
"Hiaaa!!!"
Sing~
Sing~
Kesatria itu menyerang Elena dengan membabi buta, kecepatan serangam miliknya sangat mengerikan dan hampir tidak bisa terbaca.
Namun Elena berusaha menangkis seluruh serangan miliknya sembari mencari celah untuk menyerang.
"Flapping Wings!!"
"Khhh....."
Kesatria itu memutar-mutarkan tombak miliknya dan mengayunkannya ke arah Elena secara bertubi-tubi, hembusan angin yang kencang menerpa diri Elena membuatnya kesulitan untuk mempertahankan posisinya.
"Matilah kalian semua!!!"
Elena terus bertahan dari serangan kesatria itu, elemen air miliknya tidak dapat melawan angin milik kesatria tersebut.
"Kyaaa....."
Akhirnya pertahanan milik Elena pun goyah, saat dirinya lengah kesatria itu mengayunkan tombak miliknya menuju kepala Elena secara vertikal.
"Rasakan ini!!"
"Huh?"
"Khhaaa...."
Sebelum tombak itu mengenainya, Elena sempat mencoba menghindar, namun sayang, mata tombak itu berhasil menyayat sayap kiri bagian atas miliknya hingga robek.
"Hiiaaa!!"
"Aagghhh...."
Kesatria itu memutar tombak miliknya dan mencoba menebas Elena dari arah samping, dengan segera Elena mengangkat pedang miliknya menangkis serangan tersebut, namun sayang ia terhempas dengan sangat kuat dan jatuh.
"Hiaaa!!!"
Kesatria itu tidak memberi belas kasihan sedikitpun kepada Elena, ia melompat dengan sangat cepat dan ingin menusuk Elena menggunakan tombak miliknya.
"Tidak akan kubiarkan!!"
"Cih!!"
Namun tiba-tiba sekumpulan anak panah melesat menuju kesatria tersebut, melihat hal itu kesatria tersebut segera menghindar.
"Serangga menyebalkan!!"
"Akan ku buat kau menderita-"
"Khuhukk....."
"Huh apa?!!"
Meskipun anak panah itu tidak berhasil mengenainya, namun secara tiba-tiba kesatria itu memuntahkan darah dari dalam mulutnya.
"Khhaaaa......"
"Sialan!!!"
Ia pun menjerit dengan sangat keras, rupanya akar yang menancap di tubuhnya semakin berkembang dengan cepat hal itu membuat kerusakan pada bagian organ dalam milik kesatria itu.
"Huuuaaaa....."
"Sword Dance: Water Flow!!"
Kesatria itu terus menjerit kesakitan, melihat hal itu Elena tidak diam saja, ia pun segera bangkit dan menyerangnya, begitu pula dengan peri tersebut, ia kembali menembakkan anak panah menuju kesatria itu.
"Hiiaaaa!!!"
"Khhhh...."
"Jangan meremehkanku!!!"
Namun kesatria itu tidak menyerah, ia segera mengangkat tombak miliknya dan menangkis serangan dari mereka.
"Hanya seperti ini saja tidak akan berarti bagiku!!"
"Hiaaa!!!"
Kesatria itu terus mengayunkan tombak miliknya ke arah Elena, benturan-benturan antara kedua senjata mereka menciptakan hempasan energi yang besar ke segala arah.
"Khhh...."
Elemen air milik elena terus terpecah menjadi bintik-bintik kecil yang menguap disebabkan tekanan udara yang sangat besar, hal itu menyebabkan terbentuknya kabut tebal yang menyelimuti daerah di sekitar mereka.
"Gawat, saya tidak bisa melihat apapun!!"
Kabut yang tebal menghalangi pandangan mata, hal itu membuat peri tersebut kesulitan untuk membidik sasaran karena posisi mereka yang sulit dilihat.
"Hiaaa!!!"
Kesatria itu mengunci pedang milik Elena dengan tombaknya, kemudian ia memutar tombak miliknya dan langsung melancarkan serangan instan kepadanya.
"Aaaghhh....."
"Hmmpp, masih belum!!"
"Khhaaaa...."
Kesatria itu menebas paha milik Elena sehingga membuat tubuhnya goyah, kemudian kesatria itu memutar tombaknya dan menusuk bahu kiri Elena hingga menembus tulang pipihnya, seketika Elena pun merintih merasakan rasa sakit yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Hiiaaaaa!!!"
Elena tidak menyerah begitu saja, ia pun segera mengayunkan pedangnya ke arah kesatria tersebut.
"Kuhukkk...."
Namun kesatria itu berhasil menghindar dan langsung menendang Elena hingga membuatnya terlontar ke belakang.
"Apa kau masih keras kepala hah?"
"Sebanyak apapun kau memohon untuk hidupmu, aku tidak akan pernah mengampunimu!!!"
"Khhaaaaa...... sial!!!"
Kesatria itu kembali memaki-maki Elena dengan kasar, namun di tengah pembicaraannya kesatria itu kembali memuntahlan darah segar dari mulutnya, nampaknya parasit pohon itu tumbuh dengan sangat cepat dan hsmpir mencapai organ vital miliknya.
"Khhhh....."
"Saya tidak akan menyerah!!"
"Saya akan tetap melindungi pohon suci ini!!"
Elena mencoba bangkit kembali dengan bantuan pedangnya, lengan kirinya yang terluka perlahan mulai meregenerasi, namun meskipun begitu lengan tersebut masih mati rasa dan tidak bisa digerakkan.
"Akan kupastikan kau menyesal!!"
"Hiaaaa!!!"
Kesatria itu kembali menyerang Elena dengan sangat agresif, Elena kembali melancarkan teknik air miliknya namun hal itu tidak berguna karena air tersebut terus menguap diterjang oleh angin yang kencang.
Peri yang yang masih menggenggam busur panah di tangannya hanya bisa mengamati, ia sedang mencari keberadaan mereka berdua di dalam gelapnya kabut.
"Itu kah?!!"
"Bertahanlah Yang Mulia!!!"
Meskipun tidak bisa melihat apapun, namun sebuah percikan api yang besar dan bunyi keras muncul dari balik tebalnya kabut, percikan api itu disebabkan oleh benturan dari pedang milik Elena dan juga tombak milik kesatria itu.
Dengan segera peri tersebut menarik tali busur miliknya dan membidik target, ia memejamkan matanya untuk mencari momentum yang tepat.
"Khhhh...."
"Sekarang!!"
"Yang Mulia menghindarlah!!"
Saat Elena berhasil mematahkan serangan kesatria itu dan membuatnya terpental, di saat yang sama peri yang membantu Elena memberikan instruksi kepada Elena untuk menghindar, ia pun melepaskan anak panah dari belakang Elena menuju ke arah kesatria tersebut.
"Khhaaaa....."
"Sialan!!!"
Dengan segera Elena menghindar dari anak panah milik peri tersebut, anak panah itu pun melesat dan berhasil menembus zirah milik kesatria itu.
"Uuuhhhaaaa...."
"Sword Dance: Snow Hurricane!!"
Elena mengambil jarak dari kesatria tersebut, kemudian ia menarik napas dalam-dalam, perlahan pusaran angin mulai berkumpul pada bilah pedang miliknya.
Kabut-kabut yang mengelilingi dirinya juga ikut berkumpul membentuk sebuah pusaran yang sangat besar, partikel air yang menguap perlahan membeku menjadi butiran-butiran es yang berkilau.
__ADS_1
"Hiaaaa!!!"
Elena memutar tubuhnya dengan cepat dan langsung menebas kesatria itu, seketika pusaran kabut es tersebut melahap tubuh kesatria tersebut dalam sekejap.
"Ghhaaaaa!!!"
Elena berhasil menyayat dada kesatria itu dengan pedangnya, kemudian serpihan-serpihan es yang tajam langsung mencabik-cabik tubuh kesatria itu.
"Tornado!!!"
"Kyyaaaa....."
Namun itu belum berakhir, tiba-tiba kesatria itu menhempaskan kabut es tersebut dengan pusaran angin miliknya, seketika kabut itu terdorong ke segala arah.
"Huh?"
Elena segera mengambil posisi siap, tebalnya kabut menghalangi pandangan matanya, namun tiba-tiba ia merasakan hembusan angin yang kuat seperti ada sebuah benda yang melesat melewatinya, dan Elena pun sadar bahwa itu adalah tombak milik kesatria itu.
"Tidak!!!"
"Awas!!!"
Elena segera membalikkan tubuh dan berteriak kencang, tombak itu melesat bukan ke arahnya melainkan menuju peri yang berada di belakangnya.
"Khhhaaaa!!!"
Tidak lama kemudian terdengar suara rinyihan dari seorang gadis, itu berasal dari peri pemanah tersebut.
Tombak itu dengan cepat menancap di dada peri tersebut dengan sangat dalam, seketika peri itu jatuh berlutut sembari memuntahkan darah.
"Bertahanlah!!"
"Huh?"
Elena segera berlari menuju ke arah peri tersebut dan ingin menolongnya, namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesuatu.
"Hehehe..... kemana kau akan pergi!!"
"Kyaa..."
Tanpa ia sadari kesatria itu menuju ke arahnya, Elena pun segera mengayunkan pedang miliknya, namun dengan cepat kesatria itu menendang paha Elena hingga membuatnya terjatuh.
"Khhhaaaa....."
"Hehehehe....."
"Kau tidak akan bisa lari!!"
Kesatria itu langsung mencekik leher Elena dengan sekuat tenaga, seketika Elena pun menjadi kesulitan bernapas.
"Agghhhh....."
"Aku akan meremasmu hingga hancur!!!"
Elena mencoba meraih pedang miliknya yang tergeletak di sampingnya, namun seluruh tubuhnya menjadi sangat kaku dan perlahan kesadarannya mulai hilang.
"Yang.... Mulia....."
Peri itu melihat Elena sedang dalam bahaya, dengan tubuh yang bersimbah darah ia mencoba mencabut tombak itu dari dadanya.
"Khhhh....."
Ia terus mencoba menariknya secara paksa, namun semakin tombak itu terangkat hal itu membuat luka di dadanya terbuka sehingga darah yang mengalir manjadi lebih deras.
Beruntungnya tombak itu tidak mengenai jantungnya, jika tidak maka ia sudah mati saat itu juga.
"Hiiaaaa!!!!"
Namun peri itu tidak berhenti, ia terus menariknya dengan sekuat tenaga hingga akhirnya tombak itu berhasil tercabut.
"Kuhukk...."
Dengan segala tenaga yang tersisa ia mengangkat busur panah miliknya, perlahan sebuah sulur-sulur kecil merambat di telapak tangannya dan membentuk sebuah anak panah.
Peri tersebut pun segera membidik ke arah kesatria itu, kesadarannya perlahan mulai hilang akibat kehilangan terlalu banyak darah, hal itu membuatnya sulit untuk menyeimbanhkan akurasi.
"Terima ini!!"
"Rose Thorn!!"
Peri tersebut menembakkan sebuah anak panah dengan ujung mata berbentuk kuncup bunga yang masih tertutup, anak panah tersebut melesat dengan cepat menuju kesatria tersebut.
"Khhhaaaa....."
Sesaat sebelum anak panah itu mengenai tubuh kesatria tersebut, kuncup bunga tersebut mekar membentuk bunga dengan ujung mahkota yang runcing.
"Khhh...."
"Hiaaa!!!"
"Aghhhh...."
Saat kekuatan cengkraman milik kesatria tersebut mulai melemah, Elena dengan cepat mengambil pedang miliknya yang tergeletak dan menusukkannya pada kesatria tersebut.
"Sialan!!!"
"Kyyaaa..."
Kesatria itu pun menjadi sangat kesal dan mencoba mencekik Elena kembali, namun dengan segera Elena mendorong tubuh kesatria tersebut hingga terpental ke belakang.
"Kuhuk...."
Elena mencoba bangkit dengan sekuat tenaga, tenggorokan miliknya tersasa sangat sakit membuatnya kesulitan bernapas.
"Cih!!"
"Jangan bercanda!!"
"Serangga sepertimu tidak mungkin mengalahkanku!!"
Kesatria tersebut merentangkan salah satu tangannya ke samping, perlahan tombak miliknya yang tergeletak di sebelah peri itu terangkat dan melesat menuju ke arahnya.
Peri itu pun terbaring lemah karena luka yang diterimanya sangat parah, ia hanya bisa menantikan ajalnya tiba dengan menderita.
"Khhh....."
"Hiaaa!!!"
Elena langsung berlari ke arah kesatria tersebut dan mengayunkan pedangnya sebelum ia memegang kembali tombak miliknya.
"Hmmmpp...."
"Huuaaa....."
Namun ia terlambat, kesatria itu segera mengambil tombak miliknya dan langsung menangkis serangan milik Elena.
Elena pun sedikit terpental ke belakang dengan posisi terbuka, kemudian kesatria itu pun bangkit dan ingin menusuknya.
"Hiiaaaa!!!"
"Khhh...."
Dengan cepat Elena mengayunkan pedang miliknya untuk memenggal kepala kesatria tersebut.
"Aaghhh....."
"Khhaaa...."
Namun tombak milik kesatria tersebut berhsil menembus perut Elena dengan sangat dalam, di saat yang sama serangan milik Elena sedikit meleset dan menebas tangan kiri kesatria itu hingga putus.
Mereka berdua langsung merintih merasakan sakit yang menyebar di tubuh mereka, namun dalam hal ini Elena mengalami luka yang lebih parah dibandingkan kesatria tersebut.
"Kuhukkk...."
Elena pun jatuh berlutut karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, darah yang mengalir sangat deras dari bekas luka itu.
"Huuaaaa....."
"Sial!!!"
Sedangkan kesatria itu sedang mencoba menghentikan pendarahan pada lengan kirinya, ia terus menjerit kesakitan dan tampak sangat marah.
"Beraninya kau melakukan ini padaku!!!"
"Khhh...."
Kesatria itu pun langsung menatap ke arah Elena, perlahan ia mulai berjalan mendekatinya dan ingin segera membunuhnya.
Melihat hal itu Elena segera menggenggam tombak yang masih menancap di perutnya, dengan sekuat tenaga ia menarik keluar tombak tersebut.
"Hiiaaa!!!"
"Agghhh....."
"Huh?"
__ADS_1
Elena pikir itu sudah terlambat, namun sebuah hal tak terduga terjadi, tiba-tiba kesatria itu berhenti, tubuhnya membeku.
"Khhaaaa...."
"Huuaaaa...."
Tiba-tiba sari dalam tubuh kesatria itu tumbuh duri-duri besar dan runcing menyembur ke segala arah, seketika seluruh tubuh kesatria itu tercabik-cabik oleh duri tersebut.
"Apa yang terjadi?"
Elena pun me jadi sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, tubuh kesatria itu dipenuhi oleh duri-duri tajam yang mejulang keluar, bahkan ada satu duri yang menembus mulutnya sehingga membuatnya menganga lebar.
Kesatria itu pun mati dengan mengenaskan dalam posisi berdiri tegak.
"Itu.... adalah...."
"Duri.... bunga mawar....."
"Khuhukkk...."
"Eh?"
Tiba-tiba ada sebuah suara bergema dari belakang Elena, suara itu terdengar sangat lemah, seketika Elena membalikkan tubuhnya, ia melihat peri itu sedang terbaring bersimbah darah.
"Khhh...."
"Kyyaaa...."
"Bertahanlah!!"
Elena pun segera mencabut tombak itu dari perutnya, perlahan tubuhnya miliknya mulai meregenerasi bagian-bagian yang terluka.
"Butuh..... sedikit.... waktu.... untuk.... membuatnya tumbuh...."
"Maaf.... membuat.... anda.... menunggu...."
Peri itu terus berbicara kepada Elena, semakin lama suaranya terdengar semakin lemah, dan kesadarannya pun mulai hilang.
"Khhh...."
Elena berjalan terhuyung-huyung akibat terlalu banyak kehilangan darah, meskipun tubuhnya dapat beregenerasi kembali, namun rasa sakit yang ia terima sangat membebani otaknya, beruntungnya ia masih bisa menahannya.
"Kumohon sadarlah!"
Elena segera mengangkat tubuh peri tersebut, seluruh tubuhnya terasa sangat dingin, kulitnya pun memucat.
"Kita.... berhasil kah....."
"Benar, kita telah berhasil!!"
Peri itu tersenyum kepada Elena, hal itu membuat mata Elena berkaca-kaca, berkat bantuan peri tersebut, kesatria itu berhasil dikalahkan.
"Anda.... tidak... perlu.... khawatir...."
"Saya.... baik-baik saja....."
Peri itu mencoba menghibur Elena, namun tetap saja kesedihan tampak sangat jelas di wajah Elena, ia tidak ingin kehilangan peri tersebut.
Perlahan peri itu mulai memejamkan matanya, denyut jantungnya semakin melemah, namun peri itu masih bernapas.
"Bertahanlah!!!"
"Apakah ada cara untuk menolongnya?!!"
"Apapun itu?!!"
Elena menoleh ke segala arah memikirkan cara untuk menyelamatkan peri tersebut sebelum terlambat.
"Yang Mulia!!"
"Huh?"
Tiba-tiba Elena mendengar seseorang memanggilnya, ia pun segera menoleh ke arah suara itu dan seketika ada beberapa orang peri yang sedang terbang menuju ke arahnya.
"Apa anda baik-baik saja?!!"
"Saya baik-baik saja...."
"Tapi ia...."
Kemudian peri itu menanyakan keadaan Elena, ia pun menjawabnya dengan tenang, namun Elena segera mengalihkan topik pembicaraan ke arah lain.
"Tidak apa-apa...."
"Kami akan segera menolongnya!!"
Para peri tersebut segera mengerumuni Elena, mereka duduk melingkari peri yang terluka itu.
"Kita akan mentrasfer daya hidup kita!!"
"Baiklah Yang Mulia, pejamkanlah mata anda!"
"Ah baik!"
Kemudian peri itu menyuruh Elena memejamkan matanya, Elena pun segera menurutinya.
"Wahai pohon suci yang agung!!"
"Engkau adalah sumber kehidupan bagi kami!!"
"Maka berikanlah sedikit karuniamu kepada saudari kami!"
Para peri itu pun mulai membaca sebuah mantra, tidak lama setelahnya Elena mulai merasakan sensasi hangat seperti ada sesuatu yang mengalir di dalam tubuhnya.
Perlahan partikel-partikel cahaya hijau terang berkumpul mengelilingi Elena dan para peri itu, tampak bayangan sulur-sulur kecil yang mulai tumbuh dari balik punggung mereka.
Sulur-sulur itu perlahan merambat menyelimuti tubuh peri yang tidak sadarkan diri tersebut, kemudian Elena membuka matanya, ia seketika terpaku dengan apa yang dilihatnya.
"Ini?"
Elena bergumam kecil menyaksikan sulur-sulur itu membungkus tubuh peri tersebut, rasanya ia pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Tiba-tiba sulur tersebut memancarkan cahaya hijau yang sangat menyilaukan, dan perlahan sulur-sulur tersebut menghilang menjadi partikel cahaya yang menguap di udara.
"Baiklah sudah selesai!"
"Eh?"
"Biarkanlah ia beristirahat dahulu!"
Para peri tersebut mengatakan bahwa ritualnya telah selesai, dan betapa terkejutnya Elena saat melihat seluruh luka yang ada pada tubuh peri tersebut hilang sepenuhnya, bagaikan seekor kupu-kupu muda yang keluar dari dalam kepompong.
Namun peri tersebut masih belum sadarkan diri, mungkin butuh beberapa waktu sampai ia terbangun.
"Apa yang baru saja terjadi?"
"Umm?"
Elena pun bertanya kepada para peri tersebut mengenai ritual tersebut, ia masih belum mengerti dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
"Ah..."
"Kami hanya menyalurkan sedikit inkarnasi kami padanya!"
"Dengan begitu luka yang ada di tubuhnya akan teregenerasi kembali!"
Kemudian salah satu dari mereka pun menjelaskan kepada Elena dengan senang hati.
"Apakah itu juga terjadi pada diriku?"
"Benar, selama masih ada tekad dan semangat yang kuat maka itu akan mendorong tubuh kita untuk terus bangkit!"
Elena pun mulai menyadari hal itu, alsan mengapa tubuhnya dapat terus beregenerasi adalah karena semangat dan tekad ysng ia miliki.
"Baiklah kalau begitu biarkan kami antar anda beristirahat!"
"Anda pasti kelelahan!"
Kemudian para peri itu pun ingin mengantar Elena dan peri yang terluka ke dalam kastil.
"Ah itu tidak perlu, saya baik baik saja!"
"Biarkanlah dia beristirahat!"
Namun Elena menolak tawaran itu, ia meyakinkan para peri tersebut bahwa dirinya baik-baik saja.
"Baiklah jika itu permintaan anda..."
Akhirnya beberapa dari mereka membawa peri yang terluka itu masuk ke dalam kastil.
"Apakah ini sudah berakhir?"
"Benar, kemenangan ada di pihak kita!"
Elena menatap ke arah padang rumput di depan sana, tampak banyak sekali mayat-mayat yang berserakan dan darah yang menggenang.
__ADS_1
Akhrinya pertempuran pun selesai, Sang Dewa Naga dan Elena bersama para pasukan peri telah berhasil melindungi pohon kehidupan dari invasi manusia dan mengusirnya dari Alfheim.