
"Ummm....."
Setelah beberapa saat tertidur akhirnya Elena mulai membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah langit yang sudah mulai gelap, kemudian Elena menoleh ke kanan, tampak seorang pria yang sedang duduk menatap ke arah sungai.
"Sepertinya engkau sudah bangun."
"Apa tidurmu nyenyak Elena?"
Tiba-tiba pria itu melirik ke arah Elena, seketika Elena pun terkejut dan langsung duduk, sepertinya pria itu telah mengawasinya selama tertidur.
"Ma-maafkan saya...."
"Saya merepotkan anda...."
"Tidak masalah."
Elena segera meminta maaf kepada pria tersebut, tampak wajahnya yang merasa malu, namun pria itu hanya membalasnya dengan datar seakan tidak peduli.
"Sekarang bersikanlah tubuhmu di air terjun itu!"
"Etoo...."
"Sa-saya mengerti...."
Kemudian pria itu menyuruh Elena untuk membersihan dirinya, mendengar hal itu seketika Elena terkejut, wajahnya memerah dan kata-katanya menjadi terbata-bata, ia merasa sangat gugup untuk melakukannya.
"Aku akan mencari beberapa makanan untuk makan malam, silahkan nikmati waktumu!"
"A-anu...."
Pria itu segera berbalik dan mulai berjalan ke dalam hutan, melihat hal itu Elena pun mencoba menghentikannya, namun kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutnya, pria itu terus berjalan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun, seketika Elena menjadi sedikit murung, entah mengapa ia pun merasa sedih saat pria itu pergi meninggalkannya.
Setelah bayangan pria itu tidak terlihat lagi, Elena pun segera berbaik dengan wajah sedih dan perlahan ia mencoba melepaskan gaun merah miliknya, tampak dengan jelas tubuhnya yang sangat indah dengan kulit putih yang bersih, rambut cokelat miliknya menjuntai panjang menutupi sebagian punggungnya, dadanya yang sangat besar tampak begitu mempesona.
Di bagian bahu sebelah kanan terdapat sebuah luka memar yang cukup besar, luka itu menyebabkan bercak merah kebiruan yang membekas di kulitnya, itu adalah dampak dari serangan dari sang dewa naga saat melawan Elena di pertarungan sebelumnya.
"Ahh...."
"Nikmatnya...."
Perlahan Elena menceburkan dirinya ke dalam sungai, mulai dari kaki hingga seluruh tubuhnya telah terendam oleh air, kedalaman sungai itu hanya sebatas bahu Elena, bahkan lebih dangkal dari itu, rasa segar menyelimuti dirinya dalam sekejap, hal itu belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kemudian Elena mulai membasuh bagian-bagian tubuhnya, ia membasuh rambut panjangnya yang tampak sedikit kusut, dan saat air itu membasahinya, seketika rambut itu kembali menjadi lurus dan lembut, setelah selasai membasuh rambut, Elena pun beralih ke bagian tubuh yang lain.
"Eh?"
"Lukanya sembuh?"
Ia membasuh bagian bahu miliknya yang terluka, saat air itu disiramkan ke bagian kulit yang memar seketika air itu mulai meregenerasi lukanya dengan sangat cepat, Elena pun terkejut saat melihat luka yang hilang dalam sekejap, efek dari air terjun ini sangat ajaib dan bahkan hampir tidak masuk akal.
Elena berendam di bawah air terjun yang mengalir sangat deras, tetesan air yang berkumpul di tubuhnya membuat kulit putihnya bersinar memantulkan cahaya terang, suara percikan air terdengan sangat keras membantunya merelaksasikan tubuhnya, ditambah rasa sejuk dari air dan cahaya senja yang indah menambah rasa nyaman melepas kepenatan setelah menjalani latihan yang berat.
Hari semakin gelap, Elena pun memutuskan untuk menyudahi berendamnya, saat ia keluar dari dalam air tampak dengan jelas perbedaan pada tubuhnya, kulitnya lebih bersih dan halus, bahkan otot-otot di bagian dada dan paha miliknya tampak lebih mulus dan lebih kencang dari sebelumnya, rambutnya lurus berkilau seperti benang sutera.
Perlahan Elena memakai kembali gaun miliknya, meskipun gaun tersebut tidak dicuci namun tidak terdapat sedikitpun tanda kusut bahkan terlihat sangat bersih, Elena tidak tahu darimana ia mendapatkan gaun itu, namun ia pikir itu adalah pakaian yang dibuat dari bahan khusus.
"Apakah tuan masih lama?"
Elena menatap ke dalam hutan sembari memikirkan pria itu, kesedihan masih tergambar jelas di wajahnya sejak sang dewa naga pergi meninggalkannya untuk berburu, Elena tahu bahwa orang itu pasti akan kembali lagi, namun harus menunggu sendirian membuatnya merasa kesepian.
"Saya tidak boleh berpikir seperti itu!"
"Saya harus mematuhi perintah tuan....."
Meskipun baru mengenalnya sebentar namun Elena sudah menunjukkan rasa ketertarikan yang besar kepada pria itu, mungkin waktu yang ia habiskan bersamanya ditambah dengan perlakuannya kepada Elena membuatnya tersentuh hatinya, tapi Elena sadar bahwa tidak seharusnya seorang budak berpikiran seperti itu pada tuannya, hal itu membuat Elena merasa dilema.
Grusuk~
"Umm?"
Tiba-tiba sebuah bunyi yang keras muncul dari balik semak-semak, suara itu mirip seperti ranting yang terinjak, hal itu membuat Elena terkejut, apakah sang dewa naga telah kembali?
"Tuan?"
Suara itu terdengar semakin keras, bahkan berkali lipat dari sebelumnya, tiba-tiba Elena merasakan getaran yang cukup besar merambat ke arahnya, perlahan semak-semak di sekitarnya mulai berguncang.
"Siapa di sana?"
Guncangan itu perlahan menjadi semakin kuat, bahkan pepohonan besar di sekitarnya juga ikut berguncang, Elena sadar bahwa itu bukanlah sang dewa naga, ia pun menjadi sangat waspada.
"Hah?"
Tiba-tiba muncul sepasang mata yang menatap Elena dengan sangat tajam, mata yang bersinar merah, Elena pun merasa ketakutan menyaksikan hal itu.
Perlahan dari dalam bayangan muncul sesosok makhluk besar berbulu dan bertanduk, makhluk itu berwujud seperi binatang berkaki empat yang memiliki tinggi lebih dari seekor kuda dewasa, hembusan napasnya menyebabkan kabut kecil yang berhembus ke segala arah.
Makhluk itu berlari menuju arah Elena yang sedang ketakutan dengan sangat cepat, langkah kakinya menyebabkan guncangan besar hingga menyebabkan pohon-pohon kecil di dekatnya luluh-lantah.
"Graaaa....."
"Jangan mendekat!"
"Tolong...."
"Uwaaa....."
Makhluk itu mengarahkan tanduknya yang panjang ke arah Elena seakan mencoba menyeruduknya, Elena merasa panik dengan situasi yang dialaminya saat ini, namun saat ujung tanduk itu hampir menembus dadanya elena dengan tidak sadar melompat ke arah samping hingga berguling di atas tanah, serangan makhluk itu pun meleset dan tanduknya menabrak sebuah pohon hingga menancap sangat dalam di batangnya.
Elena pun tidak mengerti mengapa ia bisa melakukan tindakan tersebut, namun insting bertahan hidupnya baru saja menyelamatkan nyawanya, hewan itu meronta-ronta mencoba melepaskan tanduknya yang tersangkut di batang pohon, menyadari hal itu Elena pun mencoba untuk segera bangkit dan lari dari tempat itu.
"Graaaaa......"
"Makhluk apa itu?"
Dengan guncangan yang sangat kuat makhluk itu berhasil mencabut pohon itu sampai ke akarnya, kemudian makhluk itu menggelengkan kepalanya berulang-ulang hingga tanduknya berhasil lepas dan pohon itu terlempar jauh menuju ke arah Elena dengan sangat cepat.
"Hah?"
"Uwaaa....."
Elena yang baru saja berdiri kembali melompat untuk menghindari pohon yang sangat besar itu, ia dapat menyaksikan dengan jelas pohon tersebut melayang tepat di atas kepalanya, jika Elena menunduk kurang rendah sedikit saja maka pohon itu sudah menghancurkan wajahnya.
"Ghhhh......"
Elena pun terbaring di atas tanah, tepat di depannya makhluk itu menatap Elena dengan sangat tajam, makhluk tersebut mulai mengaruk-garuk tanah menggunakan kaki depan miliknya sembari menempatkan tanduknya lurus mengarah ke Elena, dengan teriakan yang sangat keras makhluk itu berlari menuju Elena dengan tujuan ingin menyerangnya kembali, merasakan bahaya akan mendekat, Elena pun segera bangkit dari jatuhnya.
"Tidak......"
Disaat Elena berhasil berdiri tiba-tiba makhluk itu sudah berada di depannya, hal itu membuat Elena tidak memiliki kesempatan untuk menghindar, Elena pun hanya bisa menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya, sudah tidak ada lagi kesempatan lolos untuknya.
Boom~
"Ummm?"
Sebuah benturan yang sangat keras terjadi menyebabkan hempasan angin yang sangat kencang, perlahan Elena membuka matanya, hal yang pertama kali dilihatnya adalah dua kanopi besar berbentuk sayap naga berwarna merah muncul di hadapannya, sayap-sayap tersebut saling bersilangan satu sama lain seakan mencoba menyelimuti Elena.
"Graaaa......"
Makhluk itu terpental ke belakang saat berbenturan dengan perisai sayap tersebut, bahkan tanduknya pun hancur berkeping-keping disebabkan oleh benturan keras yang dialaminya, makhluk itu berteriak mengeluarkan suara yang sangat keras, ia merasa sangat kesakitan karena tanduknya telah patah.
"Etooo.... apakah anda baik-baik saja?"
"Ma-maaf, saya tidak berniat mengganggumu!"
__ADS_1
"Graaaa....."
Ia pikir dirinya baru saja mati, namun ternyata kedua sayap itu melindungi Elena dari serangan makhluk ganas tersebut, kemudian sayap yang membungkus Elena perlahan mencair menjadi gumpalan darah yang berserakan di tanah, Elena merasa sedikit bingung mengapa sayap itu bisa tiba-tiba muncul di hadapannya, namun perhatiannya segera teralihkan oleh makhluk yang sedang menjerit kesakitan itu, Elena pun mencoba untuk menenangkannya namun makhluk itu malah membalas Elena dengan tatapan tajam.
"Agghhhh....."
Saat makhluk itu kembali mencoba menyerang Elena, tiba-tiba dua buah duri yang besar dan runcing muncul dari dalam tanah dan langsung menusuk makhluk itu di lehernya secara menyilang, makhluk itu pun seketika menjerit dengan sangat keras dan meronta-ronta.
"Apa itu?"
Elena pun terkejut menyaksikan hal itu, makhluk itu pun terluka dengan sangat parah, dari bagian leher yang tertusuk itu mengalir darah segar yang sangat banyak, darah itu merambat melalui duri berwarna merah yang menusuknya, namun ada yang aneh dengan kejadian itu, pada masing-masing bagian bawah duri itu terdapat sebuah genangan darah yang sangat besar, genangan itu membuat duri seakan muncul dari dalamnya.
"Ini kan...."
Elena pun segera menoleh ke bawah, terdapat pula genangan darah yang sama di tempat ia berdiri sekarang, ia pun kembali merasa bingung dengan semua ini, namun saat ia menatap ke arah makhluk yang terluka itu Elena menjadi sedih.
"Apa engkau baik-baik saja Elena?"
Tiba-tiba dari balik hutan terdengar suara seseorang, suara yang tidak asing bagi Elena, tidak lama berselang sang dewa naga muncul dengan menyeret seekor rusa dewasa di tangannya, melihat tuannya telah kembali membuat Elena merasa lega.
"Tu-tuan...."
"Tidak perlu khawatir, engkau sudah aman sekarang!"
"Ba-baik....."
Kemudian sang dewa naga menoleh kearah makhluk yang tertusuk itu, ia menghentakkan kakinya ke tanah dengan cukup keras, seketika duri-duri yang menusuk makhluk itu pun hancur menjadi gumpalan-gumpalan darah yang berhamburan ke segala arah, makhluk itu pun akhirnya jatuh ke tanah.
"A-anu...."
"Makhluk apa itu?"
"Ini adalah Erymanthian, predator yang menghuni hutan ini!"
"Be-begitu kah...."
Akhirnya Elena mengetahui nama makhluk tersebut, Erymanthian terbaring tidak berdaya dengan beberapa luka yang sangat parah, namun ia tidaklah mati, Erymanthian masih bernapas walau sangat lemah, darah terus mengalir dari lukanya, sepertinya hidupnya akan berakhir sebentar lagi.
"Eh?"
"A-aanuu....."
"Ada apa Elena?"
Perlahan gumpalan darah berkumpul di telapak tangan sang dewa naga, darah itu kemudian membentuk sebuah pedang, sang dewa naga menggenggam pedang tersebut dan menempelkan bilahnya yang tajam ke leher Erymanthian, saat sang dewa naga ingin menyembelihnya tiba-tiba Elena langsung bereaksi, hal itu membuat sang dewa naga berhenti dan segera menoleh kearahnya.
"Ma-maafkan saya......"
"A-a.... umm...."
Wajah Elena menjadi sangat sedih, kedua matanya berkaca-kaca, air matanya berkumpul sangat banyak dan sebentar lagi menetes, Elena membuka mulutnya seakan mencoba mengatakan sesuatu, namun kata-katanya terlalu sulit untuk didengar.
"Apakah engkau merasa sedih Elena?"
"Melihat seekor makhluk hidup yang akan menemui ajalnya!"
"Ti-tidak bukan......."
"Ma-maafkan saya, saya tidak bermaksud...."
Akhirnya sang dewa naga mengangkat pedang miliknya dari leher makhluk tersebut, beliau pun berbalik menuju Elena yang berdiri gemetaran.
"Di dunia ini ada sebuah aturan mutlak yang disebut hukum rimba!"
"Sebuah aturan dimana engkau diharuskan untuk membunuh atau mati dibunuh!"
"Memang itu terdengar seperti sebuah pilihan yang sangat tidak masuk akal!"
"Tapi seperti itulah cara kerja dunia!"
"Ta-tapi......"
"Saya......"
Elena kembali berbicara dengan terbata-bata, kata-katanya pun terlalu sulit untuk dimengerti, ia seakan mencoba mengutarakan sesuatu yang ada di dalam hatinya, namun lidahnya terlalu kaku untuk mengucapkannya.
"Apakah membunuh itu berdosa?"
"Bagaimana jika hal itu dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri?"
"Ummm......"
Sang dewa naga pun melontarkan petanyaan yang menbuat Elena menjadi bimbang, kesedihan di hatinya bertambah dalam dan semakin melukainya.
"Apakah itu salah?"
"Ataukah itu diperbolehkan?"
"Nah, sekarang pikirkanlah....."
Sang dewa naga memberikan pedang miliknya kepada Elena, dengan tangan yang gemetar Elena pun menerima pedang tersebut, ia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, namun hatinya masih belum siap untuk memutuskan.
Elena menggenggam pedang merah itu dengan lemas, cengramannya tidak terlalu kuat membuat pedang itu hampir terlepas dari tangannya, Elena menatap ke arah Erymanthian sembari memikirkan tindakan yang akan ia ambil, sang dewa naga pun hanya menatap Elena dengan diam, beliau membiarkan Elena membuat keputusanya sendiri.
Perlahan Elena mendekati Erymanthian yang terbaring lemas, kemudian ia mengangkat pedang di tangannya ke atas seakan ingin menusuknya, namun tiba-tiba Elena berhenti bergerak dengan posisi mata pedang yang siap menancap.
"Khhhh....."
Elena menggigit bibirnya dengan kuat, air mata yang berkumpul sudah tidak bisa dibendung lagi sehingga perlahan mulai mengalir ke pipinya, Elena pun segera mencoba menahan kesedihan itu, ia harus siap mengambil tindakan.
"Maafkan saya......"
Akhirnya Elena menusuk Erymanthian dengan sekuat tenaga, pedang itu menancap di leher Erymanthian dengan sangat dalam, namun anehnya Erymanthian tidak mengeluarkan suara jeritan sedikitpun, ia menghembuskan napas terakhirnya dengan sangat halus, wajahnya pun menunjukkan rasa lega, akhirnya seseorang telah mengakhiri penderitaannya itu.
Elena pun mengelus kepala Erymanthian yang sudah mati sebagai bentuk penghormatan terakhir untuknya, air matanya terus mengalir dengan sangat deras tanpa henti, ini adalah pertama kalinya ia membunuh makhluk hidup, dan tentu saja perasaan itu membekas di dalam hatinya.
"Engkau harus menerima kenyataan ini!"
"Fakta bahwa engkau telah membunuhnya memanglah benar!"
"Namun ingatlah, engkau tidak melakukannya karena sengaja melainkan karena sebuah keterpaksaan!"
"Karena itu janganlah menyalahkan dirimu sendiri!"
"Ba-baik....."
Sang dewa naga menepuk bahu kanan Elena sembari menyemangatinya, Elena pun perlahan mulai bisa mengendalikan emosinya, ia pun berbalik m
Hari semakin gelap, mereka pun akhirnya membuat api unggun di sekitar air terjun, mereka memutuskan untuk menghabiskan malam di sana, daging Erymanthian dipanggang di atas api untuk dijadikan sebagai hidangan makan malam mereka, namun sepertinya Elena tidak mau memakannya, ia memilih menyantab buah-buahan yang telah dipetik sebelumnya.
"Elena!"
"A-baik....."
"Kemarilah."
"Saya mengerti..."
Elena berjalan mendekat ke arah sang dewa naga untuk memenuhi panggilannya, tampak wajahnya yang sedikit pucat, sepertinya ia masih merasa sedih atas kejadian tadi, namun ia segera mencoba menyembunyikan itu di hadapan sang dewa naga.
"Duduklah."
"Ba-baik...."
__ADS_1
Elena pun duduk di sebelah sang dewa naga, ia merasa sedikit gugup saat berada di dekatnya, namun sang dewa naga hanya menanggapinya dengan biasa.
"Aku akan memberitahumu sesuatu!"
"Sebuah rahasia yang belum pernah engkau ketahui sebelumnya!"
"Ummm....."
"Rahasia apakah itu?"
Saat mendengar pernyataan sang dewa naga, Elena pun merasa sedikit penasaran, sepertinya beliau ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting kepadanya.
"Elena tahukah engkau apa itu Gadis Suci?"
"Ma-maaf saya tidak tahu...."
"Gadis suci adalah seorang putri kerajaan ditakdirkan untuk menjadi tumbal bagi seorang dewa jahat!"
"Eh?"
Seketika Elena terkejut mendengar pernyataan dari sang dewa naga, itu benar-benar sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya, kebenaran tentang seorang tentang gadis suci.
"Setiap lima puluh tahun sekali, seorang raja yang masih berkuasa di negerinya harus mengorbankan salah satu putrinya sebagai persembahan untuk mencegah kebangkitan dari dewa jahat!"
"Dan engkaulah yang terpilih untuk dikorbankan!"
"Eh?"
"Tidak mungkin...."
Elena membantah kata-kata sang dewa naga, ia pikir itu tidak mungkin terjadi pada dirinya.
"Sesungguhnya engkau adalah seorang putri dari kerajaan Erest!"
"Be-benarkah itu?"
Elena menjadi semakin terkejut saat mengetahui jati dirinya, namun ia tidak benar-benar mempercayai hal itu, karena bahkan Elena sendiri tidak mengingat siapa dirinya.
"Cobalah ingat kembali jati dirimu!"
"Saya....."
Perlahan Elena mulai merenungkan sesuatu, ia mencoba mengingat siapa dirinya yang sebenarnya.
"Saya adalah...."
Elena menatap kearah kedua telapak tangan miliknya sembari terus bertanya-tanya sendiri, wajahnya terlihat sangat kebingungan.
"Eh?"
"Apa ini?"
"Mengapa bayangan-bayangan itu muncul di kepalaku?"
Tiba-tiba Elena bersikap aneh, ia memegangi kepalanya seakan mengingat sesuatu, sepertinya perlahan ingatanya mulai kembali.
"Ini adalah....."
"Khh...."
"Agrrrr....."
"Mengapa kepalaku menjadi pusing?"
Elena mengalami rasa sakit yang besar di kepalanya, ingatan-ingatan yang samar terus bermunculan di dalam otaknya, hal itu menyebabkan terlalu banyak informasi yang masuk, sehingga Elena sulit untuk menerima semuanya.
"Bunda?"
"Apa itu anda?"
"Aaagrrrr......"
"Bunda?"
"Ghhhaaa...."
"Tidak...."
Tiba-tiba Elena berhalusinasi, ia menjerit kesakitan seakan mendapat siksaan dari seseorang, meskipun tidak ada satupun orang yang menyakitinya saat ini, namun tampak dengan jelas dari reaksi Elena yang sangat menderita.
"Kumohon hentikan bunda....."
"Uwaaaa......"
"Mengapa anda melakukan itu?"
Elena mengucapkan kata "bunda" beberapa kali saat menjerit kesakitan, halusinasi itu terus menerus menyerangnya membuat kesadaran Elena perlahan mulai hilang.
"Bunda...."
"Elena sadarlah!"
"Huh?"
"Huueekkkk....."
Sebelum terjadi hal buruk kepada Elena, akhirnya sang dewa naga pun menegurnya, seketika Elena pun tersadar, karena tidak kuat merasakan efek halusinasi itu, Elena mulai merasa mual, ia pun segera berpaling ke belakang dan muntah.
"Elena apa engkau baik-baik saja?"
Sang dewa naga kembali menanyakan keadaan Elena yang sedang meringkuk, wajah Elena tampak pucat dan tubuhnya gemetar.
"Maafkan saya...."
"Saya baik-baik saja...."
Perlahan Elena mulai membaik meskipun napasnya masih terengah-engah, namun ia masih bisa mengendalikan kesadarannya.
"Eh?"
Sang dewa naga mendekati Elena dan langsung memeluknya, Elena sedikit terkejut dengan hal itu namun perlahan ia mulai merasa nyaman dalam pelukan sang dewa naga.
"Cukup, berhentilah memikirkannya lagi!"
"Engkau sudah terlalu lelah saat ini!"
Elena masih berada dalam pelukan sang dewa naga, ia dapat merasakan kehangatan mengalir ke dalam tubuhnya, detak jantung sang dewa naga sangat tenang membuat Elena merasa sedikit rileks, perlahan napas Elena kembali teratur.
"Beristirahatlah."
"Jangan terlalu memaksakan diri!"
"Etoooo....."
"Sa-saya mengerti....."
Akhirnya sang dewa naga melepaskan pelukannya dari Elena, mereka pun kembali duduk berdampingan, Elena pun bersandar di bahu sang dewa naga, wajahnya tampak memerah dan gugup, sebenarnya Elena merasa ragu untuk melakukan hal tersebut, namun karena sang dewa naga yang memintanya maka Elena pun menurutinya.
"Selamat malam Elena...."
"Baik, selamat mala....."
Perlahan kesadaran Elena mulai hilang, kedua matanya sudah tidak lagi sanggup terbuka, dan akhirnya Elena pun tertidur di bahu sang dewa naga.
__ADS_1