
Elena keluar dari pemandian, ia melihat Sang Dewa Naga sedang duduk menatap ke arah matahari terbenam, cahaya kuning memancar sangat terang menerangi dunia yang akan jatuh ke dalam kegelapan.
Elena selalu terpesona setiap kali melihat beliau sedang merenung di suatu tempat, di sisi lain ia merasa gelisah dengan perasaannya sendiri, ia tidak pernah mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Sang Dewa Naga, tatapan matanya selalu mengarah ke suatu tempat yang jauh, seperti sedang menyembunyikan kesedihan yang amat dalam.
"Elena apa engkau telah selesai?"
"Eh, ummm.... Iya...."
Elena terkejut saat beliau menyadari keberadaannya, meskipun tatapannya tidak berpaling sedikitpun Sang Dewa Naga dapat mengetahui keberadaan orang lain di sekitarnya.
"Beristirahatlah...."
Elena kembali merasa gelisah saat mendengar suara beliau yang berat, perlahan Elena pun berjalan menghampiri Sang Dewa Naga.
"Apa yang sedang anda lakukan?"
"Tidak ada."
"Aku hanya ingin menikmati pemandangan di sini..."
Elena duduk di samping Sang Dewa Naga dan menemani beliau, sekilas tidak ada yang aneh dengan ekspresi beliau, tampak dingin seperti biasanya, namun kepekaan Elena akan perasaan seseorang membuatnya yakin bahwa beliau sedang marah.
"Apa anda baik-baik saja?"
"Apakah ada sesuatu yang mengganggu anda?"
Elena mencoba menanyakan sesuatu kepada Sang Dewa Naga, namun beliau tidak menjawabnya.
"Elena!"
"Eh?"
Tiba-tiba Sang Dewa Naga menggenggam tangan Elena dan menatapnya dengan serius, Elena pun seketika tersipu, jantungnya berdebar-debar.
"Aku ingin bertanya kepadamu!"
"Apa itu?"
"Mulai sekarang kita akan menghadapi ancaman yang sangat besar, mungkin peperangan tidak akan terelakkan lagi!"
"Tidak ada lagi pihak yang benar dan salah, seluruh makhluk yang ada di dunia ini akan bertarung satu sama lain untuk bertahan dari pemusnahan masal!!"
Sang Dewa Naga mengatakan apa yang akan terjadi di masa depan, beliau telah memperkirakan kehancuran dunia dalam waktu dekat, mendengar hal itu sekarang Elena mengerti alasan mengapa beliau sering menyendiri dan merenung.
"Elena!!"
"Apakah engkau akan terus berada di pihakku untuk selamanya?"
Seketika Elena terdiam, ia harus membuat keputusannya sekarang, namun hatinya belum siap menyaksikan kehancuran dunia yang sudah di depan mata.
"Iya, saya bersedia!!"
"Akan kukatakan sekali lagi!!"
"Apa yang akan engkau lihat di depan sana hanyalah neraka, tidak ada lagi belas kasihan untuk bertahan hidup, perdamaian untuk semua makhluk hidup tidak akan pernah tercipta!!"
"Itu semua hanyalah omong kosong!!"
"Jika engkau memilih untuk berpaling maka aku hargai keputusanmu!"
"Tidak!! Saya sudah membulatkan tekad!!"
"Sakan bertarung di sisi anda untuk selamanya!!"
Dengan tegas Elena menjawab pertanyaan Sang Dewa Naga, ia telah membulatkan tekadnya, apapun yang akan terjadi kedepannya ia telah siap menanggung itu semua.
"Anda telah memberi ku kehidupan, nyawa ini saya persembahan hanya untuk anda seorang!"
"Bahkan jika aku berada di jalan yang salah?"
"Benar, saya akan selalu mengikuti anda kemanapun anda pergi!"
"Saya sudah siap untuk membunuh rasa kemanusiaan ini!!"
Seketika Elena berlengan air mata, di dalam hati kecilnya ia ingin melihat dunia dimana semua orang bisa hidup damai, dunia yang Indah tanpa adanya perselisihan.
Namun ia sadar bahwa itu hanyalah pemikiran naif belaka, cepat atau lambat kehancuran pasti akan terjadi, jika ia masih berpegang Teguh dengan pemikirannya itu maka ia dan rasnya akan musnah.
"Terima kasih Elena."
"Aku berjanji akan selalu melindungi mu!"
"Baik....."
Perlahan Sang Dewa Naga mengusap air mata Elena, dengan lembut beliau membelai pipinya, kemudian beliau mendekatkan wajahnya kepada Elena dan menciumnya. Elena merasakan kehangatan yang membuatnya merasa lebih baik, tidak lama kemudian matahari pun terbenam dan dunia telah berubah menjadi gelap.
Hari yang ditunggu telah tiba, para penduduk di kota Lyonesse berkumpul di Kuil Dewa Kebijaksanaan untuk menyaksikan upacara penobatan pendeta kuil yang baru. Orang-orang menyambut hari itu dengan sangat meriah, senyum kebahagiaan terpancar di wajah mereka, momen langka dimana upacara ini hanya dilakukan dalam dua puluh tahun sekali.
"Putri Katarina!!"
"Selamat siang!!"
"Haiii...."
"Selamat siang...."
Para penduduk bersorak sorai menyambut kedatangan Katarina yang sedang diarak menggunakan kereta kuda, Katarina duduk bersama adiknya memandang barisan warga yang membentang di sepanjang jalan, ia melambaikan tangan ke arah para penduduk yang menyapanya dengan gembira, Katarina merasa sedikit gugup saat melihat banyak sekali orang yang menyaksikan dirinya, meski begitu ia harus tetap tersenyum dihadapan semua orang.
"Kakak?"
"Eh.. Umm?"
"Ada apa?"
Guinevere memanggil Katarina yang sedang terdiam menatap ke suatu arah, ia merasa khawatir kepada kakaknya, seketika Katarina pun terkejut dan segera menoleh ke arah adiknya.
"Apa kakak baik-baik saja?"
"Iya, tidak perlu khawatir..."
"Saya hanya merasa sedikit gugup!"
Katarina pun mencoba untuk tersenyum di hadapan Guinevere meskipun kedua tangan dan kakinya gemetar, keringat mulai bercucuran keluar, mengingat ini adalah hari yang sangat spesial untuknya, kemudian Katarina mulai mengatur napasnya secara perlahan, hal itu membuatnya merasa sedikit lebih baik.
"Kakak pasti bisa!"
"Semangat!"
"Saya akan selalu menemani kakak!"
"Terima kasih Guinevere...."
Kemudian Guinevere menggenggam tangan Katarina untuk membantunya menenangkan diri, ekspresi wajahnya yang polos membuat Katarina merasa tenang, setelah beberapa saat akhirnya mereka pun hampir sampai di kuil.
"Haaaahhhh....."
"Mengapa anda berekspresi seperti itu?"
Dua orang kesatria sedang berjaga di sebuah pos militer yang terletak di Puncak bukit, mereka bertugas mengawasi keadaan di sekitar perbatasan negeri. Salah seorang kesatria bertanya kepada Robert yang memasang wajah murung, sepertinya ia merasa kecewa akan sesuatu.
"Sayang sekali aku harus bertugas hari ini!!"
"Padahal aku ingin menyaksikan upacara penobatan Putri Katarina!!"
__ADS_1
"Betapa sialnya aku...."
Robert pun mengatakan apa yang ia rasakan kepada rekannya itu, wajahnya penuh kekecewaan dan napasnya terasa berat, Robert menyayangkan bahwa dirinya tidak bisa menghadiri upacara penobatan Karina.
"Ah begitu kah...."
"Sayang sekali ya...."
"Saya juga ingin menontonnya...."
"Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi tugas kita untuk menjaga perbatasan ini!!"
"Itu semua demi kedamaian semua orang!!"
Rekannya pun mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Robert, namun seorang kesatria harus selalu memprioritaskan tugas yang telah diberikan kepadanya dibandingkan dengan kepentingan pribadinya.
"Semangatlah!!"
"Besok masih ada waktu untuk kita pulang!!"
"Ah benar, ayo kita selesaikan tugas ini!!"
Rekan nya pun menepuk pundak Robert dan memberinya semangat, perlahan Robert kembali mendapatkan gairah dalam dirinya, ia pun bangkit dan kembali ke posisi siaga.
"Hei lihat, apa itu?"
"Ummm?"
Saat Robert menoleh ke suatu tempat, ia melihat seekor elang raksasa terbang menuju ke arahnya dengan sangat cepat.
"Huuhhh...."
"Awas!!!!"
Boom~
"Khhhaaaaa...."
Seketika elang itu menyambar pos militer miliknya, seluruh bangunan pun luluh lantak dalam sekejap mata, hempasan angin yang sangat kuat menciptakan Kabut debu yang sangat tebal.
"Monster?"
"Tidak mungkin!!!"
"Musuh datang!!!"
"Semuanya bersiap, musuh menyerang!!!"
Ding~
Ding~
Lonceng berbunyi keras menandakan ada bahaya yang datang, seketika semua prajurit yang ada di sana berhamburan keluar, suasana menjadi sangat menegangkan.
"Ambil semua peralatan!!!"
"Siapkan panah!!!"
"Evakuasi semua yang terluka!!!"
Para prajurit dengan sigap mengambil tindakan, mereka membentuk kelompok dalam jumlah besar dan mulai mengevakuasi korban yang tertimpa reruntuhan. Sementara itu elang raksasa itu terus mengamuk tak terkendali menghancurkan seluruh bangunan yang ada di dekatnya.
"Khuhukhuk....."
"Uhhh...."
"Khhhaaa...."
Robert merangkak keluar dari reruntuhan bangunan yang menimpanya, kakinya tertimbun bongkahan beton yang cukup besar hingga membuatnya kesulitan bergerak.
"Huuaaa....."
"Sialan!!!"
Dengan sekuat tenaga ia mengangkat beton itu dan memindahkannya, beruntung ia tidak menerima luka serius di bagian kepala dan organ vital lainnya, hanya ada beberapa goresan kecil yang membuat darah segar mulai bercucuran.
"Nelson!!"
"Dimana kau?!!"
"Hei Nelson, apa kau baik-baik saja?!!"
Kemudian Robert melihat rekannya yang tergeletak di sampingnya, ia pun menjadi sangat panik dan segera memanggil namanya.
"Hei Nelson jawab aku!"
"Hiiiaa...."
Dengan sekuat tenaga ia merangkak menuju ke tempat rekannya itu, sebagian tubuh rekannya tertimbun oleh reruntuhan yang sangat besar, Robert segera mengangkat tubuh rekannya dari reruntuhan itu.
"Tidak mungkin!!"
"Nelson?!!"
Namun seketika ia pun terkejut saat melihat wajah rekannya telah hancur akibat dihantam oleh reruntuhan bangunan, seluruh isi kepalanya berhamburan, darah pun membanjiri seluruh tubuhnya.
"Sial!!"
"Tidak mungkin!!!"
"Apa yang terjadi!!"
"Khhhh....."
Seketika Robert menjadi sangat sedih melihat rekannya telah terbaring tidak bernyawa, ia tidak menyangka akan terjadi hal mengerikan itu. Kemudian ia melihat ke arah sekitar, orang-orang berlari mengambil perlengkapan mereka, seekor elang raksasa yang telah menyambar pos militer miliknya pun mulai meluluh lantakkan semua bangunan yang ada di sekitarnya.
"Keparat kau!!"
"Beraninya kau melakukan semua ini!!!"
"Hiiiaaa!!"
"Grrraaaa...."
Para kesatria menyerang elang tersebut secara bersamaan, mereka merasa sangat kesal atas apa yang telah ia lakukan kepada mereka.
"Aghhh...."
"Huuaaaa...."
Namun elang itu dengan cepat mengepakkan sayapnya dan menghempaskan para kesatria itu dalam sekejap, ia pun mencabik-cabik mereka menggunakan cakarnya yang sangat tajam.
"Huuuaaaa....."
"Tidak, lepaskan aku....."
"Hiiaaaa!!!"
"Huuuaaaa...."
"Tooolooonggg...."
Elang itu mencengkram seorang kesatria dan menerbangkannya dengan sangat tinggi, seketika kesatria itu pun merasa sangat ketakutan, ia mencoba melepaskan diri dari cengkraman elang tersebut, namun tidak lama setelah itu elang tersebut langsung menjatuhkan kesatria itu ke tanah, seketika tubuhnya pun menghantam tanah dengan sangat keras dan hancur.
__ADS_1
"Tembak!!!"
"Hiiiaaa...."
"Sialan!!!"
"Serangan kita tidak mempan!!"
Para prajurit itu menembakkan panah dan melemparkan tombak ke arah elang itu, namun bulunya yang sangat tebal membuat anak panah tidak dapat menembusnya.
"Ggrrraaa....."
"Aghhhh..."
"Huuuaaa...."
Elang itu menyerang dengan membabi buta, ia mencabik-cabik para kesatria itu hingga hancur dan menghempaskan mereka dengan sangat kuat. Kabut debu yang tebal membuat pandangan para kesatria menjadi sangat terbatas, mereka pun tidak bisa mengkoordinasikan rekannya dengan benar.
Seluruh kesatria yang ada di tempat itu pun tewas seketika akibat serangan dari elang itu, tubuh mereka tergeletak berserakan diantara reruntuhan bangunan, beberapa diantara mereka masih hidup dan merasakan penderitaan yang sangat pedih akibat luka parah di sekujur tubuhnya, kematian sudah benar-benar ada di depan mata.
"Kuhuhukkk...."
"Khhh...."
"Mengapa ini bisa terjadi?!!"
Robert mencoba bangkit dengan bantuan pedang miliknya, meskipun mungkin hanya dirinya yang masih tersisa di tempat itu namun ia tidak mundur, Robert tidak bisa mengabaikan tugasnya sebagai seorang kesatria, meskipun ia akan berakhir seperti teman-temannya di tempat yang mengerikan ini.
"Hei burung sialan!!!"
"Kemarilah!!!"
"Grrraaa...."
Dengan ekspresi sangat kesal ia menantang elang itu, seketika elang itu pun menoleh ke arahnya dan bersiap untuk menyambar.
"Gggrrraa..."
"Hiiiaaaa!!!"
Saat elang itu mencoba menerkamnya Robert pun segera menghindar, kemudian ia mengayunkan pedang miliknya ke arah kaki elang itu.
"Khhhh...."
"Sial!!!"
"Tidak mempan kah...."
Namun serangan miliknya tidak berhasil melukai elang tersebut, di bagian kaki kiri elang tersebut terdapat sebuah rantai pengekang yang masih mengikatnya dan sebagian lagi sudah hancur, mungkin saja ia adalah monster yang telah dijinakkan oleh seseorang.
"Khhhaaa...."
Robert terhempas ke belakang dan jatuh akibat hentakan sayap elang itu, namun ia mencoba kembali bangkit dan menyerangnya lagi. Pertarungan mereka pun menjadi sangat sengit, tidak peduli seberapa banyak Robert terhempas ia terus menyerang elang itu dengan sekuat tenaga.
"Aku tidak akan mengampuni mu!!!"
"Hiiiaaa!!!"
"Ggrrraa...."
Robert mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga dan akhirnya ia berhasil memotong jari kaki elang tersebut, seketika elang itu pun mengeluarkan suara yang sangat keras. Namun saat Robert akan melancarkan serangan berikutnya elang itu segera mencengkeram tubuhnya.
"Khhaaa...."
"Sialan!!!"
"Lepaskan aku dasar monster!!!"
"Aaagghh...."
Tubuhnya tidak bisa bergerak, kuku elang itu mulai menyayat tubuh Robert dengan sangat dalam, ia pun menjerit kesakitan.
"Huuaaa...."
"Tidakk....."
Seketika elang itu membanting tubuh Robert ke tanah, tulang rusuknya pun hancur akibat benturan yang sangat keras, tulang belikat di kedua tangannya patah, kini ia tidak bisa lagi menggerakkan anggota badannya, kemudian elang itu mulai menginjak-injak tubuh Robert bertubi-tubi tanpa ampun.
"Aggghhh...."
"Khhhaaa...."
Robert menerima rasa sakit yang amat dahsyat, seluruh tubuhnya tercabik-cabik oleh cakar elang itu, baju zirah miliknya tidak mampu menahan tajamnya cakaran elang itu, ia hanya bisa menunggu kematian datang menghampirinya.
Fiuuiit~
"Huh?"
Tiba-tiba suara siulan terdengar sangat keras, hal itu membuat elang tersebut berhenti menyerang, tidak lama kemudian sesosok bayangan muncul dari dalam kabut debu yang tebal.
Seorang kesatria berzirah hitam datang menghampiri mereka dengan santai, Robert yang perlahan mulai kehilangan kesadaran menatap ke arah kesatria itu.
"Kembalilah!!"
"Grrraaa...."
Kesatria itu pun menjentikkan jarinya, seketika tubuh elang itu mulai menyusut menjadi ukuran normal, elang tersebut segera terbang menghampiri kesatria itu dan bertengger di pundaknya.
"Hhhaaaahhh.... Membosankan sekali!!!"
"Mereka semua sangat lemah!!!"
Kesatria itu menghela napas berat, wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa, kemudian ia pun mendekat ke arah Robert yang terbaring lemah tak berdaya.
"Khihihiii..... Hei kau kenapa?"
"Kasihan sekali...."
"Hei bergeraklah!!!"
"Apa kau sudah mati?"
Kesatria itu mengejek Robert dengan wajah yang senang, ia beberapa kali menendang tubuh Robert untuk memastikannya masih hidup. Robert hanya bisa menatapnya dengan lemah, tubuhnya tidak lagi bisa digerakkan, bahkan ia tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali.
"Apa kau sudah menyelesaikannya?"
"Umm?"
"Ah semuanya sudah beres!!"
Tiba-tiba sesosok bayangan lagi muncul, seorang kesatria lain yang menunggangi kuda putih datang menghampiri kesatria yang membawa elang tersebut, di belakangnya terdapat banyak sekali pasukan yang berbaris seperti akan bertempur, penampilan kesatria itu sangat anggun seperti seorang pangeran.
"Tugasku telah selesai, sisanya kuserahkan kepadamu!!"
"Ya, terima kasih...."
Kesatria yang membawa elang itu pun segera membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan kesatria berkuda hanya menatapnya dengan ekspresi datar.
Tempat itu seketika menjadi kuburan bagi para kesatria, tidak ada satupun dari mereka yang selamat, siapa sebenarnya sosok kesatria berkuda dan kesatria yang membawa elang itu, kekuatan mereka sangat dahsyat.
"Maafkan aku Putri Katarina....."
"Aku tidak bisa menepati janjiku!!"
__ADS_1
Akhirnya pasukan kesatria itu bergerak melewati perbatasan menuju kota, sepertinya mereka akan melancarkan invasi besar-besaran. Perlahan kesadaran Robert menghilang, ia terlalu banyak kehilangan darah, organ dalamnya pun terluka parah, tidak ada lagi harapan hidup baginya, dan di saat-saat terakhirnya ia meminta maaf karena tidak bisa melindungi negeri itu dari serangan musuh, dan Robert pun meninggal dengan penuh penderitaan.