God Of Disaster

God Of Disaster
Rubah Ekor Sembilan.


__ADS_3

"Hiiaaa!!!"


Sing~


Sing~


"Agghhh....."


Peperangan antara Pasukan Dragonoid dan Onimusha berlangsung sangat sengit, mereka bertempur dalam jumlah yang sangat besar. Di lembah yang luas itu mereka bertarung satu sama lain untuk mematuhi perintah tuan mereka.


"Grraaa!!!!"


Pasukan Dragonoid berubah menjadi naga dan langsung menyerang pasukan Onimusha dengan sangat agresif, mereka mencabik-cabik lawannya dan membakarnya dengan semburan api.


Namun di sisi lain Pasukan Onimusha juga terlihat sangat kuat, mereka memiliki teknik berpedang yang sangat terampil, setiap gerakan yang mereka lakukan memiliki kesan yang begitu unik dan serangan yang mematikan, mereka dapar membunuh dengan sekali tebasan.


"Teknik Katana, Membelah Gunung!"


Seorang Samurai mengayunkan katana miliknya ke arah seekor naga, seketika hembusan angin yang sangat kuat menerpa searah dengan jalur tebasan, angin itu pun berhasil memotong sayap kiri naga tersebut hingga membuatnya terjatuh.


"Hiiaaa!!!"


"Grraaaa....."


Samurai itu pun langsung menuju ke arah naga yang baru saja jatuh dan menyerangnya, naga itu memberi perlawanan dengan menyemburkan api dari mulutnya, namun samurai tersebut berhasil menghindar dan langsung memenggal kepala naga itu dengan sekali tebasan.


"Hiiaaa!!!!"


"Ghhhaaa...."


"Huuaaaa....."


Banyak sekali korban berjatuhan dari kedua belah pihak, apa yang ada di sana hanyalah mayat-mayat yang berserakan. Medan pertempuran itu menjadi sangat mengerikan.


Sing~


Sing~


Vritra dan pemimpin pasukan Onimusha bertarung satu lawan satu, mereka mengayunkan pedang dengan sangat dahsyat satu sama lain. Namun seluruh serangan yang diberikan dapat ditangkis dengan baik, kekuatan mereka bisa dikatakan seimbang.


"Bukankah masih ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah ini?!"


"Mengapa kita harus bertarung satu sama lain!"


"Aku tidak ingin mendengar kata-kata mu!"


Di saat kedua pedang mereka berhimpitan Vritra mencoba mengajak samurai itu bicara, namun kata-katanya tidak pernah didengar olehnya, samurai itu tetap bersikeras menyerang Vritra.


"Dasar keras kepala!!"


"Kau hanya perlu membiarkan kami bertemu tuan kami, dan kami juga tidak akan menggangumu!"


"Hmmpp.... Jangan bercanda, apa kau pikir kalian bisa berkeliaran dengan bebas di wilayah kami?!"


"Keberadaan kalian di sini adalah ancaman bagi Miko-sama!"


"Hiiaaa...."


Samurai itu menghempaskan pedang milik Vritra dan melancarkan sebuah serangan kepadanya, hasrat membunuh yang kuat dapat dirasakan oleh semua orang, ditambah topeng iblis yang ia kenakan membuat siapapun merinding melihatnya.


"Teknik ilusi, kabut kematian!!"


Tiba-tiba sebuah kabut tebal muncul menyelimuti seluruh daratan, pandangan mereka menjadi sangat terbatas. Apa yang dilihat hanyalah kegelapan yang mengelilingi mereka, bahkan sinar matahari tidak bisa menjangkaunya.


"Huh?"


"Grrrr....."


Seluruh pasukan Dragonoid merasa kebingungan dengan apa yang terjadi, mereka tidak bisa melihat keberadaan pasukan Onimusha dengan jelas.


"Hiiaaa!!!"


"Khhhaaa....."


Tiba-tiba dari belakang mereka muncul samurai yang menyerang, samurai itu menusukkan katana miliknya di dada pasukan Dragonoid hingga menembus jantungnya. Seketika ia pun tewas di tangan samurai tersebut.


"Grrraaa....."


"Khhaaaa....."


"Agghhhh..... "


"Dimana mereka?"


"Grrr...."


Perlahan satu per satu dari pasukan Dragonoid tewas dalam sekejap mata, mereka tidak bisa melihat pergerakan samurai itu dalam tebalnya kabut. Pasukan Dragonoid pun segera membentuk formasi bertahan, mereka harus mengamati keadaan sekitar karena para samurai bisa muncul dari tempat-tempat yang tidak bisa mereka duga.


"Tenangkanlah diri kalian!!"


"Gunakan insting kalian untuk melacak mereka!!!"


Sing~


Vritra pun segera memberi tahu pasukannya untuk tetap tenang dalam kondisi itu, meskipun mereka terjebak dalam kabut mengerikan itu, indera pendengaran mereka masih bisa berfungsi dengan baik.


"Hiiiaaa!!!"


"Khhhaaa..."


Saat seorang samurai akan menyerang Vritra dari belakang, ia pun mendengar sebuah langkah kaki yang mendekat kearahnya sehingga dengan cepat Vritra berbalik dan langsung menebas samurai tersebut.


"Hooo... Sepertinya kau masih bisa bertarung dengan sangat baik di dalam kabut ini!"


"Hmmpp, trik seperti ini tidak akan bisa mengalahkanku!!"


"Hahahaha.... Menarik sekali!!!"


"Jika kau benar-benar ingin bertarung maka keluarlah!!"


Vritra mendengar suara dari pemimpin pasukan Onimusha tersebut, dengan cepat ia pun membalas perkataannya dengan sedikit memprovokasi.


"Sesuai keinginanmu!!"


"Hiiiaaa!!!"


Dari balik kabut muncul seorang samurai yang menyerang Vritra, dengan cepat ia pun menangkis serangan tersebut. Namun tidak berhenti di situ serangan lain pun datang dari segala arah secara bersamaan.


Sing~


Sing~


Vritra menangkis seluruh serangan yang datang dengan baik, namun ia sedikit kesulitan untuk menemukan dimana sosok asli pemimpin pasukan Onimusha tersebut karena bayangan mereka ada di mana-mana.


"Cih merepotkan!!"


"Hei ada apa, apakah kau ingin menyerah?"


"Ayolah, aku ingin melawanmu dengan sekuat tenaga!!"


Setiap kali ia menebas samurai itu, seketika tubuhnya menghilang dalam kabut, di saat yang sama bayangan baru pun muncul dan kembali menyerangnya.


"Tidak ada pilihan lain!!"


"Aku akan meladeni mu!!!"


Vritra pun berubah wujud menjadi seekor naga dan langsung menyemburkan api ke segala arah, perlahan kabut itu pun menguap karena panasnya api dan perlahan mulai menghilang.


Pasukan Dragonoid yang lain juga ikut menyemburkan api membakar kabut tebal itu, cara ini lebih mudah untuk menemukan keberadaan para samurai yang bersembunyi, kerusakan area yang ditimbulkan oleh semburan tersebut sangat luas sehingga mereka tidak bisa melarikan diri.


"Aku menemukanmu!!!"


"Permainan berakhir!!"


"Grrraaaa!!!"


Vritra pun menemukan keberadaan samurai itu, dengan cepat ia menyemburkan api kearahnya dengan sangat besar, suhu api yang sangat panas dapat membakar apapun yang dilaluinya.


"Perisai Sakura!!"


Samurai itu mengulurkan tangannya, tiba-tiba sebuah bayangan bunga sakura muncul di hadapan samurai tersebut sehingga melindunginya dari sengatan api milik Vritra. Samurai itu pun hanya berdiri diam menatap Vritra tanpa terluka sedikitpun.


"Grrraaaa....."


Vritra terus menyemburkan api ke arah samurai tersebut, kini volume apinya bertambah semakin besar menyebabkan daya hancurnya meningkat dengan drastis.


"Hmmn, ini masih belum cukup kah...."


Perlahan samurai itu mulai menyadari bahwa perisai miliknya retak akibat menahan panasnya api milik Vritra, kemudian di saat perisai miliknya hancur seketika ia pun mengayunkan katana miliknya. Hal itu membuat semburan api terbelah dan berbelok arah.

__ADS_1


"Apakah hanya ini kemampuanmu?!"


"Tunjukkan kepadaku seluruh kekuatan mu!!!"


Samurai tersebut berjalan di atas tanah yang terbakar tanpa terluka, ia menatap Vritra dengan sangat tajam, katana miliknya mengeluarkan asap yang menguap dan bilahnya menjadi merah menyala.


"Sebenarnya aku tidak ingin melawan mu dengan serius, aku ingin kita mengakhiri pertempuran konyol ini!!"


"Namun sepertinya tidak ada cara lain!!"


"Datanglah Perisai Naga Lava!!"


Vritra kembali berubah ke wujud manusianya, kemudian ia mengulurkan tangan kananya ke atas dan seketika sebuah cahaya merah memancar dan membentuk sebuah perisai.


Kemudian perisai itu pun jatuh di tangan Vritra, dan seketika ia pun menghentakkan nya ke tanah sehingga membuat daerah di sekitarnya bergetar. Retakan-retakan terus menjalar ke segala arah, dan dari celah itu muncul sebuah semburan lava yang sangat dahsyat.


"Majulah!!!"


"Hiiiaaaa!!!"


Samurai itupun menyerang Vritra dengan sangat cepat, namun ia berhasil menahannya dengan perisai miliknya, seketika percikan api yang sangat besar muncul akibat benturan tersebut.


Di saat yang sama hempasan energi yang diterima Vritra sangat kuat sehingga tanah yang di pijaknya pun hancur, tubuhnya terdorong ke belakang, namun Vritra terus berusaha mempertahankan posisi tersebut.


"Hiiiaaa!!!"


Dengan sekuat tenaga ia mendorong perisai miliknya dan menghempaskan samurai itu, pertarungan yang sengit terus berlangsung, Vritra memiliki pertahanan yang sangat baik sehingga sulit bagi samurai itu untuk menembusnya.


Sing~


Sing~


Setiap kali Vritra menangkis serangan samurai tersebut, ia pun segera melancarkan serangan balasan kepadanya, ia menghantamkan perisai miliknya ke zirah samurai tersebut hingga membuatnya terhempas jauh.


"Khhhh...."


"Rasakan ini!!!"


Boom~


Vritra menghantamkan perisai itu berkali-kali kepada samurai tersebut, kerusakan yang diterima samurai itu sangat dahsyat bahkan dapat menembus zirah miliknya, ia pun terus terpojok dan sulit melindungi diri.


"Aggghhh...."


"Khhhaaa...."


"Hiiiaaa!!!!"


Saat keseimbangan tubuh samurai itu goyah, Vritra segera memutar tubuhnya dan menghantamkan perisai miliknya tepat di wajah samurai tersebut, seketika ia terhempas dengan sangat kuat.


"Rasakan ini!!"


"Khhhaaa.... "


Sebelum tubuh samurai itu menyentuh tanah, tiba-tiba Vritra kembali menghantamkan perisai itu ke bawah sehingga tubuh samurai itupun terhimpit di tanah.


Sebuah kubangan besar tercipta akibat serangan tersebut, perisai yang sangat besar itu menahan tubuh samurai tersebut sehingga membuatnya tidak dapat bergerak.


"Masih belum!!!"


"Jangan berpikir ini sudah berakhir!!"


"Aku tidak akan berhenti sebelum aku bisa membunuhmu!!!"


"Hiiiaaa!!!"


Samurai itu pun mencoba untuk bangkit, ia mengangkat perisai yang sangat berat tersebut dari dadanya dan langsung menghempaskannya.


"Khhh...."


Tubuh Vritra pun ikut terangkat dan ia terdorong sangat jauh, dengan sigap Vritra menghentakkan perisai miliknya ke tanah sembari mempertahankan keseimbangan tubuhnya.


Dari gesekan perisai itu menciptakan semburan lava yang sangat panas ke segala arah, dan semburan itu terus merambat mendekati samurai tersebut.


"Hiiaaa!!!"


"Teknik katana, Sayap Bangau!"


"Huh?"


Namun dengan cepat samurai itu menerjang melewati semburan lava dan menghindarinya dengan baik, ia pun mengayunkan katana miliknya dalam sekejap mata.


Vritra yang melihatnya pun segera mengangkat perisai miliknya untuk menangkis serangan tersebut, namun ia terkejut saat mengetahui bahwa jalur tebasan katana itu seketika berbelok dan menargetkan leher miliknya.


"Khhh...."


Sing~


Sing~


Karena hal itu dirinya pun tidak siap untuk menangkis serangan milik samurai tersebut sehingga keseimbangannya pun goyah, akhirnya Vritra pun terjatuh dan lehernya tersayat cukup dalam.


Tidak lama kemudian serangan berikutnya datang, samurai itu mengayunkan katana miliknya dengan sangat cepat, Vritra memperkirakan arah tebasan itu dan mencoba menangkisnya, namun lagi-lagi sebuah ilusi muncul membuat tebasan itu berbelok secara tiba-tiba.


"Tidak mungkin!"


"Khhh...."


Samurai itu menyerang Vritra dengan sangat agresif, setiap serangan yang ia lancarkan tidak dapat diprediksi oleh Vritra sehingga membuatnya terpojok, ia mencoba untuk terus bertahan sembari mencari kelemahannya.


Sing~


Sing~


"Hiiaaa!!!"


Saat Vritra berhasil menangkis serangan milik samurai tersebut, ia pun segera memutar tubuhnya dan menghantamkan perisai itu ke perut samurai tersebut hingga membuatnya terhempas.


"Khuhukk...."


Samurai itu berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan kembali berdiri, ia memuntahkan darah dari mulutnya akibat serangan dari Vritra. Topeng iblis miliknya pun sedikit retak akibat benturan perisai milik Vritra, darah mengalir di wajahnya.


"Hahahaha....."


"Sepertinya kau tidak punya senjata andalan lagi!!"


Crack~


"Cih!!"


Seketika samurai itupun tertawa kepada Vritra, tiba-tiba perisai miliknya pun menjadi retak dan hancur berkeping-keping, hal itu membuat kekuatan miliknya menurun drastis.


"Tidak, aku masih punya banyak energi untuk menghiburmu!!"


"Ah, aku senang mendengarnya!!!"


"Nah, mari kita lanjutkan permainan ini!!"


Namun Vritra tetap berjuang melawan samurai itu dengan sekuat tenaga, mereka berdua sama-sama mendapatkan luka yang sangat parah, namun tidak ada yang berhenti bertarung.


Mereka berdua mengeluarkan aura yang sangat kuat, seluruh medan perang diselimuti kegelapan yang mencekam, tidak ada yang mampu bertahan di medan perang yang sangat mengerikan itu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Elena berlari menyelamatkan diri dari tempat itu, ia berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarahkannya ke sebuah taman, tidak lama kemudian ia menemukan sebuah bangunan kuil yang hancur parah. Kemudian Elena menoleh kearah suatu tempat, ia melihat seorang wanita sedang duduk dengan seorang laki-laki berbaring di pangkuannya, ternyata beliau adalah Sang Dewa Naga.


"Tuan?!"


"Hmm...."


Saat Elena memanggilnya seketika wanita itu pun segera menoleh, tatapan matanya sangat tajam, wanita itu sedang membelai dan mencium Sang Dewa Naga dengan bergairah.


"Cih, dasar pengganggu!!"


"Grraaaa....."


"Huh?!"


Wanita itu merasa terganggu akan kedatangan Elena, kemudian ia pun mengarahkan telapak tangannya ke arah Elena. Tiba-tiba seekor rubah raksasa muncul di hadapan Elena, hempasan angin yang sangat kuat menyebabkan bunga-bunga di taman itu berhamburan.


"Bereskan pengganggu itu!!"


"Ggrraaa...."


Wanita itu menyuruh rubah raksasa tersebut untuk menyerang Elena, dan ia pun kembali melanjutkan waktu romantisnya bersama Sang Dewa Naga.


"Grrraaaa...."


"Khhh...."

__ADS_1


Rubah itu mencoba menerkam Elena dengan sangat agresif, Elena berhasil menghindarinya, ia pun segera mencari cara untuk menyelamatkan Sang Dewa Naga dari wanita itu.


"Root of Life!!"


Elena mengulurkan tangannya ke depan, seketika akar-akar besar menjalar dari dalam tanah menuju rubah itu, akar itu mencoba melilit tubuh rubah dengan sangat cepat.


"Grrraaa...."


Namun cakar dan gigi rubah itu sangat tajam dan berhasil mencabik-cabik akar yang mencoba melilitnya, rubah itu pun berlari menuju Elena dan berusaha menerkamnya.


"Tidak akan kubiarkan! "


"Grrrr...."


Dengan cepat Elena mengerahkan akar miliknya untuk menghentikan rubah itu, ia berhasil melilit tubuh rubah tersebut hingga membuatnya tidak bisa bergerak.


"Ggrraaa......"


"Khhh...."


"Hiiaaaa!!!"


Rubah itu meronta-ronta mencoba melepaskan diri jeratan akar tersebut, kesembilan ekornya berayun ke segala arah mencoba menghempaskan akar tersebut. Elena kesulitan mengendalikannya karena kekuatan milik rubah itu sangat dahsyat.


"Agghhh...."


"Grrraaa...."


Akar-akar yang melilit tubuh rubah itu perlahan mulai menyerap energi kehidupannya, hal itu membuat rubah tersebut semakin meronta-ronta, ia mengibaskan kesembilan ekornya ke arah Elena dan menyebabkan hembusan angin yang sangat kuat.


Elena mencoba melindungi diri dengan akar yang menyelimutinya, namun seketika akar tersebut terkoyak dan hancur.


"Grraaa..."


"Tidak! "


"Khhh...."


Rubah itu telah terbebas dari jeratan akar milik Elena, dan dengan cepat ia menghentakkan kakinya ingin menginjak-injak Elena. Elena pun mencoba menghindari serangan tersebut, namun kerusakan yang ditimbulkan sangat dahsyat hingga membuat tanah di sekitarnya retak.


"Hiiiaaa!!"


Saat kuku rubah itu hampir mencabik tubuhnya, Elena segera menahannya menggunakan kedua pedang miliknya, besar kuku itu bahkan dua kali lipat dari pedangnya sehingga membuat Elena merasa kesulitan.


"Uuaaaa....."


Akhirnya Elena pun terhempas karena tidak kuat menahan serangan rubah itu, namun dirinya berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan kembali berdiri.


"Grrraaa....."


Whuss~


"Huh?"


Rubah itu menghisap udara ke dalam tubuhnya dengan jumlah sangat besar, kemudian ia menghempaskannya menuju Elena, seketika hembusan angin yang sangat dahsyat menerpa Elena, hembusan itu bagaikan sebuah tebasan pedang yang membuat bunga-bunga yang dilaluinya seketika terpotong dan hancur.


"Khhaaa......"


Elena mecoba melindungi diri dengan akar miliknya, namun itu tidak cukup untuk menahan serangan rubah tersebut. Seketika seluruh tubuhnya pun tersayat dengan sangat dalam.


"Khuhukkk....."


Rubah itu segera mencakar tubuh Elena dan berhasil menembus perutnya, kemudian rubah itu menghempaskan tubuh Elena ke tanah. Sebagian organ isi perutnya terkoyak dan berhamburan keluar, darah mengalir sangat deras.


"Agghhh....."


Elena terbaring lemah, ia telah kehilangan banyak darah, namun rubah itu tidak berhenti menyerangnya. Ia terus mencabik-cabik tubuh Elena dengan sangat buas.


Di saat-saat terakhirnya, Elena mencoba mengangkat pedang miliknya, tiba-tiba sebuah cahaya memancar dari bilah pedang miliknya. Partikel-partikel cahaya mulai berkumpul mengelilingi dirinya, dan seketika sebuah benang sutera mulai muncul membungkus tubuhnya seperti kepompong.


"Grrraaa....."


Rubah itu pun kembali menyerang Elena, namun tiba-tiba akar raksasa muncul dan melilit tubuh rubah itu, setiap kali ia menghancurkan akar itu, akar baru terus muncul dan melindungi Elena.


Crack~


Perlahan kepompong miliknya retak dan hancur, seketika tampak sosok Elena yang terbangun dari tidurnya. Seluruh luka yang ia terima telah teregenerasi sepenuhnya, bahkan bagian tubuh yang terkoyak telah utuh seperti sedia kala.


"Butterfly Dance!!"


Elena segera bangkit dan mengangkat kedua pedangnya kemudian ia mengambil posisi kuda-kuda, seketika keenam sayap kupu-kupu membentang di punggungnya. Partikel cahaya biru cerah berkumpul di sekelilingnya, dengan cepat ia pun menerjang ke arah rubah tersebut.


"Hiiiaaa!!"


"Grrraa...."


Rubah tersebut kembali menyerang dengan sangat agresif, namun Elena berhasil menghindarinya, ia pun mengayunkan pedangnya secara bertubi-tubi kepada rubah tersebut, cahaya biru memancar di setiap tebasan yang ia berikan.


"Hiiaaa!!!"


"Grrraaa....."


"Agghhh.... "


Elena terus menari dengan sangat indah, keselarasan ayunan pedangnya menciptakan sebuah ilusi kupu-kupu yang beterbangan, partikel cahaya yang berkumpul bagaikan tetesan air hujan yang Indah.


Rubah itu mencoba melancarkan serangan balasan kepadanya, namun serangan Elena tidak bisa dihentikan, ia terus menerima tebasan pedang tanpa henti.


"Khhhh....."


"Grrraaaa...."


Dia saat Elena mengayunkan pedangnya secara bersamaan tiba-tiba salah satu kakinya tergelincir dan hampir membuatnya terjatuh, keseimbangan tubuhnya pun goyah. Seketika rubah itu pun mengambil kesempatan untuk melancarkan serangan kepada Elena, ia mencakar Elena dengan kukunya yang sangat tajam.


"Masih belum!!!"


Namun sebelum serangan itu mengenai Elena tiba-tiba muncul akar yang melilit kaki rubah tersebut dan membuatnya berhenti bergerak.


"Grrraaaa...."


"Khhhh...."


Tidak berhenti di situ, rubah tersebut pun mencoba menerkam Elena sebagai bentuk perlawanan terakhirnya, namun Elena berhasil menahannya dengan kedua pedangnya. Gigi rubah itu hampir mencabik kepala Elena, beruntungnya ia masih sempat menahan serangan itu.


"Hiiiaaaa!!!"


Elena pun mendorong pedangnya dengan sekuat tenaga dan menghempaskan rubah itu, di saat rubah tersebut tidak berdaya ia pun segera melompat dan menusukkan pedangnya tepat di kepala rubah tersebut.


"Tenanglah!!!"


"Tidurlah!!!"


"Grraaaa...."


Rubah itu meronta-ronta menerima serangan dari Elena, hal itu membuat akar yang menjeratnya pun putus, namun ia terus menusukkan pedangnya lebih dalam hingga menembus tengkorak rubah itu. Dan akhirnya rubah itu perlahan kehilangan kesadarannya dan jatuh.


"Uuuhhhaaa.... Uuuhhaaa..."


"Khuhuk...."


Elena berlutut kelelahan karena sebagian besar kekuatannya telah terkuras, ia mencoba bangkit dengan bantuan pedangnya, ia tidak boleh tumbang di sini, Elena harus menyelamatkan Sang Dewa Naga dari wanita itu.


"Tuan!!!"


Sing~


"Huh? "


Elena berlari menuju wanita itu dan langsung menebas lehernya, namun seketika serangannya tertahan oleh sebuah katana milik wanita tersebut. Hal itu membuat Elena terkejut, bahkan wanita itu tidak menoleh ke arahnya sedikitpun.


"Kau benar-benar menganggu!!"


"Huuaaa...."


Seketika Elena terhempas dengan sangat kuat, wanita itu menoleh dengan tajam kearahnya, perlahan ia menyandarkan kepala Sang Dewa Naga dan mulai berdiri.


"Menjauh lah dari tuan!!"


"Khihihi...."


"Beraninya kau berkata seperti itu!!"


Saat wanita itu membalikkan badannya seketika ia sudah berada di hadapan Elena, katana miliknya hampir menebas lehernya dalam sekejap. Elena pun terkejut dan mencoba menghindar, namun terlambat.


"Khhaaa...."


Elena tersayat cukup dalam dan terjatuh, namun ia berhasil mempertahankan kesadarannya. Elena segera bangkit dan mengambil posisi siaga, luka yang diterima pun mulai teregerenasi secara perlahan.


"Khihihihi...."

__ADS_1


"Mari kita bermain sebentar!"


Wanita itu menatap dengan tajam, suara tawa miliknya terdengar sangat mengerikan, senyuman di wajahnya seperti malaikat kematian.


__ADS_2