenda dan berubah menjadi serigala, tidak lama kemudian datang Jenderal Vritra dengan wujud naganya.
"Bagaimana hasilnya?!"
Vritra perlahan berubah kembali menjadi manusia, ia pun bertanya kepada Sigma mengenai interogasinya kepada tawanan.
"Tidak ada yang bisa kita dapatkan!"
"Hmm..."
Sigma pun memberi tahunya bahwa mereka belum bisa mendapatkan informasi penting tentang tujuan mereka sebenarnya menyerang Kekaisaran.
"Tapi anda tidak perlu khawatir, aku menyuruh Delta untuk menyelidiki masalah ini!"
"Saya mengerti!"
Sigma menyuruh Delta dan timnya untuk menyusup ke dalam wilayah musuh, Sigma mempercayakan misi ini padanya karena kemampuan Delta yang sangat mumpuni.
Di sebuah wilayah bernama Cornevest yang menjadi markas Aliansi Tiga Kerajaan, Delta bersama para bawahannya menyusup ke dalam kastil.
"Shhhtt...."
Saat mereka berada di dalam kastil, ada beberapa prajurit penjaga yang mengawasi sepanjang lorong, melihat hal itu Delta pun memberikan sebuah tanda isyarat kepada bawahannya untuk berhenti.
"Berpencar!"
"Baik!"
Kemudian Delta memerintahkan bawahannya untuk berpencar menjadi beberapa tim, hanya menyisakan dirinya dan seorang pria yang menenmaninya.
Mereka terus menyusuri ruangan demi ruangan untuk mencari informasi, Delta bersama Gilbert Gervaso ingin menyusup ke dalam sebuah kamar, namun di luar terdapat dua orang penjaga yang siaga mengawasi keadaan sekitar.
"Siap!"
Delta menyuruh Gilbert untuk mengeliminasi para penjaga tersebut, dengan sigap ia mengendap-endap ke arah mereka.
Gilbert meregangkan jari-jemari miliknya, dari balik telapak tangan kanan miliknya muncul sebuah belati kecil dengan sangat cepat.
Pada bilah belsti itu terdapat cairan berwarna ungu yang menetes, kemungkinan itu adalah racun yang melumasi belati miliknya.
Sing~
"Aggghhh....."
"Huh?"
"Khhhaaa...."
Dalam sejekap mata Gilbert menikam para penjaga itu tepat di bagian lehernya, kedua orang tersebut pun tewas seketika di tangannya.
Kemudian Gilbert kembali meregangkan jari miliknya, belati yang ada di balik telapak tangannya seketika tertarik ke dalam lengan baju miliknya dengan sangat cepat.
Itu adalah senjata bernama Hidden Blade, senjata ini dipakai oleh hampir semua Assassin yang dipimpin oleh Delta.
"Bagus!"
Mereka pun segera menyeret kedua mayat tersebut ke dalam kamar, beberapa saat kemudian Delta dan Gilbert keluar dengan memakai seragam penjaga.
Delta dan Gilbert berdua berjalan menyusuri lorong layaknya orang biasa, tidak ada satupun orang yang mencurigai mereka karena seragam yang mereka pakai sama seperti orang-orang di sana.
"Pasukan kita telah dikalahkan!"
Mereka memasuki sebuah ruang pertemuan para petinggi Aliansi, terdapat beberapa orang yang berkumpul di ruangan tersebut.
Delta dan Gilbert berdiri di dekat pintu layaknya seorang penjaga, sembari diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tidak berguna!!"
"Apa yang orang-orang bodoh itu lakukan!"
Salah seorang petinggi itu menjadi sangat marah setelah mengetahui bahwa pasukannya telah dikalahkan.
"Kita harus mengganti strategi baru!"
"Benar, jika terus seperti maka posisi kita akan tersudut!"
Para petinggi itu berdebat satu sama lain tentang strategi yang mereka buat untuk melawan Kekaisaran.
"Kita akan memancing pasukan Kekaisaran manuju kemari lalu menyerbu wilayah mereka melalui sisi barat!"
"Tunggu, apakah kau pikir kita mampu menahannya?"
"Jumlah mereka terlalu banyak!"
Salah seorang memberi sebuah masukan mengenai strategi mereka, dengan membiarkan pasukan Kekaisaran bertempur di wilayah Aliansi hal itu akan membuat pertahanan Kekaisaran menurun, karena sebagian besar pasukannya telah dikerahkan untuk menaklukan Aliansi.
Itu adalah waktu yang tepat untuk menyerbu wilayah Kekaisaran dari arah lain, namun masalahnya apakah mereka bisa menyerang sembari mempertahankan wilayahnya dari serangan musuh.
"Tidak masalah, kita bisa gunakan warga sipil sebagai pasukan cadangan!"
"Tapi, mereka tidak memiliki pengalaman bertempur, kita juga tidak punya waktu untuk melatih mereka!"
Beberapa diantara petinggi itu masih meragukan keefektivitasan strategi tersebut.
__ADS_1
"Tidak ada cara lain!"
"Kita harus menguasai wilayah mereka sebelum mereka menaklukan kita!"
Strategi ini memiliki konsep siapa yang paling cepat menguasai wilayah musuh, maka itulah yang menang.
"Baiklah aku setuju denganmu!"
"Aku juga!"
Setelah perdebatan panjang, akhirnya mereka pun menyetujui strategi tersebut, dan pertemuan selesai, para petinggi itu pergi meninggalkan ruangan.
Para Assassin yang lain masih terus menyusup ke seluruh ruangan, mereka terbagi menjadi beberapa tim yang beranggotakan dua orang.
"Agghh...."
"Khhhaa..."
Seorang Assassin yang menyelinap ke dalam sebuah kamar membunuh para penjaga di ruangan tersebut, mereka melihat ada tiga orang yang seluruh tubuhnya terikat, satu diantara mereka adalah seorang laki-laki dan dua lainnya perempuan.
"Hmmm..... hmmm....."
Para tawanan tersebut meronta-ronta melihat Assassin yang ada di hadapan mereka, mulut mereka ditutup oleh kain sehingga mereka tidak bisa berteriak.
"K-kumohon jangan bunuh kami...."
"Siapa kau?"
Salah satu Assassin memotong kain yang menutupi mulut laki-laki itu, seketika laki-laki itu memohon dengan wajah ketakutan.
"Aku adalah raja dari Kerajaan Oswaden!"
"Kami ditangkap dan di sandera!"
Laki-laki itu pun menjelaskan situasinya kepada mereka dengan tergesa-gesa, ekspresi wajahnya terlihat sangat ketakutan.
Kemudian salah satu Assassin itu memberikan kontak mata kepada rekannya, dengan sigap ia pun pergi untuk mencari Delta.
"Tunggulah sebentar!"
Assassin tersebut menyuruh mereka untuk tetap tenang sembari menunggu Delta datang, setelah beberapa saat akhirnya Delta pun tiba.
"Halo senang bertemu denganmu!"
"Baiklah katakan semuanya padaku!"
Delta pun segera menginterogasi laki-laki tersebut, sedangkan yang lainnya mengawasi keadaan sekitar.
"Mereka telah menipu kami!"
"Sebenarnya kami tidak ingin berperang melawan Kekaisaran!"
"Namun mereka menolaknya dan melengserkan kami!"
Laki-laki itu mengatakan semua yang terjadi kepada Delta, bahwa dalang di balik penyerangan ini adalah para kelompok yang melakukan kudeta.
"Apa perkataanmu itu bisa dipercaya?"
"Aku bersumpah dengan seluruh jiwa dan ragaku!"
"Kumohon, selamatkan kami!"
Laki-laki itu terus mengemis kepada Delta untuk menyelamatkannya, dilihat dari ekspresi wajahnya sepertinya laki-laki itu tidak berbohong.
"Gilbert!"
"Carilah tawanan yang lain!"
"Kemungkinan masih ada lagi di sini!"
"Saya mengerti!"
Kemudian Delta menyuruh Gilbert dan yang lainnya untuk mencari sandera yang tersisa, dengan harapan bisa mendapatkan informasi yang lebih jauh.
"Baiklah aku terima permintaanmu!"
"Tapi dengan syarat bahwa kalian harus menyerah kepada Kekaisaran Naga!"
"Baik, saya berjanji!"
Akhirnya Delta melepaskan ikatan mereka, kemudian ia menyuruh salah satu bawahannya untuk menyampaikan pesan tersebut kepada Kekaisaran.
Di sisi lain para pasukan masih beristirahat sembari merayakan kemenangan mereka dalam pertempuran kali ini.
"Sigma, saya datang membawa pesan!"
"Hmm?"
Seseorang datang menemui Sigma sembari yang sedang berada di dalam tenda, ia adalah Assassin yang dikirim oleh Delta untuk menyampaikan pesan.
"Katakanlah!"
"Peperangan ini belum berakhir!"
"Aliansi sedang menyiapkan strategi untuk memancing kita masuk ke wilayah mereka!"
"Kemudian mereka akan menyerbu Kekaisaran dari arah barat!"
Assassin itu mengatakan semuanya kepada Sigma, seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Baiklah kerja bagus, tolong sampaikan ini juga kepada Jenderal Vritra dan Alpha!"
"Siap!"
Setelah itu Sigma menyuruh Assassin itu untuk pergi menemui Alpha dan Jenderal Vritra.
"Hmmm, memang benar ada yang aneh dengan pertempuran ini!"
"Tidak mungkin mereka telah mengerahkan seluruh kekuatan tempurnya!"
Jenderal Vritra yang baru saja mendengar berita itu pun menyadari akan sesuatu, ia sudah curiga dengan situasi saat ini.
"Kita tidak boleh masuk ke dalam perangkap mereka!"
"Jenderal Vritra, perintahkan pasukan untuk kembali saat ini juga!"
"Kita akan melindungi Kekaisaran dari invasi musuh!"
"Saya mengerti!"
Dengan segera Kekaisaran menarik seluruh pasukannya untuk kembali, prioritas utama mereka adalah mempertahankan ibu kota dari serangan musuh.
"Semuanya kembali!"
"Musuh akan menyerang ibu kota!"
Jenderal Vritra segera memberi tahu seluruh pasukannya untuk segera berangkat, butuh waktu sekitar dua hari untuk sampai di Kekaisaran, mungkin mereka masih memiliki sesikit waktu untuk bersiap.
__ADS_1
Namun tidak di sangka para pasukan Aliansi telah bergerak maju terlebih dahulu menuju arah barat, dengan jumlah yang sangat banyak mereka akan menyerbu Kekaisaran dalam kurun waktu beberapa jam lagi, dan dengan begitu peperangan besar pun akan segera dimulai.