God Of Disaster

God Of Disaster
Seppuku


__ADS_3

"Hiaa!!"


Pertarungan Dewi Rubah dengan Sang Dewa Naga berlangsung sangat sengit, gerakan Dewi Rubah sangat cepat dan halus, gaya bertarung nya sangat unik dibanding dengan kebanyakan orang, setiap tebasan yang dilancarkan memiliki kesan yang sangat Indah.


Dewi Rubah itu memejamkan kedua matanya, seketika angin berhembus menerpa mereka, Sang Dewa Naga menatap kedua matanya, di saat Dewi Rubah membuka kembali matanya seketika beliau melihat dengan sekilas tubuhnya tercabik-cabik oleh serangan Dewi Rubah.


"Huh?"


Namun seketika beliau tersadar bahwa itu hanyalah sebuah ilusi, Sang Dewa Naga mencoba mengangkat kedua pedangnya untuk menghentikan serangan yang sebenarnya namun itu sedikit terlambat.


"Fallen flowers!"


Dewi Rubah mencabut katana miliknya dari dalam sarung dan mengayunkannya ke udara, seketika efek tebasan bertubi-tubi berhembus membelah atmosfer menyebabkan bunga-bunga di sekitarnya terpotong dan berhamburan.


Sang Dewa Naga mencoba menangkis semua serangan tersebut, namun beberapa darinya berhasil menggores tubuh beliau.


"Saya sudah bosan, mengapa anda masih belum mengerti juga!"


"Tidak perlu bicara lagi, aku tidak tertarik untuk mendengarnya!"


Dewi Rubah mencoba berbicara kepada Sang Dewa Naga, namun seketika beliau menghentikan pembicaraan tersebut.


Sebuah aura yang besar terpancar dari dalam diri Sang Dewa Naga, darah yang keluar membanjiri seluruh daratan, bunga-bunga yang terendam itu perlahan berubah menjadi bunga Red Spider Lily.


"Infinity blood rain!"


Beliau melempar pedangnya ke udara, kemudian gumpalan darah yang menguap mulai membentuk ratusan pedang yang menghujani Dewi Rubah.


"Hiiaaa!!"


Dewi Rubah pun mencoba menghindari serangan tersebut, pedang-pedang itu pun menancap di tanah, namun seketika ratusan pedang itu meledak menjadi gumpalan darah yang runcing seperti duri.


"Ggghaaaa..."


"Cih!"


Duri-duri itu berhasil menusuk Dewi Rubah dengan bertubi-tubi hingga membuatnya tidak bisa bergerak.


"Hiiaaa!"


Seketika Sang Dewa Naga langsung menyerang Dewi Rubah dengan sangat agresif, beliau mengayunkan pedangnya tanpa henti kepada Dewi Rubah.


Daratan di sekitarnya pun hancur akibat serangan tersebut, Dewi Rubah merasa sangat kesulitan menahan serangan dari Sang Dewa Naga.


"Boom!"


Elena sedang berlutut di sebuah altar dengan rantai yang mengikat kedua lengan dan kakinya, di belakangnya terdapat dua orang penjaga yang selalu mengawasinya setiap saat, dirinya tidak memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari jeratan tersebut.


Boom~


"Huh?"


Seketika sebuah dentuman keras terdengar, daerah di sekitarnya berubah, pohon-pohon itu bergoyang dengan sangat kuat seperti tertiup oleh angin badai.


"Itu... Tuan Ozario?"


Dimensi mereka kembali bersatu, Elena melihat Sang Dewa Naga bertarung melawan Dewi Rubah, ia pun sangat terkejut mengetahui beliau ada di sini.


Kedua penjaga yang mengawasi Elena pun ikut terkejut melihat hal itu, seketika pandangan mereka teralihkan dari Elena.


"Root of life!"


Seketika dua buah akar menjalar dari dalam tanah melilit dua penjaga tersebut, akar itu menghisap energi kehidupan mereka sehingga membuatnya sulit untuk bergerak.


"Apa yang kau lakukan!"


Kedua penjaga itu meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari akar yang mengikatnya, disaat yang sama Elena pun mencoba menghancurkan rantai tersebut dengan sekuat tenaga.


"Khhaaaa...."


Disaat ia berhasil terbebas dari jeratan rantai tersebut seketika seseorang menebas tubuhnya dengan sangat cepat, Elena pun jatuh tersungkur dengan luka di dadanya.


Tidak lama kemudian akar yang mengikat kedua penjaga tersebut ikut terpotong menjadi beberapa bagian dan hancur, kini mereka berdua telah terbebaskan.


"Kami tidak akan membiarkan engkau lolos!"


"Tugas kami adalah untuk mengawasimu, kami diizinkan untuk melakukan tindakan apapun demi mencegahmu kabur!"


Di depan Elena terdapat tujuh orang gadis yang berpakaian sama seperti dua penjaga tersebut, mereka semua mencoba menghentikan Elena.


Kesembilan gadis bertopeng rubah itu mengelilingi Elena dan bersiap menyerangnya, perlahan Elena bangkit, luka yang diterimanya mulai teregenerasi kembali.


"Saya tidak memiliki masalah dengan kalian, apa tujuan kalian yang sebenarnya!"


"Itu tidak penting, perintah Miko-sama adalah mutlak!"


Para gadis itu tidak menghiraukan Elena, mereka tetap pada posisinya, sebuah cahaya biru memancar dari telapak tangan Elena dan seketika membentuk dua buah pedang miliknya.


Salah seorang dari mereka menyerang Elena terlebih dahulu, ia melesat dengan sangat cepat kearahnya.


Elena mencoba menangkis serangan itu, namun seketika datang serangan selanjutnya dari arah belakang.


"Hiiaa!!"


Elena berjuang melawan sembilan orang tersebut sendirian, ia hanya berfokus untuk bertahan dan tidak membalas serangan dari mereka.


"Khhaa...."


Elena terhempas ke belakang menerima serangan dari mereka, kombinasi serangan yang sangat kompak membuatnya sangat sulit ditahan.


"Hiiaa!!"


Elena menari dengan kedua pedangnya mengikuti arah serangan lawan, kliatan cahaya berwarna biru terang membentang di jalur tebasan.


Salah seorang dari mereka mengayunkan pedangnya secara diagonal ke atas mengarah ke dada miliknya, dengan cepat Elena menangkis serangan tersebut, kedua pedang mereka saling berhimpitan satu sama lain, tidak lama kemudian seorang lagi melancarkan serangan susulan kepadanya.


Seketika Elena memutar tubuhnya menghindari serangan tersebut, sebuah bayangan kawanan kupu-kupu terbang melintasi mereka mengacaukan konsentrasi nya.


"Wahai pemberontak, ini adalah peringatan terakhir untukmu!"


"Menyerahlah, atau kami akan memusnahkanmu!"


Kesembilan gadis itu berbaris mengelilingi Elena, mereka dalam posisi siap menyerang, Elena pun menjadi sangat waspada akan hal itu.


"Huh?"


"Khhaaa...."


Sebuah serangan sangat cepat menuju Elena dengan sekejap mata, Elena mencoba menangkis serangan tersebut namun seketika pedang miliknya terhempas jatuh.


"Agghhh...."


Serangan berikutnya datang, dengan sekejap mata tubuh Elena tersayat oleh katana milik mereka secara bertubi-tubi, luka yang ia terima sangat dalam sehingga darah terus mengalir keluar.


"Ini adalah yang terakhir!"

__ADS_1


"Khhhaa....."


"Tidak!"


Salah seorang dari mereka berhasil menusuk perut Elena dari belakang hingga menembusnya, seketika gadis-gadis lain pun melakukan hal yang sama kepadanya, mereka menusuk Elena dari segala arah.


"Diam dan tenanglah, kami tidak akan membunuhmu!"


"Khhaaa...."


Seluruh tubuhnya tertembus oleh katana dari segala arah, rasa sakit yang amat dahsyat membuatnya mulai kehilangan kesadaran.


"Masih belum!"


"Huh?"


Namun di saat sebelum ia terjatuh, Elena berhasil menguatkan tekadnya seketika sebuah partikel cahaya biru mengelilingi tubuh Elena dan seketika meledak.


Para gadis itu pun terhempas dengan sangat kuat, beberapa dari katana mereka masih menancap di tubuh Elena.


"Khhhh...."


"Huhhaaa.... Huuhhaaa...."


Keenam sayap kupu-kupu Elena kembali membentang, partikel cahaya biru terang yang sangat Indah terus bertaburan di udara, Elena pun terjatuh dengan menahan rasa sakit yang amat dahsyat.


"Hmmm...."


"Sepertinya kau tidak ingin patuh!"


"Tidak ada pilihan lain, kami akan menggunakan cara kekerasan!"


"Kami harap engkau tidak membenci kami atas hal ini!"


Elena mencabut katana yang masih menancap di tubuhnya, setiap katana itu ditarik, bilahnya semakin menyayat daging Elena dan itu memberikan rasa sakit yang amat dalam padanya.


"Saya tidak akan mematuhi perintah kalian!"


Elena pun kembali bangkit, perlahan partikel cahaya itu mulai meregenerasi luka-luka di tubuhnya, para gadis itu pun kembali bersiap menyerang, dari balik lengan bajunya muncul bilah katana yang memanjang, padahal katana milik mereka sebelumnya telah tertinggal.


"Mengapa engkau melakukannya sejauh ini?"


"Bukankah itu hanya akan menyakiti dirimu saja?"


Gadis itu merasa sangat heran dengan Elena, meskipun dirinya tidak berdaya namun dirinya tidak menyerah sedikitpun.


"Saya telah gagal melindungi sesuatu yang berharga, maka dari itu saya tidak ingin kehilangannya lagi!"


Sembari mengendalikan kembali tubuhnya Elena menjawab pertanyaan dari gadis itu, dirinya tidak bisa terus bergantung kepada Sang Dewa Naga, jika ia tidak bisa melakukannya sendiri maka suatu saat Elena akan kehilangan segalanya.


"Saya tidak mengerti dengan apa yang anda katakan!"


"Bukankah satu-satunya hal yang berharga bagi manusia adalah nyawanya sendiri?!"


Menanggapi hal itu, mereka pun langsung menyerang Elena secara bersamaan selagi pertahanannya lemah.


"Heavenly Blessing!"


Elena mengepalkan kedua tangannya seraya berdoa, seketika sebuah bayangan pohon yang sangat besar muncul dari belakangnya, pohon itu memancarkan cahaya hijau yang sangat terang, seketika partikel cahaya menghujani dirinya bagaikan air yang memberinya kekuatan.


"Huh?"


"Root of Life!"


Saay Elena membuka kedua matanya, seketika beberapa akar mucul dari dalam tanah dan menjalar menuju gadis-gadis tersebut.


"Hiiaaa!!!"


Akar-akar itu menjalar dengan sangat cepat bagaikan seekor ular yang menerkam mangsanya, para gadis itu pun mencoba menghindari serangan tersebut.


Meskipun sudah terpotong dan hancur, akar-akar tersebut terus tumbuh tanpa henti menyerang mereka, hal itu membuat para gadis sangat kesulitan untuk menyerang Elena.


Elena mengarahkan telapak tangannya ke arah yang ditujukan, seketika akar-akar tersebut mulai mengikuti arahan Elena dengan begitu cepat.


"Teknik Katana, Bunga Sakura!"


Seketika para gadis mengambil posisi menyerang, mereka pun mengayunkan katana secara bersamaan secara melingkar, angin yang berhembus pada jalur tebasan membentuk sebuah bunga sakura yang sangat indah.


Angin itupun seketika memotong akar-akar milik Elena dengan sangat cepat hingga hancur berkeping-keping, hal itu membuat pertahanan Elena kini terbuka.


"Hiiiaaa!!!"


"Sword dance: Snow Hurricane!"


Saat mereka mulai mendekati Elena, dengan cepat Elena pun membentangkan kedua pedangnya dan mengayunkannya secara memutar.


Seketika sebuah pusaran angin terbentuk bercampur dengan bintik-bintik air yang melayang di udara, sebuah awan badai pun terbentuk dan menghujani partikel-partikel es tajam ke arah gadis-gadis tersebut.


"Teknik Ilusi, Gugur Bunga!"


Seketika mereka menancapkan katana miliknya ke tanah, perlahan tubuh mereka memudar menjadi mahkota-mahkota bunga yang beterbangan diterpa oleh awan badai tersebut.


Tidak lama kemudian awan itu pun menghilang bersama dengan keberadaan mereka.


"Tidak ada?"


Elena terkejut melihat keberadaan para gadis itu telah menghilang, hanya ada hamparan mahkota bunga yang berserakan.


"Huh?"


Tiba-tiba bunga-bunga itu beterbangan dan menerpa Elena, seketika Elena menyadari sesuatu bahwa gadis-gadis itu masih berada di dekatnya.


Mahkota-mahkota bunga tersebut mulai membentuk sebuah bayangan mirip seseorang dan langsung menyerang Elena.


"Butterfly Dance!"


Dengan cepat Elena mengayunkan kedua pedang miliknya dengan sangat Indah menebas bayangan tersebut, namun setiap kali pedangnya menghancurkannya, bayangan tersebut dapat terbentuk kembali tanpa henti.


Pertarungan tersebut terus berlanjut, mereka tidak henti-hentinya menyerang Elena secara agresif, di saat bayangan yang hancur itu mulai terbentuk kembali dengan cepat Elena membakar mereka dengan teknik miliknya.


"Ghhhaaa...."


Api menyebar dengan sangat cepat membakar habis seluruh bayangan itu, hingga tidak lama kemudian wujud asli dari kesembilan gadis itu pun muncul.


Tubuh mereka terbakar dan perlahan topeng mereka pun hancur, hal itu menyebabkan kekuatan mereka menuruh dengan sangat drastis.


Di sisi lain stamina milik Elena sudah banyak terkuras, napasnya terengah-engah namun ia masih bisa berdiri dengan tegak.


"Hiiaaa!!"


Salah seorang gadis itu menyerang Elena, saat katana miliknya hampir menyentuh leher Elena, dengan cepat ia menangkis serangan tersebut, kemudian ia mengayunkan pedang di tangan kirinya dan menebas lengan gadis tersebut.


"Khhhaaa...."


Lengan gadis tersebut pun terputus hingga membuat katana yang digenggamnya jatuh, seketika Elena segera memutar tubuhnya dan langsung menyayat perut gadis tersebut.

__ADS_1


"Maaf..."


"Khhhaaaaa....."


Di saat gadis itu mulai kehilangan kesadaran Elena dengan cepat menusukkan pedangnya ke dada gadis tersebut, disaat saat terakhirnya Elena meminta maaf kepada gadis tersebut sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya.


Seketika sebuah cahaya memancar dengan terang, perlahan tubuh gadis tersebut pun hancur menjadi mahkota bunga yang berhamburan.


"Apakah kalian masih ingin melanjutkan pertarungan ini?"


"Bukankan ini sudah cukup?!"


"Tidak perlu ada pertumpahan darah lagi di sini!"


Elena pun berbicara kepada para gadis tersebut, raut wajahnya tampak sedih dan bersalah, satu nyawa telah menghilang begitu saja akibat pertikaian yang tidak berdasar, Elena ingin segera menghentikan ini segera sebelum akhirnya harus mengorbankan lebih banyak nyawa lagi.


"Terima kasih atas belas kasihanmu!"


"Namun kami tidak akan mengubah pendirian kami!"


"Tugas kami adalah untuk menangkapmu, hanya itu saja!"


Meskipun Elena mencoba bernegosiasi dengan mereka namun mereka menolak untuk gencatan senjata, para gadis itu sangat patuh kepada perintah pemimpin mereka bahkan hingga mengorbankan nyawa mereka sendiri.


"Begitu kah...."


"Sayang sekali...."


"Jangan pedulikan kami!"


"Belas kasihanmu hanya akan merendahkan kami!"


"Lawanlah kami dengan sungguh-sungguh!"


Para gadis itupun membungkukkan badan sebagai sebuah tanda kehormatan mereka sebagai kesatria, mereka tidak ingin Elena berbelas kasih kepada mereka.


Elena mengayunkan pedangnya dengan cepat menangkis serangan dari mereka, satu per satu dari gadis itu mulai lengah dan dengan cepat Elena menghunuskan pedangnya kepada mereka.


"Khhhaaa...."


"Aghhh.... "


Kini hanya tersisa dua orang ysng masih bertahan, di sisi lain Elena juga menerima luka yang sangat parah, perutnya tersayat dengan sangat dalam membuat darah terus mengalir keluar, kedua tangannya gemetar tidak lagi kuat menggenggam pedang miliknya.


"Hiiaaa!!!"


Salah satu gadis itu mengayunkan katana miliknya ke arah Elena, dengan segenap tenaga yang ia punya Elena mengangkat pedangnya mencoba menahan serangan tersebut, namun kekuatannya sudah habis katana milik gadis itu berhasil menghempaskan pedang miliknya hingga jatuh.


"Ghhaaa...."


Seketika gadis itu melancarkan serangan instan menuju dada Elena, seketika dadanya tertembus katana itu hingga ke jantungnya, Elena memuntahkan darah dari mulutnya.


"Huh?"


Namun tiba-tiba dua buah akar menjalar dari dalam tanah dan langsung melilit gadis itu, akar tersebut mencengkeram tubuhnya dengan sangat kuat hingga membuatnya tidak bisa berberak.


"Tidak!"


Akar itu muncul bukan karena kehendak Elena, melainkan sebuah sistem pertahanan khusus yang muncul akibat dari kondisi Elena yang sudah sangat lemah.


Seketika akar tersebut merobek tubuh gadis itu dengan sangat kejam hingga membuatnya terpisah menjadi beberapa bagian, seluruh organ dalamnya berhamburan keluar, darah seketika membanjiri daratan.


Elena berteriak untuk menghentikannya, namun ia tidak bisa memegang kendali atas kekuatannya itu, ia pun terjatuh dengan katana yang masih menancap di dadanya.


"Hiiaaa!!!"


Tinggal satu gadis yang masih tersisa, gadis itu mencoba melawan akar hidup yang terus mengejarnya dengan agresif, akar itu ingin menyerap energi kehidupan gadis tersebut untuk memulihkan kondisi tubuh Elena yang sudah sangat parah.


"Huuhaaa.... Huuuhhaaa...."


Elena terjatuh dengan tubuh yang sangat lemas, ia mencoba mencabut katana yang masih menancap di dadanya sebelum kesadarannya mulai menghilang.


Gadis itu terlilit oleh akar-akar milik Elena, energi kehidupannya terserap oleh akar tersebut, hal itu membuat Elena perlahan mendapatkan kembali tenaganya.


Akhirnya berhasil mencabut katana tersebut, dengan segenap tenaga yang dimilikinya Elena mencoba menghentikan akar-akar itu sebelum membunuh gadis tersebut.


"Ghhaaa...."


Gadis itu pun terbebas dari akar yang menjeratnya, Elena bangkit dan menghampiri gadis tengah berlutut itu.


"Sudah cukup!"


"Mari akhiri semua ini, tidak ada gunanya kita saling bertarung!"


Elena membujuk gadis tersebut untuk mengakhiri pertikaian ini, Elena memberi kesempatan terakhir padanya.


"Engkau terlalu naif!"


"Jika engkau memutuskan untuk bertarung maka saat itu juga engkau sudah siap mati!"


Gadis itu terus menolak ajakan dari Elena dan tetap teguh akan pendiriannya, bahkan nyawanya tidak lagi berharga baginya.


"Jika engkau ingin berbelas kasihan kepadaku maka bunuhlah diriku sekarang juga!"


"Dengan begitu saya bisa mati dengan terhormat sebagai seorang Samurai!


Tidak ada cara lain untuk membujuk gadis tersebut, sejak awal dirinya telah berniat untuk mati di sini.


"Jika engkau tidak mau melakukannya maka biarkan diriku melakukan Seppuku!"


Kemudian gadis itu menyerahkan katana miliknya kepada Elena dan memintanya untuk memenggal kepala gadis itu.


"Penggal kepalaku!"


"Eh...."


"Apa yang anda lakukan?!"


Elena terkejut dengan yang dikatakan oleh gadis itu, ia tidak mengerti maksud dari perkataannya.


Gadis itu pun berlutut di hadapan Elena, kemudian ia mengambil sebuah belati yang mirip seperti katana namun lebih kecil.


"Lakukanlah, ini demi menebus kesalahanku!"


Elena menggenggam katana itu dengan gemetar, dirinya ragu untuk melakukannya, namun tidak ada pilihan lain.


"Khhhh...."


Tiba-tiba gadis itu menusukkan belati tersebut di perutnya lalu merobeknya dengan sangat kuat sembari menahan rasa sakit, Elena yang tidak tega pun langsung mengangkat katana itu dan mengayunkannya ke arah gadis tersebut.


Seketika kepala gadis itu terpenggal dan jatuh ke tanah bersama dengan tubuhnya, Elena yang melihatnya langsung memasang raut wajah gelisah.


"Huuuhhaaa....."


Elena mengambil napas yang dalam kemudian meletakkan katana itu di samping mayat gadis tersebut, Elena pun mengepalkan kedua tangannya dan mulai berdoa.

__ADS_1


Seketika angin berhembus kencang dan mayat itu perlahan berubah menjadi mahkota bunga yang berhamburan tertiup angin.


Pertarungan pun telah berakhir, Elena masih merasakan rasa bersalah atas kematian para gadis tersebut, namun ia sangat kagum dengan tekad dan prinsip seorang Samurai.


__ADS_2