God Of Disaster

God Of Disaster
Aliansi Para Dewa.


__ADS_3

"Hiiiaa!!!!"


"Aggghhhh...."


Pemimpin Samurai mengayunkan katana miliknya ke arah Vritra, dengan cepat ia pun menangkis serangan tersebut, kedua pedang mereka saling berhimpitan. Tidak lama kemudian samurai itu menghempaskan pedang milik Vritra hingga membuatnya terlontar dan jatuh, ia pun langsung menusukkan katana miliknya ke tubuh Vritra.


"Cih!"


"Enyahlah kau!!"


Vritra mencoba menghindar dari serangan tersebut namun ia sedikit terlambat, katana itu berhasil menancap di pundak kiri miliknya, beruntungnya ia karena serangan itu tidak mengenai jantungnya.


Vritra segera meraih tubuh Samurai itu dan mencekiknya dengan sekuat tenaga, samurai itu mencoba melepaskan diri dari cengkeramannya dan kemudian ia mengangkat tubuh samurai tersebut dan membantingnya ke tanah dengan sekuat tenaga.


"Khhhaa..."


Samurai itu pun terjatuh dengan sangat keras, tidak berhenti di situ Vritra segera bergegas menindih tubuh samurai tersebut, seluruh pergerakan samurai tersebut terhenti, dan dengan tangan kosong Vritra menghantamkan pukulannya tepat di wajah samurai.


"Agghhh...."


"Sialan!!!"


"Rasakan ini!!"


"Hiiaaa!!!"


Vritra terus menghajar samurai itu tanpa ampun, tak peduli meskipun terdapat topeng tebal yang melindungi wajah samurai itu namun Vritra tetap menghantamkan pukulannya bertubi-tubi hingga tangannya terluka.


"Khhh...."


"Khuhukkk...."


Samurai itu mencoba melepaskan diri dari Vritra, namun ia terus mendapatkan hantaman keras darinya, penglihatannya perlahan mulai buram dan topeng yang ia kenakan sampai retak. Ia berusaha meraih katana miliknya yang tertancap di bahu kiri Vritra dengan sekuat tenaga.


"Hiiiaaa...."


"Khhhaaa.."


Akhirnya Samurai itu berhasil mencabut katana miliknya yang masih tertancap di tubuh Vritra, kemudian ia kembali menusukkan katana itu tepat di jantung Vritra, seketika Vritra pun menjadi kesakitan dan mulai melepaskan kunciannya dari samurai tersebut.


"Kau!!!"


"Matilah kau!!"


"Agghhh...."


"Apa yang kau lakukan padaku?!"


Samurai itu mulai berdiri, topeng yang ia kenakan telah hancur, tampak wajah yang berlumuran darah menatap Vritra dengan tajam. Kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah Vritra dan perlahan meremasnya, seketika katana miliknya menancap semakin dalam di dada Vritra membuatnya merasakan sakit yang dahsyat.


"Sialan!!"


"Khahaha...."


"Nikmatilah penderitaan itu!"


"Hiiaaa!!!"


Samurai itu berlari menuju Vritra kemudian ia melihat sebuah katana yang menancap di tubuh mayat yang telah mati di dekatnya dan segera mengambilnya. Ia menggunakan itu untuk menyerang, Vritra mencoba mencabut katana itu dari dadanya namun semakin ia mencoba katana itu semakin sulit untuk dicabut.


"Khhh...."


"Sial!!"


Saat samurai itu mengayunkan katana di tangannya menuju Vritra, ia tidak memiliki pilihan lain selain menghindar, namun sayang keseimbangan tubuhnya goyah hingga membuatnya hampir jatuh.


"Heeeh, kau bisa menghindarinya ya...."


"Bagaimana dengan ini!"


Samurai itu kembali melancarkan serangan bertubi-tubi kepada Vritra, dan setiap kali ia mencoba menghindar, keseimbangan tubuhnya tidak dapat dikendalikan dan membuatnya jatuh.


"Khhh...."


"Hhhh...."


"Huuuaaaaa...."


Jika seperti ini terus perlahan Vritra akan kehilangan kesadaran sepenuhnya, ia pun memutuskan untuk mencabut katana itu sekuat tenaga. Akhirnya katana itu berhasil dicabut dari dadanya, seketika darah menyembur keluar ia tidak bisa mengendalikan keseimbangannya dan segera jatuh.


"Hiiiaaa!!!"


Di sisi lain samurai itu mengayunkan katana miliknya tepat ke arah leher Vritra dan akan memenggalnya, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.


"Huh?


Sebelum katana itu menyentuh leher Vritra, tiba-tiba samurai itu berhenti bergerak, ia seakan mendengar suara yang memanggilnya hingga ia menoleh ke atas. Vritra terkejut akan hal itu ia menatap kearah samurai dengan heran seakan tidak percaya ia baru saja lolos dari kematian.


Seluruh pasukan Onimusha yang lain juga ikut berhenti menyerang, seketika orang-orang menjadi kebingungan, para pasukan Dragonoid pun memutuskan untuk menghentikan pertempuran.


"Hmmpp...."


"Kau beruntung pecundang!"


"Miko-sama memanggil kami!"


"Lain kali aku akan benar-benar membunuhmu!!"


"Huh? Apa katamu?"


Samurai itu menatap Vritra dengan tajam, ia menempelkan bilah katana miliknya di leher Vritra dan seakan mengasihaninya, ekspresi wajahnya tampak tidak senang.


Tiba-tiba sebuah suar cahaya berwarna merah muda memancar dari suatu tempat, hal itu membuat semua orang seketika terbelalak. Tanpa mengatakan apapun para pasukan Onimusha segera bergegas pergi meninggalkan medan pertempuran, mereka menghilang dalam kabut tebal dalam sekejap mata.


"Khuhukkk... Khuhukkk...."


"Apa yang terjadi?"


Vritra dan para pasukan Dragonoid lainnya merasa kebingungan tentang hal ini, Vritra pun mencoba bangkit namun setelah berjalan beberapa langkah ia kembali terjatuh karena kesadarannya belum pulih. Ia segera menatap ke arah suar itu, perlahan atmosfer di sekitar mereka berubah, lembah itu mulai ditumbuhi oleh pepohonan dan bunga dengan cepat.


Terdapat sebuah jalan setapak yang membentang menuju tempat suar cahaya itu, akhirnya para pasukan Dragonoid segera berkumpul untuk melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


"Semuanya berkumpul!!!"


"Sepertinya disana tempat tuan berada!"


"Kumpulkan prajurit yang terluka!!"


"Dimengerti!!!"


Terdapat cukup banyak korban dari pasukan Dragonoid, mereka cukup kewalahan melawan para samurai itu, terlebih lagi tempat ini adalah wilayah teritori mereka.


"Untuk para kesatria yang telah gugur, kami berikan kehormatan kepada kalian!!"


"Terima kasih atas pengabdian kalian!"


Para kesatria berbaring merenung memberikan penghormatan terakhir kepada para kesatria yang telah gugur, Vritra memimpin upacara tersebut sembari mengucapkan terima kasih atas pengorbanan mereka.


Dan setelah upacara selesai mereka membakar jasad para kesatria itu hingga hancur lebur, setelah itu para pasukan Dragonoid bergegas menuju ke tempat Sang Dewa Naga.


Di kuil Dewi Rubah terdapat Elena yang bersandar di lantai dengan tubuh yang penuh dengan luka, ia sedang memulihkan energinya yang telah terkuras akibat pertempuran melawan Dewi Rubah. Elena benar-benar tidak berdaya lagi, perlahan ia memejamkan matanya dan mulai tertidur.


Sedangkan Sang Dewa Naga sedang menggendong Dewi Rubah yang tak sadarkan diri, beliau kembali masuk ke dalam kuil bersama Dewi Rubah. Saat Sang Dewa Naga berjalan menuju ruang tahta milik Dewi Rubah para zirah samurai yang sedang berbaris seketika berdiri, mereka serentak menghadap ke arah Sang Dewa Naga bersama Dewi Rubah dan menundukkan kepala mereka menyambut kedatangan tuannya.


Kemudian Sang Dewa Naga membaringkan Dewi Rubah di atas dipan dengan lembut, saat beliau hendak berbalik tiba-tiba kristal yang ditaruh dalam wadah itu mulai memancarkan cahaya merah muda yang sangat terang.


Perlahan Dewi Rubah mulai terbangun dari tidurnya, Sang Dewa Naga menatap ke arahnya, Dewi Rubah bangkit dan duduk, wajahnya tersenyum kepada beliau.


"Kau berhasil melakukannya!"


"Iya."


"Terima kasih banyak...."


Dewi Rubah berterima kasih kepada Sang Dewa Naga, dari caranya berbicara dan aura yang dipancarkan, sepertinya ia adalah kepribadian lain yang ditemui beliau sebelumnya.


"Dengan begini saya bisa menyegel kepribadianku yang lain untuk sementara waktu."


Kepribadian lain milik Dewi Rubah bernama Envy, ia adalah perwujudan dari sifat kecemburuan yang membuat Dewi Rubah merasa sangat membenci Elena. Namun kini kepribadian tersebut berhasil di segel dalam sebuah kristal yang sedang memancarkan cahaya merah muda.


"Selanjutnya apa?"


"Khhihihi....."


Saat Sang Dewa Naga bertanya kepada Dewi Rubah, seketika ia tersenyum, kemudian Dewi Rubah segera bangkit dan berjalan mendekati sang Dewa Naga.


"Pertama-tama biarkan saya mengatakannya, izinkan diriku untuk memilikimu sepenuhnya!"


"Saya telah jatuh cinta kepada anda!"


"Saya berjanji akan selalu berada di sisi anda untuk selamanya..."


Dewi Rubah bersandar di dada Sang Dewa Naga, dengan lembut ia membelai tubuh beliau, Dewi Rubah mengungkapkan perasaannya kepada Sang Dewa Naga, wajahnya tampak tersipu malu.


"Aku tidak tahu apakah engkau berpura-pura ataukah serius!"


"Jika itu memang benar maka tunjukkanlah kepadaku perasaanmu!"


Sang Dewa Naga tampak ragu akan perasaan Dewi Rubah, beliau pun membalasnya dengan wajah dingin, namun beliau tidak menunjukkan sikap menolak, beliau ingin menguji kesungguhan Dewi Rubah kepadanya.


"Tidak apa...."


"Beri diriku waktu untuk melakukannya...."


"Saya pasti akan menaklukkan hati anda!"


Dewi Rubah tersenyum mendengar jawaban dari beliau, kemudian ia pun meraih pipi Sang Dewa Naga dan perlahan menciumnya, ia bertekad untuk menaklukkan hati beliau meskipun harus menunggu lama.


"Nah, sudah waktunya untuk membentuk aliansi!"


Beberapa saat kemudian para pasukan Onimusha telah tiba di depan kuil, mereka berbaris membentuk formasi dengan jumlah yang sangat besar.


"Siapa kau?!"


"Eh?"


Saat pemimpin Samurai itu melihat Elena yang sedang beristirahat di beranda kuil ia pun terkejut, Elena menyadari kedatangan mereka dan seketika terbangun, ia menjadi sangat panik. Para samurai itu menjadi waspada, mereka segera bersiap-siap untuk menyerang Elena.


"Tunggu dulu!"


"Dia bukan lagi musuh kita!"


"Miko-sama...."


Beruntungnya Dewi Rubah memberitahu mereka segera akan hal itu dan memerintahkan pasukannya untuk tenang, saat melihat Dewi Rubah dengan aura yang berbeda Elena merasa sedikit heran, ia seperti melihat orang yang berbeda.


"Kita telah memutuskan untuk membentuk aliansi dengan Kekaisaran Naga!"


"Ancaman yang sangat besar sedang menuju kemari, kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan besar!"


"Manusia itu tidak akan berhenti berbuat kerusakan sebelum semuanya berhasil ditaklukkan, maka dari itu kita harus menghentikan mereka!"


Para pasukan Onimusha tunduk serentak di hadapan Dewi Rubah, kemudian ia pun mulai berpidato dengan lantang, semua orang diam mendengarkan apa yang ia sampaikan.


"Kita terlambat!"


"Huh?"


"Cih, orang itu!"


Tidak Lama kemudian pasukan Dragonoid berhasil sampai di kuil, mereka melihat Sang Dewa Naga, Elena, dan Dewi Rubah sedang berdiri di hadapan semua pasukan samurai. Kemudian pemimpin samurai yang melihat kedatangan Vritra merasa sedikit kesal.


"Hei!"


"Kita bertemu lagi ya...."


"Hmmpp, sekarang bukan waktunya untuk bermain!"


"Aku tidak tertarik untuk meladenimu!!"


"Baiklah."


Vritra menyapa pemimpin samurai tersebut, namun ia malah menjawabnya dengan tatapan dingin, samurai itu benar-benar benar membenci Vritra.

__ADS_1


"Mulai sekarang saya umumkan deklarasi Aliansi Para Dewa!"


"Kita akan bersatu untuk melawan umat manusia!"


"Kita tidak bertarung untuk mendapatkan kekuasaan, kita bertarung untuk melindungi semua yang berharga untuk kita!!"


"Maka dari itu saya putuskan bahwa Aliansi telah resmi dibentuk!!"


"Horaa!!!"


"Hidup Miko-sama!!!"


"Hidup Dewa Naga!!!"


Setelah pengumuman pembentukan aliansi, para prajurit serentak menyoraki mereka, tidak ada lagi rasa permusuhan diantara kedua belah pihak, mereka semua mematuhi perintah dari tuan mereka.


Dengan begitu Aliansi Dewa Naga dan Dewi Rubah pun terbentuk.


Di sisi lain para pasukan assassin menunggu di luar gerbang, mereka tidak dapat memasuki pulau melayang itu karena gerbang dimensi telah tertutup, apa yang ada di depan mereka adalah sebuah gapura kosong yang hanya akan membuat mereka berputar-putar ke tempat awal saat memasukinya.


Para assassin itu mengawasi daerah di sekitar sembari menunggu informasi dari pasukan Dragonoid yang lebih dahulu masuk ke dalam.


"Keadaan di sini cukup parah...."


"Benar, pertempuran ini belum lama berakhir!"


"Pastikan untuk memeriksa keadaan, carilah petunjuk dan barang-barang yang dapat digunakan!"


"Baik!!"


Gilbert memerintahkan bawahannya untuk berpencar menyelidiki tempat itu, di medan perang yang masih baru terdapat banyak sekali mayat-mayat yang berserakan, dari pasukan Sparta maupun Onimusha keduanya telah kehilangan banyak sekali prajurit.


"Hei lihatlah!"


"Makhluk apa ini!"


Para bawahan Gilbert menemukan seekor makhluk besar mirip seperti ular yang terbaring tak bernyawa, sepertinya makhluk itu telah dibunuh oleh seseorang, terdapat banyak sekali luka sayatan yang membekas di tubuhnya.


"Mungkin ini adalah makhluk mistis milik seseorang!"


"Makhluk ini mirip seperti Hydra milik Tuan Ozario!"


"Benarkah?"


"Berhati-hatilah, ada kemungkinan makhluk itu belum benar-benar mati!"


Para assassin itu mulai mendekati mayat makhluk mistis tersebut, tidak lama kemudian mereka juga menemukan mayat seorang kesatria yang tergeletak di dekat makhluk tersebut.


"Orang ini adalah pemimpin pasukan Sparta!"


"Dari luka sayatan itu, sepertinya Tuan Ozario lah yang membunuhnya!"


Kemudian mereka mulai menginvestigasi mayat pemimpin pasukan Sparta itu, mereka menemukan banyak sekali luka sayatan di tubuhnya, dan mereka menyimpulkan bahwa Sang Dewa Naga lah yang telah membunuhnya.


"Gggrrrr...."


"Huh?"


"Awas!!"


Tiba-tiba tanpa mereka duga makhluk mistis itu kembali bergerak dan mencoba menerkam mereka, seketika semua orang segera menghindari serangan tersebut.


"Grrraaa...."


"Waspadalah!!!"


"Makhluk itu akan menyerang!!"


Gilbert segera menyuruh bawahannya untuk waspada, dengan segala tenaga yang ia miliki makhluk itu kembali mencoba menyerang.


"Grrraaa...."


Boom~


"Huh?"


Saat makhluk itu hendak membuka mulutnya tiba-tiba sebuah kilatan petir terpancar dari dalam tubuhnya menyebabkan pandangan mereka tampak sangat silau, para assassin itu segera menutup mata mereka untuk melindungi dari paparan cahaya yang sangat terang.


"Menghilang?"


"Sepertinya makhluk itu telah pergi!"


Saat mereka membuka mata tiba-tiba makhluk itu telah menghilang, semua orang segera menoleh ke segala arah namun tidak ada jejak peninggalan makhluk tersebut.


"Assassin!"


"Hmm?"


Tidak lama kemudian seorang prajurit keluar dari dalam gerbang dan segera memanggil para assassin, wajahnya tampak gembira dan penuh semangat, sepertinya ia membawa kabar baik.


"Saya datang untuk menyampaikan pesan."


"Saat ini kami telah berhasil bernegosiasi dengan pihak Dewi Rubah, dan semua telah bersepakat untuk membentuk aliansi!"


"Tujuan aliansi tersebut adalah untuk mengantisipasi ekspansi yang dilakukan oleh manusia!"


"Peperangan besar akan dimulai, dan para dewa akan bertarung untuk mencegah rusaknya tatanan dunia!"


Prajurit itu mengatakan semuanya kepada para assassin, dan dengan cepat pasukan assassin itu segera membawa informasi tersebut kembali ke Kaisaran Naga.


"Baiklah kami mengerti!"


"Kami akan segera menyampaikan pesan ini ke Kekaisaran Naga!"


"Terima kasih!"


"Semuanya kita akan kembali Kekaisaran Naga sekarang!"


"Dimengerti!"


Gilber segera memerintahkan para assassin itu untuk pergi menyampaikan pesan tersebut ke Kaisaran Naga, dengan begitu sebuah kekuatan besar akan terbentuk dan waktu kehancuran akan segera tiba.

__ADS_1


__ADS_2