GROWING

GROWING
10


__ADS_3

Keduanya kini berdiri saling berhadapan. Memandang satu sama lainnya dengan tatapan aneh --- yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.


"Dafa, Kinno ini anak semata wayang yang Om miliki.


"Hai Kinno, aku Dafa."


Sayang uluran tangan dan salam perkenalan hangat dati Dafa, tak langsung disambut baik oleh remaja berwajah oriental itu.


"Kau tidak keberatan kan kalau Kinno menginap disini?"


Dafa menggeleng. Malah sebaliknya. Dengan begini, bukankah itu artinya dia akan punya teman baru?


"Dad, aku gak mau tinggal di dalam penjara ini!!"


"Jaga mulutmu selama disini!" Danu menekan kalimatnya. "Setidaknya sampai Daddy menyelesaikan semua urusan pendaftaran sekolah Dafa."


Kinno memutar bola matanya. Ia tidak tahu akan melakukan apa saja di dalam kamar yang sama sekali tak mempunyai jendela itu.


"Oh ya Dafa, Kinno bawa hadiah ulang tahun untukmu."


"Sungguh?!" Mata Dafa membulat penuh.


"Nah Kinno, ayo cepat berikan hadiahnya ya..."


"Dad...!!" Kinno memelotot. Jengah juga ia melihat sikap konyol ayahnya itu.


Dengan malas dan ogah-ogahan, ia membuka tas ranselnya. Lalu memberikan sebuah kado pada Dafa.


"Terima kasih, Kinno."


"Yaa.." Jawab Kinno malas. Sedetik kemudian dia sudah menghempaskan tubuhnya ke atas kasur Dafa.


"Kau harus ingat apa tujuanmu ada di rumah ini, paham?!" Danu mendesis di dekat telinga anaknya.


"Yaudah, sana sih berangkat!"


"Awas kalau kau sampai berani berbuat yang macam-macam dengannya!"


Kinno menarik bantal tidur milik Dafa. Lalu menutupi wajahnya dengan bantal itu. Sepertinya ia ingin cepat-cepat mengakhiri semuanya ini.


"Dafa, Om Danu berangkat dulu ya. Kalau kamu mau bertanya-tanya tentang sekolah, tanyakan saja pada Kinno."


"Oke, Om."


Dafa melirik pada Kinno. Dilihatnya Kinno yang malah sudah tiduran sambil memeluk gulingnya.


"Kinno, aku masih punya kue tart ulang tahun kemarin. Kau mau tidak?"


Kinno membuka sebelah matanya. Menghela nafas pendek dengan satu pertanyaa besar di kepalanya.


Kenapa ia harus bertemu dengan manusia aneh seperti orang yang ada di depannya kini sih?!


"Baiklah kalau kau tidak mau." Dafa mengembalikan potongan kue tart itu ke dalam kulkas. Lalu ia kembali pada Kinno. "Aku punya banyak harta karun loh di dalam lemari itu."


Dafa membuka lemari kayu dengan ukirannya yang sangat indah dan artistik itu.


"Ada susu kotak, wafer, ciki, biskuit sama celenganku."


Ya.. Ya.. Ya.., jadi itulah yang dimaksud dengan harta karunnya itu.


Perlahan Kinno memejamkan matanya. Rasa kantuknya itu diakibatkan karena kemarin ia berlatih dengan teman-teman di sekolahnya sampai larut malam. Hingga membuat tenaga dan waktunya terkuras habis.


"Kinno, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Kinno membuka matanya. Ia malah melempar Dafa dengan bantalan kursi.


"Aku mau menggambar dulu. Kau tidur saja dulu ya."


Kinno tak menjawab. Sebab ia sudah asyik berchating ria dengan teman-teman sekolahnya. Tidak ada hal yang dibicarakan, selain mengenai turnamen memasak yang akan digelar kurang dari seminggu lagi itu.


Saking asyiknya membalas chat-an teman-temannya, ia tidak tahu kalau sekarang ini sudah jam 5 sore.

__ADS_1


"Kinno, aku mau mandi dulu. Nanti kau kalau mandi jangan berantakin mainan aku ya.."


Kinno pura-pura cuek setiap apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang aneh dengan mata biru jernihnya itu.


Namun bola matanya selalu saja bergerak dengan diam-diam, mengawasi setiap gerak-gerik yang dilakukan Dafa.


"Selamat sore, Den Kinno. Si Mbok siapkan makan malam dulu ya."


Kini perhatiannya teralih pada wanita tua yang masuk ke dalam kamar Dafa dengan membawa sebuah kereta dorong besi, dan menata beberapa piring berisi nasi dan lauk-pauknya pada meja bulat kayu yang ada di dekat meja lampu.


Dia mulai berfikir kalau tinggal disini, tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Kalau di rumahnya, ia harus turun dari lantai dua, cuma untuk menikmati makan malamnya yang sangat tidak enak dengan ayahnya.


Tapi disini, ia tidak perlu keluar dari kamar, karena semua-semuanya sudah ada yang melayani.


"Mbok, aku sudah selesai mandi."


"Pak Popo tolong rapihkan dulu ya, Saya mau mengurus Den Dafa sebentar."


"Iyaa.."


Kinno melekatkan pandangannya pada sosok yang tidak lebih tinggi darinya itu. Yang kini cuma memakai ****** ******** yang berwarna kuning, dan perut serta punggungnya sedang dibaluri minyak kayu putih oleh Mbok Parni.


"Mbok, aku mau makan indomie rebus dong.."


"Besok aja ya, Den. Sekarang kan sudah si Mbok buatkan sup telor puyuh sama ayam kecap."


"Ada kerupuk udangnya kan, Mbok?"


"Ada, Den."


Selesai memakaikan piyama pada Dafa, Mbok Darmi mengambilkan nasi dengan lauknya, lalu mulai menyuapi anak laki-laki, yang sedang duduk memperhatikan Kinno yang masih saja enggan turun dari atas kasurnya.


"Kinno, kenapa kau tidak makan?"


"Aku gak laper."


Krruuukkk...


Dafa mengikik mendengar suara keroncongan perut Kinno barusan.


"Masakan buatan Mbok Parni itu enak, Kinno. Tapi kadang-kadang suka keasinan sih."


Kinno pun turun juga dari kasurnya. Ia menuju kulkas dua pintu yang ada di dekat pintu kamar mandi.


Namun begitu ia membukanya, ia segera menutupnya kembali. Karena isi kulkas itu gak lain adalah puding, puding, dan puding.


"Gak ada buah atau apa gitu, Mbok?"


"Ada di meja makan, Kinno. Kalau kau mau, kita bisa bersama-sama ke bawah."


"Jangan, Den. Biar si Mbok saja yang mengambilkan."


Kinno kini duduk di sofa berwarna cokelat susu yang diapit oleh dua rak besar berisikan koleksi mobil-mobilan berukuran kecil milik Dafa.


Tidak ada x-box, playstation, wifi, dan bahkan led tv berukuran 60 inchi itu pun, cuma menampilkan video recorder tentang alam, yang terus diputar berulang-ulang.


"Kinno, nanti aku tidurnya di bawah aja ya."


Kinno tersadar dari lamunannya. Ia mendapati Dafa yang sedang membawa bantal, guling dan selimutnya, ke bawah kasurnya.


Ia benar-benar bingung dengan tingkah orang yang sedaritadi sibuk sendiri itu. Mengambil boneka dan mainan, dan juga buku bergambarnya, lalu membawanya ke bawah kasurnya.


Daripada menyiksa dirinya sendiri, Kinno pun akhirnya makan juga. Dia melahapnya dengan cepat sekali. Bahkan sampai tambah dua kali dengan porsi banyak.


"Sepertinya kau itu lapar sekali, ya?"


Kinno baru sadar kalau sedaritadi ternyata Dafa memperhatikannya dari kolong tempat tidurnya.


Selesai makan, Kinno membuka tas ranselnya. Mengambil handuk dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Den Dafa, lampunya mau si Mbok matikan atau tetap menyala saja?"

__ADS_1


"Matiin aja ya, Mbok.."


Dafa menyalakan senter kecil dan diarahkannya pada buku bacaan yang sedang dibacanya.


Cklek.


Lampu kamar menyala lagi. Membuat Dafa keluar dari persembunyiannya.


"Aku gak bisa lihat.." Tukas Kinno sambil mengacak-ngacak isi tas ranselnya.


"Kau mau aku balur minyak kayu putih sama bedak juga? Biar wangi dan nanti tidurnya bisa nyenyak.."


Kinno mengeluarkan parfum khusus cowok. Lalu menyemprotkannya pada ketiak dan tubuhnya.


"Kau gak punya parfum yang seperti ini?"


Dafa menggeleng. "Kata bunda, parfum itu banyak alkoholnya. Nanti aku bisa mabok."


Kinno memutar bola matanya. "Ini cuma buat di semprotin ke tubuh. Bukan buat diminum."


"Ohhh..., oke!" Dafa pun kembali masuk ke dalam persembunyiannya.


"Kau gak punya hape ya? Aku pinjem charger dong.."


Dafa keluar lagi dari persembunyiannya. "Hapenya yang seperti apa sih, Kinno?"


Kinno menunjukkan samsung galaxy note 8 nya pada Dafa.


"Sebentar ya, aku cari dulu di lemari."


Kinno rupanya agak penasaran dengan apa yang di dalam lemari kaca itu. Ia ingin melihat ke dalamnya tapi terhalang oleh tubuh Dafa.


"Yang seperti ini ya hapenya?"


Kinno menelan ludah. Sebab Dafa malah menyodorkan kotak hape yang sama persis seperti miliknya, namun kotak itu masih dalam keadaan tersegel sempurna.


"Iya nih, sama persis."


"Wait..!!" Kinno refleks memegang tangan Dafa.


'Kinno, cepatlah!! Jangan sampai kita tertangkap oleh pak tua galak itu!'


Kinno refleks menarik tangannya. Suara barusan itu --- sepertinya ia pernah mendengarnya. Hanya saja, ia tidak tahu pastinya.


"Ini chargerannya. Tapi nanti jangan dicolok terus semalaman ya. Soalnya kalau meledak, nanti rumah bunda bisa kebakaran.."


Kinno masih diam terpaku. Matanya masih saja terpusat pada kotak hape samsung galaxy note 8 yang baru saja dibuka oleh orang aneh itu -- dan kemudian, hape dan kardusnya itu digeletakkin begitu saja di lantai.


"Kinno..."


"Hmmm..."


"Kau belum tidur ya..?"


Bagaimana Kinno bisa tertidur, sementara group whatsapp teman-teman sekolahnya sedang ramai membahas tentang turnamen memasak berskala nasional itu.


"Aku kira kau itu orang yang sangat baik, Kinno..."


Kinno menyingkirkan hapenya dari pandangannya. Apakah yang barusan itu, ia salah dengar atau malah sebaliknya?


"Kalau begitu kau akan kuberitahu sebuah rahasia besar yang aku simpan di dalam kamar ini.." Dafa menyembulkan kepalanya dari kolong kasurnya. Dan begitupun dengan Kinno yang juga mengubah posisi tidurnya, dengan kepala berada di tepian kasur.


Lagi, mata keduanya bertemu kembali untuk beberapa saat...


"Tapi kau harus janji dulu, kau tidak boleh membocorkan rahasia ini sama siapapun. Termasuk sama bunda, Om Danu, Mbok Parni dan Pak Popo.."


Namun Kinno malah kembali tiduran pada posisinya semula. Untuk apa dia harus mendengarkan ucapan konyol dari orang aneh dan sangat bodoh itu.


"Kinno..."


"Aku udah ngantuk!"

__ADS_1


"Aku menyimpan rahasia itu di bawah tempat tidurku ini. Ingat ya, rahasia ini cuma aku dan kau yang tahu..."


...#####...


__ADS_2