
Kini saatnya bagi para juri untuk melakukan tugasnya. Yaitu mencicipi berbagai jenis makanan, serta memberikan penilaiannya. Disini, ada tiga aspek yang akan mereka nilai. Yaitu, rasa, penyajian, dan kebersihan.
Untuk apa penyajian sebuah makanan sangat mewah dan indah dipandang mata, jika rasanya sangat hambar dan tidak sesuai dengan kenyataan...?
Namun bagaimana jika penyajian makanan itu sendiri terlihat sangat biasa dan sederhana, namun ternyata menyimpan sebuah kelezatan yang sangat luar biasa..?
"Tenang aja ya, teman-teman. Kita pasti menang kok..." Dafa selalu saja menyemangati dan membesarkan hati teman-temannya itu.
Dikejauhan sana, terlihat kelima juri itu masih berkeliling dari satu meja ke meja lainnya. Dan meja dengan nomer 13 itulah, menjadi meja terakhir yang mereka datangi.
"Menang atau kalah, itu sudah biasa dalam sebuah kompetisi anak-anak.." Ucap Bu Nuriyanti.
Dan ketika para juri itu sedang melakukan penilaian pada meja Dafa dan teman-temannya, dua orang panitia berlarian menuju deretan kursi penonton, dan sepertinya mereka memanggil dua orang dari barisan penonton.
"Mereka pasti sedang mengolok-olok makanan buatan kita.." Ucap Tita setengah berbisik.
Dan tak sampai berapa menit, para dewan juri itupun kembali ke tempatnya semula.
"Kok mereka curang sih?!! Kenapa mereka gak mencicipi makanan buatan kita?!!" Dafa kelihatan kesal sekali. Ia merasa tenaga dan jerih payahnya, sama sekali tak dihargai oleh para juri.
Dan ketika hasil perlombaan diumumkan, ternyata yang masih memegang kendali penuh dan keluar menjadi juara pertama, adalah tetap Kinno dan teman-teman satu timnya.
Sementara Dafa dan teman-temannya harus puas dengan tidak membawa hasil apa-apa.
"Tidak apa anak-anak, yang penting kalian kan sudah berusaha.." Kata Bu Nuriyanti membesarkan hati para muridnya itu.
"Hhhahh.." Eka menghela nafas panjang. "Setidaknya kita tidak terlalu buruk kan teman-teman?"
"Benar. Tidak ada anak-anak dari sekolah lain yang merendahkan kita, karena ---" Sheila menoleh pada Dafa. Mendapati temannya itu lagi cemberut sambil marah-marah tidak jelas.
"Sudahlah, Fa. Yang terpenting kan kita masuk 10 besar." Kata Gabriel sambil merangkul Dafa.
"Yap! Dan kita semua gak nyangka banget loh, kalau kita bisa masuk posisi 10 besar! Itu artinya kan kita gak jelek dan memalukan.." Tita antusias sekali.
"Aku itu kesel banget sama si nenek tua yang tadi itu! Sombong banget sih dia, ya..!? Kayak sendirinya bisa masak aja!"
"Selamat siang, anak-anak.."
Seketika langkah mereka semua terhenti, saat sosok wanita tua dengan rambut ikal dan topi lebarnya itu, berdiri di hadapan mereka dengan beberapa sosok menyertainya.
"Si nenek curang itu lagi rupanya ya..." Tukas Dafa tanpa perasaan takut sedikitpun.
"Dafa, tidak baik berbicara seperti itu." Kata Bu Nuriyanti lemah lembut.
"Sudah ya, aku mau pulang aja capek."
"Jadi, nama kau -- Dafa...?"
__ADS_1
Dafa berkacak pinggang dengan gayanya yang seperti jagoan tengil saja. "Memangnya kenapa?!"
"Boleh Nenek menanyakan beberapa hal padamu?"
Dafa melihat jam tangan merah yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Cepat ya. Waktuku tidak banyak nih.."
"Apa benar kau salah satu siswa dari Martin Luther?"
Mata Dafa melotot seketika. "Enggak! Aku sudah keluar dari sekolah menyebalkan itu!"
"Apa karena perlakuan Kinno waktu itu?"
Perhatian Dafa kini terpusat pada pria berwajah asing itu. Matanya nyaris tak berkedip, saat melihat sepasang mata biru milik pria itu.
Dafa merasa seperti pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Tapi..., dia tidak bisa mengingatnya.
"Kau tidak ingat denganku, Dafa?"
"Memangnya paman ini siapa ya?"
"Aku Anthony. Anthony Grooberry."
"Ohhhh...." Mata Dafa makin memelotot. "Maaf ya, Paman. Aku tidak akan mau kembali ke sekolah itu lagi..! Sampai kapanpun, juga!" Dia menekan suaranya.
"Paman disini bukan untuk ---"
"Kenapa aku harus bertemu dengan sekumpulan orang tua yang sangat menyebalkan sih...!?"
"Dafa, kau tidak boleh bicara kasar itu sama mereka..." Tita mendesis di telinganya Dafa.
"Memangnya kau tidak tahu siapa mereka?" Eka Ikut berbisik di telinga Dafa yang satunya.
"Ini untuk kalian..." Wanita tua itu menyerahkan selembar kertas berwarna keemasan.
"Apaan sih? Semacam tiket undian lotere ya?" Celoteh Dafa asal.
"Apa kau ketua timnya?"
Dafa sontak menggeleng. "Aku ini bukan siapa-siapa, Nenek! Mangkanya jangan sok tahu!"
"Astaga anak itu..." Gabriel sampai menepuk dahinya sendiri.
"Ketuanya itu, Julian. Dia itu yang paling hebat diantara kami. Soalnya kata Tita sama Eka, Julian itu pernah kerja di toko pizza, roti, restoran, sama jadi tukang kasir di toko buku. Keren kan...?!"
"Julian...?" Wanita tua itu melemparkan pandangan pada sosok remaja yang sedaritadi berdiri dengan kepala setengah menunduk itu. "Terimalah tiket ini.."
"Tiket?" Julian menelan ludah. Tangannya bergemetar saat menerima selembar kertas kaku berwarna keemasan dari si wanita tua itu.
__ADS_1
"Ini adalah tiket khusus untuk perlombaan memasak tingkat nasional pekan depan. Dan dengan tiket ini, kalian tidak perlu mengeluarkan uang untuk pendaftaran lagi."
"Jadinya gratis gitu ya, Nek?!"
Wanita tua itu mengangguk seraya tersenyum pada Dafa.
"Asikkk...!! Jadinya aku gak perlu ngebongkar celengan aku lagi..!"
"Apa anda guru mereka?"
"Saya Nuriyanti. Kepala Sekolah SMK Ellite Rovario." Kata Bu Nuriyanti memperkenalkan diri seraya berjabat tangan dengan wanita tua itu.
"Saya Stevie Wallerima. Senang bisa berjumpa dengan anak-anak hebat seperti mereka..."
"Anak-anak hebat?" Tita nyaris tak berkedip.
"Terima kasih atas pujiannya, Ibu Stevie."
"Tunggu dulu!!"Dafa memotong. "Kalau Nenek Stevie mengatakan kalau kami ini anak-anak hebat, dan juga Nenek Stevie memberikan tiket masuk ini gratis, kenapa sekolah kami tidak jadi juara?!!"
"Itu karena status kau yang masih menjadi murid dari Pak Martin Luther, Dafa.." Anthony yang menjawab.
Emosi Dafa langsung meluap. "Aku ini bukan muridnya Pak Martin Luther lagi!! Dan aku tidak akan pernah mau kembali ke sekolah itu!! Sampai aku mati, aku tidak akan memaafkan Kinno dan teman-temannya!!"
"Dafa ---" Stevie Wallerima meraih tangan Dafa. Hingga mata keduanya saling bertemu. "Maafkan Nenek. Karena tidak ada yang bisa Nenek lakukan.."
"Kinno itu jahat sekali padaku, Nenek Stevie. Dan aku tidak bisa memaafkannya."
"Sebenarnya piala kemenangan itu adalah milikmu. Hanya saja ---"
"Pasti karena Kinno kan?"
"Dafa.."
"Demi Tuhan, aku bersumpah bahwa makanan yang kalian buat itu adalah makanan yang paling luar biasa yang pernah kucicipi."
"Dan kami --- para juri telah sepakat bahwa kalian adalah terbaik dari yang terbaik pada perlombaan hari ini.." Ujar sesosok pria tua berkepala setengah botak dengan dua mata kecilnya itu.
Dafa menepis tangan Stevie Wallerima. Dia meraih ponselnya, dan menghubungi Danu saat itu juga.
"AKU MAU SURAT KETERANGAN PINDAHKU YANG SEBENARNYA!! KALAU OM DANU TIDAK MAU MELAKUKANNYA, AKU AKAN LOMPAT KE TENGAH REL KERETA SEKARANG JUGA!!"
...##### ...
...
...
__ADS_1