GROWING

GROWING
55


__ADS_3

"Tadi Om dengar kan, kalau anak itu bilang KFC?" kata si pemuda.


"Iya. Tapi kok, gak ada ya..?" Jawab si pria bertopi hitam itu.


Si pemuda bermata kecil itu, lantas berfikir sejenak. Ia yakin seratus persen kalau telinganya masih berfungsi dengan normal. Dan tadi itu, dia dengar kalau si bocah berponi itu mengatakan kepada teman-temannya akan berkumpul di KFC.


Hanya saja...


"Bukannya itu anak-anak yang tadi ya?" Kata si pria bertopi hitam.


Tak ambil pusing, keduanya bergegas menyusul ketiga anak-anak yang sedang bersepeda santai sambil membawa es potong di tangan mereka masing-masing.


Keduanya pun memasuki sebuah komplek perumahan. Lalu terus melaju hingga keduanya sampai di sebuah taman komplek perumahan itu. Dan di taman dengan banyak penjual makanan gerobak itulah, keduanya melihat segerombolan anak-anak yang ditemuinya di atm tadi.


"Pokoknya satu gerobak ini, Hassel beli semua, Bang!"


Sebagai si penjual, abang-abang itupun senang sekali mendengarnya. Apalagi dia juga sudah kenal dengan si bocah berponi yang lagaknya kayak bos itu.


Anak-anak itu pun makan ayam fried chicken abang-abang gerobak dengan lahapnya. Mereka juga sudah menghabiskan puluhan sachet saos tomat yang sebelumnya Hassel beli di minimarket depan taman tadi.


"Hassel, beliin magnum dong.."


Seketika Hassel melotot. "Kau mau nanti gigimu jadi ompong semua?!"


Bocah kurus berambut cepak dan gigi depannya yang ompong itu pun, menggeleng.


"Pak, Hassel mau beli air putih tapi di kasih es batu ya!!"


Bapak paruh baya itu menggaruk kepalanya. "Bapak teh gak jual air putih, Den. Adanya teh poci."


"Siapa yang haus?!"


"Aku..!! Aku...!! Aku.. !!" Serempak bocah-bocah itu berseru riang sambil mengangkat tangan kanan.


Disaat bocah itu sedang duduk santai di kotak pasir, kedua pria yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan pun, datang mendekat.


"Hassel...?"


Mendengar namanya dipanggil, Hassel menoleh dengan ekspresi wajah menyebalkan.


"Mereka kan dua orang yang di atm tadi!!" Teriak seorang bocah.


"Kalau kalian berani macem-macem disini, nanti Hassel panggilin security!!"


"Kau meninggalkan handphone dan kartu ini di atm.." Kata si pemuda.


"HHHAAAHHH?!!"


Hassel melongok sejadinya. Dia langsung merebut iPhone X miliknya itu. Dan dengan wajah kesal, dia berbalik dan memarahi teman-temannya.


"Kalian itu gak baik menilai orang cuma dari penampilan luarnya aja!!"


"Jadi, mereka bukan orang jahat ya?" tanya seorang bocah.


"Ya bukanlah, Dodi! Kau itu gimana sih?!"


Hassel kini memasang wajah polos nan lugu pada dua pria itu. "Aduh, kakiku sakit sekali nih.. kayaknya aku gak bisa naik sepeda ke rumah..."


Pemuda itupun mengangkat bahu pada pria di sebelahnya. "Om lihat sendiri, kan? Kita pulang sekarang aja deh.."


"Om, anterin aku pulang dong..!"


Kedua pria itu saling bertukar tatapan. Baru beberapa menit yang lalu, bocah itu menatap mereka dengan tatapan penuh curiga dan prasangka buruk. Tapi sekarang, lihat aja ekspresi memelasnya yang seperti anak ular itu.


"Sorry-sorry aja, kita berdua lagi sibuk." Sahut si pemuda cuek.

__ADS_1


"Nanti Hassel kasih kue deh..!"


"Kue?" Pria bertopi hitam itu mengerenyit.


"Iya, Om! Kue buatannya Kak Nata itu kue paling enak yang ada di dunia ini loh.." Hassel berkata dengan antusias sekali.


"Beneran, Om! Kak Nata itu meskipun tidak bisa melihat, tapi jago banget masak deh!" Seorang bocah lainnya menimpali.


"Kau jangan sok tahu deh!" Hassel cemberut. "Sebentar lagi Kak Nata mau dioperasi biar bisa melihat lagi!"


Dengan agak berat hati, si pemuda itu menaikkan sepeda roda dua milik Hassel ke dalam mobilnya.


"Sudah ya, aku pulang dulu. Kalian jangan main terus kalau mau pintar seperti aku!" Ujar Hassel dari dalam mobil si pemuda itu.


Padahal dari taman bermain, sampai ke rumah Hassel jaraknya tak lebih dari 500 meter saja. Namun bukan Hassel namanya kalau tidak bisa berpikiran cerdik. Ia sengaja memberi rute jalan memutar, supaya dia bisa lebih lama duduk di dalam mobil mewah yang sangat nyaman itu.


"Mobilnya mami itu jelek banget. Kursinya udah reyot. AC-nya juga gak dingin."


"Apa rumah kau masih jauh?" tanya si pria bertopi hitam.


"Itu tuh. Yang pagernya hampir roboh."


Kedua pria itu sama-sama melihat ke arah luar. Mereka memperhatikan dua rumah yang dijadikan satu. Rumah itu tidaklah besar dan mewah. Hanya saja, ada begitu banyak orang berlalu lalang keluar masuk.


"Om mau tahu gak, kenapa pager rumahku bisa mau roboh?"


Baik si pemuda maupun pria bertopi hitam itu, sama-sama melihat satu sosok wanita berwajah galak dan menyeramkan, sedang berdiri mengamati mobil mereka dari depan teras rumahnya.


Sandra agak heran dengan fortuner hitam yang terparkir persis di depan rumahnya. Tadinya dia mengira kalau teman kantornya yang datang berkunjung.


Tapi, begitu ia melihat anak nakal itu yang turun, emosinya naik seketika.


"Mami tidak usah cemas, karena Hassel sudah ditolong oleh kedua orang baik hati ini."


"Sakit, mamiii...!!"


"Mana kartu kredit Kak Nata?!"


Hassel memelotot sejadinya. "Punya Hassel, mami!! Kan dikartunya ada nama Hassel sih..!"


"Kau itu ya..."


Saat Sandra mau mencubit pipi Hassel, bocah itu sudah melesat cepat ke dalam rumahnya, sambil berteriak-teriak tidak jelas.


Dan disinilah, Sandra baru sadar kalau ternyata dia tidak sedang sendirian. Ada dua pria yang kini sedang berdiri memperhatikannya.


Sandra malu bukan main. Dia merapihkan rambut dan kemeja putih lengan panjangannya.


"Maaf..." Ujarnya kikuk.


"Ini sepeda anak tante.."


Sandra memelotot kembali. Kali ini malunya bertambah dua kali lipat.


"Saya minta maaf atas sikap anak nakal tadi.." Kata Sandra sambil meraih sepeda itu, dan mencemplungkannya ke dalam got depan rumahnya.


"Sepedanya..?" Si pria bertopi hitam itu agak terkejut dengan sikap Sandra.


"Tidak usah dipikirkan.." Wajah Sandra memerah bukan main.


"Sebenarnya tadi kami mengembalikan kartu kredit dan handphone milik anak tante yang ketinggalan di atm spbu di depan sana.." Jelas si pemuda.


"Oh ya?!!" Sandra memelotot. Kekesalannya memuncak lagi.


Untung saja yang menemukan kedua barang itu adalah orang baik. Coba kalau bukan?! Sudah pasti Hassel akan habis dijadikan makanan kalengan olehnya. "Kalau begitu, mari masuk dulu."

__ADS_1


"Gak usah tante. Kami mau pulang aja."


"Sama sekali gak repot kok. Mari.."


Begitu Sandra menginjakkan kakinya di ruang tamu, ia merasakan kepalanya seperti baru saja dihantam oleh palu kepunyaan Thor.


"HASSELLL...!!"


Bocah itu berlari menghampiri dengan cuma memakai ****** *****, bergambar tokoh kartun spongebob.


"Baru juga mau mandi! Apaan sih, mami ini!!?"


"Kau tahu gak, kalau si Mbok baru aja selesai beres-beres?!!"


"Mangkanya mami jangan suka kebanyakan nonton sinetron! Jadi keriput gitu mukanya! Wekkss..!" Hassel tertawa puas sambil berlari memasuki kamar mandi.


"Sudah, Nyonya. Biar si Mbok saja yang bereskan.."


"Aduhh, maafin Hassel ya Mbok.."


Kalau sudah begini, keputusan Sandra untuk memasukkan Hassel ke pesantren semakin bulat. Biar saja bocah itu merasakan bagaimana disiplinnya tinggal di pesantren itu nantinya.


"Mbok, tolong buatkan minum untuk mereka ya..."


Mbok Sumirah memandangi kedua pria tampan itu dengan senyum hangatnya. "Aden sama Bapaknya mau minum apa?"


"Ada sirup, kopi, teh, cola, es rumput laut..?"


"Es rumput laut boleh juga, tante.." kata si pemuda.


"Tolong ya, Mbok."


"Saya, Nyonya.."


Sandra duduk dengan gelisah. Sebentar-sebentar ia merapihkan rambut dan wajahnya. Sebentar-sebentar ia melihat keluar, entah apa maksudnya.


"Ehmm -- Natanya ada, tante?"


"Nata?!" Sandra melongok. "Kau kenal dengan Nata?"


Pemuda itu tersenyum malu-malu. "Aku baru bertemu dengannya sekali pas di bank beberapa minggu lalu. Saat itu, Hassel meninggalkannya.."


"Ohhh, begitu.."


"Sepertinya aku dengar namaku disebut.." Nata muncul dengan piyama biru mudanya.


"Panjang umur.." Sandra meraih tangan Nata, dan dibawanya remaja itu duduk di sebelahnya. "Katanya -- kau pernah bertemu dengannya. Waktu di bank.."


"Oh ya? Siapa? Maaf..."


"Kau sudah lupa?"


Ekspresi Nata agak berubah ketika mendengar suara itu. "Ohh iya --- aku tidak lupa kok.."


"Kedua orang ini yang sudah membantu mengembalikan handphone sama kartu kredit milik Hassel yang ketinggalan di atm, Nata.."


"Hassel itu selalu saja ceroboh.."


"Aku rasa, kau belum tahu namaku.." Pemuda itu pun menjulurkan tangannya. "Kinno.."


Sandra pun membantu Nata untuk menjawab uluran tangan pemuda berwajah oriental itu.


"Nata.."


...##### ...

__ADS_1


__ADS_2