God Of Disaster

God Of Disaster
Kesombongan.


__ADS_3

Seekor burung elang terbang dengan sangat cepat membawa seorang pria di cengkramannya, elang itu terus terbang menuju portal keluar dari Alfheim.


"Pyaaaakkkk..."


Setelah beberapa saat elang tersebut akhirnya berhenti di depan seorang kesatria yang sedang duduk di sebuah batang pohon yang telah tumbang.


"Jatuhkan!!"


"Agghhh...."


Kemudian elang itu melepaskan cengkramannya dari si pemimpin kesatria dan menjatuhkannya sehingga si pemimpin kesatria tersebut membentur tanah dengan kuat.


"Hey ternyata kau masih hidup!!"


"Kupikir kau sudah mati dimangsa naga itu!!"


Kemudian kesatria yang sedang duduk itu berbicara dengan pria tersebut, namun dari nada bicaranya ia seakan tidak peduli dengannya.


"Lucan?"


"Mengapa kau di sini?!!"


Si pemimpin kesatria itu terkejut saat mengetahui bahwa kesatria itu adalah kenalannya, dengan suara yang lemah ia mencoba berbicara dengannya.


"Yah... aku kemari hanya untuk menonton pertunjukan yang membosankan!!"


"Apa maksudmu?!"


Kesatria itu kembali mengeluarkan kata-kata acuh padanya, namun Bedivere sepertinya tidak mengerti maksud dari kata-kata tersebut.


"Mengapa kau tidak membantuku?!!"


"Aku tidak tertarik melakukannya!!"


"Apa katamu?!!"


Bedivere meminta bantuan kepada kesatria itu namun sayang, dengan acuh kesatria tersebut menolaknya mentah-mentah dan hal itu membuat Bedivere marah.


"Keparat kau!!"


"Hey, kau seharusnya bersyukur karena aku telah menyelamatkanmu!!"


"Berterima kasihlah padaku!!"


Kesatria itu pun menyombongkan dirinya dihadapan Bedivere, hal itu membuatnya menjadi semakin marah.


"Jangan sombong kau!!"


"Aku tidak butuh bantuanmu!!"


Bedivere pun memaki-maki kesatria itu dengan kasar, ia merasa kehormatannya sebagai seorang kesatria direndahkan olehnya.


"Diamlah pecundang!!!"


"Kau telah gagal sebagai seorang kesatria!!"


"Seharusnya kau malu!!"


Kesatria itu bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia menarik pedang dari sarungnya dan menodongkanya kepada Bedivere.


"Apa kau pikir aku menolongmu dengan senang hati hah?!!"


"Jangan berharap terlalu tinggi!!"


"Jika bukan karena perintah Yang Mulia maka aku akan membiarkanmu mati begitu saja!!"


Seketika Bedivere terdiam, ia sama sekali tidak membalas pernyataan kesatria itu.


"Aku bisa saja mengeksekusimu saat ini juga!!"


"Namun Yang Mulia menginginkan kau kembali!!"


Kesatria itu meletakkan ujung mata pedang miliknya tepat di leher Bedivere, kemudian ia menggerakkan pedang tersebut secara perlahan sehingga kulit Bedivere tergores sedikit.


"Beruntunglah karena Yang Mulia masih mengampuni nyawamu!!"


Kemudian kesatria itu menarik pedang miliknya dan memasukkannya kembali ke dalam sarungnya, setelah itu ia berpaling dari Bedivere dengan ekspresi acuh.


"Bawa dia!!"


"Pyaaaakkk...."


Kesatria itu memerintahkan elang miliknya untuk membawa Bedivere pergi, dengan cepat elang tersebut mencengkram bahu Bedivere dan mengangkatnya.


Bedivere hanya bisa terdiam dengan ekspresi bersalah, ia tahu apa yang akan menantinya setelah ini, mereka pun akhirnya pergi meninggalkan Alfheim dengan kekalahan telak.


Pertempuran yang sengit mulai mereda, sebagian besar dari pasukan manusia telah dikalahkan, lebih dari 15 ribu prajurit telah gugur dalam pertempuran tersebut.


Begitu pula di pihak peri, mereka telah kehilangan banyak sekali pasukan binatang buas beserta Beast Tamer mereka.


Elena berdiri terdiam menunggu sang dewa naga di depan istana, tampak dengan jelas kekhawatirannya, namun ia percaya bahwa sang dewa naga pasti kembali dan tetap menunggu sesuai perintah beliau.


"Huh?"


"Yang Mulia!!"


Namun keheningan itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba suara langkah kaki yang keras mulai terdengar, hal itu pun membuat Elena dan salah seorang peri di sampingnya merasa waspada.


"Hoo, ternyata masih ada orang di sini?!!"


Tidak lama kemudian muncul sekelompok kesatria yang mencoba menerobos masuk, salah satu kesatria di antara mereka membawa sebuah tombak yang di pikul menggunakan kedua bahu miliknya, kesatria itu pun menunjukkan sedikit ekspresi terkejut saat melihat Elena yang ada di sana.


Seketika Elena segera mengangkat pedang di tangannya, begitu pula peri yang ada di sampingnya, ia mengambil sebuah busur panah dari akar yang menjalar di lengannya.


"Yang Mulia mundurlah!"


Peri tersebut segera menutupi tubuh Elena menyuruhnya untuk mundur, ia tidak ingin Elena berada dalam bahaya.


"Siapa kalian!!"


"Apa tujuan kalian kemari!!"


Jika mereka berada di sini maka barisan belakang telah dikalahkan, namun seharusnya tidak semudah itu.


"Hey-hey, jangan pasang wajah seperti itu!!"


"Kami kemari hanya untuk bertamu!!"


Kesatria tombak itu pun membalas perkataan peri tersebut dengan nada bercanda, ia seakan tidak menanggapinya dengan serius.


"Maaf, tapi kami tidak mengizinkan kalian masuk seenaknya!!"


"Hoo?"


"Kalau begitu perlakukanlah kami dengan baik!!"


Tiba-tiba kesatria itu melompat ke atas sembari mengayunkan tombak miliknya ke arah Elena dan peri tersebut.


"Awas!!"


Boom~


Sebelum tombak itu mengenai mereka, dengan cepat Elena dan peri tersebut menghindari serangan dari kesatria itu sehingga serangannya meleset.


"Hiaa!!"


"Hmmppp, serangan itu tidak mempan padaku!!"


Saat dalam posisi melayang di udara setelah menghindari serangan, peri tersebut segera membidik kesatria itu dan menembakkan beberapa anak panah padanya.


"Hiaaa!!!"


Namun kesatria itu dengan tenang mengatakan kepada peri tersebut bahwa serangan miliknya sangat lemah, ia pun memutar-mutar tombak miliknya dan menangkis seluruh anak panah yang melesat padanya.


"Hey kalian, serang mereka!!"

__ADS_1


"Baik!!!"


Setelah anak panah itu berhasil di tangkis, kesatria tersebut menyuruh prajurit yang ada di belakangnya untuk maju.


"Serang!!!"


"Hiaaa!!"


Para prajurit itu pun segera berlari menuju Elena dan peri tersebut, mereka akan menyerang secara bersamaan.


Sing~


Sing~


Elena dan peri tersebut mencoba melawan mereka semua, jumlah mereka ysng cukup banyak menyulitkan Elena untuk melawannya.


"Rasakan ini!!!"


"Huh?"


Saat Elena sedang menahan serangan dari salah satu prajurit, tiba-tiba kesatria tombak itu datang dengan sangan cepat dan menghunuskan tombak miliknya ke arah Elena.


"Khhh..."


Dengan cepat Elena menangkis serangan itu dengsn pedang miliknya, namun dirinya terhempas ke belakang karena tidak kuat menahan hembusan angin yang menerpa dirinya.


"Heeeh, lumayan juga kau!!"


Beruntungnya Elena masih bisa membertahankan keseimbangan tubuhnya, ia pun segera membenarkan posisinya seperti semula.


"Bagaimana kalau yang ini!!"


"Flapping Wings!!"


Namun kesatria itu tidak memberikan waktu istirahat kepada Elena, ia pun kembali melancarkan serangannya kepada Elena.


"Hiaaa!!"


Kesatria itu memutar tubuhnya sembari mengayunkan tombak miliknya, seketika tercipta hembusan angin yang sangat kuat menerpa Elena.


"Khhh...."


"Kyaaa...."


Elena mencoba menahan serangan beruntun itu, namun hanya berhasil beberapa saat saja, Elena pun kembali terhempas ke belakang dan jatuh.


"Yang Mulia!!"


Melihat kejadian itu peri tersebut segera menuju ke arah Elena, namun ada beberapa prajurit yang datang menyerangnya, mereka menghalangi peri tersebut untuk mendekati Elena.


"Saya baik-baik saja!"


Elena segera bangkit dengan bantuan pedangnya, ia pun langsung menempatkan pedang miliknya tepat di depan wajahnya.


"Hiaaaa!!!"


"Khhhh...."


Dengan lincah peri itu menghindari serangan yang datang, di saat yang sama ia melepaskan beberapa anak panah yang melesat ke arah prajurit tersebut.


"Aagghh..."


Satu per satu anak panah itu mengenai para prajurit yang ada di hadapannya, namun ada beberapa orang yang berhasil menghindar dan menangkisnya.


"Hiaaa!!"


"Khhaaa..."


Kesatria itu terus menyerang Elena secara bertubi-tubi, ia pun hanya bisa menahannya tanpa melancarkan serangan balik.


Namun Elena tidak menyerah begitu saja, ia terus bangkit kembali dan melawan kesatria itu meskipun dirinya menerima luka sayatan yang cukup dalam.


"Beraninya kau menyentuh Yang Mulia!!"


"Hiaaa!!!"


Anak panah tersebut memiliki mata yang berbentuk seperti bunga yang masih menguncup berwarna merah, anak panah itu melesat dengan sangat cepat menuju kesatria tombak tersebut.


"Sudah kubilang percuma saja!!"


Boom~


"Eh?"


Kesatria itu pun memukul anak panah tersebut menggunakan tombak miliknya, namun tidak di sangka kuncup bunga tersebut mekar dan meledak.


"Cih!!"


Anak panah itu berubah menjadi duri-duri kecil yang berhamburan ke segala arah, kesatria itu pun segera mengindar dari duri-duri yang melesat ke arahnya, namun sebagian duri tersebut berhasil melukainya.


"Hiaaa!!"


"Khhhh....."


Saat kesatria itu lengah, Elena dengan cepat menyerangnya dari arah belakang, ia mengayunkan pedang miliknya menuju leher kesatria itu.


"Apa kalian pikir trik murahan ini akan bekerja padaku hah?"


"Tidak semudah itu!"


Namun dengan cepat kesatria tersebut memutar tubuhnya sebelum Elena berhasil menebasnya dan langsung menangkis serangan tersebut.


"Hiaaa!!!"


"Terima ini...."


Pedang Elena tertahan oleh tombak milik kesatria tersebut, Elena berusahan untuk mendorongnya dengan sekuat tenaga untuk menembus pertahanannya, namum itu tidak berhasil.


Kesatria itu mendorong pedang milik Elena ke atas hingga membuatnya lepas dari genggaman Elena dan dengan cepat menghunuskan tombaknya ke wajah Elena.


"Khhaaa...."


Beruntungnya Elena segera menghindar sehingga serangan itu meleset, namun pipi kanannya tersayat oleh bilah tombak milik kesatria itu.


"Hiaaa!!!"


Pedang milik Elena masih melayang di udara, ia pun segera mengambilnya dan mengayunkannya menuju kesatria tersebut.


"Tornado!!"


"Aagghhhh...."


Sebelum Elena berhasil menebas kesatria itu, tiba-tiba muncul pusaran angin yang sangat besar di sekeliling kesatria tersebut, pusaran angin tersebut menghempaskan Elena dengan sangat kuat sehingga ia terjatuh.


"Terima ini!!"


"Hmm?"


Peri itu kembali menembakkan anak panah menuju kesatria tersebut, namun anak panahnya  dengan mudah dihempaskan oleh pusaran angin yang mengelilingi tubuh kesatria itu.


"Hiaaa!!"


"Menyebalkan!!"


"Bisakah kau berhenti berteriak dasar serangga pengganggu!!"


Peri tersebut dengan berani menerjang menuju kesatria itu, meskipun ia menggunakan senjata busur panah yang bertipe jarak jauh, namun dengan lincah ia sanggup menghindari tombak milik kesatria tersebut dan melancarkan serangan balik.


"Matilah kau!!!"


"Huh?"


Kesatria itu mengayunkan tombaknya ke samping secara horizontal yang bertujuan untuk menebas kaki peri tersebut.


Namun dengan cepat peri itu membalik posisi tubuhnya sehingga kakinya melayang di udara, hal itu membuat tombak milik kesatria itu melintas tepat di bawah kepalanya, di saat yang sama ia menarik busur miliknya dan membidik kesatria tersebut.

__ADS_1


"Hmmmppp, gerakan yang sia-sia!!"


"Agghhhh...."


"Kyaaa..."


Sebelum peri itu sempat melepaskan anak panah miliknya, tiba-tiba kesatria itu berbalik dan menendang peri tersebut dengan sangat kuat, is pun terhempas dan menghantam Elena yang sedang mencoba berdiri.


"Aaah...membosankan!!"


"Ayo lawan aku dengan serius!!"


Dengan sombongnya kesatria itu menertawakan mereka berdua, ia bersandar di tombak miliknya seakan telah memenangkan pertarungan.


"Apa anda baik-baik saja!!"


"Kuhuk...."


Elena mencoba mengangkat peri itu dari tubuhnya, keduanya tampak merasa kesakitan akibat serangan dari kesatria itu.


"Ya, saya baik-baik saja!"


"Terima kasih Yang Mulia...."


Mereka pun akhirnya kembali berdiri, meskipun mereka masih merasakan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.


"Uuuhhhhaaaa..."


Elena menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan emosinya, hingga saat ini dirinya masih ragu untuk melawan kesatria tersebut, ia takut jika harus mengambil nyawa seseorang lagi.


Namun di saat yang sama nayawa juga dipertaruhkan, ia tidak memiliki kepercayaan diri untuk menang, tapi mau tidak mau ia harus tetap melawannya sekuat tenaga.


"Hahahaa.... seperti itulah seharusnya!!"


"Ayo kerahkan seluruh kekuatanmu!!"


Kesatria itu pun menjadi sangat senang, ia pun segera mengambil posisi menyerang.


"Sword Dance: Water Flow!!"


Elena melepaskan inkarnasi yang besar dari dalam dirinya, partikel cahaya biru mulai berkumpul di bilah pedang miliknya sehingga membuatnya bersinar terang, kemudian Elena pun menyerang kesatria itu dengan tarian pedang miliknya.


"Hiaaa!!!"


Sing~


Sing~


Pertarungan mereka pun menjadi sangat sengit, kesatria itu dapat menahan serangan dari Elena dengan cukup mudah dan melancarkan serangan balik kepadanya.


"Hehehe, tidak buruk!!"


"Bagaimana dengan yang ini!!"


"Falcon Strike!!"


Kesatria itu menghunuskan tombsknys bertubi-tubi kepada Elena, hembusan angin yang sangat kuat dapat menyayat kulit Elena dengan mudah.


"Khhh...."


"Hiaaa!!!"


Elena mencoba menangkis seluruh serangan tersebut, namun dirinya hampir terhempas oleh hembusan angin yang menerpa dirinya, beruntungnya ia dapat mempertahankan posisi tubuhnya dengan baik.


"Sword Dance: Water Flow!!"


"Wind Of Nature!!"


"Kyaaa...."


Saat Elena mencoba menebas kesatria itu dengan teknik air, angin yang kuat menghempaskan air tersebut menjadi titik-titik kecil yang melayang di udara, dengan dengan begitu serangannya dapat dihentikan.


"Huh?"


"Hahaha..... air milikmu tidak akan bisa melawan anginku!!"


Kesatria itu mencoba memprovokasi Elena, dengan ekspresi menjijikkan ia terus bergurau.


"Kalau begitu bagaimana dengan ini!!"


"Huh?"


Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah belakang, peri itu mengepalkan tangannya dengan kuat, seketika muncul akar-akar yang menjalar dari dalam tanah dang langsung melilit tubuh kesatria tersebut.


"Cih, kau benar-benar pengganggu!!"


Saat kesatria itu masih terikat oleh akar miliknya, peri tersebut pun segera berlari menuju ke arahnya, dari telapak tangannya menjalar akar kecil yang membentuk sebuah anak panah.


"Hiiaaa!!!"


"Khhaaaa....."


Peri tersebut mengambil anak panah itu dan langsung menusukkannya ke tubuh kesatria itu dsn berhasil menembus zirah miliknya, seketika kesatria itu menjerit kesakitan.


"Masih belum!!"


"Khhhaaaaa....."


"Sialan, apa yang kau lakukan!!"


Tiba-tiba anak panah itu tumbuh menjadi akar bercabang yang menusuk tubuh kesatria itu semakin dalam, kesatria itu pun kembali menjerit kesakitan akibat akar yang mencabik-cabik dagingnya.


"Huuaaaaa......"


"Keparat kau!!"


Kesatria itu terus meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari akar yang mengikatnya, rasa sakit yang amat dahsyat terus menyerangnya disebabkan akar yang terus tumbuh di dalam tubuhnya.


"Ultimate Skill: Storm Of Destruction!!"


"Huh?"


"Kyyaaa...."


Tiba-tiba angin yang sangat kuat  berhembus ke arah mereka, angin itu menghempaskan peri tersebut bersama Elena dengan sangat kuat.


Angin itu berputar dengan kencang dan mencabik-cabik apapun yang berada di sekitarnya.


"Hhhhhh....."


"Keparat!!!"


Akar yang mengikat kesatria itu tercabik-cabik oleh angin tersebut hingga hancur, perlahan kesatria itu pun terbebas.


Ia menatap ke arah Elena dan peri itu dengan nafsu membunuh yang kuat, tubuh kesatria itu diselimuti oleh pusaran angin yang membuatnya tampak begitu mengerikan.


"Kuuhuhkkk..."


Tiba-tiba kesatria itu memuntahkan darah dari mulutnya, ternyata akar yang menancap di tubuhnya tidak hancur oleh angin tersebut dan masih terus tumbuh di dalam tubuhnya.


"Akar itu akan terus menyerap daya hidupmu hingga habis!!"


"Sebelum itu terjadi aku akan membunuhmu lebih dulu!!"


Peri itu memberi tahunya tentang akar yang menancap di tubuhnya, namun kesatria itu menjawabnya dengan nada penuh amarah.


Ia merasa sangat kesal kepada peri itu karena telah melakukan semua ini padanya.


"Bersiaplah untuk mati!!"


Kesatria itu langsung mengambil posisi siap, nafsu membunuh yang kuat membuat merinding siapapun yang merasakannya.


Elena pun segera bersiap, meskipun tubuhnya sedikit gemetar, namun ia masih sanggup mengangkat pedangnya.


Aura yang dipancarkan oleh kesatria itu memang mengetikan, namun itu belum seberapa dengan aura kematian milik sang dewa naga, ia pun dapat mengendalikan rasa takutnya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2