
Seorang gadis berambut emas duduk di atas tempat tidurnya, ia menggenggam sebuah liontin berwarna merah di tangannya. Gadis itu terus memandangi liontin tersebut dengan ekspresi gelisah, sepertinya ia sedang merindukan seseorang.
"Haaahhh....."
"Bagaimana kabar mereka sekarang...."
Gadis itu menghela napas berat, mencoba mengingat orang-orang yang ia rindukan membuat dadanya semakin sesak.
Tok~
Tok~
"Permisi tuan putri....."
"Ummm.... Masuklah...."
Tidak lama kemudian terdengar suara seseorang mengetuk pintu, gadis itu pun menyadarinya dan ia mempersilahkan orang itu masuk, ia pun segera menyembunyikan liontin itu di balik kerah bajunya.
"Ada apa?"
"Sudah waktunya untuk pergi ke kuil."
"Ah baiklah saya akan bersiap-siap..."
Seorang pelayan wanita meminta gadis itu untuk pergi ke kuil, mendengar hal itu gadis itu pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan mengganti baju.
Beberapa saat kemudian gadis itu telah tiba di kuil, ia ditemani oleh seorang pelayan berjalan memasuki pintu kuil, di sana ada banyak orang yang juga sedang melaksanakan ibadah.
"Selamat siang Putri Katarina...."
"Hai selamat siang!"
Para penduduk yang ada di kuil tersebut menyapa Katarina dengan ramah, mereka sepertinya mengenalnya dengan baik, ia pun membalasnya dengan senyuman manis di wajahnya.
Setelah itu Katarina berjalan ke depan dan berlutut di sebuah altar, menghadap ke arah patung seorang dewa yang menggenggam tombak emas di tangannya, para jamaah yang lain juga berbaris mengikuti Katarina di belakangnya sembari mengepalkan kedua tangannya kemudian berdoa.
Kebanyakan dari mereka didominasi oleh para wanita yang sepertinya adalah pengurus kuil tersebut, pakaian mereka tampak seragam dengan ornamen-ornamen emas yang menghiasinya.
Setelah Katarina selesai beribadah ia pun hendak pergi meninggalkan kuil tersebut, ia tidak sengaja bertemu dengan seorang kesatria yang akan mengunjungi kuil.
"Selamat siang Tuan Robert...."
"Selamat siang Putri Katarina!"
"Apakah anda akan beribadah?"
"Benar, saya akan berdoa sebelum pergi melaksanakan tugas."
"Ah begitu..."
Katarina berbincang dengan kesatria tersebut, sifatnya yang ramah dapat membuat orang lain nyaman dan menaruh hormat kepadanya.
"Bagaimana hari anda?"
"Akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi...."
"Terlebih lagi daerah perbatasan menjadi tidak aman lagi sekarang!"
"Eh benarkah?"
"Apa yang terjadi?"
Saat kesatria itu memberi tahu Katarina tentang sesuatu seketika ia pun terkejut, ekspresi wajahnya tampak khawatir, sepertinya itu adalah situasi yang berbahaya.
"Kerajaan Wallacia terus mencoba melakukan ekspansi ke negara-negara kecil di sekitarnya!"
"Kami takut mereka akan menyerang kita suatu saat nanti!"
"Kami lihat banyak tentara Kerajaan Wallacia dalam jumlah yang sangat besar sedang menuju ke suatu tempat, dan itu sangat mengkhawatirkan!"
"Begitu kah..."
"Namun kami terus mencoba mengirimkan delegasi kepada mereka dan meminta perjanjian damai agar tidak terjadi hal buruk suatu saat nanti..."
Katarina merasa semakin khawatir atas apa yang kesatria itu katakan, ia mengetahui sebuah ancaman yang sangat besar akan datang.
"Tidak perlu khawatir!"
"Kami berjanji akan melindungi negeri ini dengan jiwa raga kami apapun yang terjadi!!"
"Demi perdamaian dan masa depan Putri yang cerah, kami akan menjaganya!!"
"Terima kasih banyak tuan...."
"Saya merasa sedikit tenang....."
"Semoga tidak terjadi hal buruk...."
"Saya mendoakan keselamatan bagi anda....."
Kesatria itu mencoba meyakinkan Katarina agar semua baik-baik saja, mendengar hal itu membuatnya merasa sedikit tenang, Katarina pun mendoakan keselamatan kesatria itu dalam menjalankan tugasnya.
"Ahhh, terima kasih banyak...."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu...."
"Baik, semoga harimu menyenangkan!"
Katarina menundukkan kepala pada kesatria itu dan berpamitan pergi, kesatria tersebut pun akhirnya memasuki kuil untuk beribadah.
Sesampainya di rumah, Katarina pergi menemui ayahnya, ia adalah seorang pendeta besar di Negeri Lyonesse, keluarga Katarina terkenal sebagai pemuka agama yang dipercaya untuk menjaga kuil Dewa Kebijaksanaan selama berabad-abad lamanya. Dan Katarina adalah penerus yang ke 12 dalam keluarganya, sebentar lagi ia akan dilantik menjadi seorang pendeta kuil untuk menggantikan ayahnya.
"Katarina!"
"Iya ayah...."
"Sebentar lagi upacara pelantikan akan dilaksanakan, apakah kamu sudah siap mengemban takdir ini?"
"Saya sudah siap ayah..."
Katarina berlutut di hadapan ayahnya, dengan tenang ayahnya memberikan pertanyaan kepada Katarina agar ia siap untuk mengemban takdirnya.
"Baiklah kalau begitu kemarilah...."
"Baik...."
Kemudian ayahnya menyuruh Katarina untuk mendekat kearahnya, Katarina pun bangkit dan tiba-tiba ayahnya memeluknya dengan erat, Katarina sedikit terkejut akan hal itu namun dirinya merasakan sebuah kehangatan dan kasih sayang yang besar dari seorang ayah.
"Kamu sudah besar Katarina!"
"Mulai sekarang akan ada banyak rintangan yang harus kamu hadapi, meskipun kamu akan merasakan putus asa atas penderitaan yang amat pedih itu."
__ADS_1
"Namun ketahuilah, sebesar apapun cobaan yang kamu alami tetap ada jalan keluarnya!"
"Kamu harus percaya pada dirimu sendiri!"
"Baik ayah...."
Ayahnya pun mencium kening Katarina sembari memberikan nasehat kepadanya, tampak ekspresi wajahnya yang terharu mendengar hal itu, kedua matanya pun mulai meneteskan air mata kebahagiaan.
"Kakak!"
"Umm?"
Tidak lama kemudian terdengar suara gadis memanggil Katarina, tampak gadis yang tampak lebih muda dari Katarina itu berlari menuju kearahnya dengan ekspresi ceria.
"Selamat kakak!"
"Ah terima kasih banyak Guinevere...."
"Saya sangat bangga kakak akan menjadi seorang pendeta!"
"Saya ingin menjadi seperti kakak suatu hari nanti!"
"Hehehe.... Kelak kamu juga akan menjadi seorang putri yang hebat!"
Gadis itu memeluk Katarina dengan erat dan mengucapkan selamat kepadanya, senyuman di wajahnya yang masih lugu membuat hati Katarina bahagia.
Gadis itu adalah adik dari Katarina, karena tidak ada pewaris laki-laki di keluarga mereka maka Katarina lah yang terpilih menjadi seorang pendeta karena ia anak tertua.
"Eh kakak, mari kita pergi mengunjungi makam bunda!!"
"Kita harus memberi tahunya, bunda pasti senang!"
"Ah baiklah, kalau begitu kita pergi sekarang saja."
"Baik!"
Tidak lama kemudian adik Katarina mengajaknya pergi ke suatu tempat, mereka pun bergegas menuju ke sana dengan hanya berdua saja.
"Guinevere tunggu!!"
"Jangan berlari!!"
"Hehehe..... Saya tidak sabar untuk segera sampai di sana!!"
"Ayo kakak cepatlah!!"
Katarina dan adiknya berjalan di alun-alun kota yang damai, mereka menikmati perjalanan dengan ceria, banyak sekali orang yang berkumpul melakukan aktivitas mereka, adiknya yang periang tampak sangat bersemangat, ia berlarian diantara kerumunan orang meninggalkan Katarina di belakang.
Akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang cukup luas, banyak sekali bunga-bunga indah yang menghiasi tempat itu, di sana terdapat banyak batu nisan besar yang tersusun di tengah-tengah taman.
Katarina dan adiknya mencari makam milik ibu mereka, dan mereka pun segera menemukannya, Katarina memetik beberapa bunga dari taman itu dan meletakkannya di atas batu nisan milik ibunya, kemudian mereka berlutut dan mulai berdoa.
"Bunda, kami telah menjalani kehidupan yang baik..."
"Hari demi hari telah kami lewati, dan kami tumbuh dengan cepat..."
"Terus perhatikan kami dari kejauhan bunda...."
"Kami akan selalu berusaha membuat bunda bangga..."
"Dan semoga bunda tenang di sana...."
Katarina kembali meneteskan air mata saat berbicara kepada ibunya, rasa kesedihan, kebahagiaan, rindu, dan penyesalan bercampur aduk di dalam hatinya, apa yang bisa mereka lakukan hanyalah berdoa untuk seseorang yang tidak akan pernah kembali pada mereka.
"Silahkan dinikmati...."
"Terima kasih banyak."
Dewi Rubah menyuguhkan secangkir teh hijau kepada mereka, ini semacam acara penyambutan yang dilakukan untuk menghormati tamu.
Kemudian Sang Dewa Naga dan Elena mulai menikmati teh tersebut, keduanya tidak lagi curiga kepada Dewi Rubah karena tidak terdapat racun di dalam teh tersebut.
"Bagaimana rasanya?"
"Ummm... Sangat nikmat...."
"Syukurlah semoga anda menyukainya..."
Elena terkejut saat Dewi Rubah bertanya kepadanya, ia pun menjawab dengan sedikit terbata-bata, Elena masih merasa canggung dengan Dewi Rubah.
"Selagi ada waktu luang sebaiknya kalian beristirahat!"
"Kami memiliki pemandian air panas untuk merilekskan tubuh!"
"Sepertinya aku akan tetap di sini untuk sementara waktu!"
"Elena, pergilah bersama Inari dan beristirahatlah!"
"Ah baik terima kasih."
Sang Dewa Naga menolak tawaran dari Dewi Rubah, kemudian beliau pun menyuruh Elena saja untuk pergi ke pemandian bersama Dewi Rubah, dan Elena pun menyetujuinya.
"Kalau begitu saya akan mengantar anda."
Kemudian Dewi Rubah pun pergi bersama Elena ke pemandian air panas, beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah kolam yang cukup luas dengan pemandangan alam yang sangat Indah.
Elena mulai melepaskan semua pakaian miliknya dan berendam ke dalam kolam tersebut, tampak keelokan tubuhnya yang sempurna dengan kulit yang bersinar, ia duduk di dasar kolam hingga air naik ke batas payudara miliknya yang sangat besar, Elena melepas penat dengan menikmati pemandangan alam.
"Bolehkah saya duduk di samping anda?"
"Ummm.... Silahkan..."
Elena terkejut saat Dewi Rubah tiba-tiba ada di sampingnya, dengan gugup ia mempersilahkan Dewi Rubah untuk berendam bersama dengannya. Pesona tubuh Dewi Rubah tidak kalah indahnya dengan Elena, aura kedewasaan terpancar dirinya dengan bentuk tubuh yang sangat menggoda, sungguh pemandangan yang menakjubkan.
"Elena-san!"
"Ah, ummm...."
"Anda bisa memanggil saya dengan Inari!"
"Baik, ada apa Nyonya Inari?"
Elena kembali terkejut saat Dewi Rubah memanggilnya, perasaan canggung diantara mereka berdua masih tampak jelas, Elena tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Dewi Rubah, bagaimanapun mereka pernah berseteru sebelumnya.
"Maaf tiba-tiba...."
"Anda pasti masih merasa canggung dengan saya!"
"Ti-tidak bukan begitu...."
"Saya hanya saja merasa sedikit gugup..."
__ADS_1
Elena membantah pernyataan Dewi Rubah, ia mencoba menyembunyikan perasaannya dengan memalingkan tatapan kearah lain.
"Sebelumnya saya meminta maaf atas semua yang saya lakukan kepada anda!"
"Eh? Tidak, anda tidak perlu melakukannya!"
"Angkatlah kepala anda!"
"Tidak apa, waktu itu diriku dikendalikan oleh kepribadian ku yang lain!"
"Kecemburuan dan obsesi akan seseorang menyebabkan ku tidak bisa mengendalikan diri!"
Dewi Rubah menundukkan kepala dihadapan Elena, ia meminta maaf atas apa yang pernah ia lakukan kepadanya, Elena pun merasa tidak enak dengan permintaan maaf itu.
"Sekarang anda tidak perlu takut kepada saya, diriku yang sekarang sudah berbeda dengan yang sebelumnya!"
"Ah baiklah...."
"Saya juga mohon maaf kepada anda, mungkin saya telah melakukan sesuatu yang membuat anda membenci diriku!"
Elena menerima permintaan maaf itu dengan besar hati mereka berdua saling meminta maaf satu sama lain agar tidak ada lagi kecanggungan yang membuat mereka sulit berinteraksi.
"Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan kepada anda!"
"Hmm?"
"Saya mencintai Dewa Naga Ozario!"
Saat Dewi Rubah selesai berkata Elena kembali terdiam seribu bahasa, apa yang baru saja ia dengar membuat jantungnya berdentum keras.
"Saya tidak ingin terjadi permusuhan diantara kita, maka dari itu saya mengatakannya kepada anda sekarang!"
"Saya benar-benar mencintai Ozario!"
"Saya akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan hati beliau!"
Dewi Rubah menatap Elena dengan serius, ia mengutarakan seluruh isi hatinya, perasan itu sangat kuat hingga membuat Elena merinding, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ummm...."
"Me-mengapa anda mengatakan hal itu kepada saya?"
"Saya ingin mendengar jawaban anda!"
Dewi Rubah meminta Elena untuk memberikan jawaban atas pernyataannya itu, namun Elena mencoba menghindar darinya.
"Saya...."
"Saya tidak bisa menjawabnya...."
"Katakanlah Elena-san, anda adalah permaisuri beliau!"
"Ummmm...."
"Ingatan saya belum pulih sepenuhnya!"
"Saya memang mengingat bahwa saya adalah reinkarnasi permaisuri beliau...."
"Namun sampai sekarang saya masih belum yakin, apakah saya benar-benar pantas berada di samping beliau...."
"Saya hanyalah manusia biasa, tidak spesial seperti anda...."
Elena menatap bayangan dirinya dengan sedih, mengingat dirinya bukanlah siapa-siapa, memang benar ia adalah reinkarnasi dari seorang Ratu Peri, namun di dalam hatinya ia tetap merasa tidak pantas bersanding dengan seorang Dewa.
"Elena-san!"
"Eh?"
Tiba-tiba Dewi Rubah meraih tangan Elena, hal itu membuatnya terkejut, Elena pun menatap ke arahnya, tampak senyuman manis di wajah Dewi Rubah.
"Anda tidak boleh menyangkal hal itu!"
"Fakta bahwa Ozario telah memilih anda andalah benar, maka dari itu anda harus lebih percaya diri lagi!"
"Mari kita berjuang bersama-sama untuk mendapatkan hati beliau!"
"Daripada kita harus bersaing satu sama lain, lebih baik kita berbagai kebahagiaan!"
"Bukankah itu Indah Elena-san?"
Dengan penuh percaya diri Dewi Rubah membujuk Elena, jika ada banyak orang yang menyukai Sang Dewa Naga mengapa tidak memilih semuanya, hal itu lebih mudah daripada harus memilih salah satunya.
"Ba-baiklah.... Saya menyetujuinya...."
"Khihihi.... Terima kasih banyak Elena-san!"
"Mulai sekarang mohon bantuannya!"
"Baik...."
Dewi Rubah merasa sangat senang dengan jawaban Elena, ia pun tersenyum kepadanya dan langsung memeluk Elena, sensasi sentuhan kulit yang lembut dan kehangatan tubuh mereka membuat suasana menjadi sangat nyaman, ditambah lagi masing-masing ukuran payudara mereka yang sangat besar saling berhimpitan dengan erat.
Setelah perbincangan yang panjang, akhirnya mereka berdua menghabiskan hari dengan bersantai.
Di sebuah ruang tahta yang megah terdapat seorang kesatria yang berlutut menghadap sang Raja, ruangan itu tampak sangat gelap dan menyeramkan, hanya terdapat bayangan wajah Raja yang samar.
"Lancelot!!"
"Baik yang mulia...."
Raja itu menatap kesatria tersebut dengan tajam, aura mengerikan terpancar dari dirinya, siapapun yang melihatnya pasti sadar bahwa ia adalah orang uang jahat.
"Aku berikan kau sebuah tantangan!"
"Apa itu yang mulia?"
"Taklukanlah Negeri Lyonesse!!"
"Jika kau berhasil menaklukkannya dalam waktu satu minggu maka aku akan memberimu kekuasaan!!"
"Kau berhak memimpin wilayah itu!"
Raja itu memberikan sebuah tantangan kepada kesatria tersebut untuk menaklukkan sebuah negeri, dan jika ia berhasil menyelesaikan tugasnya sesuai dengan waktu yang telah di tentukan maka ia akan diberikan sebuah kekuasaan.
"Sesuai keinginan anda yang mulia...."
Dengan wajah serius kesatria itu menanggapi perintah raja tersebut, tampak semangat yang besar di wajahnya, aura kejahatan terpancar di matanya, seakan-akan itu adalah tantangan yang mudah.
"Kalau begitu pergilah!!"
"Baik...."
__ADS_1
Kemudian kesatria itu bangkit dan pergi meninggalkan ruangan tersebut, raja itu tampak sangat mempercayai kesatria itu, dengan senyuman liciknya ia mulai meneguk darah yang terdapat di cawan emas yang ia pegang.