GROWING

GROWING
37


__ADS_3

Inu panik bukan main saat ia bangun dan tidak melihat Dafa di dalam kamar kosannya, maupun di dapur bawah. Bahkan setelah ia mencarinya kemanapun ia, tidak bisa menemukan juga sosok itu.


Buku-buku pelajarannya dan sebagian bajunya memang masih tertinggal dikosannya. Namun tas ransel, sepatu, sweater biru muda bergambar lumba-lumba, tidak ada pada tempat biasa Dafa meletakkannya.


Menurut pengakuan Pak Usman, tadi pagi-pagi sekali Dafa pergi dengan sebuah mobil sedan berwarna hitam. Namun Pak Usman tidak bisa tahu siapakah orang yang mengajaknya pergi.


Saat kembali ke kamarnya, Inu baru menyadari ada secarik kertas tertempel di kulkasnya.


Secarik kertas dengan tulisan Dafa yang agak acak-acakkan itu...


'Aku sedang liburan dulu. Jadi tolong jangan cari aku. Pak Inu jangan sakit terus, ya..!'


Inu benar-benar tak bisa paham dengan jalan pikiran muridnya itu. Sebenarnya kemana Dafa pergi dan apa maksudnya dengan meninggalkan catatan ini?


"Dafa pergi liburan?!!" Eka memelotot bukan main saat mendengar penuturan wali kelasnya itu.


"Apa Dafa tidak mengatakan sesuatu kepada kalian?" Tanya Inu pada kelima remaja itu.


"Ngebales chat di grup aja si Dafa mana pernah, Pak.." Ujar Julian.


"Benar, Pak Inu. Padahal kami selalu mengharapkan dia ikutan di grup. Tapi ya seperti itu --" Sheila menimpali.


Satu hari berlalu... Dua hari berlalu... Empat hari berlalu...


Inu juga sudah menghubungi Mbok Parni. Namun pelayan di rumah Dafa itu mengatakan bahwa Anindita dan Danu belakangan ini sedang sibuk sekali mengurusi pernikahan mereka. Jadi ada kemungkinan kalau Dafa pun sepertinya ikut dengan bundanya.


Jika memang demikian, maka Inu bisa bernafas lega dan tidak usah cemas memikirkannya.


"Pak Inu kok pucat sekali?" Ujar Bu Fatma cemas melihat perubahan rekan seprofesinya itu.


"Seharusnya kalau Pak Inu masih sakit, tidak usah memaksa untuk ke sekolah.." Timpal Bu Nuriyanti.


"Saya sudah agak baikkan." Sahut Inu cepat. "Apa sudah ada kabar dari Dafa?"


Semua rekannya itu menggeleng. Karena memang tak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Dafa saat ini.


"Anak-anak juga tidak ada yang tahu kemana perginya Dafa.." Bu Nuriyanti mengatakan sambil menatap kelima remaja yang sedang duduk-duduk di tepi lapangan...


"Ehh, kalian masih inget gak?" Tukas Eka tiba-tiba.


"Inget apa, Ka?" Sheila menatap lekat-lekat sahabatnya itu.


"Yang dibilang Dafa waktu itu..."


"Tentang?" Dahi Julian berkerut.


"Pak Inu loh..."


"Pak Inu kenapa?" Gabriel ikut penasaran.


"Kalian merasa aneh gak sih sama Pak Inu?"

__ADS_1


Tita menggeleng. Lalu menyusul Sheila.


"Coba kalian lihat deh, motornya Pak Inu..."


Barulah keempat remaja itu sedikit paham, kemana pembicaraan Eka mengarah.


"Meskipun aku gak paham otomotif ya, tapi aku tahu loh motor besar itu pasti harganya mahal.."


"Bener banget!" Gabriel menimpali. "Samsung Galaxy Note 8 sama samsung gear yang dipakai Pak Inu itu juga kan mahal..!"


"Kira-kira Pak Inu dapet uang darimana ya?" Eka sungguh penasaran dengan wali kelasnya itu. Apalagi, beberapa hari kemarin Inu juga sempat tidak masuk dikarenakan sakit dan bahkan sampai harus masuk rumah sakit segala.


Wwwuuuzzz...!!


Angin dingin berhembus bukan hanya menerpa mereka. Tapi juga menerbangkan daun-daun kering yang berguguran di dekat mereka.


Bahkan saking kencangnya hembusan angin itu, sampai membanting daun pintu dan jendela di sekolah tersebut.


"Kinno..?" Eka refleks menyebut nama itu, saat melihat sesosok cowok tampan berwajah oriental itu tahu-tahu sudah berdiri di dekat mereka.


"Kalau kau mau cari ribut, sebaiknya enyah saja!"


"Julian, please..." Sheila menenangkan sahabatnya itu.


"Aku ---" Kinno kelihatan kikuk sekali. "Apa Dafa ada?"


"Cih, bagus juga aktingmu itu.."


"Julian...!" Eka memelotot.


Kini gantian Kinno yang memelotot. "Dafa tidak masuk?! Apa dia sakit?!"


"Loh, bukannya dia sedang pergi sama bundanya?" Eka malah bertanya balik.


Kinno menggeleng cepat. "Dafa tidak pernah kembali ke rumah sekalipun..!"


"Kok aneh ya...?" Eka menggaruk-garuk kepalanya.


"Gak aneh juga kali, Ka." Julian menanggapi santai. "Kalian kayak gak tahu Dafa aja. Mungkin aja dia beneran lagi liburan. Sama Nenek Stevie mungkin.."


"Selamat pagi, anak-anak..."


Keenam remaja itu sontak menoleh ke arah sumber suara itu. Dan betapa reaksi mereka amat sangat terkejut dengan kehadiran nenek tua bertongkat dengan dua ekor kucing peliharaannya itu.


"NENEK.. !!" Mereka semua memekik. Lalu saling bertukar pandangan satu sama lain.


"Senang rasanya bisa melihat kalian bisa berkumpul bersama seperti sekarang ini.."


"Nenek ---" Sheila kelihatan takut-takut.


"Ada apa, Sheila?"

__ADS_1


"Ada yang ingin kutanyakan ---"


Nenek tua itu tersenyum. Lalu mengetukkan tongkatnya sebanyak dua kali ke tanah.


"Maaf sekali Sheila, nenek kesini bukan untuk menjawab pertanyaanmu atau siapapun..."


"Kalian --- kenal dengannya?" Kinno menelan ludah. Lidahnya terasa berat sekali saat akan mengatakan kalimat itu.


"Ini mungkin adalah peringatan untuk kalian ---"


Keenam remaja itu membelalak. Entah kenapa firasat mereka menjadi buruk sekali.


"Jika kalian pikir aku adalah makhluk sakti yang sanggup melakukan apapun, maka kalian salah." Nenek tua itu merogoh sesuatu dari dalam saku jaket tebalnya. "Cuma kalian yang bisa terus menjaga dan melindunginya.." Rupanya nenek tua itu mengeluarkan setangkai mawar merah yang telah layu dan mengering.


"Apa orang yang nenek maksud itu adalah -- Dafa?" Sheila memberanikan diri.


"Pasti Dafa orangnya kan, Nek?!! Pasti dia itu orangnya yang nenek maksud!!" Eka makin emosional.


"Satu persatu dari kalian --- kenapa harus melakukannya?"


"Jawab kami, nenek!!" Suara Eka meninggi.


"Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepada kalian, untuk tidak pernah menyakiti perasaannya walau hanya sebesar butiran debu? Tapi kenapa kalian malah melakukannya...?"


"Nenek, kami tidak pernah menyakitinya!! Tolong jangan bawa pergi Dafa dari kami..!" Tita pun akhirnya ikut berbicara.


"Pada akhirnya sinar terang itu akan meredup dan semakin meredup. Dan sebelum akhirnya padam --- kalian jagalah baik-baik sinar itu.."


Nenek tua itu melempar tinggi-tinggi setangkai mawar yang sudah layu itu.


"Dan kau Kinno, berhati-hatilah..."


Tubuh Kinno bergetar hebat. Ia menatap lekat-lekat wajah tua nenek itu 


"Kau tidak akan pernah tahu yang mana musuh dan yang mana kawan ---"


Lalu bola mata Kinno bergulir kepada kelima orang yang ada di dekatnya itu.


"Kau dan dia sebenarnya selalu ditakdirkan untuk bersama. Dan kau tahu, Kinno..?"


"Dafa --- William..."


Nenek tua itu mengulas senyum tipis.


"Jadi -- mereka ---"


"Hanya maut yang bisa memisahkan kalian berdua. Maka jagalah dia baik-baik sebelum sang waktu dan takdir bermain-main dengan kalian berdua..."


Wuuuzzzz....!!


Angin kencang kembali berhembus. Menerbangkan dedaunan kering di sekitar mereka.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian bersiap untuk hari itu, anak-anak...!!"


...##### ...


__ADS_2