GROWING

GROWING
31


__ADS_3

Babak pertama selesai sudah. Para dewan juri pun sudah mengantongi tiga puluh nama sekolah yang akan melaju ke babak final. Namun hal yang mengejutkan sebelumnya, sudah terjadi. Untuk pertamanya kalinya dalam sejarah, bendera emas yang biasa didapatkan pertama kali oleh Kinno dan teman-temannya, kini berhasil di rebut oleh Dafa dan teman-temannya. Dan bahkan, dua dewan juri, dengan sukarela telah mempersembahkan bendera emasnya kepada Dafa dan teman-temannya.


Semua peserta dari sekolah lain, dibuat tersentak dengan keajaiban yang sebelumnya belum pernah terjadi ini. Mengingat bahwa Kinno adalah satu-satunya siswa terkuat, yang dimana tak ada seorang siswa dari sekolah manapun, yang bisa melengserkan dia dari puncak kejayaannya.


Namun pada pagi ini, rupanya takdir berkata lain. Seorang penantang muncul dengan sangat mengejutkan. Mengalahkannya telak, dengan perolehan skor yang terbilang cukup jauh terpautnya.


"Pada babak final ini, kalian harus bisa menemukan satu bahan rahasia yang telah kami selipkan diantara ratusan bahan makanan lainnya.."


Bahan rahasia? Semua peserta yang dinyatakan lolos, sontak bertanya-tanya.


Mereka harus bisa menemukan bahan rahasia itu, sebab jika mereka berhasil menemukannya --- maka mereka akan mendapatkan dua bendera emas tambahan, dan tentunya itu akan sangat menguntungkan bagi sekolah mereka.


"Selain itu --- kami juga telah mengundang sebanyak 350 audiens yang kami pilih secara acak untuk dihadirkan dalam perlombaan ini!"


"Dimana nantinya mereka juga akan turut mencicipi dan memberikan nilai kepada setiap peserta!"


Tidak sedikit para peserta yang langsung memasang wajah pucat pasi saat membayangkan ratusan orang yang akan mencicipi dan memberikan nilai pada hidangan buatan mereka.


"Apakah itu artinya kita harus membuat ratusan porsi untuk mereka?!!"


"Ini sungguh gila!!"


"Lebih baik aku menyerah dan keluar saja!"


Sama seperti peserta lainnya yang sudah down duluan, Eka dan kelima teman-temannya juga berpikiran demikian. Mereka sungguh tak punya ide sama sekali untuk membuat hidangan apa pada babak final ini.


"Waktu kalian, adalah lima jam!"


"Dan para juri misterius itu, akan masuk pada pertengah perlombaan nanti!"


PRRIITTTT...!!!


Para ketua masing-masing regu, mulai konsen berpikir tentang hidangan apa yang akan mereka buat. Sebab, jika mereka sampai salah memilih, bisa-bisa semuanya malah akan berakibat fatal.


"Kita lihat, siswa-siswa dari Martin Luther School telah mulai bergerak duluan mengambil bahan-bahan...!!"


"Ya. Sepertinya mereka sudah mempersiapkan babak penentuan ini dengan matang sekali!"


Sementara kedua pembawa acara itu terus memberikan komentar -- di meja nomer 13 itulah, Dafa dan teman-temannya terlihat masih belum melakukan apapun.


"Sudah 15 menit..." Desis Tita pelan.


"Dafa, kenapa kau diam saja...!?"


Julian refleks memegang bahu Eka seraya menggeleng. "Biarkan dia berpikir sejenak.."

__ADS_1


"Tapi, Julian..."


Dafa mengambil buku notesnya. Lalu ia mencatat sesuatu, kemudian merobek dan melipatnya menjadi dua.


Lalu yang dilakukannya selanjutnya, sangatlah mengejutkan. Karena Dafa malah berlari menghampiri para dewan juri dan memberikan secarik kertas dengan catatan tulisan tangannya tadi.


Bllzztt...


Kembali, layar besar disana itu, menampilkan dirinya yang kini sedang berdiri dengan wajah serius di hadapan para dewan juri.


"Apa maksudnya ini, Dafa?" Tanya Stevie Wallerima.


Seorang panitia langsung memberikan microphone padanya. Dan sontak saja, semua orang langsung terdiam, dan menunggu kalimat apa yang meluncur dari mulutnya.


Tak hanya para peserta yang penasaran dan bertanya-tanya, tentang apakah yang sebenarnya sedang dilakukan Dafa sekarang ini. Seluruh orang yang ada di dalam stadion pun, juga berpendapat yang sama.


"Aku membutuhkan semua bahan itu.."


"Ini keterlaluan!"Suara Sicilia menyela. "Kami jelas tidak bisa mengabulkan permintaan konyolmu ini!"


"Memangnya apa yang dia minta, Sicilia?" Tanya Pak Tua Harris yang duduk di kursi paling ujung.


Lalu para dewan juri itu terlihat saling berdebat dengan wajah serius dan tak main-main.


Semua orang makin penasaran dengan apa yang sebetulnya diminta oleh anak laki-laki berkulit putih pucat itu. Mengingat, bukannya sudah ada ratusan jenis bahan makanan yang tersedia sangat komplit disana itu?


"Ehhmm -- halo..." Suara Dafa terpaksa menghentikan perdebatan yang terjadi diantara para juri.


"Apa yang ingin kau sampaikan, Dafa?" Anthony yang berbicara mewakili rekan juri yang lain.


"Begini bapak dan ibu dewan juri yang sangat saya hormati.." Dafa menjawab dengan tenang dan santai sekali. "Kita semua tahu kalau acara ini adalah acara terbesar dan termegah yang pernah diadakan. Ada begitu banyak tamu asing dan orang penting yang hadir dalam acara ini.."


"Langsung saja pada intinya!" Tegas Sicilia.


"Sabarlah, Sicilia.." Stevie Wallerima mengingatkan.


Dafa mengangguk seraya mengulas senyum. "Bagaimana kami akan membuat sesuatu yang sangat istimewa, jika kalian sendiri tidak bisa menyediakan bahan istimewa tersebut.."


"Hei, bukannya Caviar dan cokelat belgian yang mahal itu sudah tersedia juga?!Memangnya apalagi sih yang dia minta?!" Komentar seorang peserta dari dalam arena pertandingan.


Kinno pun kembali ke rak-rak penyimpanan bahan makanan. Ia memperhatikan dengan teliti dan seksama semua bahan makanan yang ada di hadapannya. Ia sangat penasaran dengan bahan makanan apa yang sebetulnya diminta Dafa, sampai-sampai para dewan juri itu berdebat hebat sekali.


"Kuberikan kalian waktu 10 menit untuk menjawabnya. Jika kalian tidak bisa menyediakannya, maka dengan segala hormat --- aku dan teman-temanku tidak bisa meneruskan pertandingan ini. Permisi."


Inu, Bu Fatma, dan Bu Nuriyanti sampai kompak berdiri, dan tak sedikitpun melepaskan pandangan mereka dari layar besar itu.

__ADS_1


"Apa Dafa serius mengatakannya?" Bu Fatma bertanya-tanya. Wajahnya seketika terlihat cemas dan khawatir.


Memang tak ada seorang pun yang tahu, terkecuali Dafa sendiri, dan kedua puluh dewan juri itu.


Dafa terlihat menguap beberapa kali sambil terus memperhatikan jam tangannya. Menunggu adalah sesuatu yang sangat membosankan untuknya.


"Waktunya habis. Kita pulang sekarang, teman-teman."


"Apa kau serius, Dafa?" Tanya Eka lemah.


Dafa mengangguk. Ia lalu melepas topi tinggi, celemek, dan meletakkan pisaunya kembali. Untuk apa dia berlama-lama di dalam arena pertandingan, yang malah membuatnya terlihat seperti orang bingung saja.


"Kalian benar-benar ingin keluar?!" Teriak seorang peserta.


"Tapi, kenapa?!!"


"Ayolah, berjuang bersama kami disini!!"


Dafa cuma melempar senyum pada teman-teman barunya dari sekolah lain itu. Hari ini dia sangat senang dan bersyukur sekali, karena punya banyak kenalan teman-teman baru dari berbagai daerah di negeri ini.


"Apa kau kecewa dengan keputusan Dafa?" Tita berbisik pada Eka.


"Kalau aku tidak." Sheila ikut nimbrung. "Apapun keputusan Dafa, aku yakin kalau itu adalah yang terbaik."


"Aku juga setuju." Gabriel menimpali. "Yang penting, tadi kita sudah berhasil mempecundangi Kinno dan teman-teman kayanya yang sombong itu.."


"BAIKLAH...!!" Joe berbicara dari tempatnya. Membuat Dafa dan teman-temannya menghentikan langkah mereka, dan menoleh ke arah dewan juri. "KAMI AKAN MENYEDIAKAN DALAM WAKTU SETENGAH JAM! DAN SEBAGAI KONSEKUENSINYA, KALIAN TIDAK AKAN KAMI BERIKAN WAKTU TAMBAHAN..!"


Senyum Dafa makin lebar. Dengan semangat berapi-api, ia kembali lagi ke mejanya.


"Kalian semua sudah siap, kan?"


"Siap?" Eka menelan ludah. Perasaannya jadi tidak enak.


"Siap untuk apa, Dafa?" Tanya Sheila.


"Siap untuk memperlihatkan pada semua, bahwa SMK Ellite Rovario adalah satu-satunya sekolah yang pantas untuk membawa pulang piala kemenangan itu!"


"Dafa..."


"Marilah kita bekerja sama sekali lagi. Demi membawa nama baik sekolah. Dan untuk mereka yang selalu menghina dan merendahkan sekolah kita. Teman-teman, apa kalian semua sudah siap..?!"


Keenam remaja itu saling bertukar tatapan. Lalu mereka mengangguk dan menyatukan tangan mereka dengan tangan Dafa.


"KITA SIAP...!!"

__ADS_1


...##### ...


__ADS_2