God Of Disaster

God Of Disaster
Negeri Peri


__ADS_3

“Hari ini kita akan bermalam si sini!”


“Baik...”


Hari sudah menjadi petang, cahaya senja yang kuning berkilau mulai menyebar ke seluruh angkasa menggantikan warna biru yang menyilakan mata, perpaduan warna tersebut menghasilkan sebuah pemandangan yang menyejukkan, melihat saat dimana cahaya mulai jatuh dalam kegelapan.


Elena dan sang dewa naga, berhenti di tepi sungai kecil yang jernih, mereka memutuskan untuk beristirahat dan menghabiskan malam di sana.


“Ummm saya akan mengumpulkan kayu bakar.....”


Elena pun segera meletakkan barang bawaan miliknya dan berinisiatif untuk mengumpulkan kayu sebagai bahan bakar untuk memuat api unggun, dengan eskpresi wajah yang lemas ia pun mulai mengambil ranting-ranting kering yang berserakan di dekatnya.


Sepertinya Elena masih belum bisa melupakan kejadian yang menimpanya tadi, masih tampak jelas kesedihan di wajahnya, namun ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya sekarang.


Sang dewa naga pun membiarkan Elena melakukan tugasnya, lalu beliau segera membentuk pedang merah miliknya dan segera pergi ke sungai untuk berburu ikan.


Setelah beberapa saat akhirnya Elena telah mengumpulkan cukup banyak kayu bakar, ia pun membawanya menuju perkemahan dan segera membuat api unggun sebelum matahari terbenam.


Elena menumpuk beberapa kayu menjadi satu dan meletakkan juga batu-batu kecil di pinggirnya secara melingkar sebagai pembatas, setelah semuanya selesai, Elena pun mengambil sepasang belati kecil di dalam tas miliknya.


“Huhaaa..... huhaaa....”


Saat Elena menggenggam belati tersebut, kedua tangannya mulai gemetar, lalu napasnya pun mulai terengah-engah, ia kembali membayangkan saat dimana dirinya mengambil nyawa seseorang dengan kedua tangannya itu.


Namun segera ia mencoba mengendalikan dirinya, Elena mulai mengatur kembali napas miliknya sembari memejamkan kedua matanya.


Setelah dirinya sudah tenang, Elena pun pergi menuju tumpukan kayu yang telah ia siapkan


sebelumnya.


“Haaaaahhhh.....”


Cheess~


Ia menarik napas yang dalam dan mencoba menyingkirkan rasa takut itu dari pikirannya, kemudian Elena pun mulai membenturkan kedua belati yang ada di tangannya dengan sangat kuat sehingga menghasilkan sebuah percikan api yang cukup besar.


Elena mengulangi tindakan tersebut terus menerus hingga percikan api itu mulai mengenai kayu bakar dan seketika muncul asap, api pun akhirnya menyala dengan sangat cepat dan membakar kayu


tersebut.


“Eh?"


Saat Elena menoleh ke arah jari telunjuk miliknya seketika ia pun sedikit terkejut, ada sebuah luka goresan kecil yang menyebabkan darah segar mengalir keluar, Elena tidak menyadari bahwa jari telunjuk miliknya telah terluka, hal itu mungkin disebabkan oleh belati yang menyayatnya saat ia membenturkannya tadi.


Elena pun segera megusap darah yang mengalir di jari telunjuknya tersebut, dan dalam sekejap mata luka yang membekas di tangannya itu telah teregenerasi sepenuhnya hingga tidak menyisakan bekas sama sekali.


“Elena, apa api unggunya telah siap?”


“Ah, benar, saya telah menyalakan api unggun tuan....”


Tidak lama kemudian sang dewa naga pun kembali dengan membawa beberapa ikan yang berhasil ditangkap, kemudian Elena pun segera membersihkan ikan-ikan itu dan meletakannya di atas api unggun.


Hari telah menjadi gelap kini cahaya bulan bersinar terang di atas langit, Elena dan sang dewa naga sedang duduk di depan api unggun sembari menunggu makanan mereka matang.


“Ada apa Elena?”


“Ah, tidak bukan apa-apa....”


“Saya hanya melamun....”


Melihat Elena yang termenung menatap api unggun, sang dewa naga pun memanggilnya, seketika Elena pun terkejut mendengar panggilan tersebut, ia pun segera menanggapinya dengan terbata-bata.


“Engkau pasti kelelahan, makanlah ini!”


“Te-terima kasih banyak....”


Kemudian sang dewa naga memberinya sebuah ikan bakar yang telah matang, Elena pun menerimanya dengan senang hati.


“Jangan terlalu menyesali suatu hal yang telah terjadi!”


“Karena itu akan membebani pikiranmu!”


“Maafkan saya....”


Sang dewa naga menasehati Elena agar ia tidak terlalu merasa terbebani oleh traumanya, Elena pun mendengarkan beliau dengan tenang sembari menundukkan kepala.


“Elena beristirahatlah!”


“Kita akan melanjutkan perjalanan besok!”


“Ah baik....”


Beberapa saat kemudian Elena telah selesai memakan makanan miliknya, kemudian sang dewa naga pun segera menyuruhnya untuk beristirahat karena Elena tampak sangat lelah, dengan nada pelan Elena pun menuruti perintah tersebut.


Elena membaringkan dirinya di dekat api unggun dan mulai memejamkan matanya, sedangkan sang dewa naga masih terjaga dan mengawasi keadaan sekitar.


Malam terus berlanjut, kegelapan telah mendominasi seluruh tempat, hanya ada bulan yang menjadi lentera dalam kesunyian.


Di saat Elena sudah terlelap, sang dewa naga mash terjaga dari tidurnya, beliau memandang ke arah langit berbintang dengan wajah datarnya.


Grsskkk~


Tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras dari balik semak-semak, sang dewa naga pun segera memalihkan pandangannya ke arah suara itu.

__ADS_1


Kemudian sang dewa naga melihat sesosok bayangan menyerupai rubah dengan mata merah menyala, beliau pun segera menajamkan tatapannya.


Tidak lama kemudian rubah itu pun keluar dari semak-semak, tidak ada yang aneh dengan rubah tersebut, hanya saja ia memiliki 9 ekor yang berkibar di udara.


“Apakah kau Shikigami?”


Rubah tersebut pun segera duduk dengan tenang di hadapan sang dewa naga, lalu beliau bertanya kepada rubah tersebut dengan nada pelan, namun tidak ada satupun jawaban darinya.


Rubah itu menggigit sebuah bambu di mulutnya, kemudian ia meletakkan potongan bambu tersebut di atas tanah dan dalam sekejap mata ia menghilang menjadi bayangan.


Sang dewa naga pun segera beranjak dari tempat duduk dan mengambil potongan bambu tersebut, beliau melihat ada sebuah gulungan kertas yang ada di dalamnya, kemudian sang dewa naga pun mengambil gulungan tersebut dan membacanya.


Setelah selesai melihat isi surat itu beliau pun kembali lagi menuju tempat duduknya.


Keesokan harinya mereka pun melanjutkan kembali perjalanan, Elena dan sang dewa naga berjalan menyusuri hutan yang lebat, sekeliling mereka terdapat pohon-pohon besar yang rimbun dengan ditumbuhi berbagai macam tumbuhan bersulur yang menjuntai seperti benang.


“Elena berhenti!”


“Huh?”


Tiba-tiba sang dewa naga menyuruh Elena untuk berhenti, tepat di depan mereka ada dua buah pohon raksasa yang tumbuh sejajar, dahan pohon-pohon tersebut tumbuh saling terhubung satu sama lain membentuk sebuah gerbang yang tampak sangat alami, namun anehnya jalan setapak yang mereka lalui tersebut pun ikut terputus tepat dihadapan kedua pohon itu.


Di balik gerbang hanya terdapat pepohonan rindang yang mengisi tempat itu, tidak ada rute lain yang bisa mereka tempuh, ini benar-benar sebuah jalan buntu.


“Masuklah....”


“Eh?”


Tiba-tiba Elena mendengar suara bisikan dari seseorang yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam, hal itu pun membuat Elena terkejut, kemudian ia melihat beberapa bintik cahaya berwarna hijau, biru, dan kuning terbang mengelilingi dirinya.


“Masuklah wahai gadis berkerudung merah....”


Elena kembali mendengar suara bisikan itu, dan kali ini terdengar sangat jelas baginya, ia pun menoleh ke arah sang dewa naga, namun beliau bersikap seakan tidak mendengar apapun.


Kemudian bintik-bintik cahaya itu pun mulai menyebar menuju ke arah gerbang dan akhrinya menghilang begitu saja, tanpa ia sadari perlahan kakinya mulai melangkah menuju kearah gerbang tersebut.


“Elena!”


“Cahaya itu....”


Sang dewa naga yang melihatnya segera mengikuti Elena, namun kali ini beliau tidak


menghentikannya, meeka berdua terus berjalan menuju gerbang itu dan seketika sebuah cahaya memancar dari dalam gerbang menutupi pandangan mereka.


“Tempat apa ini?”


Saat Elena membuka mata ia dikejutkan oleh hamparan rumput yang luas, hanya ada pemandangan hijau yang menghiasi sekutar, angin berhempus kencang membuat suasana sejuk yang menyegarkan.


“Selamat datang di Alfheim!”


Kemudian bintik-bintik cahaya itu pun mulai bersinar terang dan perlahan membentuk wujud menyerupai wanita, para wanita tersebut memiliki sepasang sayap yang mirip seperti kupu-kupu di punggungnya, warna gaun mereka pun berbeda yang melambangkan salah satu elemen kehidupan, mereka menyambut kedatangan Elena dan sang dewa naga dengan sangat senang.


“Peri kah...”


“Senang bertemu dengan anda wahai dewa naga!”


Sang dewa naga sepertinya mengenal peri itu, dan begitu pula mereka, peri tersebut pun mengucapkan salam kepada sang dewa naga dengan penuh hormat.


“Peri?”


“Benar, kami adalah bangsa peri!”


Elena nampaknya kebingungan dengan situasi saat ini, karena ia belum pernah melihat peri sebelumnya.


“Anda adalah orang yang terpilih wahai gadis suci!”


“Eh, saya?”


Tiba-tiba peri itu mengatakan hal yang mengejutkan kepada Elena, dan itu membuatnya sedikit kebingungan.


“Itu benar, engkau adalah kandidat ratu kami yang baru!”


“Ratu?”


Elena semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh peri tersebut, di saat yang begitu tiba-tiba ia bertemu dengan peri dan menjadi seorang kandidat ratu untuk mereka.


“Ratu Peri adalah seorang gadis yang pemimpin para peri!”


“Ia adalah sosok ibu bagi para peri yang menciptakan makhluk hidup dan menjaga keseimbangan alam, namun keberadaannya kini tidak pernah terlihat lagi!”


“Tepat sekali!”


“Ratu peri telah lama mati, dan kini beliau telah bereingkarnasi kembali ke dalam tubuh seorang gadis!”


Kemudian sang dewa naga pun menjelaskan hal itu kepada Elena, dan perlahan Elena pun mulai mengerti dengan apa yang beliau katakan.


“Ta-tapi mengapa harus saya?”


“Karena engkaulah gadis yang memiliki serpihan jiwa milik sang ratu peri!”


Saat Elena bertanya mengapa ia yang harus terpilih, seketika peri tiu pun menjawabnya dengan semangat, tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hatinya.


“Be-benarkah?”

__ADS_1


“Ya, izinkan kami untuk mengantar kalian ke tempat pohon kehidupan!”


“Ba-baiklah....”


Setelah lama berbincang, akhirnya para peri itu pun mengantar mereka menuju ke sebuah tempat.Elena dan sang dewa naga berjalan menyusuri padang rumput itu bersama dengan para peri, di sekeliling mereka ada banyak sekali kawanan hewan liar yang berlarian kesana-kemari dan burung-burung dengan bulu berwarna warni terbang di atas langit, sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.


“Lihatlah!”


“Itu?”


Setelah mereka berjalan beberapa saat, tiba-tiba salah seorang peri itu menunjuk ke arah depan, hal itu membuat Elena terpukau.


“Itu adalah pohon kehidupan!”


“Waahh....”


Apa yang ada di depan sana adalah sebuah pohon raksasa dengan ukuran yang sangat besar, pohon itu tumbuh menjulang bagaikan sebuah gunung, daun-daunnya yang lebat menggumpal di atas langit bagaikan awan yang berwarna hijau.


Di puncak pohon itu terdapat sebuah bangunan yang tampak seperti sebuah istana yang sangat megah, mungkin itu adalah tempat tinggal bagi para peri yang ada di Alfheim.


“Ah....”


Mereka terus berjalan mendekati pohon kehidupan tersebut, ada sekumpulan burung kecil yang terbang mendekati Elena, melihat hal itu Elena pun mengulurkan tangannya mencoba meraih mereka, akhrinya burung-burung itu pun mulai hinggap di ujung jari dan bahu milik Elena.


Mereka terlihat sangat jinak dihadapan Elena, sang dewa naga hanya menatapnya dengan ekspresi datar seperti biasa, sedangkan para peri tersebut tersenyum ceria menyaksikan hal itu.


“Kita sudah sampai!”


Akhirnya mereka pun berhenti tepat di depan pohon besar itu, Elena terkejut saat melihat ada dua buah gundukan besar yang berjejer seperti sebuah gerbang di depan mereka, salah satu gundukan tersebut berupa batu besar yang sudah berlumut sedangkan yang lain mirip seperti sebuah tanggul pohon yang telah mati dengan ditumbuhi sulur-sulur yang melilitnya.


“Ah mereka adalah Guardian of Nature!”


“Mereka bertugas untuk melindungi pohon kehidupan agar tetap aman dari bahaya!”


“Be-begitu kah...”


Kemudian para peri itu pun menjelaskan kepada Elena tentang kedua gundukan tersebut, mereka bliang bahwa itu adalah penjaga pohon kehidupan, namun sepertinya mereka hanya aktif di saat ada bahaya yang datang.


“Lihatlah!”


“Yang mulia telah kembali!”


Tiba-tiba sekumpulan peri lain mulai berdatangan menuju ke arah mereka, para peri tersebut terbang dengan sangat cepat dari atas langit dan mendarat tepat di hadapan Elena dan sang dewa naga.


“Selamat datang kembali yang mulia!”


“Telah lama kami menunggu anda kembali!!”


“Dan senang bertemu anda Dewa Naga Ozario...”


Kemudian para peri itu pun berbars dan tunduk kepada Elena dan sang dewa naga, dengan ekspresi gembira, mereka menyambut kedatangan Elena seperti keluarga mereka sendiri.


“Eh, ummm....”


“Angkatlah wajah kalian!”


“Baik...”


Elena menjadi sedikit gugup dengan hal itu, namun ia tahu hal apa yang harus ia lakukan kepada mereka, Elena pun menyuruh para peri tersebut untuk mengangkat kepala mereka.


Akhirnya para peri itu pun berdiri, meskipun Elena merasa sedikit canggung tapi ia juga merasa senang karena telah disambut oleh mereka.


“Baiklah kami akan mengantar kalian ke dalam!”


Para peri itu segera berbaris memberikan jalan untuk Elena dan sang dewa naga sembari


menundukkan kepala, tiba-tiba di depan sana muncul sebuah jalan yang menanjak menuju puncak pohon.


“Silahkan lewat sini!”


“Baik...”


Jalan yang transparan seperti sebuah kaca itu membentang menghubungkan mereka dengan puncak istana yang berada di atas pohon, Perlahan Elena dan sang dewa naga mulai berjalan menuju tempat itu.


Udara dingin mulai menerpa kulit mereka, bahkan awan sekarang berada di bawah kaki mereka, sang dewa naga dan Elena terus berjalan hingga akhirnya mereka tiba di depan gerbang kastil.


Kemudian sang dewa naga dan Elena pun masuk ke dalam kastil, seketika mereka disuguhkan oleh pemandangan yang sangat indah, ruangan yang begitu luas dan megah dengan bunga-bunga yang menghiasi ruangan seperti sebuah taman, begitu memanjakan mata.


“Silahkan duduk yang mulia...”


Di depan mereka ada sebuah singgahsana yang kosong, kemudian peri itu pun mempersilahkan Elena untuk duduk di sana sebagai tanda kembalinya ratu mereka.


“Ah maaf, sepertinya saya ingin beristirahat!”


“Begitu kah....”


“Baiklah kami akan menyiapkan kamar untuk anda...”


“Terima kasih banyak.”


Elena menolak tawaran tersebut dengan alasan ingin beristirahat, namun alasan sebenarnya adalah karena ia ingin menghormati sang dewa naga dan membiarkan beliau yang duduk di singgahsana tersebut, kemudian peri itu segera memandu Elena menuju kamar sedangkan sang dewa naga duduk di atas singgahsana menggantikannya.


“Silahkan nikmati waktu anda!"

__ADS_1


“Baik.”


Akhrinya Elena pun beristirahat di dalam kamarnya.


__ADS_2