
Di sebuah taman merah yang sangat luas, Elena berdiri memandangi hamparan bunga yang melambai-lambai, warna merah pekat mendominasi seluruh taman membuatnya tampak seperti lautan darah.
Harum semerbak menyelimuti daerah di sekitarnya diakibatkan angin yang berhembus menghempaskan serbuk sari di udara, di telapak tangan Elena terdapat dua buah kristal yang sudah retak, itu adalah inti dari para golem yang menjaga Alfheim.
Tidak lama kemudian Elena memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya seraya berdoa.
Tiba-tiba segerombolan kupu-kupu yang hinggap di hamparan bunga itu mulai beterbangan, cahaya biru terang memancar dari kepakan sayap mereka meninggalkan bekas partikel-partikel kecil di udara.
Perlahan gerombolan kupu-kupu itu terbang mendekat ke arah Elena, di saat yang sama ke enam sayap milih Elena kembali tumbuh dan membentang dengan sangat luas.
"Umm...."
"Eh?"
Saat Elena membuka kedua matanya, ia dikejutkan dengan banyaknya kupu-kupu yang terbang mengelilinginya, tidak lama kemudian dari telapak tangannya memancar pula cahaya biru terang, itu berasal dari serpihan kristal yang ia bawa.
Kemudian Elena membuka kedua telapak tangannya, perlahan kristal-kristal tersebut melayang di udara berdampingan satu sama lain, kemudian kupu-kupu yang ada di sekeliling Elena mulai berputar-putar mengelilingi kristal itu.
"Waaahh...."
Sebuah bayangan biru kehijauan tampak membentuk dua buah bilah pedang dengan panjang yang sama, kemudian kupu-kupu itu mulai menyatu dengan banyangan tersebut dan menjadi pedang seutuhnya.
Cahaya biru kehijauan mengalir pada bilah pedang itu bagaikan air, Elena pun segera meraih kedua pedang kembar tersebut, dan seketika sulur-sulur hijau menjalar di kedua lengan Elena dan dalam sekejap menyelimuti pedang yang ada di tangannya.
Sulur-sulur itu mulai membentuk sebuah sarung pedang, terdapat ukiran-ukiran indah yang menghiasi sarung pedang tersebut.
"Pedang ganda."
"Bagaimana cara menggunakannya?"
Elena masih belum mengerti mengapa ada sepasang pedang kembar di tangannya, bukankah selama ini ia hanya menggunakan teknik pedang dua tanggan saja saat bertarung.
Namun sepertinya ia harus mempelajari teknik pedang ganda, dan perlahan Elena pun berjalan pergi dari tempat tersebut untuk berlatih.
"Khhh...."
Elena menarik kedua pedang miliknya dari sarungnya, ia mencoba mengangkatnya menggunakan satu tangan, namun tangan kiri miliknya sedikit gemetar karena belum cukup kuat untuk menahan bobot pedang yang berat.
"Huuaaa...."
Seketika keseimbangannya menjadi tidak stabil dan membuatnya hampir terjatuh, pedang yang ada di tangan kirinya pun jatuh dan menancap di tanah.
"Hiiiaaaa!!"
Namun Elena berusaha kembali mengangkat kedus pedsng tersebut dengan sekuat tenaga sembati memperbaiki posisi tubuhnya.
"Ini sangat sulit!"
Elena terus mengulangi hal yang sama setiap kali ia gagal, dan secara bertahap ia berhasil menyeimbangkan posisi tubuhnya dengan benar sehingga kekuatan cengkraman tangannya juga semakin kuat.
"Hiiiaaa!!!"
Perlahan ia mengayunkan pedang di tangan kanannya ke depan, meskipun kecepatan ayunan miliknya sangat lemah namun ia berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
"Hiiaaaa!!!"
Kemudian Elena ikut mengayunkan pedang di tangan kirinya dengan gerakan seperti sebelumnya.
Gerakan itu ia lakukan secara berulang-ulang tanpa henti, perlahan keringan mulai bercucuran membasahi tubuhnya, namun hal itu tidak membuatnya lelah.
Semakin banyak ia mengayunkan kedua pedangnya, kecepatannya pun bertambah dan gerakannya menjadi semakin presisi.
"Sword Dance: Water Flow!!"
"Kyaaa...."
Perlahan Elena mulai mengkombinasikan teknik tarian miliknya dengan menggunakan pedang ganda, namun saat ia mencoba mengayunkan pedang miliknya, cengkraman pada tangan kirinya melemah sehingga salah satu pedang itu pun terlepas dan jatuh, di saat yang sama keseimbangan tubuhnya pun goyah, Elena ikut jatuh ke tanah bersama pedang miliknya.
"Khhhh....."
Tidak berhenti sampai di situ, Elena segera bangkit dan mencoba kembali.
"Hiiaaa!!!"
"Sword Dance, Water Flow!!"
Seketika kilatan cahaya berwarna biru berputar-putar di udara, Elena memejamkan matanya untuk menyelaraskan gerakannya, partikel-partikel cahaya yang membekas bagaikan bintik air yang jatuh.
Elena terus menari dengan sangat anggun, meskipun gerakan itu belum sempurna namun berkat latihan keras ia berhasil melakukannya.
"Huuuhhaaaaa....."
Detak jantung miliknya terasa begitu cepat dan napasnya terengah-engah, gerakan itu memakan cukup banyak tenaganya.
Ia pun mengusap keringat yang ada di wajahnya dan memutuskan untuk beristirahat sejenak, di dekat tempat ia berlatih ada sebuah sungai kecil yang jernih, Elena pun pergi ke sana dan mengambil sedikit air.
"Ahhh....."
"Segar sekali...."
Elena meminum air sungai tersebut, seketika kesegaran mengalir di dalam tubuhnya, hal itu membuatnya merasa lebih baik.
"Hai."
Setelah itu Elena duduk bersandar di bawah pohon besar, ia melihat beberapa burung yang sedang bertengger di atas dahan pohon, burung-burung itu berkicau dengan sangat merdu seakan ingin mengobrol dengannya, Elena pun menatap sekumpulan burung itu dengan wajah tersenyum.
"Ah terima kasih...."
Kemudian burung-burung tersebut terbang menuju ke arahnya, mereka memberikan buah-buahan kecil kepada Elena dan meletakkan sebuah bunga di atas kepala miliknya.
Elena pun bersantai ditemani oleh burung-burung yang bertengger di bahunya, mereka terus berkicau dengan merdu hal itu membuat rasa penatnya hilang seketika.
"Baiklah saya harus berlatih lagi!"
Setelah beberapa saat akhirnya Elena pun kembali melanjutkan latihannya, ia mengambil kedua pedang miliknya dan segera membentuk sikap kuda-kuda.
"Huuuuhhaaaa....."
"Sword Dance: Water Splash!"
Elena mengambil napas dalam-dalam, kemudian ia melompat ke depan sembari mengayunkan pedang miliknya secara vertikal hingga menghantam tanah.
Tiba-tiba dari dalam tanah tempat pedang itu mendarat, muncul percikan air yang sangat besar menyebar ke segala arah bagaikan memukul sebuah genagan.
"Sword Dance: Snow Hurricane!"
"Hiiaaaa!!!"
Kemudian Elena memutar tubuhnya dengan cepat dan mengayunksn kedua pedangnya secara bersamaan seperti sebuah baling-baling, seketika terbentuk pusaran angin yang sangat besar di sekelilingnya, bintik air yang masih melayang di udara terserap kedalam pusaran tersebut hingga membeku membuatnya terlihat seperti kristal salju.
Pusaran angin tersebut menyebar ke udara dan dalam sekejap hilang menyisakan bintik-bintik salju yang berguguran.
Elena terus berlatih mengendalikan pedang kembar miliknya, namun di sisi lain ia tidak menyadari bahwa Sang Dewa Naga sedang memperhatikannya dari kejauhan.
"Hydra pergilah!"
"Serang dia!"
__ADS_1
"Grrraaaa...."
Sang Dewa Naga memerintahkan Hydra yang ada di sampingnya untuk melawan Elena, dengan segera Hydra pun bangkit dan terbang menuju ke sana.
"Hiiaaaa!!"
Elana masih terfokuskan dengan tarian miliknya, ia mencoba mengkombinasikan beberapa teknik yang telah ia kuasai sebelumnya.
"Umm?"
Namun tidak lama kemudian pandangannya teralihkan oleh bayangan yang melintas di atasnya.
"Hydra?"
"Eh?"
"Kyaaa....."
Hydra mendarat dengan sangat cepat dan ingin menerkam Elena, melihat hal itu Elena pun terkejut dan segera menghindar.
"Hydra?"
"Apa yang anda lakukan?"
"Grraaa....."
Elena berhasil menghindari terkaman dari Hydra, namun tidak lama kemudian Hydra mencoba melancarkan kembali serangan kepada Elena menggunakan sembilan kepala miliknya.
"Khhh...."
Sebuah cairan asam yang menyembur mengenai sedikit kulitnya, hal itu menyebabkan rasa sakit yang sangat dahsyat bahkan kulit Elena hampir meleleh oleh cairan tersebut.
"Grrraaa....."
"Huh?"
"Apa anda ingin saya melawanmu?"
Hydra mengaum dengan keras mencoba mengatakan sesuatu kepada Elena, dan sepertinya Elena mengerti dengan apa yang Hydra lakukan.
"Saya mengerti!"
"Grrraaaa....."
Elena segera mengambil posisi siap, Hydra mulai menarik napas dan langsung menyemburkan cairan asam kepadanya.
"Hiiiaaa!!!"
"Sword Dance: Water Splash!"
Elena menghindari serangan tersebut dan segera melancarkan serangan balasan, ia melewati sela-sela-sela cairan asam yang akan melahap dirinya, ia menghunuskan pedangnya ke arah salah satu kepala milik Hydra.
"Khhh..."
"Keras sekali!"
Namun sayang, sisik Hydra yang sangat keras tidak dapat tertembus oleh serangan milik Elena, seketika kepala-kepala Hydra yang lain langsung mencoba menerkam Elena.
"Grrraaaa...."
"Sword Dance: Snow Hurricane!"
Elena kembali mengeluarkan teknik elemen angin miliknya, seketika pusaran angin yang besar menghempaskan para kepala Hydra tersebut dengan sangat kuat.
"Kyyaaa..."
"Khhhaa...."
"Grraaaa..."
"Hiiaaa!!"
Pertarungan sengit pun terjadi diantara mereka, serangan milik Elena belum berhasil melukai Hydra disebabkan sisiknya yang sangat keras, begitu pula Hydra yang kesulitan menangkap Elena karena kelincahannya.
Para makhluk-makhluk lain yang menonton pertarungan mereka merasa ketakutan, tidak ada satupun dari mereka yang berani menghalanginya.
"Agghhh...."
Elena terhempas dengan sangat kuat dan membentur tanah, salah satu pedang miliknya terlontar dan menancap di atas tanah.
"Grrraaa...."
"Tidak!"
"Huh?"
Saat Hydra hampir menyembur Elena menggunakan cairan asam miliknya, tiba-tiba muncul akar yang menjalar dari dalam tanah, akar-akar tersebut mengikat seluruh kepala Hydra dengan sangat cepat hingga membuatnya sulit bergerak.
Elan pun terkejut akan hal itu, namun ia melihat pedang mikiknya yang menancap di tanah memancarkan cahaya hijau terang.
"Sekarang waktunya!"
Hydra yang terikat oleh akar-akar tersebut terus meronta-ronta mencoba melepaskan diri darinya, melihat ada kesempatan Elena segera berlari mengambil pedang miliknya dan melancarkan serangan kepada Hydra.
"Butterfly Dance!"
Tiba-tiba partikel cahaya biru berkumpul di kedua bilah pedang miliknya, Elena pun melompat ke atas seketika keenam sayap kupu-kupu miliknya membentang lebar menciptakan banyangan kupu-kupu yang terbang mengelilinginya.
"Hiiaaa!!"
Elena mengayunkan pedangnya secara bertubi-tubi kepada Hydra, terdapat lebih dari 10 kombinasi serangan yang ia lakukan, bayangan kupu-kupu yang sangat indah membuat tarian tersebut tampak begitu anggun.
"Grrraaa...."
Serangan itu berhasil menggores sisik Hydra hingga melukai dirinya, Hydra pun jatuh ke belakang dengan tubuh yang terkoyak.
"Huuuhhaaa...."
"Huuuhhaaa...."
Elena berdiri dengan bertumpu pada salah satu pedang miliknya, seluruh tubuhnya terasa kaku dan napasnya terasa sangat sesak.
"Kuhukk...."
"Khhh...."
Hydra perlahsn bangkit, kini tubuhnya telah terbebas dari akar yang menjeratnya, bahkan luka yang ia terima perlahan mulai teregenerasi kembali.
Melihat hal itu Elena mencoba menggerakkan tubihnya, namun semua tenaga yang ia miliki telah habis terkuras, rasanya seluruh tulang miliknya akan hancur saat digerakkan.
"Huh?"
Namun Hydra tidak berniat menyerang Elena lagi, perlahan ia mendekati Elena sembari menundukkan kepala sebagai isyarat kekalahannya.
Dengan begitu pertarungan pun selesai, meskipun ini hanya sebuah latihan, namun Elena berhasil melukai Hydra dengan serangan miliknya.
"Terima kasih...."
__ADS_1
Dengan lembut Hydra membawa Elena pergi ke tepi sungai, ia membiarkan Elena memulihkan kembali tubuhnya.
"Kuhukuhuk...."
"Ahh...."
Setelah meminum air sungai itu, Elena pun menyandarkan dirinya di sebuah pohon, Hydra pun ikut menemani Elena dengan senang hati.
"Serang!!"
"Hiaaa!!!"
Pertempuran Aliansi Tiga Kerajaan melawan Kekaisaran Naga terus berlanjut, Jenderan Vritra yang berubah menjadi seekor naga berhasil menglululuh lantahkan barisan belakang.
"Grraaaa..."
"Agghhh....."
"Tidak!!"
Ia membakar siapapun yang ada di dekatnya hingga habis tak tersisa, sedangkan para dragonoid dan manusia serigala menyerbu dari depan di saat perhatian semua pasukan sedang teralihkan.
Sing~
Sing~
"Semuanya pertahankan formasi kalian!"
"Jangan biarkan kita terkepung!"
Pemimpin pasukan Aliansi mencoba mengkoordinasikan prajuritnya, namun satu per satu prajurit dibantai dengan mudah oleh pasukan Kekaisaran.
"Khhhaa...."
"Agghhh....."
Tidak ada perlawanan sedikitpun dari pihak Aliansi, pertempuran tersebut telah berubah menjadi sebuah pembantaian sepihak.
"Tidak, ini tidak mungkin!!"
"Agghhh....."
"Monster!!"
Ketiga pemimpin Aliansi bertekuk lutut di hadapan Jenderal Vritra, mereka mencoba berlindung di balik prajurit mereka, namun usahanya sia-sia.
Para prajurit Aliansi telah dibantai habis tak tersisia, tubuh ketiga pemimpin itu gemetar dan kedua mata mereka terbelakak menatap sesosok makhluk yang sangat mengerikan.
"Kami telah mencoba menempuh jalan damai dengan kalian!"
"Namun dengan bodohnya kalian mengabaikan tawaran itu!"
"Dan sekarang binasalah kalian atas kebodohan kalian sendiri!"
Jenderal Vritra mengintimidasi mereka membuatnya merasakan aura membunuh yang sangat mengerikan.
"Tidak, ini bukan salahku!"
"Dia yang melakukannya!"
"Hah, apa katamu?!"
"Kau sendiri yang mengusulkan rencana itu!"
"Hei jangan bercanda, aku tidak pernah mengatakan itu!!"
Ketiga orang itu mulai saling menyalahkan satu-sama lain, berharap bahwa dirinya akan terbebas dari kematian yang berada tepat di depan mata.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni ocehan kalian!"
"Hukuman yang pantas untuk kalian adalah kematian!!"
"Tidak, kumohon ampuni aku...."
"Tolonglah!"
Mereka merengek seperti anak kecil di hadapan Jenderal Vritra, namun ia tidak menanggapinya sama sekali.
"Tidakk...."
"Kami menyerah!"
"Kami akan menuruti permintaan anda....."
"Huuuaaa...."
Jenderal Vritra pun membakar mereka semua menggunakan semburan api miliknya, jeritan keras terdengar dati mulut mereka disebabkan kulit yang terbakar.
"Huuuaaa....."
"Panas!!!"
"Kkhhhaaa...."
Mereka tidak mati dalam sekejap, Jenderal Vritra menyiksa mereka dengan sangat kejam sehingga membuatnya merasakan sakit yang amat dahsyat.
"Agghh...."
"Khhhaaa..."
Di dalam markas musuh, Sigma dan Delta menyusup dan membunuh para prajurit penjaga brutal.
Mereka membunuh dengan senyap dan perlahan sehingga tidak dapat terdeteksi sama sekali oleh musuh.
"Khhhaaa...."
Dari dalam bayang-banyang, Delta menikam salah seorang prajurit yang sedang berjaga, dan dengan cepat mengambil pedang yang ada di pinggangnya kemudian melemparkannya ke arah prajurit lain yang juga sedang berjaga.
"Aghhhh...."
Pedang itu melesat dan menancap tepat di kepala prajurit tersebut, sehingga ia pun mati seketika.
"Khuhuk....."
Sedangkan Sigma menusuk leher prajurit lain dari belaakang menggunakan kuku tajam miliknya hingga menembus rahang bagian bawah, kemudian ia menariknya ke atas dengan sangat kuat hingga tengkoraknya tercabut dari tulang leher.
"Ini sangat mudah!"
"Shhht, berhentilah bicara dan mari selesaikan misi ini segera!"
"Baiklah, baiklah...."
Kemudian Sigma dan Delta terus menyusup ke bagian persediaan, kembali lagi mereka membunuh para penjaga dengan lihainya.
"Semua aman!"
"Misi selesai!"
__ADS_1
"Auuuu......"
Setelah mengamankan seluruh area para manusia serigala mengaum dengan sangat keras menandakan keberhasilan misi mereka.