
"Di mana ini?"
Saya tidak bisa melihat apapun, hanya ada kegelapan sejauh mata memandang, sepertinya ini adalah tempat yang tertutup, dan juga sirkulasi udara yang rendah membuatku sulit bernapas.
"Elena!!"
Tidak lama kemudian saya mendengar suara seseorang memanggilku, namun kali ini suara itu seperti milik seorang wanita, dan entah mengapa saya rasa sangat familiar bagiku, suara siapa itu?
"Elena!!!"
"Hei bangunlah dasar gadis nakal!"
"Siapa itu?"
Suara itu terus bergema dengan sangat keras mencoba memanggilku, saya pun menoleh ke segala arah untuk mencari arah sumber suara tersebut, namun sayang saya tidak bisa menemukannya, suara itu seakan datang dari segala arah, tiba-tiba sebuah cahaya putih memancar di depan wajahku dengan sangat terang membuat kedua mataku silau.
"Hmmmm....."
"Eh?
"Bunda?"
Saat diriku membuka mata, tampak sebuah bayangan buram di hadapanku, kemudian bayangan itu mulai menampakkan wujud yang nyata, seketika hal itu membuatku terkejut, ada seorang wanita sedang menatapku dengan tajam, dan orang tersebut sangatlah tidak asing bagiku, seorang wanita yang mengenakan gaun mewah dengan sebuah mahkota di atas kepalanya, beliau adalah ibuku.
Perlahan sebuah ingatan kembali muncul di kepalaku, ingatan yang menggambarkan kehidupanku yang sebenarnya, dan saat itulah saya tersadar bahwa jati diriku yang asli adalah seorang putri kerajaan.
"Sungguh disayangkan....."
"Padahal kami telah berharap besar kepadamu!!"
"Bunda, apa yang....."
"Eh?"
Tiba-tiba bunda berbicara aneh, raut wajahnya terlihat sangat marah dan tatapan matanya sangat tajam, saya tidak bisa memahami apa yang dikatakan olehnya, namun sebelum saya selesai bertanya, seketika seluruh tubuhku menjadi kaku, kedua tanganku terlentang seakan ada sesuatu yang menariknya dengan sangat kuat.
"Apa ini?"
Saya pun menjadi sedikit panik, saat diriku menoleh ke samping, ada dua rantai besar yang mengikat pergelangan tanganku dengan sangat kencang, rantai tersebut terhubung menuju dua buah pilar yang berykuran sangat besar di sampingku, perlahan sebuah api menyala di depanku, api itu terus menjalar di sekelilingku, dan dalam satu kedipan mata, tempat yang gelap itu pun berubah menjadi sebuah altar.
"Kami telah membesarkanmu untuk menjadi seorang putri kerajaan yang sempurna!!"
"Agar engaku bisa menjadi penghubung antara kerajaan kita dengan kerajaan yang lain!"
Perlahan bunda berjalan mengelilingiku, cara beliau berjalan sangat anggun yang mencerminkan dirinya sebagai seorang ratu, namun bibirnya tidak tersenyum ceria, beliau malah menunjukkan ekspresi yang lebih seperti orang sedang kesal.
"Itulah yang kami harapkan!!"
"Tapi engkau malah menolak lamaran dari seorang pangeran kerajaan Beltharm!!"
"Karena itu hubungan politik antara kita dengan mereka menjadi sangat kacau!!"
Kemudian bunda memaki-maki diriku dengan sangat kejam, beliau seakan merasa frustasi dan melampiaskan semuanya kepadaku, bahkan saya tidak mengerti mengapa beliau bisa seperti itu.
"Kerajaan Beltharm...."
"Apa maksudnya?"
Meskipun saya tidak mengingatnya, namun anehnya saya rasa pernah mengalami hal yang sama persis seperti yang dikatakan bunda, ingatan itu terlintas di pikiranku begitu saja.
"Benar-benar mengecewakan!!"
"Inikah balasan yang engkau berikan kepada kami hah?"
Ibu terus berjalan hingga berada di belakangku, beliau tak henti-hentinya melontarkan kata makian kepadaku, diriku hanya bisa terdiam mendengarkan kata-katanya, karena hingga saat ini saya masih belum mengingat dengan jelas kejadian di waktu itu.
"Engkau memang pantas mendapatkan hukuman!"
Prakk~
"Agghhhh...."
Tiba-tiba sebuah suara terdengar cukup keras yang mirip seperti cambuk yang diayunkan, dan di saat yang sama saya pun merasakan sebuah rasa sakit yang sangat besar di bagian punggung, hal itu membuatku terkejut dan merintih kesakitan.
"Bunda...."
"Ghhaaaa....."
"Kumohon hentikan bunda...."
Beliau mengayunkan cambuk itu berkali-kali kepadaku hingga menghasilkan luka sayatan yang cukup dalam, rasa sakit yang amat besar mulai menyebar ke seluruh tubuhku, diriku pun menjerit merasakan kepedihan itu.
"Diamlah!!!"
"Inilah hukuman yang pantas untukmu!!!"
"Uwaaa....."
Saya mencoba memohon ampunan darinya, namun itu tidak cukup untuk membuatnya berhenti, beliau terus mencambukku dengan sangat kejam sebagai bentuk kekesalannya terhadapku.
"Padahal hanya sedikit lagi kita bisa menguasai Kerajaan Beltharm!!"
"Namun sayang semua itu hancur seketika!!!"
"Khhhaaa......"
Saya mencoba menahan semua rasa sakit yang sangat besar ini, namun bunda tak henti-hentinya menyiksaku dengan sangat kejam.
"Dasar tidak berguna!!"
"Iaaaa...."
"Bunda..... mengapa anda melakukan hal ini?"
__ADS_1
Tak peduli meskipun saya menjerit dan memohon ampun kepadanya, beliau tetap tidak berhenti mengayunkan cambuknya.
"Mengapa katamu?"
"Ini semua adalah karena salahmu!!!"
"Tidak....."
"Kumohon ampuni diriku......"
Kemudian beliau mulai mencambukku di bagian kaki dan tangan, hal itu membuat kakiku menjadi tidak kuat menopang tubuhku hingga membuatku hampir terjatuh, namun jika diriku terjatuh maka kedua tanganku akan tertarik dengan sangat keras oleh rantai-rantai yang mengikatnya, saya pun diharuskan untuk tetap berdiri sembari menerima luka yang sangat menyakitkan.
"Sudah terlambat!!!
"Engkau tidak pantas untuk diampuni!!!"
Bunda tidak memperlakukanku layaknya seorang putrinya, beliau terus menyiksaku dengan sangat kejam seperti seorang budak.
Saya lelah mendapatkan siksana ini, seluruh tenagaku telah terkuras habis, bahkan suaraku tidak lagi bisa didengar, setelah sekian lama akhirnya bunda pun berhenti menyiksaku, lalu beliau berdiri di hadapanku sembari menatap dengan tajam diriku.
"Uhaaa.... uhaaa... uhaaa..."
Seluruh tubuhku mati rasa, dan napasku menjadi tidak beraturan, kesadaranku perlahan mulai hilang membuat penglihatanku menjadi sedikit buram.
Tubuhku kini penuh dengan luka, terdapat banyak sekali bekas sayatan mulai dari tangan hingga kaki, dari bekas luka itu mengalir darah segar yang sangat banyak hingga melumuri seluruh bagian kulitku.
"A-"
"Cih...."
"Berhentilan menatapku seperti itu!!"
"Agghhh...."
Bunda merasa kesal karena saya menatapnya, beliau pun mengayunkan cambuk yang sudah berlumuran darah itu ke arah wajahku, seketika ujung ekor cambuk tersebut menggores pipiku dengan sangat dalam menciptakan sebuah luka yang membentang dari pelipis mata kiri hingga ujung bibirku, darah segar pun mulai mengalir dari bekas sayatan tersebut.
Rasa sakit yang amat sangat besar perlahan menyebar di seluruh wajahku, bola mataku pun hancur karena tersayat oleh cambuk tersebut, kini saya hanya bisa melihat menggunakan mata kiri yang masih tersisa.
"Renungkanlah semua kesalahanmu itu!!"
"Dan sesalilah!!!"
Bunda mencengkram dagu milikku dengan kuat dan menariknya ke atas, wajahku pun terangkat sehingga diriku dapat menatap wajah beliau dengan jelas, keringat dan darah bercampur menjadi satu memenuhi wajahku, perlahan pandanganku mulai buram karena keringat yang menutupinya.
"Hmm.... sungguh menyedihkan!!!"
"Tapi janganlah bersedih!!"
"Berbahagialah Elena, karena engkau akan dikorbankan untuk sang dewa jahat!!"
Tiba-tiba bunda kembali berkata hal aneh sembari menunjukkan senyuman di bibirnya yang tampak sangat mengerikan.
"Itulah jalan penebus dosa yang pantas untukmu!!"
"Tidak, tungg....."
"Hen-hentikan....."
"Selamat tinggal Elena!!"
"Hihihihihi......"
Saya meronta-ronta mencoba melepaskan diri darinya, namun sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa dariku, bola mataku terus berhimpitan oleh jari-jari tersebut hingga menonjol keluar, rasanya bola mataku akan meledak, namun diriku hanya bisa pasrah dengan semua itu.
Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, namun itu tidak berlangsung lama, setelah itu muncul sebuah cahaya putih yang memancar dengan sangat terang hingga membuatku membuka mata.
"Ummm....."
Apa yang saya lihat adalah langit cerah berwarna biru bukan sebuah altar yang gelap dan sangat menyeramkan, saya pun mulai merasa aneh, seharusnya penglihatanku telah hilang sepenuhnya, namun kedua mataku masih berfungsi dengan normal, saya pun mencoba mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikanya namun tidak ada yang salah dengan hal itu.
Kemudian saya mengangkat tubuhku hingga ke posisi duduk, lalu saya menatap kearah kedua telapak tangan milikku, kulit yang seharusnya penuh dengan luka itu tampak sangat bersih, tidak ada bekas goresan maupun darah yang bercucuran di sana.
"Apakah ini mimpi?"
Saya merasa kebingungan dengan semua ini, saya masih mengingatnya, seharusnya kejadian itu belum berlalu lama, bahkan semua rasa sakit itu masih bisa saya rasakan saat ini.
"Itu bukanlah mimpi!"
"Eh?"
"Itu adalah serpihan ingatan yang hilang darimu!"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah samping, suara itu tidak asing bagiku, saya pun merasa terkejut dan segera menoleh ke arah tersebut, seketika tampak seseorang pria yang sedang duduk di atas sebuah batu besar dengan satu kaki diangkat, beliau adalah sang dewa naga.
"Ingatanku?"
"Benar."
Saya mencengram wajahku dengan telapak tangan kanan lalu merenungkan tentang semua ingatan yang ada di dalam kepalaku, bayangan demi bayangan terus bermunculan hingga perlahan semuanya mulai terhubung, ingatan tentang siapa diriku yang sebenarnya dan alasan mengapa saya bisa ada di sini.
"Bagaimana menurutmu?"
"Apa engkau merasa kesal, Elena?"
"Setelah mendapatkan perlakuan seperti itu oleh mereka!"
Tiba-tiba sang dewa naga bertanya kepadaku tentang perasaanku, beliau mengetahui kejadian yang ada di dalam mimpiku seakan telah melihat isi kepalaku, namun diriku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan tersebut.
"Ma-maafkan saya, saya tidak bisa menjawabnya...."
"Saya tidak mengerti dengan apa yang saya rasakan saat ini...."
Apakah diriku membenci mereka? Saya tidak tahu, sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, meskipun perlakuan orang-orang itu buruk kepadaku, namun tetap saja mereka adalah keluargaku, rasanya dadaku menjadi semakin sesak saat memikirkannya.
__ADS_1
"Engkau benar-benar gadis yang baik!"
Sang dewa naga pun memujiku, namun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, kemudian beliau bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arahku.
"Sekarang adalah waktunya latihan!"
"Bersihkanlah tubuhmu terlebih dahulu!"
Beliau mengulurkan tangannya kearahku, dengan malu saya pun meraihnya, perlahan beliau menarikku ke atas hingga saya berdiri, saat diriku menatap wajahnya seketika saya pun menjadi tersipu.
"Te-terima kasih banyak...."
Dengan suara yang pelan saya berterima kasih kepada beliau, seperti biasa sang dewa naga hanya menunjukkan wajah datarnya, meskipun begitu ketampanan beliau sangatlah mempesona.
"Aku akan menunggumu!!"
"Ah-baik......"
Kemudian sang dewa naga pun membalikkan badan lalu berjalan pergi menuju suatu tempat, dengan ekspresi malu saya pun segera berjalan menuju air terjun untuk membersihkan tubuhku, perlahan saya membuka gaun merah yang saya kenakan dan mulai berendam di sana.
Sembari berendam, saya kembali merenungkan kejadian itu, saya menatap ke arah genangan air yang berwarna merah tersebut, tampak bayangan wajahku dengan ekspresi murung, ditemani oleh suara air yang bergerincih membuat diriku merasa sedikit rileks, hawa sejuk menyelimutiku dengan nyaman.
Hari sudah menjelang siang, sepertinya saya sudah tidur terlalu lama, namun sang dewa naga tidak pernah membangunkanku, beliau rela menunggu sampai diriku bangun.
"Mengapa beliau sangat baik padaku?"
Diriku hanyalah seorang gadis yang dikorbankan, takdirku telah ditetapkan sejak lahir, tapi mengapa beliau tidak melakukan hal yang sama kepadaku?
Saya tidak bisa mengerti dengan apa yang beliau pikirkan, bahkan ekspresi wajahnya pun sulit di tebak, tapi rasanya beliau memang melakukan semua ini dengan tulus.
Sembari menatap langit yang berawan, saya pun memikirkan tentang beliau, setiap kali membayangkan wajah beliau entah mengapa dadaku berdebar-debar, saya belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Tanpa saya sadari, waktu berlalu dengan cepat, saya pun bergegas keluar dari air terjun dan kembali memakai gaunku, saya tidak boleh membuat beliau menunggu terlalu lama.
"Maaf membuat anda menunggu....."
"Tidak masalah!"
Saya berjalan menghampiri beliau yang sedang duduk, menyadari kedatanganku beliau pun menoleh kearahku dengan wajah datarnya.
"Ambilah!"
"Eh?"
Tiba-tiba sebuah gumpalan darah muncul di telapak tangan sang dewa naga, perlahan gumpalan tersebut membentuk sebuah pedang panjang berwarna merah, beliau pun memberikan pedang itu kepadaku.
Saat diriku memegangnya pedang itu, seketika terasa sangat berat, bahkan saya tidak kuat menahannya hingga membuat pedang tersebut jatuh menancap di atas tanah.
"Aghhh....."
"Cabutlah pedang itu!!"
"Ba-baik...."
Saya pun mencoba mencabut pedang tersebut dengan sekuat tenaga, meskipun diriku telah menggunakan dua tangan namun tenagaku tidak cukup untuk membuat pedang itu bergeser sedikitpun.
"Hiaaaa....."
Sang dewa naga hanya memperhatikanku dari dekat, beliau ingin diriku berhasil mencabut pedang itu menggunakan kekuatanku sendiri.
"Di dunia ini ada sebuah kekuatan yang disebut Inkarnasi!"
"Kekuatan yang lahir dari tekad dan imajinasi seseorang!!"
Beliau mulai membicarakan sesuatu hal yang tidak dapat saya mengerti, diriku pun mendengarkan dengan seksama apa yang beliau katakan.
"Perasaan suka, sedih, marah, dan benci!!"
"Bahkan insting untuk bertahan hidup!"
"Itu semua adalah wujud dari inkarnasi!!"
"Bayangkanlah sesuatu di dalam kepalamu, dan biarkan perasaan itu mengalir di dalam dirimu dengan sendirinya!"
Saya pun mengikuti apa yang dikatakan oleh beliau, saya memejamkan kedua mataku dan membayangkan perasan yang aku alami saat ini.
Saya ingin mencabut pedang tersebut dengan tangan ini!
Perlahan diriku merasakan sebuah sensasi yang mengalir di dalam tubuhku, apa yang saya lihat di dalam pikiranku adalah warna merah pekat, kemudan saya pun mendengar suara aliran air terjun yang sangat merdu.
Jiwaku seakan larut dalam aliran air, perlahan saya mencoba mencabut pedang itu menggunakan kedua tanganku, seketika tanganku terasa sangat ringan seperti tidak mengangkat beban sama sekali.
Kemudian saya membuka mata, apa yang diriku lihat adalah sang dewa naga yang berdiri di hadapanku, tidak ada yang aneh dengan hal itu, namun perlahan saya merasakan aebuah cahaya merah terang memancar dari bawah, seketika diriku pun menoleh ke arah tersebut.
"Eh?"
Pedang merah yang sebelumnya tertancap di tanah kini berada di genggaman tanganku, bilah pedang tersebut mengeluarkan cahaya terang berwarna merah yang bahkan lebih indah dari batu permata.
Saya pun terkejut dengan hal itu, beberapa saat yang lalu diriku tidak bisa mencabutnya, namun saat ini pedang merah itu terasa sangat ringan seperti sebuah tongkat kayu biasa.
"Engkau melakukannya dengan baik!"
"Te-terima kasih banyak....."
"Baiklah mari kita mulai latihannya!"
Sang dewa naga pun membentuk sebuah pedang merah yang sama seperti milikku dari darah yang mengalir di telapak tangan miliknya, kemudian beliau pun meletakan pedang itu di depan wajahnya sembari menatapku dengan serius.
"Saya mengerti...."
Saya pun segera mengambil posisi kuda-kuda, menggenggam pedang merah itu mengenakan kedua tangan dan menempatkannya tepat di depan wajahku, saya merasa ketakutan karena saya yakin beliau sedang serius, namun saya segera menarik napas dengan sangat dalam agar mengurangi rasa takut tersebut.
"Aku akan mengajarimu cara menggunakan Inkarnasi!"
__ADS_1
"Baik....."
Sang dewa naga mulai mengeluarkan aura membunuh yang sangat mengerikan, siapa saja pasti akan ketakutan setelah merasakannya, bahkan tubuhku menjadi gemetar dan jantungku berdetak sangat kencang, namun saya mencoba untuk tetap tenang dan terus mengatur napas secara teratur.