GROWING

GROWING
33


__ADS_3

Inu baru bangun sekitar pukul 05.30 pagi. Namun saat ia keluar dari kamarnya, ia tidak melihat Dafa yang seharusnya sedang tertidur di depan televisi berlayar datar miliknya itu.


Ia mengecek kamar mandinya, dan ternyata Dafa juga tidak ada di dalamnya.


Agak sedikit panik juga pikirannya. Tapi berhubung, semua barang-barang muridnya itu masih ada di dalam kamar kosannya, jadi ia tak begitu mencemaskannya.


Cklek...


"Pak Inu, ini udah aku buatin sarapan ya -- nasi goreng pakai telur ceplok.."


Inu yang sudah menutup pintu kamar mandi dan melepas kaos tidurnya, lantas membuka pintu itu kembali.


"Kau itu, kalau mau kemana-mana kan bisa bilang dulu.."


"Gak usah cerewet deh jadi orang..." Sahut Dafa sambil keluar kembali dari kamar kos Inu.


"Kau mau kemana lagi?"


"Ke bawah. Ada urusan sebentar."


Inu agak penasaran juga yang dilakukan oleh Dafa belakangan ini. Sering bangun pagi, dan terlebih dia selalu langsung meninggalkan kamar kosannya tanpa sepengetahuannya.


Selesai mandi, Inu bergegas memakai kemeja biru tuanya. Membawa sepiring nasi goreng buatan Dafa ke bawah. Karena rencananya ia akan makan di bawah bersama dengan...


Seketika Inu diam mematung, melihat sebuah pemandangan mengejutkan di hadapannya itu.


"Jangan bohong ya!! Pokoknya yang udah makan, harus bayar...!"


"Aku udah loh, Fa.."


"Aku juga udah kali, Fa.."


"Oke-oke." Dafa mengangguk-angguk. "Untuk nanti malam, kalian mau aku buatin apa?"


"Apa aja deh, Fa. Yang penting budgetnya jangan sampai lima belas ribu ya.."


"Lima belas ribu apa maksudnya nih?" kemunculan Inu langsung disambut meriah oleh penghuni kos lainnya.


"Ini loh Mas, kita lagi pesen buat makan malam nanti sama Dafa.." Jelas Ayu.


Inu menarik salah satu kursi makan. Ia memperhatikan kotak kardus bekas sepatu yang ada di sebelah tempat sendok itu. Tadinya ia tidak tahu isi di dalamnya apa. Sampai kemudian, Dafa mengeluarkan lembaran  uang kertas dalam berbagai nominal dan kondisi, juga uang logam yang ada di dalamnya.


"Nasi goreng buat gue mana, Fa?"


Dafa celingukan  kesana kemari. "Udah habis, Tante Wiwik.."


"Apa-apaan?! Kan kemarin aku sudah pesan --- ihhh, Dafa kok jahat banget sih?!"


"Aku cuma masak sedikit, soalnya persediaan berasku juga udah habis." Jawab Dafa polos.


Wiwik melirik pada sepiring nasi goreng milik Inu yang masih utuh. "Mas Inu --- itu kok dianggurin sih.."


"Mau? Nih..."


"Jangan!" Dafa langsung melarangnya keras. "Pak Inu gimana sih?! Kan ini sengaja aku buat yang spesial untuk Pak Inu..!" Mata Dafa membulat penuh. "Kalau sampai gak dimakan, aku sumpahin Pak Inu nanti ileran loh pas lagi tidur..."


"Terus aku sarapan sama apa?"


Dafa memutar bola matanya. "Aku masih punya tiramisu di kulkas atas. Mau gak?"

__ADS_1


"Seriusan, Fa?!!"


"Tapi sepotongnya sepuluh ribu ya.."


"Gak masalah! Buruan ya..!"


Dafa pun langsung melesat ke kamar Inu. Lalu kembali dengan membawa sepotong tiramisu dingin yang kelihatannya sangat lezat dan menggoda itu.


"Woiii, apaan tuh?!! Bagi-bagi dong!!" Teriak Ayu yang baru aja selesai mandi. Kelihatan dari handuk merah muda yang membungkus kepalanya itu.


"Bagi mata lo!! Gue beli, ya sama Dafa.."


"Dafa..." Ayu memasang wajah menyeramkan pada Dafa.


"Gak ada lagi akunya. Nanti siang deh, aku buatin lagi.."


"Gak bisa ini --- kenapa kau tega sekali padaku, Dafa?!"


"Apaan sih, lebay banget lo..." Laras yang sudah siap dengan setumpuk diktat perkuliahannya, muncul dengan wajah ditekuk.


"Ngapa lo muncul-muncul langsung sewot gitu.." Heru duduk di sebelah Inu dan dengan cueknya menyalakan rokok.


"Gimana gak kesel coba, daritadi gue pesen ojek online tapi ditolak mulu.."


"Sadar diri, Mbak. Jangan pelit-pelit mangkanya.. Hahaha...!!" Tukas Wiwik yang langsung ngibrit masuk ke dalam kamarnya.


Dafa sudah menyelesaikan semua pekerjaan. Kini ia tinggal mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah bersama dengan Inu.


"Fa, sepertinya nanti siang saya tidak bisa pulang bareng." Kata Inu sambil memperhatikan Dafa yang lagi sibuk menghitung uangnya.


"Emangnya Pak Inu mau kemana?"


"Saya ada urusan sebentar."


"Sudah siap? Kita berangkat sekarang?"


"Oke! Kita berangkat bersama-sama menuju sekolah...!!"


Inu terus memperhatikan Dafa yang seolah tak pernah merasakan beban dalam kehidupannya. Kemana saja ia melangkah dan berada, senyumnya pasti akan selalu mengembang.


Bernyanyi-nyanyi riang sepanjang jalan menuju sekolah, meski nyanyiannya itu tidak jelas lirik dan maknanya.


Kita bersama bertualang ~ berenang di lautan rumput biru yang sejuk ~ dua empat kelinci dan beruang berlarian ~~~


"Pak Inu tahu gak kelanjutan lagunya?"


Inu yang lagi setengah melamun melajukan motor matiknya, lantas tersadar.


"Lagu yang mana, Fa?" Suara Inu timbul tenggelam diantara suara kendaraan lain.


"Itu loh, lagu yang sering aku nyanyiin sama Kak Sam dulu.."


Meski celotehan Dafa itu terdengar konyol, namun setidaknya kehadiran Dafa dalam kehidupannya telah sedikit banyak mengubah rasa akan kehidupannya.


JREENNGGG...!


Keduanya sampai juga di sekolah. Dafa pun turun dengan setengah melompat. Untungnya Inu sudah tahu kebiasaan Dafa itu. Jadi dia sudah menguatkan kakinya untuk menahan keseimbangan motornya.


"Dafa..!!"

__ADS_1


"Oiii, teman-teman sekolahku..!"


Bahkan suara Dafa itu nyaringnya melebihi suara lonceng bel sekolah.


"Ada yang ingin ketemu sama kau.." Ujar Tita sambil memainkan alisnya pada Sheila dan Gabriel.


Bola mata Dafa berputar. Dia menebak-nebak siapakah orang yang ingin bertemu dengannya sepagi ini?


"Siapa sih ya, aku jadi penasaran banget ini..."


"Mereka itu dewan juri perlombaan kemarin, Dafa.." Ungkap Tita tak sabaran.


"Siapa aja?"


"Udah deh, daripada kau penasaran, lebih baik kau cepat temui mereka.."


Dafa gembira bukan main saat tahu ternyata orang-orang yang ingin menemuinya itu adalah empat orang dewan juri pada perlombaan kemarin.


Namun, kegembiraan itu langsung hilang setelah keempat juri itu mengutarakan maksud dan kedatangan mereka.


"Usiamu masih sangat muda, Dafa. Dan perjalananmu masihlah sangat panjang.." Kata Vallentino.


"Benar, Dafa." Stevie Wallerima meraih tangan Dafa yang hangat. "Kau akan mendapat beasiswa penuh dari Pak Harris."


"Berarti aku harus keluar dari negara ini ya?"


"Pendidikkan itu tidaklah lama, Dafa. Hanya sekitar 3 tahun saja. Dan kau boleh kembali tiap kali libur pergantian musim." Terang Pak Tua Harris.


"Tapi, kenapa Eka, Julian, Gabriel, Sheila, dan Tita, tidak boleh ikut?"


Lagi, Dafa kembali mengulang pertanyaan itu.


Keempat orang itu terdiam. Meski mereka nantinya menjawab dengan jawaban yang sama pula, pastilah Dafa pun akan kembali mengulang pertanyaannya itu.


"Dafa, teman-temanmu tidak keberatan kok, kalau mereka tidak harus ikut serta.." Bu Nuriyanti memecah keheningan.


"Benar, Dafa. Kami disini tidak apa-apa kok." Timpal Eka.


"Asalkan, nanti pas kau kembali, kau harus membagi ilmumu kepada kami semua.."Sambung Sheila.


Dafa menggeleng. "Tidak, Sheila.."


"Tidak, kenapa Dafa?"


"Aku, kalian dan sekolah ini adalah satu keluarga besar. Kita semua akan terus saling terikat. Jika aku pergi, maka kalian juga harus ikut. Tapi jika kalian tidak ikut, maka aku pun tidak akan pergi.."


"Dafa..."


"Aku ini tidak sehebat yang seperti kalian bayangkan. Aku bisa melakukan semuanya, karena bantuan dari kalian. Dan kita tidak akan bisa menang, jika waktu itu aku mengerjakan semuanya sendirian.."


"Tapi, Dafa..."


Dafa menoleh sambil menggeleng pada Bu Nuriyanti.


"Aku gak bisa, Bu Nuriyanti. Maaf."


"Da --" Suara Vallentino langsung terhenti karena Stevie Wallerima yang melarangnya untuk berbicara.


Dafa pun bangkit dari duduknya. Lalu ia berjalan menghampiri teman-temannya di muka pintu ruang guru.

__ADS_1


"Disinilah aku memulai semuanya -- dan disinilah juga, aku akan mengakhirinya..."


...##### ...


__ADS_2