
Di dalam sebuah kuil terdapat seorang wanita yang sedang bertelekan di atas dipan, wanita itu menyandarkan wajahnya di telapak tangan kirinya sembari memandang ke suatu tempat, diliat dari ekspresinya sepertinya ia sedang menunggu kedatangan seseorang.
“Saya telah kembali Miko-sama….”
“Hmm?”
Tidak lama kemudian datang seekor rubah yang duduk di hadapan wanita tersebut, dan tiba-tiba rubah itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki yang mengenakan baju berwarna putih seperti seorang pendeta kuil.
Laki-laki itu pun menyampaikan sebuah pesan kepada sang wanita sembari menundukkan kepalanya, sang wanita itu pun bereaksi seketika seakan itu adalah sebuah kabar gembira.
“Apa engkau sudah menyampaikan surat itu?”
“Benar, beliau menerimanya dengan senang hati!”
Laki-laki itu pun menjawab pertanyaan sang wanita tersebut, ia berkata sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.
“Khhhhmmm….. kerja bagus!”
Kemudian wanita itu pun tersenyum, wajahnya yang sangat cantik tampak begitu mempesona, ia memacarkan aura memikat yang sangat tajam bagaikan sekuntum bunga yang baru saja mekar dan menyebarkan serbuk sari di udara.
Parasnya yang begitu dewasa dapat memikat hati siapapun yang memandangnya, benar-benar seorang wanita yang mempesona.
“Engkau boleh kembali ke tempatmu!”
“Baik Miko-sama….”
Kemudian wanita itu pun menyuruh si laki-laki tersebut untuk pergi, dengan patuh ia pun menuruti perintah itu, laki-laki tersebut kembali berubah ke dalam wujud rubahnya lalu membalikan badan dan pergi.
“Aahhhh, saya sudah tidak sabar menunggu kedatangan anda wahai dewa naga!”
“Khihihihi….. Khihihihi…..”
“Wajah yang dingin itu, saya sangat ingin menikmatinya!”
“Aahhhh…”
Tiba-tiba wanita itu mulai tertawa sendiri, ia menjulurkan lidahnya keluar dan mulai menjilati area bibir miliknya, wanita itu sedang membayangkan hal-hal romantis bersama seseorang, nafsu birahi miliknya meluap seakan sudah tidak tertahan lagi.
Sebuah pasukan yang sangat besar berjalan melewati lembah menuju sebuah kota kecil di depan mereka, sepertinya para pasukan itu ingin singgah sejenak di sana.
“Sepi sekali!!”
Seorang pemimpin kesatria yang menunggangi kuda mulai bergumam, ia melihat pemandangan kota yang sangat sunyi dan menyeramkan, bangunan-bangunan yang berdiri di sana tampak sangat tua dan terbengkalai, bahkan tidak sedikit yang telah hancur di makan usia.
“Apa kota ini telah ditinggalkan?”
Pemimpin kesatria itu pun merasa aneh dengan fenomena tersebut, tidak biasanya sebuah kota menjadi sangat sepi seperti itu. Para pasukan pun terus berjalan menyusuri kota, mereka tampak sangat kelelahan karena perjalanan yang telah mereka lakukan.
“Berhenti!!”
“Eh?”
Tiba-tiba si pemimpin kesatria itu berhenti, ia pun mengankat salah satu tangan miliknya untuk memberi sebuah isyarat, seketika seluruh pasukan yang ada di belakangnya pun terkejut dan langsung berhenti, mereka semua menatap kearah si pemimpin kesatria dengan wajah curiga.
“Ini….”
Si pemimpin kesatria itu pun melihat banyak sekali bercak darah di atas tanah, dilihat dari warnanya sepertinya darah itu masih baru, si pemimpin kesatria itu pun segera turun dari kudanya dan mulai memeriksa.
“Darah ini masih segar!”
“Apa ada sebuah pertempuran yang terjadi di sini?”
Lalu si pemimpin kesatria itu berlutut di dekat bercak darah yang tercecer itu dan melihatnya secara dekat, ia pun menduga bahwa ada sebuah pertempuran yang terjadi belum lama ini, si pemimpin kesatria itu mulai menyusuri bercak-bercak darah yang tersebar di mana-mana, bercak tersebut pun mulai mengarah ke suatu tempat.
“Waaaaahh……”
“Lihat itu!!”
Akhirnya pasukan itu menemukan sesuatu hal yang mencurigakan, dan seketika semua orang terdiam dengan kedua mata yang terbelalak, mereka semua terkejut dengan apa yang ada di depan mata mereka.
Ada sebuah tumpukan mayat manusia yang sangat banyak, bahkan jumlah itu sudah cukup untuk membuat sebuah gunung kecil yang menjulang tinggi ke atas, mayat-mayat itu mempunyai bekas luka sayatan yang sangat mengerikan di sekujur tubuhnya.
“Mengerikan sekali!!”
Para mayat itu memiliki penampilan seperti seorang bandit, dengan bekas-bekas luka tersebut sepertinya mereka bertempur melawan seseorang dan mati terbunuh.
“Hmmm….”
“Siapa yang melakukan ini?”
Kemudian si pemimpin kesatria itu mulai memegangi dagu miliknya, ia kembali berguman tentang kejadian yang ada di depan matanya, apa yang sebenarnya terjadi di kota itu, dan siapa yang telah melakukan pembantaian besar tersebut.
“Sir Bedivere, lihatlah!”
“Umm?”
Tiba-tiba seseorang kesatria memanggilnya, dengan segera si pemimpin kesatria itu menoleh kearah sumber suara, ia melihat seorang prajurit sedang berdiri di dekat sebuah pedang merah yang tertancap di tanah.
“Jangan sentuh itu!!”
“EH?”
“Agghhhh…..”
Si pemimpin kesatria itu merasa aneh dengan benda yang ada di sana, ia pun segera berteriak melarang prajurit itu menyentuh pedang merah yang tertancap tersebut, namun itu sudah terlambat, saat prajurit itu mencoba menyentuhnya seketika kulitnya meleleh seperti terkena zat asam, si prajurit itu pun
menjerit dengan keras.
“Khaaaa…..”
“Semuanya tetap tenang!!!!”
“Periksa keadaan sekitar!!!”
“Mungkin saja ada musuh di sekitar sini!!”
Kulit dan tulang miliknya hancur lebur menyisakan sisa-sia cairan yang sangat menjijikkan, semua orang yang melihat kejadian itu pun menjadi sangat terkejut, si pemimpin kesatria segera menyuruh pasukannya untuk siaga, mungkin ini adalah sebuah jebakan dari musuh.
Tidak lama kemudian pedang merah yang masih tertancap itu pun perlahan meleleh dan berubah menjadi cairan mirip gumpalan darah, sedangkan prajurit yang terkena efek pedang itu mengalami luka bakar yang cukup fatal dan harus kehilangan satu tangannya, demi mengentikan darah yang terus mengalir dari luka tersebut, salah seorang prajurit lainnya segera membalut tangan prajurit tersebut
dengan sebuah kain.
“Huaaaa…..”
“Bertahanlah!!”
Prajurit itu terus berteriak menahan rasa sakit di tangannya, sedangkan para prajurit lainnya berpencar mencoba memeriksa keadaan sekitar.
“Sir, kami tidak menemukan tanda-tanda musuh!!”
__ADS_1
“Hmmm….”
Setelah beberapa saat memeriksa keadaan, para prajurit itu tidak menemukan petunjuk apapun, sip pemimpin kesatria itu pun kembali merasa aneh dengan situasi ini, tanpa petunjuk yang ada mereka tidak bisa menyimpulkan sama sekali situasi yang terjadi di tempat itu.
“Apa maksudnya ini?”
“Siapa mereka?”
“Apa mereka hanya mengulur waktu saja?”
Si pemimpin kesatria itu terus berputar-putar dalam pikirannya, jika memang ada seseorang yang mencoba menghalangi jalannya maka ia harus melenyapkannya.
“Baiklah semuanya, kita akan pergi dari sini!!!”
“Eh, apa harus sekarang?”
“Benar!!"
“Ta-tapi kami belum beristirahat sama sekali!”
Akhirnya si pemimpin kesatria tersebut menyuruh pasukaannya untuk meninggalkan kota itu, tapi para prajurit yang ada di sana pun merasa keberatan, mereka sudah terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan.
“Jangan mengeluh!!!”
“Sedikit lagi kita sampai di hutan peri!!”
“Ayo pergi!!!”
Namun si pemimpin kesatria itu terus memaksa sehingga dengan berat hati para prajurit pun harus menyetujuinya, mereka pun segera kembali dalam formasi dan mulai berjalan pergi meninggalkan kota yang terbengkalai tersebut.
Di dalam hutan peri Alfheim, para peri berbaris mengelilingi sebuah altar yang sangat besar, mereka semua memandang kearah Elena dengan wajah yang penuh suka cita, hari itu akan menjadi sebuah perayaan besar bagi mereka, karena sekarang Sang Ratu Peri telah kembali.
“Baiklah yang mulia, mari kita mulai penobatannya!”
Kemudian salah seorang peri pun memandu jalannya acara tersebut, mendengar hal itu Elena yang mengenakan gaun putih berkilau segera bersiap-siap, ia berdiri di samping sang dewa naga yang mendampinginya.
“Yang mulia silahkan maju!”
“Baik…”
Peri tersebut pun mempersilahkan Elena untuk maju menuju ke atas altar, ia berjalan dengan hati-hati menaiki tangga, sembari dibantu oleh sang dewa naga Elena berjalan dengan sangat anggun.
“Huhuu….”
“Yang mulia…..”
Para peri pun mulai bersorak dengan ria, suasana di sana terasa sangat meriah, tidak hanya para peri yang datang dalam acara tersebut, tetapi beberapa binatang seperti burung, kupu-kupu dan juga mamalia lainnya juga ikut menyambut Elena.
“Yang mulia, kumohon terimalah ini!”
“Baik…”
Setelah Elena sampai di atas altar, kemudian dua orang peri datang menghampirinya sembari membawa sebuah karangan bunga yang telah dibentuk menyerupai kalung, peri tersebut pun memakaikan karangan bunga itu di leher Elena dengan perlahan, Elena pun menerimanya dengan senang hati.
“Baiklah kita lanjutkan ritualnya!”
“Silahkan lewat sini…."
Setelah memakaikan karangan bunga kepada Elena, para peri itu kembali memandu Elena menuju ke sebuah tempat, mereka pun berjalan melewati barisan para peri menuju ke pohon kehidupan.
“Yang mulia!!!”
“Terima kasih banyak….”
Sorak sorai terus bergema dari para peri, Elena pun hanya bisa membalasnya dengan senyuman, ia tampak sangat gugup karena dihilati oleh banyak orang.
Elena terus berjalan menuju puncak pohon kehidupan bersama sang dewa naga di sampingnya, tubuhnya sedikit gemetar karena gugup, ia tidak tahu harus berbuat seperti apa, namun saat ia menatap kearah sang dewa naga, rasa gugup di dalam dirinya seakan hilang seketika.
“Kita sudah sampai!"
“Umm?”
Setelah beberapa saat ahirnya mereka telah sampai di puncak, mereka pun kembali masuk ke dalam kastil, Elena merasa sedikit aneh karena mereka hanya berdiri di depan sebuah ruangan yang tertutup, ruangan itu tertutupi oleh sulur-sulur tanaman yang menjalar di seluruh bagian pintu sehingga mereka
tidak bisa memasukinya.
“Yang mulia, ulurkanlah tangan anda ke depan!”
“Lalu pejamkan kedua mata anda dan bayangkan ruangan itu terbuka!”
“Ah, baik….”
Kemudian Elena menuruti perkataan peri tersebut, ia mengulurkan salah satu tangannya kearah pintu tersebut lalu memejamkan kedua matanya.
“Ahhh….”
Dan tidak lama kemudian sebuah keajaiban terjadi, sulur-sulur tersebut mulai bergerak seperti ular, mereka terus tumbuh kearah sisi luar pintu dengan sangat cepat sehingga bagian ruangan yang sebelumnya tertutup kini telah terbuka.
“Nah, sekarang masuklah!”
Setelah itu Elena dan yang lainnya mulai memasuki ruangan tersebut, alangkah terkejutnya ia melihat seisi ruangan yang begitu indah.
“Waaahhhh….”
“Indah sekali!!”
Ruangan yang cukup besar itu tampak sangat mempesona, nuansa alami sangat terasa di dalamnya, ada banyak sekali sulur-sulur dan tanaman yang merambat ke seluruh dinding, bunga-bunga kecil bermekaran mengiasi ruangan dengan sangat rapih.
“Ummm….”
“Itu?”
Namun seketika pandangan miliknya teralihkan ke sebuah objek yang berada tepat di tengah ruangan tersebut, ia merasa takjub sekaligus penasaran dengan benda yang dilihatnya tersebut.
“Itu adalah buah suci!”
Kedua matanya tidak bisa teralihkan darinya, dua buah sulur tumbuh menyilang membentuk tanda hati di sebuah tunggul pohon kecil yang ada di bawahnya, sulur itu mengahasilkan buah berwarna merah muda yang berkilau, sekilas buah itu tampak seperti buah persik, namun bentuknya yang unik dan warnanya yang lebih terang menjadikannya tampak begitu menawan.
“Yang mulia, makanlah buah itu!”
“Eh?”
“Anda tidak perlu khawatir, ini adalah bagian dari ritual penobatan tersebut!”
“Saya mengerti…”
Kemudian peri itu menyuruh Elena untuk menetik buah tersebut, awalnya Elena merasa ragu untuk melakukannya namun peri itu mencoba meyakinkannya bahwa tidak akan terjadi apapun padanya, dan akhirnya ia pun menuruti perintah itu.
Ia mengulurkan kedua tangannya kearah buah tersebut, dan dengan hati-hati ia pun memetik buah tersebut hingga tangkai yang mengikat buah tersebut pun putus, kini buah suci itu telah berada di tangan Elena.
__ADS_1
Para pasukan kesatria itu telah sampai di sebuah hutan, mereka berjalan melewati jalan setapak yang sangat panjang, di sekeliling mereka tertutupi oleh pepohonan yang sangat lebat sehingga mereka tidak bisa melihat apapun selain jalan tersebut.
“Apakah ini masih jauh?”
“Berapa lama lagi kita akan samapai?!!”
Seorang prajurit yang kelelahan bergumam kepada teman yang berada di sebelahnya, ia berjalan dengan sempoyongan karena tidak kuat menahan tubunnya dengan seimbang, tenaganya telah banyak terkuras karena perjalanan tersebut, ditambah lagi mereka tidak pernah beristirahat sebelumnya.
“Aku tidak tahu!”
“kita patuhi saja perintah Sir Bedivere, jangan sampai beliau marah!”
“Aaahhhhh…… Aku sangat lelah!!”
“Rasanya kaki ku akan patah!!!”
Salah seorang teman prajurit itu pun menyuruhnya untuk berhenti mengeluh, namun si prajurit tersebut kembali menghela napas berat seakan ingin menyerah.
“Berhenti!!”
Tiba-tiba suara keras bergema hingga ke barisan belakang, suara itu berasal dari si pemimpin kesatria, di sebuah persimpangan jalan, di depan mereka ada dua buah jalan bercabang yang masing-masing mengarah ke tempat yang berbeda, salah satu jalan tersebut mengarah ke sebuah jurang yang sangat dalam dengan sebuah jembatan kayu yang tampak sudah rapuh, sedangkan jalan yang satu lagi mengarah ke dalam hutan yang sangat gelap.
“Hmmm….”
“Kita akan lewat sini!!”
“Baik….”
Si pemimpin itu pun terdiam sesaat, kemudian setelah itu ia memutuskan untuk mengambil jalan sebelah kanan yang mengarah ke dalam hutan, mereka pun kembali berjalan menyusuri jalan tersebut.
“Bukankah ini bahaya?”
“Apa maksudmu?”
“Lihatlah, hutan ini tampak begitu menyeramkan!!”
Prajurit yang sebelumnya mengeluh itu kembali berbicara kepada temannya, dengan ekspresi khawatir ia menoleh kearah sekeliling hutan.
Keadaan di sana tampak sangat menyeramkan, pohon-phon yang tumbuh tinggi menjulang menutupi seluruh daerah sekitar menyebabkan sinar matahari sulit menembus ke dalam, hawa dingin dan sunyi menyelimuti diri mereka dalam sekejap.
“Tapi sepertinya hanya ini jalan yang bisa kita lalui!”
“Daripada melewati jembatan yang rapuh itu!!”
Teman prajurit itu pun membalas pekataannya, nampaknya ia setuju dengan keputusan yang diambil oleh si pemimpin kesatria, ia berpikir meskipun ada sesuatu yang terjadi di depan sana, dengan jumlah pasukan yang sebanyak ini tidak mungkin mereka tidak bisa mengatasinya.
Para prajurit itu terus berjalan menyusuri jalan setapak tanpa mengetahui arah dan tujuan mereka, dengan tubuh yang sangat kelelahan, mereka dipaksa untuk tetap melanjutkan perjalanan.
“Hey lihat!!”
“Mmmm?’
Setelah beberapa lama berjalan, mereka akhirnya melihat sesuatu, seketika sebuah harapan muncul di dalam diri mereka, semua orang pun merasa sedikit gembira karena akhirnya menemukan tempat peristirahatan.
“Huh?”
“Ini kan!!!”
Namun apa yang mereka lihat di depat mata bukanlah tempat peristirahatan seperti yang mereka harapkan, melainkan sebuah persimpangan jalan.
“Apa maksudnya ini?!!!”
“Mengapa kita berada di tempat ini lagi?!!!”
Sebuah tempat yang telah mereka lihat sebelumnya, sebuah persimpangan jalan yang baru saja mereka lalui, perasaan itu muncul dari dalam otak mereka seakan kejadian ini belum berlalu lama, mereka pun menoleh kearah sekeliling, pemandangan yang mereka lihat sama persis dengan sebelumnya.
“Apakah ini sebuah ilusi?”
“Hey yang benar saja!!!”
“Setelah kita berjalan sejauh itu, kita kembali lagi kemari?!!”
Orang-orang pun mulai marah, tubuh mereka yang telah kelelahan ditambah lagi dengan dehidrasi yang mereka alami membuat mereka tidak bisa mengendalikan emosinya.
“Aku tidak tahan lagi!!!”
“Aku ingin berhenti!!!”
“Benar, aku sudah muak dengan semua ini!!!”
Para prajurit itu memprotes, suara mereka bergema menyebabkan keributan yang sangat besar, perlahan formasi mereka mulai hancur.
“Diamlah!!!”
Tiba-tiba si pemimpin kesatria itu pun turun dari kuda miliknya dan segera membentak semua prajurit, suaranya yang lantang seketika menhentikan keributan tersebut.
“Apa kau bilang?!”
“Kau ingin berhenti?!”
Kemudian si pemimpin kesatria itu menarik pedang miliknya dari sarungnya, dan menyodorkannya ke leher salah satu prajurit di depannya, seketika semua orang terkejut, tubuh mereka pun membeku.
“Aggghhhh…..”
Dengan cepat si pemimpin kesatria itu menyayat lehet prajurit di depannya dengan sangat dalam hingga tenggorokannya putus, prajurit itu pun langsung jatuh ke tanah dengan bersimbah darah.
“Bagi siapapun yang ingin berhenti maka serahkan kepala kalian sekarang juga!!”
Si pemimpin kesatria itu berteriak kepada semua prajuritnya dengan sangat keras, tidak ada satupun orang yang berani berbicara, mulut mereka tertutup rapat dan tubuh mereka gemetar ketakutan.
“Aku ulangi lagi, apakah ada yang ingin berhenti?!!!”
Si pemipin kesatria itu kembali mengulangi perkataanya, sembari membersihkan bilah pedang miliknya yang bersimbah darah, ia menatap tajam para prajurit tersebut sembari mengeluarkan aura membunuh yang sangat mengerikan.
“Jika kalian sudah mengeri, maka berhentilah mengeluh!!!”
Karena tidak ada seorangpun yang berani menjawab perkataanya, si pemimpin kesatria itu pun segera membalikkan badan, kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah persimpangan jalan itu.
“Hiaaa!!!”
Tidak lama kemudian tba-tiba pedang miliknya mulai bercahaya, ia pun mengangkat pedangnya ke atas dengan kedua tangan dan mengayunkannya ke depan, seketika kilatan cahaya putih membentang di langit membelah udara.
Kilatan cahaya itu masih membekas di udara menyebabkan retakan kecil, perlahan retakan tersebut mulai menyebar dan runtuh seperti pecahan kaca, seketika pemandangan sekitar berubah menjadi sebuah portal yang mengarah ke realitas lain.
“Ayo pergi!!”
“Baikk!!!!”
Semua orang pun menjadi tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, tanpa disadari tempat yang mereka cari selama ini berada tepat di depan mata mereka, lalu dengan semangat yang membara para prajurit itu pun bergegas memasuki portal tersebut.
__ADS_1