God Of Disaster

God Of Disaster
Sparta dan Onimusha.


__ADS_3

Sebuah badai yang besar menerpa sebuah kota, suara petir menggelegar saat menyambar bangunan-bangunan kota.


Kota yang semula damai kini luluh lantah tersapu badai, di saat yang bersamaan terjadi sebuah pertempuran besar antara penduduk aslu kota tersebut melawan pasukan Dewa Badai.


Duuaar~


"Taklukan seluruhnya!!"


"Dewa Badai bersama kita!!"


Para prajurit itu mengenakan baju zirah perak yang mengkilat dengan seluruh tubuh yang diselimuti oleh partikel-partikel listrik.


"Hiiiaaa!!!"


Perbandingan kekuatan mereka terlalu jauh sehingga para penduduk kota itu tidak dapat menahan serangan pasukan Dewa Badai.


"Tunduklah kalian pada Dewa Badai, atau matilah!!"


Ada seorang jenderal yang menggunakan zirah besar dan memegang sebuah pedang yang mengeluarkan kilatan-kilatan kecil di bilahnya.


Di hadapannya ada seorang prajurit yang berlutut dengan tangan terikat, jenderal itu pun mengangkat pedang miliknya dan meletakkan bilahnya tepat di atas leher prajurit tersebut.


Kemudian ia mengatakan kepada seluruh prnduduk kota yang menyerah untuk segera tunduk kepada pemimpin mereka, ketakutan yang amat besar tergambar jelas di wajah mereka.


Namun tidak ada satupun dari mereka yang merespon, mereka terlalu takut untuk menjawab, akhirnya jenderal itu pun mengangkat pedang miliknya dengan posisi siap menebas, ia akan memenggal kepala prajurit itu jika tidak ada yang menjawab.


"Kami tidak akan tunduk kepada kalian!!"


"Hmm?"


Tidak lama kemudian terdengar suara seseorang yang memotong pembicaraan, jenderal itu pun segera menoleh.


"Hoo?"


Seketika pandangan semua orang menuju kepada prajurit berdiri diantara para penduduk, meskipun seluruh tubuhnya gemetar ketakutan, namun dengan tekad yang kuat ia berani menentang perintah jenderal itu.


"Hei apa yang kau lakukan?"


"Apa kau sudah gila?!!"


Para penduduk yang ketakutan memaki-maki prajurit itu, apa yang dilakukannya hanya akan menambah penderitaan, mereka memilih untuk mematuhi perintah pasukan Dewa Badai daripada harus mati sia-sia.


"Ini adalah tanah air kita, kita harus mempertahankannya hingga titik darah penghabisan!!"


"Berhentilah bersikap bodoh, kita hanya akan dihabisi oleh mereka!!"


Para penduduk menjadi semakin marah kepada prajurit tersebut, namun ia tidak mengubah pendiriannya sekalipun.


"Hei bocah, aku beri kau kesempatan!!"


"Menyerahlah, atau semuanya akan mati!!"


Kemudian jenderal itu mengatakan sesuatu kepada prajurit tersebut, ia kembali mengambil posisi siap untuk menebas kepala sandera itu.


Pasukan Dewa Badai pun segera mengangkat senjata mereka dan mengepung para penduduk tersebut, mereka semua bersiap untuk membantai seluruh penduduk yang menentang.


"Kumohon, selamatkan aku....."


"Ampuni nyawaku....."


"Kumohon...."


Prajurit yang di sandera itu pun menangis ketakutan, ia mengemis belas kasihan kepada jenderal itu.


"Victo, menerahlah....."


"Satu.... duaaa...."


"Kumohon....."


"Hei!!!"


Jenderal itu pun mulai berhitung, detik demi detik terus berlalu, waktu mereka sudah tidak lama lagi, pilihan hidup atau mati ada di tangan prajurit tersebut.


"Aku tidak akan pernah tunduk kepada kalian!!"


"Tidak akan!!!"


Prajurit itu menggigit bibirnya dengan kuat, ia dipaksa memilih menyerah atau mati, dan akhirnya dengan lantang ia menyatakan menolak tunduk kepada mereka hingga akhir.


"Tidakk...."


"Khhhaaaaa..."


"Huuaaaaa..."


"Selamatkan kami...."


"Agghhhh...."


Mendengar jawaban prajurit itu, jenderal tersebut langsung mengayunkan pedang miliknya dengan sangat cepat dan memenggal kepala sandera itu hingga putus.


Tidak lama kemudian pasukan Dewa Badai yang lain mulai menyerang para penduduk dengan sangat kejam, satu per satu korban berjatuhan.


"Hiiiaaaa...."


Sing~


Sing~


"Khhaaa..."


Prajurit itu pun mencoba melawan pasukan Dewa Badai dengan sebisa mungkin, namun tekadnya tidak cukup untuk mengalahkan jumlah mereka yang terlalu banyak.


"Pergilah kalian para penjajah!!!"


"Khhhhaaa..."


Seseorang dari pasukan Dewa Badai berhasil menebas tangan prajurit itu hingga putus, kemudian menusuk dadanya dari belakang hingga membuatnya berlutut.


"Hahahaha..."


"Kau memang pemberani sebagai seorang kestria!!"


"Tapi terlalu bodoh untuk seorang manusia!!"


Jenderal itu menertawakan prajurit tersebut, ia berjalan mendekatinya sembari membawa potongan kepala sandera yang baru saja ia bunuh.


"Lihatlah apa yang kau lakukan!"


"Karena kebodohanmu semua orang mati sia-sia!!"


Kemudian jenderal itu pun melemparkan potongan kepala di tangannga ke arah prajurit tersebut, prajurit itu menatap wajah rekannya yang telah mati sembari menahan rasa kesal.


"Kau sungguh kejam!!"


"Khhhaaa...."


Prajurit itu mencoba bangkit dan menyerang jenderal tersebut, namun salah seorang kembali  menusukkan tombak di dadanya dengan sangat dalam sehingga dirinya kehilangan tenaga dan jatuh.


Beruntungnya tombak itu tidak mengenai jantung prajurit tersebut, namun cepat atau lambat dirinya pasti akan mati.


"Khuhuk..."


"Sialan!!!"


"Aku tidak akan memaafkan kalian!!"


Darah terus mengalir dari luka di dadanya, tubuhnya kini lemas tidak bertenaga dengan sebuah tombak yang masih menancap di dadanya.


Namun prajurit itu tidak berhenti melawan, dengan segala tenaga yang di miliki, ia mencoba bangkit.


"Tidak ada tempat untuk orang lemah di dunia ini!!"


"Mereka yang memiliki kekuatan akan berkuasa di atas segalanya!!"


"Kecewalah karena kau terlahir sebagai orang lemah!!"


"Kau tidak lebih dari seorang pecundang!"


Jenderal itu mencekik prajurit tersebut dengan sangat kuat hingga tubuhnya terangkat, prajurit itu meronta-ronta mencoba melepaskan diri, namun itu sia-sia, perlahan dirinya mulai kehilanga kesadaran sebelum akhirnya benar-benar mati.


"Sepertinya kau sangat menikmatinya!"


"Hmm..."


Tidak lama kemudian terdengar suara milik seorang, seketika semua orang menoleh ke arah suara itu.

__ADS_1


"Hoho lihat siapa yang datang!"


"Kau adalah pengikut Dewi Rubah benar bukan?"


Seorang berpakaian kimono yang mengenakan topeng rubah berdiri di atas sebuah gerbang kuil.


 Jenderal itu sepertinya mengenalinya, ia mencoba berbicara kepada orang tersebut sembari menunjukkan ekspresi gembira.


"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan di sini?!"


"Kami hanya menjalankan tugas kami sebagai pengikut setia Dewa Badai!"


"Kami peringatkan kalian untuk segera pergi dari sini, atau akan ada darah yang tumpah kembali!!"


Orang itu memberi peringatan kepada pasukan Dewa Badai untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Hmmp, perintah beliau adalah mutlak, kau tidak berhak menentang kami!!"


"Begitu, maka matilah bersama keyakunanmu!!"


Namun pasukan Dewa Badai tidak menghiraukannya, dengan kebanggaan diri jenderal itu menolak untuk pergi.


Orang itu pun segera mencabut katana miliknya dari dalam sarungnya, karena tidak ada lagi negosiasi diantara mereka, maka tidak ada pilihan lain selain berperang.


Tidak lama kemudian sebuah angin berhembus kencang menciptakan ilusi bunga yang berterbangan, dari balik kabut itu tampak pasukan Dewi Rubah yang lain dengan jumlah yang sangat banyak.


"Demi kejayaan Dewa Badai!!"


"Hiiaaaa!!!"


Pasukan Dewa Badai segera bersiap untuk menyerang, sang jenderal pun mengangkat pedangnya ke atas, seketika awan badai berkumpul, sebuah petir menyambar pedang milik jenderal itu dengan sekejam mata.


Seluruh tubuh jenderal tersebut diselimuti oleh energi listrik yang mengeluarkan percikan-percikan kecil.


"Hiiihhaaa....."


Dari pusaran awan badai itu muncul seekor kuda yang seluruh tubuhnya diselimuti energi listrik berlari di udara menuju ke arah jenderal tersebut.


"Hahaha, rasakanlah murka Sang Dewa Badai!!"


"Serang!!!"


Dengan menaiki kuda miliknya jenderal tersebut memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan Dewi Rubah.


"Onimusha!!"


Pria itu melepaskan topeng rubah miliknya, tidak lama kemudian hembusan angin yang menerbangkan bunga-bunga indah mengelilingi tubuhnya.


Seketika cahaya merah memancar di sekelilingnya membuat pakaian miliknya berubah, dari lengan miliknya membentuk sebuah zirah khusus berwarna merah dengan paduan emas, di wajahnya terdapat sebuah topeng unik yang menyerupai wajah iblis dengan helm yang memiliki dua tanduk panjang menjulur ke atas.


Para pengikut Dewi Rubah yang lain juga ikut berubah, mereka mengenakan zirah yang serupa nanum dengan bentuk ornamen yang berbeda-beda.


Zirah itu melambangkan jiwa kesatria yang gagah berani dan rela berkorban, mereka disebut sebagai Samurai.


"Hiaaa!!!"


Sing~


Sing~


Pertempuran sengit pun terjadi, pasukan Dewa Badai menyerang pasukan Dewi Rubah dengan sangat agresif.


"Hiiiaaaa!!!"


"Hmmpp...."


Jenderal pasukan Dewa Badai yang menunggangi kuda miliknya bertarung melawan pemimpin pasukan Samurai.


Ia menghentakkan kuda miliknya dengan sangat kuat sehingga menyebabkan tanah di sekitarnya berguncang, retakan tanah itu menyebar menuju ke arah Pemimpin Samurai tersebut.


Namun sebelum serangan itu mengenainya, Samurai itu berhasil menghindar dengan sekejap mata, bahkan gerak tubuhnya terlihat sangat halus dan tenang.


"Terima ini!!"


Sing~


Seketika Jenderal itu mengayunkan pedang miliknya ke arah Samurai tersebut, dengan cepat ia menarik katana miliknya dan langsung menangkis serangan itu.


"Khhh..."


Tidak sampai di situ kuda milik Jenderal tersebut berhasil menyeruduk Samurai itu hingga membuatnya sedikit terdorong ke belakang, namun Samurai itu berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya.


"Baiklah aku akan menunjukkan kemampuanku yang sesungguhnya!!"


Jenderal itu mencoba memprovokasi Samurai tersebut, kemudian Samurai itu menjawabnya dengan tenang dan tidak mudah terpancing.


"Tebasan seribu bayangan!!"


"Huh?"


Samurai itu segera mengambil posisi kuda-kuda, ia memasukkan kembali katana miliknya ke dalam sarungnya, kemudian ia merendahkan posisi tubuhnya.


Jenderal itu hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Samurai tersebut, namun itu membuatnya lengah, dengan sekejap mata Samuran itu menerjang ke arah Jenderal tersebut.


Angin berhembus kencang seiring gerakan Samurai tersebut, dengan cepat Jenderal itu mencoba menghindar, namun serangan itu berhasil menggores zirahnya di bagian dada dengan sangat dalam.


"Cih, lumayan juga!!"


"Aku akan serius kali ini!!"


"Hiiaa!!"


Beruntung zirah miliknya sangat kuat sehingga tubuhnya terlindungi dari serangan milik Samurai tersebut, Jenderal itu segera berbalik dan menyerang.


"Kilatan petir!"


Duar~


Jenderal itu mengayunkan pedang miliknya, seketika sebuah kilatan petir menyebar dari bilah pedangnya dan menyerang Samurai tersebut.


"Tebasan burung walet!!"


"Khhh...."


Samurai itu segera memutar katana yang masih menahan pedang milik Jenderal tersebut dengan sangat indah membentuk gerakan seperti burung walet yang sedang terbang, seketika ia menghunuskan katana itu ke arah kuda milik Jenderal tersebut.


"Hiiihhaaaa....."


Kuda itu berhasil tertusuk oleh katana tepat di bagian lehernya sehingga terdengar suara jeritan yang sangat keras, seketika Jenderal itu melompat dari kuda miliknya.


"Huh?"


Duar~


Duar~


Duar~


Tiba-tiba kuda itu memancarkan cahaya terang bersama kilatan-kilatan petir yang menyelimuti tubuhnya, seketika kuda itu pun menghilang.


Namun awan hitam segera berkumpul di atas mereka, awan itu menghujani Samurai tersebut dengan kilatan petir yang bertubi-tubi.


Samurai itu pun mencoba menghindari hjnan petir yang menyambar dirinya, namun Jenderal itu tidak membiarkannya begitu saja, ia langsung melancarkan serangan kepada Samurai tersrbut.


"Hiiaaa!!!"


"Naga petir!!"


Jenderal itu melompat ke arah Samurai tersebut sembari mengayunkan pedang miliknya, seketika kilatan energi listrik berkumpul pada bilah pedsng miliknya dan tercipta sebuah bayangan menyerupai naga.


Duar~


"Khhhaaa....."


Samurai itu mencoba menahan serangan tersebut dengan katana miliknya, namun energi listrik itu mengalir melalui bilah katana dan seakan melahapnya.


Seluruh tubuhnya tersengat oleh energi listrik yang sangat kuat membuatnya tidak bisa bergerak.


"Habislah kau!!"


"Hiiaaa!!!"


Jenderal itu langsung menghunuskan pedang miliknya disaat Samurai tersebut tidak bisa bergerak, pedangnya berhasil menembus dada Samurai itu.


"Huh?"


"Ilusi?"

__ADS_1


Namun tiba-tiba tubuh Samurai tersebut berubah menjadi gunpalan awan yang meleleh tertiup angin.


Seketika kabut tebal menyelimuti daerah di sekitarnya membuat pandangan mata terhalangi, Jenderal tersebut pun segera meboleh ke segala arah untuk mencari keberadaan Samurai tersebut.


Para pasukan Dewa Badai yang lain juga merasa kesulitan melihat keadaan sekitar karena terhalangi oleh kabut tebal.


"Dimana mereka?!"


"Huh?"


"Khhhaaaa...."


"Aghhh...."


Satu per satu prajurit itu bergelimpangan tanpa sebab, suara jeritan mulai terdengar di seluruh medan pertempuran.


"Cih dimana kau!!"


Sing~


"Khhh...."


Tiba-tiba dari dalam kabut tampak sebuah katana yang berayun ke arah Jenderal tersebut, dengan cepat Jenderal itu pun menghindarinya.


Sing~


Sing~


Serangan bertubi-tubi terus berdatangan dari segala arah, Jenderal tersebut mencoba menahan  sembari mencari darimana datangnya serangan tersebut.


Kabut yang tebal sangat menguntungkan bagi para Samurai, keberadaan mereka dapat disamarkan dengan baik.


"Cih!!"


"Angin Dewa!!"


Jenderal itu mengayunkan pedang miliknya ke segala arah, seketika sebuah pusaran angin terbentuk dan menghempaskan seluruh kabut yang mengelilingi mereka.


Seketika semuanya kembali seperti semula, kabut itu menghilang tanpa sisa.


"Sialan kau!!!"


"Beraninya kau mempermainkanku!!"


Tiba-tiba Jenderal itu melihat Samurai tersebut sedang duduk di atas gerbang kuil dengan santai seakan tidak terjadi apapun.


Kemudian Samurai itu berdiri dari tempat duduknya, ia pun mencabut pedang miliknya dan segera menyerang Jenderal tersebut.


"Hiiaaa!!!"


Mereka bertarung dengan sangat sengit, Samurai itu melancarkan serangan yang sangat cepat bahkan hampir mustahil untuk dibaca, sedangkan Jenderal tersebut memiliki daya kerusakan yang sangat besar di setiap tebasannya karena efek dari energi listrik yang dipancarkannya.


Duar~


Duar~


Duar~


Petir menyambar di seluruh tempat tanpa henti menghancurkan segalanya yang disentuhnya, dan angin yang sangat kuat menyapu bersih bangunan-bangunan yang ada.


"Tebasan Seribu Bayangan!!"


"Pusaran Angin!"


Samurai tersebut mencoba menebas perut Jenderal tersebut, namun serangannya berhasil ditahan dengan baik, seketika Jenderal tersebut melancarkan serangan balasan.


Ia menusukkan pedangnya di dada Samurai tersebut dan menghempaskannya ke belakang, Samurai tersebut masih bisa bertahan sembari mencoba mencabut pedang yang menancap di dadanya.


"Guntur Bumi!!"


"Khhhaaa...."


Namun saat ia mencoba mencabut pedang itu, tiba-tiba sebuah petir menyambar dirinya dalam sekejap.


"Hahaha...."


"Dasar lemah!!"


"Kau tidak pantas menjadi lawanku!!"


Jenderal tersrbut merasa angkuh di hadapan Samurai yang sedang berlutut tersebut, ia mengira bahwa dirinya telah mengalahkan Samurai itu dengan sangat mudah.


"Hal seperti ini tidak berpengaruh padaku!!"


"Hmm?"


Tiba-tiba Samurai itu mencabut pedang yang masih tertancap di dadanya dan melemparkannya ke arah Jenderal tersebut, seketika dirinya terkejut melihat Samurai itu masih bisa berdiri.


Perlahan luka di tubuhnya mulai teregenerasi, Samurai itu memancarkan aura yang sangat besar, tiba-tiba kabut tebal kembali bermunculan menyelimuti daerah di sekitar.


Samurai itu menerjang ke arah Jenderal tersebut dengan sangat cepat, dengan sigap jenderal tersebut mengayunkan pedang miliknya dan menebas tubuh Samurai tersebut.


"Huh?"


Namun serangan itu terlalu cepat sehingga tubuhnya tersayat oleh katana dengan sangat dalam pada bagian dadanya, Jenderal itu segera membalikkan badan dan menebas tubuh Samurai tersebut, namun tiba-tiba ia menghilang menjadi kabut.


"Lagi?!!"


"Sialan!!"


Bayangan samurai itu terus bermunculan tanpa henti, mereka menyerang Jenderal tersebut dari segala arah bertubi-tubi, hingga akhirnya kabut itu perlahan mulai menghilang.


Seketika tampak dua sosok pria yang sedang berdiri saling membelakangi satu sama lain, Samurai itu dengan santai memasukkan katana miliknya ke dalam sarungnya.


"Khhhaaaa...."


"Pelahap Jiwa!!"


Tiba-tiba Jenderal tersebut memuntahkan darah dari mulutnya, di saat yang bersamaan darah menyembur keluar melalui bekas sayatan yang ada di seluruh tubuhnya.


Jenderal itu pun perlahan kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur, luka di tubunya sangat dalam membuat darah tidak bisa berhenti mengalir.


"Bagaimana bisa....."


"Waktu bermain telah selesai!!"


"Tidak mungkin...."


Jenderal tersebut terbaring di tanah sembari mencoba merangkak mendekati pedang miliknya, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Aku tidak mungkin kalah hanya karena ini!!"


"Tidak akan!!"


"Wahai Dewa Badai!!"


"Berikan aku kekuatan!!"


Ia terus merangkak mencoba mengambil kembali pedang miliknya yang jatuh, dengan cepat Samurai itu mengayunkan katananya ingin menebas leher Jenderal tersebut.


"Grrraaaa!!!"


"Huh?"


Namun tiba-tiba awan hitam berkumpul membentuk sebuah pusaran angin yang sangat kuat, dari pusaran itu muncul seekor makhluk raksasa menyerupai ular naga yang akan memangsanya.


Makhluk itu menyerang bertubi-tubi, saat dia membuka mulutnya tampak srbuah kilatan energi listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya, energi itu terus berkumpul di mulutnya membentuk sebuah bola cahaya berwarna biru yang sangat terang.


"Graaaa...."


Duar~


Duar~


Duar~


Kemudian makhluk itu melepaskan bola energi tersebut ke arah Samurai yang berdiri di hadapannya, kilatan petir mengalir melaui tanah dan terus merambat dengan sangat cepat, tanah di sekitarnya berguncang membuat Samurai tersebut kesulitan mempertahankan posisinya.


"Hiiiaaaa!!!"


Saat aliran energi itu hampir menyambar dirinya, Samurai tersebut pun menancapkan katana miliknya ke tanah, seketika aliran energi tersebut terbelah menjadi dua bagian dan menyambar bangunan di sekitarnya, bangunan-bangunan itu langsung hancur dan terbakar dalam sekejap mata.


Di sisi lain Jenderal itu telah bangkit, seluruh tubuhnya memancarkan energi listrik yang sangat besar, bahkan setiap darah yang menetes berubah menjadi kilatan cahaya biru yang sangat mengerikan.


"Dewa Badai selalu bersamaku!!"


"Sekarang aku tidak terkalahkan!!"

__ADS_1


Mahkluk raksasa itu mengelilingi Jenderal tersebut seakan menandakan ia ada di pihaknya, aura yang sangat besar terpancar dari Jenderal itu, pusaran angin yang sangat kuat menghempaskan segalanya yang ada di dekatnya.


Samurai itu pun segera bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


__ADS_2