GROWING

GROWING
47


__ADS_3

Dafa tertegun dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Bagaimana mungkin bangunan tua yang atap depannya sudah miring, dan tanpa penerangan dan juga air itu, ternyata menampung dua puluh lima anak yatim piatu yang masih kecil-kecil itu.


"Kakak, cuma ini yang kami punya.." Seorang bocah perempuan maju sambil menyodorkan satu kantung plastik hitam besar padanya.


Dafa berlutut. "Apa ini?" Tanyanya sambil membuka kantung plastik itu.


"Itu adalah hasil kerajinan yang kami buat dari barang bekas."


"Tolong jangan laporin Adit sama Tanto ke polisi ya, Kak Dafa.."


Hati Dafa bergetar melihat ekspresi anak-anak kecil malang itu. Ternyata selama ini kedua bocah laki-laki kurus itu mengambil air dari keran belakang sekolahnya, untuk minum dan mandi seluruh anak-anak panti disini.


"Jangan diulangi lagi anak-anak. Perbuatan mencuri itu sama saja dosa. Bagaimana nanti kalau Allah marah sama kalian?" Ujar Bu Aini dengan mata berkaca-kaca. "Tolong dimaafkan ulah anak-anak ini, Nak Dafa."


"Aku minta maaf, Kak Dafa. Aku sama Tanto janji tidak akan mencuri air dari sekolah Kak Dafa lagi.."


Dafa menggeleng dengan mata berkaca-kaca. "Kalau kalian butuh, kalian ambil saja. Sepuasnya...!"


"Sungguh?!!" Mata Tanto membulat.


"Tidak, Kak Dafa. Kami tidak mau merepotkan Kak Dafa lagi." Kata Yuni sambil menyikut pinggang Tanto.


"Tidak apa-apa. Kalian bisa kok mengambilnya sebanyak yang kalian mau.."


"Asyikk..!!" Hampir sebagian anak-anak itu melompat kegirangan.


"Kita jadi gak usah nampung air hujan lagi buat mandi sama minum..!" Celoteh Adit riang.


Dafa perlahan bangkit kembali. "Boleh aku lihat-lihat, Bu?"


"Tapi maklum, Nak Dafa. Keadaanya cuma seperti ini." Sahut Bu Aini pelan.


Dafa pun mulai menjelajahi tiap kamar yang ada di panti tak bernama itu. Tidak ada kasur maupun lemari di dalamnya. Dia cuma mendapati kardus, kasur lipat yang sudah usang, dan juga pakaian yang ditumpuk ala kadarnya itu.


"Apa kalian tidak kedinginan tidur cuma dengan kardus ini?"


"Tidak kok, Kak. Soalnya kan kardusnya tebal." Jawab Tanto riang.


Dafa melihat ada seorang balita dengan kepala membesar yang sedang tiduran di atas lantai tak beralas apapun.


"Heii, siapa nama kau?"


"Namanya Aldi, Kak Dafa." Jawab Aisyah.


"Kok enggak dipakaikan bantal?"


Seorang bocah berlari menuju kamar lain, dan kembali dengan membawa sebuah bantal usang yang sudah tipis.


"Jangan dikasih, Uli! Nanti kalau diilerin sama Aldi gimana? Kan bau, tahu..!"


"Gak papa. Nanti kalian aku beliin bantal baru yang lebih tebal dan empuk ya.."


"Beneran, Kak Dafa?!!"


"Iya.."


Dafa pun meraih bantal usang itu dan menempatkannya di bawah kepala Aldi. "Sudah dibawa berobat, Bu Aini?"


"Belum, Nak Dafa." Jawab wanita tua dengan badan bungkuknya itu, segan.


Aldi meraih tangan Dafa. Lalu menggenggam jemari Dafa kuat-kuat.


"Besok aku beliin selimut sama kasur, ya.."


Dafa pun kembali melanjutkan mengelilingi panti itu. Ia melihat ke dalam kamar mandinya yang sempit, pengap, dan berbau tidak sedap.


"Kalau aku sama Tanto cuma kuat ambil dua ember air, biasanya kami mandinya gantian Kak Dafa." Ucap Adit. "Ada yang hari ini mandi, ada juga yang tidak."


"Memangnya sudah berapa lama air dan listrik disini diputus, Bu?"


"Sudah setahunan, Nak Dafa. Sejak para donatur itu meninggal. Sudah tidak adalagi donatur lain yang datang ke panti ini."

__ADS_1


Dafa membuka tudung saji di atas meja makan reyot itu. Tidak ada sedikitpun makanan yang dijumpainya. Bahkan di dalam rak piring pun cuma didapatinya beberapa gelas dan piring saja. Itupun dalam keadaan berdebu dan kotor sekali.


"Mereka bisa makan darimana, Bu Aini?"


"Dari hasil berjualan kerajinan barang bekas, Nak Dafa. Kalau lagi ramai, sehari mereka bisa mendapat uang sampai lima belas ribu."


"Lima belas ribu?! Untuk mereka semua? Apa cukup, Bu Aini?"


"Ya alhamdulillah selalu cukup, Nak Dafa."


Sebulir air mata Dafa mengalir turun membasahi pipinya. Dia sangat menyesal karena ternyata ada mereka yang sangat membutuhkan bantuan, dan dia sampai tidak menyadarinya.


Selama ini dia selalu disibukkan dengan urusan sekolah dan bisnisnya. Tentang bagaimana caranya mendapatkan banyak uang, dan juga piala kemenangan itu.


Memikirkan dirinya dan juga egonya sendiri. Tanpa pernah melihat keadaan di sekitarnya.


"Kalian semua puasa?"


"Puasa dong, Kak!!" Jawab anak-anak kecil itu kompak.


Meski dalam kehidupan serba kekurangan, namun tak menjadikan halangan bagi anak-anak itu untuk tak menjalani ibadah puasa yang cuma dilaksanakan sebulan dalam setahun itu.


"Bu Aini, aku cuma bawa uang segini. Semoga cukup buat buka puasa mereka sore nanti.."


"Ya Allah, Nak Dafa.." Bu Aini pun tak bisa membendung air matanya.


"Ambilah. Semoga mereka semua bisa tidur nyenyak malam ini..."


"Terima kasih, Nak Dafa.." Bu Aini pun menerima dengan tangan gemetaran. "Terima kasih sekali..."


"Nahh, kalau kalian mau ambil air lagi dari sekolahku, ambil aja. Kalau pak security nanya, bilang aja aku yang mengizinkan kalian."


"Terima kasih ya, Kak Dafa. Semoga Kak Dafa selalu diberikan kesehatan dan rezeki yang banyak sama Allah.." Dafa menarik Puteri, si bocah perempuan yang tidak bisa melihat sejak dilahirkan itu.


"Besok aku akan datang lagi. Tunggu aku ya, teman-teman..."


...##### ...


"Pak Inu ayo ihhh, lama banget sih...!!" Dafa sudah tak sabaran. Apalagi saat melihat Inu masih mengenakan handuk yang dililit dipinggangnya itu.


Dafa mengambil alih posisi Inu. Ia memilihkan kemeja kotak-kotak berlengan panjang dengan celana denim untuk Inu.


"Sekarang aja udah jam satu. Udah gitu Pak Inu juga belum sholat dzuhur kan?!! Terus kita mau berangkat jam berapa?!!"


"Iya-iya..." Inu sampai mencubit gemas pipi Dafa.


Dafa kembali ke depan tv. Dia membuka kaleng tempat penyimpanan uangnya. Memisahkannya menjadi tiga amplop.


Satu amplop akan ia gunakan untuk membeli kasur, bantal, selimut dan juga makanan untuk anak-anak panti. Satu amplop akan ia berikan kepada Bu Aini. Dan satunya lagi ia belum tahu akan digunakan untuk apa.


"Pak Inu, cepetan apa sholatnya!! Keburu sore nih..!"


Tok.. Tok..


Dafa menegakkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja Inu keluar dari kamarnya dan bergegas membukakan pintu kosannya.


"Tuh kan!! Kok masih pakai sarung?!! Lelet banget sih kayak keong!!"


"Dafa, ada yang mau ketemu sama kau nih.."


Dafa menegakkan kepalanya kembali. Namun ekspresi wajahnya berubah tatkala ia melihat sosok Kinno kini sudah berdiri di dalam kosan Inu.


Dafa memutar tubuhnya. Kini ia duduk memunggungi Kinno dan Inu.


"Saya siap-siap dulu ya, Fa.." Ujar Inu sambil mengerling sekali pada Kinno.


"Daritadi kek. Lama amat!" Dafa misuh-misuh gak jelas.


"Kalau marah-marah puasanya bisa batal loh.." Inu menyembulkan kepalanya dari dalam kamar tidurnya.


"Siapa juga yang marah-marah, Pak Inu..!!"

__ADS_1


"Itu buktinya.." Inu menyengir lebar.


"Pak Inu nyebelin banget...!!"


Kinno masih berdiri mematung dekat kulkas. Dia tampak kikuk sekali dengan sosok yang masih saja enggan menyapanya itu.


"Semuanya sudah selesai. Sekarang kita berangkat dee --- hh.." Dafa menghela nafas pendek saat dia memutar tubuhnya dan melihat sosok itu lagi.


"Hai.." Sapa Kinno kikuk.


Dafa memutar bola matanya. Dia tahu kalau marah-marah itu bisa membatalkan puasanya. Lagipula, sekarang dia sudah tidak terlalu benci, sama Kinno.


"Kau mau minum apa, biar aku buatkan.."


Kinno menggaruk belakang kepalanya. "Aku puasa, Fa.." ujarnya pelan. Seperti malu.


Dafa mendekati Kinno. Ia mengarahkan hidungnya pada bibir Kinno yang merah dan tipis itu.


"Kau mau -- apa?"


Dafa memelotot seketika. "Kau gak puasa! Nafas kau bau kopi!!"


Inu pun memutuskan keluar dari kamarnya sebelum terjadi sesuatu lebih lanjut diantara keduanya.


"Kinno itu baru belajar puasa, Dafa. Jadi dia baru kuat setengah hari."


"Ohhh..." Dafa mengangguk. "Kalau gitu, kenapa tadi kau bohong?"


"Itu ---" Wajah Kinno memerah padam. Rasa gugupnya ini melebihi ketika ia harus menghadapi sesosok cewek pujaan hatinya di sekolah.


"Pak Inu, kita berangkat sekarang aja, deh.."


"Tunggu, Fa. Aku boleh ikut?" Tanpa sadar Kinno meraih tangan Dafa.


Mata keduanya bertemu sejenak. Sang waktu pun seolah berhenti bekerja. Ada sebuah perasaan aneh meliputi keduanya.


"Aku sama Pak Inu udah pesan grab."


"Tapi aku boleh ikut?"


Dafa mengangkat bahu. "Terserah. Tapi kau jangan makan sama minum di depan aku sama Pak Inu! Awas aja kalau kau sampai melakukannya nanti..!"


Bahkan sampai keluar kamar dan menuju tangga turun, Kinno masih saja menggenggam tangan Dafa. Dan Dafa pun seperti tak keberatan dengan perlakuan Kinno itu.


Yang membuat Kinno harus melepaskan tangan Dafa, adalah ketika handphonenya berdering. Dan untuk pertama kalinya, dia menolak panggilan masuk dari salah satu teman sekolahnya itu.


Kijang innova hitam itu sudah terparkir persis di depan gerbang kosan.


"Pak Inu di depan aja ya. Biar aku sama Kinno yang di belakang."


"Kau yakin, Fa?" Tanya Inu balik.


Dafa mengangguk mengiyakan.


Sepanjang perjalanan, Kinno terus melirik ke arah Dafa. Bagaimanapun juga ia harus tetap menjaga sikap, supaya Dafa tidak mudah tersinggung dan emosi padanya.


"Kalau uangku gak cukup buat beli kasur sama makanan gimana ya, nanti?"


Inu menoleh ke belakang. "Memangnya kau mau beli berapa banyak, Dafa?"


"Anak-anak panti kan kalau gak salah ada dua puluhan. Nah, nanti aku ---"


Kinno menancapkan pandangannya pada Dafa. Ia terhenyak bukan main saat mendengar penuturan Dafa itu.


"Kalau kurang, bisa pakai uang saya.."


Kinno kembali tersadar. Perhatiannya kini terbagi dua. Antara Inu dan Dafa.


"Gak mau! Uang Pak Inu ya uangnya Pak Inu. Uang aku ya uang aku. Gak boleh dicampur-campur."


"Ya kalau begitu, beli seperlunya aja dulu, Fa.."

__ADS_1


Dafa menggigit bibirnya. Ia seperti sedang berfikir keras. "Kalau begitu, aku harus bekerja lebih giat dan keras lagi. Sebab, kalau bukan aku, siapa lagi yang akan menolong anak-anak panti itu nantinya...?"


...##### ...


__ADS_2