
Peperangan terus berlanjut, Elena yang melihatnya dari kejauhan merasa sangat khawatir, ia menatap ke arah sang dewa naga yang sedang bertarung dengan sengit bersama seseorang.
Kondisi medan pertempuran sangat kacau, mayat-mayat berjatuhan dari kedua belah pihak, banyak hewan-hewan dan peri yang tewas, begitu pula dengan pasukan manusia.
"Grraaaa!!!"
"Awass!!!"
"Hiaaa!!!"
Para pasukan manusia yang berusaha menerobos barisan pertahanan peri harus berhadapan dengan Hydra, hal itu membuatnya menjadi sangat sulit karena keganasan Hydra yang memangsa siapapun di dekatnya.
"Flapping Wings"
Seseorang kesatria yang membawa tombak memutar-mutarkan tombak miliknya ke segala arah, kemudian ia mengayunkannya menuju Hydra yang sedang menyemburkan cairan asam.
Boom~
Tiba-tiba hembusan angin menerpa Hydra dengan sangat cepat, hal itu membuat larutan asam yang menyembur itu terbelah dan membuat Hydra terpental ke belakang.
"Sekarang!!!"
"Hiaaa!!!"
Saat Hydra menjadi lengah, para pasukan manusia segera menyerangnya, mereka mengepung dari segala arah secara bersamaan dan menargetkan kepala milik Hydra.
"Rasakan ini!!"
"Hiaaa!!!"
Si kesatria tombak itu melompat ke atas sembari mengayunkan tombak miliknya menuju salah satu kepala Hydra dengan cepat ia menebas kepala itu hingga putus.
"Graaaa!!!"
"Uh?"
Namun seketika Hydra segera bangkit dan menghempaskan seluruh pasukan tersebut, semua orang terlempar ke atas dan menghantam tanah dengan sangat kuat.
Beruntungnya kesatria tombak itu segera mengambil langkah mundur sehingga ia dapat menghindari amukan dari Hydra.
"Cih!!"
"Dasar monster!!"
Perlahan dari bagian kepala yang terpotong tumbuh gumpalan daging, kemudian daging itu mulai membentuk sebuah kepala baru yang sempurna.
"Graaa....."
"Khhh...."
Seketika Hydra pun menerkam kesatria itu dengan kesembilan kepala miliknya, dengan segera kesatria itu pun mencoba menghindari terkaman itu.
"Tornado!!"
Saat kepala-kepala itu hampir mencengram dirinya, kesatria tombak itu pun segera memutar-mutar tombaknya dengan sangat cepat dan memotong satu per satu kepala Hydra.
Pusaran angin yang sangat besar pun tercipta lalu menghempaskan Hydra dengan sangat kuat, Hydra pun jatuh dengan seluruh kepala yang terpenggal.
"Sial!!"
"Apa makhluk ini tidak bisa mati?!!"
Perlahan tubuh Hydra kembali bergerak, gumpalan-gumpalan daging mulai tumbuh dan meregenerasi bagian yang hilang.
"Hey kalian!!!"
"Alihkan perhatian makhluk itu!!"
"Huh?"
Kemudian kesatria itu pun menyuruh pasukan yang tersisa untuk mengalihkan perhatian Hydra darinya.
"Apa maksudmu?!"
"Kalian tahan makhluk itu!!"
"Aku akan pergi menuju pohon kehidupan!!"
Namun sepertinya para prajurit itu tidak mengerti dengan apa yang ia katakan, kesatria itu pun menjelaskan kepada mereka dengan sesingkat mungkin.
"Hah?!"
"Apa kau menyuruh kami untuk mati?!!"
"Mana mungkin kami mau melakukannya!!"
Para prajurit tersebut pun menolah perintah dari si kestatria tombak, karena itu sama saja dengan bunuh diri.
"Hey, apa kalian sadar dengan siapa kalian bicara hah?!!"
"Sadarilah posisi kalian dasar pemula!!"
Pernyataan para prajurit itu membuat si kesatria merasa kesal, ia pun langsung membentak, seketika semua orang terdiam.
"Ta-tapi!!!"
"Apa kalian masih belum mengerti?!!"
"Ma-maaf pak...."
Semua prajurit pun terdiam, tidak ada satupun dari mereka yang berani menjawab karena posisi kesatria itu berada di atas mereka.
"Cepat lakukan!!"
"Ba-baik...."
Para prajurit pun segera membentuk formasi serangan, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok yang akan mengalihkan perhatian Hydra dari kesatria itu.
"Bersiap!!"
"Hiaaa!!!"
"Grrraaaa...."
Hydra pun segera menerjang mereka dengan sangat agresif, ia menerkam satu per satu prajurit yang ada di hadapannya.
"Hey kalian!!"
"Ikuti aku!!"
"Baik..."
Kesatria itu pun memanggil beberapa orang untuk ikut bersamanya, mereka berlari menuju barisan belakang yang langsung mengarah ke pohon kehidupan.
"Singkirkan mereka semua!!"
"Dimengerti!!"
"Hiaaa!!"
Ada pasukan peri yang menjaga pohon kehidupan, mereka semua adalah penjinak binatang buas, mereka memerintahkan predator-predator seperti singa dan cheetah.
"Jangan biarkan mereka mendekati pohon kehidupan!!"
"Graaa...."
Para pasukan binatang buas itu berlari menuju kelompok kesatria tombak tersebut, mereka tidak membiarkan para kesatria itu lewat.
"Hiaaa!!!"
"Khhh..."
Salah satu singa melompat dengan tinggi mencoba menerkam salah satu kesatria namun dengan cepat kesatria itu menahannya sehingga pedang miliknya membungkam mulut singa tersebut.
"Jangan hiraukan mereka!!"
"Fokus saja dengan pohon itu!!"
__ADS_1
"Hiaaa!!"
Kesatria tombak itu pun memerintahkan prajuritnya untuk segera menuju pohon kehidupan, namun para binatang buas yang sangat agresif membuat mereka berada dalam kesulitan.
"Kami tidak akan membiarkan kau mendekati pohon kehidupan!"
"Cih..."
Para peri yang berada di sana segera berkumpul untuk menahan kesatria tombak itu, perlahan dari dalam tanah tumbuh akar-akar yang menjalar dengan sangat cepat, kemudian akar itu pun mulai membentuk sebuah senjata yang diraih oleh para peri tersebut.
Kemudian semua peri segera mengambil posisi siap, kebanyakan dari mereka menggunakan senjata jarak jauh seperti busur panah, dan sebagian menggunakan tombak.
"Apa kalian pikir bisa menghentikanku?"
"Musnahlah kalian dasar serangga pengganggu!!"
"Hiaaa!!"
Kesatria tombak itu pun berlari menerjang pasukan peri sendirian, mereka pun saling bertarung satu sama lain dengan sangat intens.
"Tembak!!"
Para peri pemanah itu mulai membidik si kesatria tombak, setelah ada celah untuk menyerang mereka segera melepaskan anak panah itu.
"Tornado!!"
Anak panah tersebut melesat menuju si kesatria dengan sangat cepat, namun segera kesatria tersebut memutar-mutar tombaknya ke segala arah.
Perlahan muncul pusaran angin yang sangat besar mengelilingi kesatria itu, dan setiap anak panah yang masuk ke dalam zona pusaran seketika terbelok dan menancap di tanah.
"Hmmpp, mainanmu tidak akan mempan terhadapku!!"
"Hiaaa!!"
Si kesatria itu pun menyombongkan diri, ia merasa bahwa dirinya bisa mengalahkan mereka sendirian.
"Falcon strike!!"
"Khhh..."
Si kesatria tombak itu menghunuskan tombaknya ke arah peri di hadapannya bertubi-tubi, seketika hembusan angin yang kuat membentuk bayangan burung yang sedang melesat menerpa peri tersebut.
"Huuaaa...."
"Dasar lemah!!"
Peri tersebut segera menahan serangan dari kesatria itu, namun hembusan angin yang sangat kuat menyayat tubuhnya dan membuat dirinya terdorong ke belakang.
"Bertahanlah!!"
"Tembak!!"
Para peri pemanah yang berada di belakang segera membantunya, mereka kembali menembakkan anak panah menuju kesatria itu.
"Sudah kubilang itu tidak berguna!!"
"Hiaaa!!"
Anak panah yang melesat menuju dirinya kembali terhempas oleh pusaran angin milik kesatria itu, bahkan tidak ada satupun yang berhasil mengenainya.
"Aku tidak punya banyak waktu!!"
"Mari kita akhiri ini segera!!"
Pertarungan mereka terus berlanjut sangat sengit, meskipun hanya seorang diri, namun kesatria itu dapat mendominasi pertempuran, para peri pun kewalahan menghadapinya.
"Hiaaaa!!!"
"Agghhh...."
Salah satu peri yang menggunakan tombak mencoba menahan serangan beruntun dari kesatria tersebut, namun sayang tombak miliknya patah sehingga membuat pertahanannya terbuka.
Dengan cepat kesatria itu menghunuskan tombak miliknya tepat di dada peri tersebut, tombak itu pun menembus jantungnya dengan sangat dalam, seketika peri tersebut tewas berlumuran darah.
"Tidak!!"
Para peri lain pun menjadi sangat terkejut, mereka segera mencoba menyelamatkan peri itu dari si kesatria tombak.
"Khhhaaaa..."
Namun itu sudah terlambat, kesatria itu mencabut tombaknya dari dada peri tersebut, kemudian hembusan angin yang kuat menerpa dan menghempaskan mereka.
Semua peri pun terjatuh, salah satu dari mereka memeluk mayat rekannya yang sudah tidak bernyawa.
"Tidak, tidak..."
"Bertahanlah...."
Saat peri itu melihat ke arah tubuh yang bersimbah darah tersebut, ia pun menangis histeris.
"Sungguh kejam!!"
"Kau benar-benar makhluk terkutuk!!"
Peri itu pun memaki-maki si kesatria, tampak dengan jelas kesedihan dan amarah atas kematian rekannya, namun kesatria itu hanya diam tidak menghiraukannya.
"Bisakah kau menutup mulutmu!!"
"Aagghhhh...."
Tiba-tiba kesatria itu melesat ke arah peri tersebut, ia mengayunkan tombak miliknya ke arah leher peri itu dan langsung memenggalnya.
Kepala peri tersebut putus dan melayang di udara, perlahan tubuhnya pun jatuh ke tanah, peri tersebut tewas seketika.
"Khaaaa....."
"Tidakk....."
"Aaghhh...."
Kemudian kesatria itu segera berlari menuju peri lain yang masih terbaring di atas tanah, ia membunuh satu persatu dari mereka dengan sangat kejam.
Kini hanya menyisakan satu peri saja yang masih bertahan hidup, peri itu mencoba bangkit, dengan tubuh yang terluka ia perlahan meraih busur panah miliknya.
"Hahahaha....."
"Apa kau masih mau melawanku?"
Kesatria itu berjalan mendekati peri yang tersisa demgan menyeret tombak miliknya, sembari tertawa keras, ia memprovokasi peri tersebut dengan kata-kata kasar.
"Percuma saja!!"
"Khhh.."
Sebelum peri tersebut menarik busur panahnya, seketika kesatria itu memukul tangan peri tersebut menggunakan tombak miliknya, busur itu pun terlepas dan jatuh ke tanah.
"Kkhhaaaa....."
Kesatria itu menendang peri tersebut dengan sangat kuat hingga ia terhempas jatuh, peri tersebut pun merintih kesakitan.
"Aagghhh..."
"Beritahu aku dimana buah suci itu!!"
Tiba-tiba kesatria itu mencekik leher peri tersebut dengan kuat dan memaksanya untuk bicara.
"Apa kau pikir saya akan memberitahumu?"
"Tidak akan pernah!!"
"Kami tidak akan menghianati kesetiaan kami kepada ratu peri!!"
Namun peri itu menolak untuk memberitahunya, dengan tekad yang kuat ia membungkam mulutnya.
"Dasar keras kepala!!"
"Cepat beritahu!!"
__ADS_1
"Khhaaaa...."
Kesatria itu tidak menyerah, ia mencekik peri tersebut semakin kuat agar ia mau bicara, peri tersebut semakin merasa tersiksa.
"Tidak akan pernah!!"
"Hoo?"
"Kalau begitu matilah!!"
"Aggghhh...."
Meskipun telah dipaksa berkali-kali namun peri itu tidak mau bicara, akhirnya kesatria itu pun menyerah, ia mencekik dengan sangat kuat hingga menghancurkan tenggorokan peri tersebut.
Perlahan peri itu mulai kehilangan kesadarannya, kesatria tersebut pun melepaskan genggamannya dari peri itu sehingga ia jatuh ke tanah, akhirnya peri itu pun tewas.
"Aahh, inikah jalannya?"
Setelah itu kesatria tersebut mulai berjalan menuju pohon kehidupan, ia melihat jalan menanjak dengan bentuk melingkar ke atas pohon , kesatria itu pun yakin bahwa jalan tersebut akan membawanya ke tempat buah suci berada.
Sing~
Sing~
"Hiaaa!!!"
Suara benturan dan teriakan dari para prajurit masih terus bergema di dalam medan pertempuran, meskipun sudah banyak korban yang berjatuhan dari pihak manusia namun jumlah mereka masih sangat banyak.
Mayat-mayat yang berserakan telah menumpuk menjadi bukit yang tinggi, darah yang tumpah telah membanjiri hamparan rumput.
Warna hijau segar telah tergantikan oleh merah pekat, bau menyengat mulai tercium di seluruh tempat, benar-benar mengerikan.
"Hiaaa!!!"
"Blazing Waves!!"
"Blood of Despair!!"
Sang dewa naga dan pemimpin kesatria masih bertarung dengan sangat sengit, mereka berdua terus mengeluarkan teknik mematikan untuk membunuh satu sama lain.
Kilatan-kilatan cahaya dan kobaran api berkobar memenuhi pandangan mata, debu yang beterbangan membentuk gumpalan kabut yang menyelimuti seluruh daerah di sekitar mereka.
"Hiaaaa!!!"
"Inferno Fire!!"
"Aghhh...."
"Infinity Blood Rain!!"
Tidak ada satupun dari mereka yang berhenti menyerang, meskipun keduanya telah menerima luka yang sangat mengerikan, namun itu tidak membuatnya menghentikan pertarungan, bahkan daerah di sekitar mereka telah luluh lantah.
"Khaaa....."
"Sialan!!!"
Sang dewa naga terus melancarkan serangan bertubi-tubi kepada si pemimpin kesatria, dengan sekuat tenaga pemimpin kesatria itu berhsil menangkis seluruh serangan dari sang dewa naga.
Namun racun di dalam tubuhnya telah menyebar ke aliran darah yang membuat tubuhnya terasa sulit digerakkan, ia pun beberapa kali memuntahkan darah dari dalam mulutnya.
"Fire Explosion!!"
Si pemimpin kesatria itu menancapkan pedang miliknya ke dalam tanah, seketika retakan tanah mulai menjalar dengan sangat cepat menuju sang dewa naga, tiba-tiba dari dalam tanah menyembur kobaran api yang sangat besar dan membakar tubuh sang dewa naga seketika.
"Khhh....."
"Sampai kapan kau akan bertahan hah?"
Pemimpin kesatria itu segera bangkit dan berlari menuju sang dewa naga, ia melompat dan mengayunkan pedang miliknya tepat di atas kepala beliau.
"Hiaaa!!!"
"Ultimate Skill: Eternal Fire!!"
Si pemimpin keaatria itu pun langsung mengeluarkan teknik pamungkas miliknya, seketika kobaran api yang menyelimuti pedangnya berubah warna menjadi biru, dengan cepat pemimpin kesatria itu menebas kepala sang dewa naga.
"Selesai sudah!!!"
Sebuah ledakan beaar terjadi membuat keadaan sekitar menjadi gelap karena gumpalan asap yang menyelimutinya.
Asap itu perlahan mulai memudar sehingga pandangan mata dapat kembali seperti semula, tampak dua orang yang sedang berdiri berhadapan.
Salah satu dari mereka menggenggam pedang di tangannya, dan yang lain tertutup oleh sayap-sayap besar yang terbakar.
"Cih!!!"
"Kau sungguh monster!!"
Si pemimpin kesatria itu merasa sangat kesal, sayap-sayap naga milik sang dewa naga melindungi tubuhnya dari serangan itu, meskipun selutuh tubuhnya terbakar oleh kobaran api yang sangat besar, namun beliau berhasil menghentikan teknik pamungkas milik si pemimpin kesatria.
"Hiaaaa!!!"
"Masih belum!!"
Pemimpin kesatria itu mendorong pedang miliknya dengan sekuat tenaga mencoba memotong sayap milik sang dewa naga.
"Khhaaa...."
Namun usahanya sia-sia, sang dewa naga menghempaskan si pemimpin kesatria dengan sangat kuat hingga membuat pertahanan miĺiknya terbuka.
"Hiaaa!!!"
"Aaghhhhh...."
Seketika sang dewa naga menyayat tubuh si pemimpin kesatria itu bertubi-tubi dan mengempaskannya dengan sangat kuat hingga ia terjatuh.
"Blood Thirsty!!"
Dengan tubuh yang terbakar, sang dewa naga berjalan mendekati si pemimpin kesatria itu, perlahan kobaran api di tubuhnya mulai memadam.
Lautan darah yang ada di dalam medan perang itu mulai menguap menjadi partikel-partikel cahaya, kemudian partikel itu terbang menuju sang dewa naga dan langsung terserap ke dalam tubuh beliau.
seluruh bagian tubuh yang terluka mulai beregenerasi, partikel-partikel cahaya itu berkaitan satu sama lain dan berubah menjadi daging dan organ tubuh yang hilang, kini tubuh sang dewa naga telah kembali pulih seperti semula.
"Aku telah memberimu peringatan beberapa kali!"
"Namun kau dengan sombongnya mengsbaikan peringatan itu!!"
"Dan sekarang lihatlah apa yang terjadi padamu!!"
Sang dewa naga menodongkan pedangnya ke arah pemimpin kesatria itu, dengan tubuh yang lemah tidak berdaya, si pemimpin kesatria itu hanya bisa terbaring menatap sang dewa naga yang ada di depannya.
"Hmmpp, lakukanlah!!"
"Apa lagi yang kau tunggu!!"
Si pemimpin kesatria itu pun memprovokasi sang dewa naga, ia ahu bahwa tidak ada kesempatan lain untuk menhelamatkan diri, satu satunya pilihan yang ada adalah mati di tangan sang dewa naga.
"Baiklah jika itu keinginamu!!"
Sang dewa naga pun mengangkat pedang miliknya ke atas, beliau akan menusuk tubuh si pemimpin kesatria itu tepat di jantungnya, mengetahui bahwa hidupnya akan berakhir saat itu juga, si pemimpin kesatria itu pun perlahan memejamkan matanya.
"Um?"
Boom~
Namun sesaat sebelum sang dewa naga menghunuskan pedangnya, tiba-tiba muncul sebuah cahaya terang dari atas langit, sebuah benda melesat dengan sangat cepat menuju sang dewa naga dan menghantamnya.
Seketika sebuah ledakan besar pun terjadi, beruntungnya sang dewa naga pun segera melindungi diri menggunakan sayap naga miliknya.
"Pyaaaaakk...."
Tidak lama kemudian datang seekor burung elang yang sangat besar menyambar tubuh si pemimpin kesatria yang tergeletak di tanah, elang itu pun segera terbang pergi membawa tubuh si pemimpin kesatria menjauh dari sang dewa naga.
"Hoo!"
Sang dewa naga hanya menatapnya dengan wajah datar, beliau membiarkan elang itu pergi begitu saja bersama si pemimpin kesatria.
__ADS_1