
Fajar telah tiba, cahaya kuning keemasan menghiasi langit yang sebelumnya hitam pekat, di sebuah hutan yang sangat lebat, pohon-pohon tumbuh tinggi menjulang ke atas langit sehingga cahaya matahari terhalang oleh dedaunan yang rimbun.
Keadaan di dalam hutan sangatlah mengerikan, kegelapan terasa begitu mencekam karena hanya sedikit cahaya matahari yang dapat masuk, hal itu membuat jarak pandangan mata sangat terbatas, suara-suara aneh pun bergema di seluruh penjuru hutan yang berasal dari makhluk hidup yang menghuni wilayah itu.
Seorang gadis muda yang mengenakan gaun merah berjalan di belakang seorang pria berambut putih, gadis itu mengikuti sang pria dengan perlahan sembari menoleh kearah sekitarnya, wajahnya tampak sedikit pucat dan tubuhnya gemetar, setiap kali ia menoleh kearah pepohonan di sekitarnya, tampak beberapa pasang mata yang bersinar merah seakan sedang mengawasinya, hal itu membuat sang gadis merasa ketakutan.
"Apa engkau merasa takut, Elena?"
"Ah-tidak, saya baik-baik saja...."
Sang pria berambut putih itu menoleh ke arah gadis yang ada di belakangnya, ekspresi wajahnya tidak menunjukan rasa takut sedikitpun, pria itu bertanya kepada sang gadis tentang perasaan yang dialaminya saat ini, dan sang gadis pun menjawabnya dengan nada pelan sembari mencoba menyembunyikan rasa takutnya dihadapan pria itu.
"Ini akan menjadi latihan pertamamu!"
"Bertahanlah sedikit!"
"Ah-baik....."
Mereka berdua terus melanjutkan perjalanan ke arah timur tempat matahari terbit, setelah beberapa menit berjalan akhirnya mulai terlihat cahaya-cahaya fajar yang terpancar menembus sela-sela dedauan yang lebat, mereka pun berjalan menuju sumber cahaya tersebut.
"Kita sudah sampai!"
"Ummm......"
"Wah...... Indah sekali!"
Setelah menembus kegelapan yang mencekam, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah air terjun yang tinggi dan sangat indah, air yang mengalir sangat deras dan berwarna merah darah disebabkan lokasinya yang berada tepat di lereng Danau Lenra, air tersebut terus bercucuran tanpa henti membanjiri sungai-sungai kecil yang ada di bawahnya, cahaya fajar yang menyinari air terjun itu menyebabkan ilusi yang membuat air tampak berkilau seperti batu permata.
Elena terpesona dengan pemandangan indah itu, kedua matanya tidak bisa berhenti memandang seakan terhipnotis olehnya, dibalik hutan yang sangat menyeramkan ternyata ada sebuah surga yang tersembunyi di dalamnya, sebuah tempat yang sangat rahasia dan tidak terjamah sedikitpun oleh manusia.
"Elena kemarilah!"
"Ba-baik....."
Pria itu memanggil Elena untuk mendekat, Elena pun segera menghampiri pria yang sedang berdiri di tepi air terjun itu.
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Cobalah minum air itu."
"Eh?"
"Jangan khawatir, tidak ada efek samping apapun!"
Pria itu menyuruh Elena untuk meminum air yang menggenang di bawah air terjun tersebut, awalnya Elena merasa ragu untuk melakukannya karena air itu berwarna merah pekat yang mirip seperti darah, tidak seperti air pada umumnya, namun pria itu mencoba meyakinkan Elena agar ia mau mencobanya.
"Saya mengerti......"
Akhirnya Elena pun menuruti perintah itu, ia mencelupkan kedua tangannya ke dalam air kemudian menguncupkan kedua telapak tangannya agar air tersebut dapat tertampung, lalu ia mengangkat kedua telapak tangan yang berisi air itu keatas dan mendekatkannya ke wajahnya, ia memejamkan matanya untuk menahan keraguan di dalam hatinya, akhirnya dengan perlahan Elena meminum air itu hingga habis.
"Bagaimana?"
"Saya tidak merasakan apapun...."
"Air itu terasa sangat menyegarkan...."
Elena terkejut saat meminum air tersebut, ternyata rasa dari air itu tidak seburuk yang ia bayangkan, bahkan Elena merasa segar setelah meminumnya.
"Ini adalah Air Terjun Keabadian!"
"Siapapun yang meminum airnya akan menjadi abadi!"
"Eh, be-benarkah?"
"Namun tidak semua orang bisa meminumnya, hanya makhluk yang memiliki jiwa suci yang bisa mendapatkan keabadian!"
"Jika jiwamu tercemar maka air itu akan berubah menjadi racun yang dapat membunuhmu dalam sekejap!"
Elena terkejut saat diberitahu rahasia tentang air terjun itu, seketika ia pun menoleh ke arah seluruh tubuhnya untuk menastikan bahwa tidak ada hal yang aneh sedikitpun, jika dirinya masih merasa baik-baik saja setelah meminum air itu maka jiwa miliknya sangat suci seperti yang dikatakan pria itu.
"Engkau telah lulus ujian tahap pertama, kita akan melakukan latihan yang selanjutnya!"
"Ba-baik...."
Kemudian pria itu berjalan menuju ke tepi sungai, ia mematahkan sebuah dahan pohon yang sudah kering kemudian membersihkannya dari cabang-cabang kecil yang menempel.
"Elena, terimalah ini!"
"Ba-baik....."
Kemudian pria itu memberikan dahan pohon yang sudah dibersihkan itu kepada Elena, dengan ekspresi bingung Elena pun menerimanya.
"Etoo, apa yang harus saya lakukan?"
"Peganglah ujung dahan itu dan angkatlah di depan wajahmu!"
"Saya mengerti...."
Elena pun mengikuti instruksi dari pria itu, ia mengenggam ujung batang kayu itu dengan kedua tangannya, kemudian meletakkannya dengan posisi vertikal tepat di depan wajahnya seperti saat menggenggam sebuah pedang, perlahan Elena pun mengerti arti dari posisi ini.
"Aku akan mengajarimu cara menggunakan senjata!"
"Baik..."
"Pertama-tama peganglah kayu ini dengan kuat, dan regangkan sedikit kedua lenganmu!"
"Bayangkanlah bahwa ini adalah sebuah pedang!"
"Etooo, ba-baik...."
Pria itu berjalan menghampiri Elena, kemudian ia menggenggam tangan Elena dan mencoba membantunya agar ia bisa melakukan gerakan itu dengan benar, Elena terkejut saat tangan pria itu menyentuhnya, wajahnya memerah dan ia pun menjadi sedikit gugup.
"Lebarkanlah sedikit kakimu ke depan!"
"Rendahkan sedikit posisi tubuhmu!"
"Sa-saya mengerti!"
Pria itu kembali membenarkan posisi Elena, dan hal itu membuatnya menjadi semakin gugup, wajahnya menjadi semakin merah dan bibirnya sedikit gemetar.
"Sekarang ayunkanlah kayu itu ke depan!"
"Baik...."
"Hiaaaa...."
Elena mencoba mengayunkan batang kayu yang dipeganggnya ke depan dengan sekuat tenaga, hempasan angin berhembus ke segala arah karena gerakan yang ia lakukan, pria itu pun menyaksikan Elena sembari melipat kedua lengannya.
"Bagus."
"Ulangi lagi gerakan itu!"
"Ummmm..."
Elena terus mengulangi gerakan yang sama berkali-kali, hal ini bertujuan untuk membiasakan diri dan memudahkannya untuk menguasainya.
__ADS_1
"Rilekskan tanganmu, itu masih terlalu kaku!"
"Kuatkan lagi kuda-kudamu!"
"Sa-saya mengerti...."
Pria itu terus mengamati dari dekat sembari membenarkan gerakan yang salah, Elena dengan sungguh-sungguh memahami semua yang dikatakannya, dan perlahan gerakannya mulai terlihat lebih baik.
"Baiklah, sekarang angkat kayu itu sejajar dengan dahimu dengan posisi horizontal!"
"A-apakah seperti ini?"
"Benar, engkau melakukannya dengan baik!"
"Ulangi lagi gerakan itu!"
"Baik...."
Kemudian pria itu mengajari Elena teknik lain, ini adalah sebuah teknik untuk menangkis sebuah serangan yang datang dari arah depan, Elena pun mencoba melakukannya dengan serius.
"Lagi!"
"Hiaaaa....."
"Lagi!"
"Semangatlah Elena!"
"Ba-baik....."
Waktu terus berjalan, matahari mulai terbit dari arah timur, cahaya kuning memancar dengan sangat terang, Elena masih terus berlatih dengan sebuah batang kayu yang ia gunakan, tampak sangat jelas keringat yang keluar dari kulit dan membasahi tubuhnya.
"Sekarang kombinasikan gerakan-gerakan sebelumnya!"
"Eh?"
"Cobalah untuk menggabungkan teknik serangan dan bertahan sekaligus!"
"Saya mengerti....."
Elena mencoba melakukan sebuah kombinasi gerakan dengan teknik yang telah ia pelajari sebelumnya, mulai dari menyerang dan bertahan, Elena melakukannya berulang-ulang tanpa henti.
Hanya dalam waktu beberapa jam Elena telah menguasai beberapa kombinasi gerakan yang diajarkan pria itu, tampak dengan jelas kerja keras yang ia lakukan, keringat bercucuran memenuhi wajahnya namun Elena mencoba untuk tidak mengeluh, ia terus melanjutkan latihannya dengan sungguh-sungguh.
"Teknik berpedang bukanlah soal menyerang dan bertahan!"
"Rasakanlah berbagai emosi yang mengalir dalam tubuhmu, lalu curahkan semua itu dalam setiap gerakan yang engkau lakukan!"
"Baik....."
"Sekarang rasakanlah emosi itu....."
Elena memejamkan kedua matanya dalam posisi kuda-kuda, ia menempatkan batang kayu yang diggenggamnya tepat di depan tubuhnya, perlahan Elena mengambil napas yang dangat dalam dan meregangkan sedikit lengannya.
"Hiaaaaaaa......"
Dengan sekejap ia kembali membuka matanya sembari mengayunkan batang kayu itu ke depan, udara yang ada di sekitarnya seakan terbelah menyebabkan angin berhembus ke segala arah, kemudian Elena kembali mengayunkan batang kayu itu ke segala arah, kilatan-kilatan cahaya yang berputar-putar tercipta dari bekas tebasan itu bagaikan seekor burung yang terbang di langit, gerakan-gerakan tersebut menciptakan sebuah tarian yang sangat indah.
Perasaan Elena mengalir dalam tarian tersebut, seluruh pepohonan yang ada di hutan itu pun seakan ikut menari bersama Elena membuat daun-daun gugur dan beterbangan ke segala arah, sungguh suatu hal yang sangat menakjubkan.
"Cukup!"
"Uh?"
Saat pria itu berkata kepada Elena, seketika gerakannya terhenti, Elena terkejut dengan hal itu dan seketika napas miliknya berubah menjadi terengah-engah, ia pun membungkuk mencoba mengatur kembali napas miliknya.
"Istirahatlah sebentar!"
"Saya mengerti...."
Akhirnya latihan pun dihentikan, kini Elena dapat beristirahat untuk memulihkan kembali tenaga yang hilang, ia berjalan menuju tepi sungai dan duduk di sebuah batu besar yang berada di dekat air terjun, kemudian ia menoleh ke atas, hari telah siang, matahari telah berada tepat di atas kepala mereka, langit yang sebelumnya berwarna kuning telah berubah menjadi biru terang, Elena duduk sembari mengatur napasnya yang tidak beraturan.
"Elena."
"Umm?"
Tiba-tiba pria itu memanggil Elena, dengan terkejut Elena pun menoleh kearahnya, pria itu sedang menguncupkan tangannya yang berisi air berwarna merah.
"Minumlah, ini akan membuatmu merasa segar!"
"Eh? Etooo....."
"Sa-saya mengerti....."
Pria itu menyuruh Elena untuk meminum air yang ada di tangannya itu, seketika Elena pun terkejut dengan hal itu, wajahnya berubah menjadi merah dan ia merasa sangat gugup, namun Elena tetap mematuhi perintah pria itu.
Elena mencoba mendekati pria itu, ia menutup kedua matanya sembari mengangkat helaian rambut yang ada di samping telinga menggunakan salah satu tangannya, dengan perlahan Elena pun meminum air dari telapak tangan pria itu.
"Te-terima kasih banyak...."
"Tidak masalah."
Akhirnya Elena selesai meminum air itu, wajahnya terlihat sangat merah saat ia berterima kasih kepada pria itu, namun sang pria tersebut hanya membalasnya dengan datar seakan tidak merasakan apapun.
"Apa tenagamu sudah pulih Elena?"
"Ah-benar, saya sudah tidak merasa lelah lagi...."
"Begitu kah, baiklah kita lanjutkan lagi latihannya!"
"Ba-baik...."
Setelah beberapa menit beristirahat, Elena pun kembali melanjutkan latihannya, dilihat dari dirinya yang sekarang, sepertinya sebagian besar tenaga miliknya telah pulih kembali meskipun waktu yang ia habiskan untuk beristirahat hanya sebentar, mungkin efek dari air danau yang ia minum sebelumnya membantu memulihkan tenaganya yang terkuras.
"Sekarang aku akan menjadi lawanmu!"
"Kita akan latihan bertarung!"
"Ummmm?"
Pria itu kembali mematahkan sebuah ranting pohon yang cukup panjang untuk dijadikan senjata, kemudian pria itu mengajak Elena untuk bertarung melawannya, Elena pun terkejut dengan tantangan itu karena hal ini benar-benar berbeda dari latihan yang sebelumnya.
"Bersiaplah!"
"Baik...."
Elena segera mengambil posisi kuda-kuda, ia menggenggam batang kayu miliknya dengan sangat erat menggunakan kedua tangannya tepat di depan wajahnya, sedangkan pria itu hanya memegang batang kayu miliknya dengan satu tangan.
"Ayo Elena majulah!"
"Serang aku tanpa ragu!"
"Etooo.... Saya mengerti!"
Awalnya Elena merasa ragu untuk menyerang pria itu, kedua tangannya gemetar, keringat mulai bercucuran saat menatap kearahnya, ia harus memikirkan strategi dengan sangat matang sebelum mulai melancarkan serangan, karena ia tahu bahwa pria itulah yang mengajarinya teknik berpedang.
__ADS_1
"Hiaaa....."
Setelah beberapa saat terdiam dalam posisi kuda-kuda, akhirnya Elena memberanikan diri untuk memulai serangan ke arah pria itu, ia mengayunkan batang kayu miliknya tepat ke arah kepala pria tersebut dengan sangat kuat.
"Eh?"
"Masih terlalu lemah, kerahkan lebih banyak lagi tenagamu!"
Kedua batang kayu mereka saling berbenturan menyebabkan suara yang cukup keras, namun sang pria tersebut dapat menangkis serangan dari Elena dengan sangat mudah, bahkan ia hanya menggunakan satu tangannya untuk menahan batang kayu milik Elena.
"Uwaaaa....."
"Serang aku lagi!"
"Baik...."
Kemudian pria itu menghempaskan Elena dengan kuat ke belakang, hal itu membuat Elena tidak bisa mempertahankan posisi kuda-kuda miliknya hingga ia hampir terjatuh, namun dengan sigap Elena berhasil menyeimbangkannya, lalu sang pria tersebut pun kembali menyuruh Elena untuk menyerangnya.
"Hiaaaa....."
"Khhhh...."
"Masih belum, kerahkan lebih banyak lagi!"
Elena pun segera bangkit dan menyerangnya lagi, namun lagi-lagi serangan itu terblokir dengan sangat mudah.
"Hiaaaaa....."
"Bagus, serang terus!"
"Baik....."
Elena terus melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah pria itu namun setiap kali ia mencoba menebas tubuhnya, semua serangan tersebut dapat dihentikan olehnya, bahkan pria itu hampir tidak berpindah posisi sedikitpun.
"Baiklah hindari ini!"
"Huh?"
"Uwaaaa....."
Tiba-tiba pria itu melancarkan sebuah serangan ke arah Elena, dengan terkejut Elena mencoba menggerakkan tubuhnya namun serangan darinya terlalu cepat sehingga Elena tidak sempat menghindar.
Serangan itu berhasil mengenai bahu kanan milik Elena dengan sangat keras, Elena pun jatuh tersungkur ke depan karena tidak bisa mempertahankan posisinya.
"Bangkitlah Elena!"
"Kghhh...."
"Ayolah jangan menyerah!"
"Hiaaaa....."
Dengan bantuan tongkat kayu miliknya Elena mencoba untuk bangkit, meskipun rasa sakit yang ia terima cukup besar namun semangatnya berhasil membuat Elena terus berjuang.
"Bagus!"
"Kerahkan semua emosimu!"
"Baik...."
Elena kembali mengambil posisi kuda-kuda, kemudian memejamkan kedua matanya dan menarik napas dengan sangat dalam, ini adalah sebuah gerakan yang sama seperti yang ia lakulan saat sedang berlatih gerakan kombinasi.
"Uuuhaaaaa......"
"Hiaaa....."
Dengan cepat Elena melesat kearah pria itu, ia melancarkan tebasan vertikal yang mengarah ke kepala pria tersebut, kilatan cahaya berwarna biru membentang dari jalur tebasan kayu miliknya bagaikan air yang mengalir, Elena mengayunkan dengan sekuat tenaga untuk menyerang pria itu.
"Menakjubkan!"
Pria itu pun tersenyum saat menghadapi serangan Elena, ini pertama kali bagi pria itu menunjukkan ekspresi yang sangat jelas, tidak seperti biasanya yang hanya memasang wajah datar.
Saat serangan itu hampir menyentuh rambut pria tersebut seketika batang kayu milik Elena terhalang oleh batang kayu milik sang pria tersebut, serangan milik Elena pun tidak berhasil mengenai target, namun tidak berhenti sampai di situ Elena pun kembali mengayunkan batang katu miliknya secara bertubi-tubi, kilatan-kilatan cahaya biru terus berputar-putar di udara seperti aliran air, hal itu menciptakan sebuah tarian pedang yang sangat indah.
"Aghhhh....."
"Khaaaaa......"
"Berdirilah!"
"Hiaaaaa....."
Meskipun Elena terhempas berulang kali dan jatuh, namun hal itu tidak membuatnya berhenti, ia terus menyerang pria itu dengan tarian pedang miliknya, pertarungan mereka terus berlangsung sangat lama bahkan hari telah berubah menjadi petang, matahari sudah mulai berada di barat dan sebentar lagi akan terbenam, namun tidak ada satupun dari mereka yang berhenti bertarung.
"Haaaaaa......"
Crack~
"Eh?"
"Uwaaaa....."
Saat Elena mengayunkan kayu miliknya dengan semua tenaga yang tersisa, tiba-tiba batang kayu itu patah menjadi dua bagian saat membentur kayu milik pria tersebut, seketika Elena pun menjadi lengah, dengan cepat pria itu menghunuskan kayu miliknya menuju leher Elena.
"Cukup sampai di sini!"
"Uuhhaaa... Uuhhaaaa..."
Sebelum batang kayu itu mengenai kulit Elena, pria tersebut segera menghentikan serangan miliknya, seketika Elena merasa terkejut menyaksikan hal itu, tubuhnya membeku dan wajahnya menunjukkan tatapan kosong, ia seakan berubah menjadi sebuah patung, napasnya berubah menjadi tidak beraturan, batang kayu yang patah itu pun terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah.
"Engkau telah berusaha dengan keras, sekarang beristirahatlah!!"
"Te-terima kasih banyak...."
Tiba-tiba Elena terhuyung dan jatuh ke depan, dengan cepat sang pria tersebut segera menangkapnya sehingga Elena jatuh ke dalam pelukannya, tenaga yang Elena miliki telah terkuras habis sehingga kakinya tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya, Elena pun menjadi lemas dan perlahan kesadarannya mulai hilang.
Sang pria itu pun segera menggendong Elena seperti seorang putri menuju air terjun, kemudian ia membaringkannya di tepi air terjun tersebut dengan hati-hati, sang pria itu kemudian mencelupkan kedua tangannya untuk mengambil sedikit air, Elena masih terbaring lemas tak berdaya, mulutnya sedikit terbuka dan napasnya tidak beraturan.
"Bertahanlah...."
Dengan bergegas pria itu membawakan sedikit iar untuk Elena, ia pun meminumkan air itu melalui mulutnya yang terbuka, air perlahan mengalir ke dalam tubuh Elena, dan saat itu juga kesadaran miliknya sedikit demi sedikit mulai kembali.
"Uhuukk.... Uhukkk...."
Elena terbatuk saat meminum air tersebut, ia pun segera bangkit dari tidurnya menjadi posisi duduk, napas miliknya sudah mulai teratur dan pandangan matanya tidak lagi kosong.
"Kerja bagus!"
"Kita sudahi latihan hari ini sampai di sini!"
"Sa-saya mengerti...."
Akhirnya latihan yang panjang telah usai, Elena telah mengeluarkan semua tenaga yang ia punya hingga habis, dan kini ia hanya bisa berbaring dengan tidak berdaya.
Namun semua usahanya tidaklah sia-sia, ia berhasil menguasai beberapa teknik berpedang hanya dalam waktu satu hari, bahkan sang dewa naga pun memuji kemampuannya itu, Elena kembali menatap langit senja yang sangat indah dengan senyuman kebahagiaan sebelum akhirnya menutup matanya untuk beristirahat.
__ADS_1