GROWING

GROWING
61


__ADS_3

"HASSEL...!!"


Nata langsung berhenti seketika. Ia berpura-pura melihat botol sampo khusus kucing. Sebetulnya ia malu bukan main saat Sandra dan Hassel harus terus kucing-kucingan seperti ini.


Lebih baik ia belanja sendiri, ketimbang harus bersama dengan ibu dan anak yang tak pernah akur itu.


"Maksud kau apa, Hassel?!" Suara Sandra melengking hingga ke lorong rak sebelah.


"Ihh, jangan ditaroh lagi, mami!! Itu kan persediaan makanan buat piknik besok malam..!"


"Piknik apa?!"


"Ya piknik sama teman-teman Hassel, mami!!"


Sandra mencium bau gelagat tidak beres. Tempo lalu, saat anaknya itu mengatakan akan piknik dengan teman-temannya, tahu-tahu malah mendirikan tenda dan api unggun di halaman depan rumahnya yang sempit.


Dan yang lebih membuat heboh, Hassel menyalakan api unggun itu dengan sebotol bensin! Hampir saja kebakaran hebat terjadi malam itu.


"Gak ada piknik-piknikan! Memangnya kau ini umur berapa?!"


"Mami ihh, kayak gak pernah muda aja! Dasar..!"


Kali ini Sandra tak bermain tangan. Tapi ia mengembalikan semua makanan dan barang-barang yang sudah memenuhi troli belanjaan Hassel.


"Mau piknik apaan, pakai beli bantal baru segala!" Sandra melirik tajam.


"Bantal Hassel kan mami ilerin, jadinya bau!!"


"Hassel..!"


"Tau ahh! Pokoknya Hassel mau beli! Lagian Hassel kan belinya pake uang sendiri, mami..!"


"Uang Kak Nata!" Sandra memelotot.


"Uang Kak Nata itu uang Hassel! Tapi uang Hassel, ya uang Hassel!!"


Sandra sampai menggeleng sambil memijat dahinya. Untung saja, saat ini tidak sedang dalam rangka bulan suci ramadhan. Kalau iya -- bisa batal puasanya.


"Terserah kau saja! Tapi kau harus bawa belanjaanmu sendiri!"


"Bodo!"


Hassel pun sudah melesat kembali dengan trolinya. Dan di ujung sana, Sandra melihat anaknya itu sedang mengambil sekarung pupuk yang entah untuk apa.


"Susunya mbok sudah habis belum ya, Tante?"


Sandra berfikir sejenak. "Tante juga gak tahu, Nata. Tapi rasa-rasanya sih sudah.."


Nata pun mengambil empat kotak besar susu kalsium untuk kaum manula itu.


"Kau beli cokelat banyak sekali.."


Nata mengulas senyum. "Sudah lama aku tak pernah memberikan sesuatu pada karyawan-karyawanku. Mereka pasti suka.."


Gredeekk.. Greedeekk..


Hassel sengaja melintas. "Duhh, jangan ngerumpi di tengah jalan ya. Menghalangi aja!" Katanya dengan tatapan sinis.


Sontak dahi Sandra mengerenyit. Dia merasa seperti ada sesuatu yang aneh dengan anaknya itu. Tapi apa ya...?


Sandra mendorong troli Nata. "Masih ada yang mau dibeli?"


"Hmmm..., kayaknya sih sudah cukup. Tante."


Sandra mengangguk. Keduanya memutuskan untuk membawa troli yang sudah penuh dengan makanan dan barang lainnya itu, menuju kasir.


"Nah kan, ini troli anak itu. Mana dia?!"


Sandra mengedarkan pandangannya. Dan seketika ia meradang kembali. Di kejauhan sana ia melihat Hassel sedang mendorong troli lain dengan wajah gembira sekali.


"Semuanya sudah aku beli. Setidaknya sampai puasa bulan depan. Hhehee.."


"Maaf, kau ini anaknya siapa ya?" Ujar Sandra dengan tangan melipat di depan dada.


Hassel langsung cemberut. "Yang pasti aku ini bukan anak dari ibu-ibu yang hobinya bergosip dan nonton sinetron sampai malam ya.."


Sandra pun menjewer telinga Hassel. "Sekali lagi kau bicara kayak gitu, kau tidur sama si mbok!"


"Ogahh mami! Si mbok kan bau minyak gosok!"


Tak sedikit pengunjung lain yang terus saja memperhatikan mereka bertiga. Selain karena tingkah Sandra dan Hassel yang bagai kucing dan anjing, orang-orang itu juga memperhatikan tiga troli berisi penuh belanjaan yang dibawa oleh Nata, Hassel, dan juga Sandra.


"Kalau Hassel nanti puasanya full, Kak Nata mau kasih Hassel hadiah apa?"


"Apa ya? Aku juga bingung.."


"Masa gitu aja bingung sih!?"


"Kau ini, bisa kan kecilkan volume suaranya?!" Sandra mencubit pipi anaknya.


"Buatin kolam renang di sebelah rumah ya, Kak Nata!"


Nata melongok. Pun begitu dengan para pengunjung lainnya yang dibuat melongok oleh celotehan Hassel.


Sandra menggulung kertas brosur. Lalu..., Plak...!  Dia memukul kepala anaknya.


"Jangan kebanyakkan tingkah kau..!"


Hassel berusaha tak menanggapi maminya. Kini ia malah berpindah posisi ke depan Nata.


"Kita cuekkin aja nenek pemakan daun sirih itu ya, Kak Nata."


"Heii -- kau kira Mami tidak dengar ya?!"


Hassel tertawa cekikikkan. Sepertinya, perang dengan maminya ini masih belum akan berakhir.


Setelah hampir 20 menit, akhirnya tiba juga giliran Nata.


"Banyak sekali, Kak. Mau ada acara ya?" Si kasir beramah tamah.

__ADS_1


"Ini belanjaan aku ya!" Hassel membenarkan. "Belanjaan Kak Nata, cuma sedikit."


"Ohh iya. Maaf ya.." Si kasir tampak salah tingkah.


"Mbak dan mas kasir, sekarang ini aku sudah diangkat jadi komandan anak-anak di lingkungan RT loh. Jadi aku yang akan bertanggung jawab atas segala keadaan kondusif yang terjadi.."


Plak...!


"Kau bicara apa, hah?" Sandra memukul pelan kepala anaknya lagi.


Lagi-lagi Hassel berusaha mengacuhkan. Dia malah mengeluarkan dompetnya, dan memperlihatkan kartu keanggotan grup anak-anak di komplek perumahannya.


"Kalau kalian mau daftar, aku kasih murah aja. Cuma dua juta setiap tahun, nanti kalian bisa mengakses kode rahasia geng lain."


"Hassel yang manis, kau mau Magnum?" Ujar Sandra sambil membukakan sebungkus es krim kesukaan anaknya itu.


Hassel mengangguk dengan mata membulat penuh. Ia langsung meraih es krim itu, dan dengan lahap menikmati.


"Akhirnya dia diam juga.." Sandra benar-benar harus memasang wajah tembok jika sedang berjalan dengan anaknya.


"Copet!!" Hassel refleks berteriak sambil menunjuk ke arah sekerumunan orang di depan sana. "Hassel lihat copet, Kak Nata!! Dia itu copetnya!!"


"Mulai lagi..." Sandra menepuk dahi.


"Kak Nata, ada copet!" pekik Hassel sambil menarik tangan Nata.


"Kau yakin?"


"Yakin, Kak Nata! Itu tuh orangnya!! Yang pakai kerudung cokelat, lagi gendong bayi!"


"Hassel, kau tidak salah lihat kan?!"


"Enggak, Kak Nata!! Mata Hassel itu gak jelek kayak matanya mami!!"


Sandra memelotot bukan main. Tadinya dia ingin mencubit lengan anaknya itu. Tapi sayangnya, Hassel dan Nata sudah pergi menjauh dari kasir.


"PENCURI..!" teriakkan Hassel yang lantang itu, sontak saja menyita perhatian para pengunjung pusat perbelanjaan.


Si ibu dengan anak bayinya itu jelas heran dengan apa yang dikatakan oleh sesosok anak laki-laki yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah galak sekali.


"Ibu itu pencuri ya!?"


"Ehh -- kau jangan sembarangan ya!" Si ibu mulai melawan. "Berani menuduh orang tanpa bukti! Apa kau tidak pernah diajari sopan santun?!"


"Aku lihat kok, kalau ibu itu ngambil dompet punya ---" Hassel celingukkan. "Om itu tuh!" Hassel menunjuk pada seorang pria yang sedang menaiki eskalator menuju lantai atas.


"Apa benar ibu mengambilnya?" Nata ikut bicara. Dan orang-orang mulai intens memperhatikan mereka.


"Saya tidak ngambil apapun! Awas, saya mau pulang!" Si ibu berusaha ingin melewati Nata. Namun Nata dengan sigap menghadangnya. "Minggir, kau!" Suara si ibu melengking. Dan hanya berselang beberapa detik saja, bayi yang berada dalam gendongannya itu terbangun, kemudian menangis kencang sekali.


"Maaf, ada apa ini?" tanya seorang security.


"Kedua anak ini sangat tidak sopan, Pak!"


"Kalau pak security gak percaya, geledah aja!" Hassel makin berani.


"Tuh kan malah diam!! Ayo, digeledah aja, Pak!!"


"Saya tidak mencuri!"


"Ada apa ini?" Security lainnya datang menghampiri.


"Ini Pak, mereka melihat kalau ibu ini mengambil dompet milik seorang pengunjung." jelas security sebelumnya.


"Benar begitu, dik?"


Hassel memelotot. "Pak security lihat aja nih mata Hassel! Masih jernih karena suka makan wortel!"


Sandra melongok bukan main. Padahal Hassel itu tak pernah sekalipun makan wortel. Karena wortel adalah makanan yang paling tidak disukainya.


Si security senior itupun memanggil security lainnya.


"Untuk membuktikannya, biar rekan saya ini yang akan memeriksa ibu.."


Security perempuan itupun mengangguk seraya mengulas senyum.


"Saya bukan pencuri!" Si ibu masih bersikeras.


"Geledah aja, pak!!"


"Iya! Geledah aja!"


"Bikin resah!!"


Jika tadi Nata memandang ibu itu dengan perasaan kesal, kini malah sebaliknya. Dia merasa kasihan, karena banyak sekali orang yang semakin menyudutkannya.


"Ini dompet siapa?"


Si ibu itu makin kelihatan gugup dan salah tingkah.


"Suami saya..."


"Lalu, ketiga dompet lainnya ini?"


"Itu ---"


"Apa ini handphone ibu?"


"Itu ---"


"WOOOOO...!!"


Teriakkan itu langsung terdengar bergemuruh. Membuat si ibu bergemetar ketakutan.


"BAKAR AJA!! MALING KAYA DIA GAK PANTAS HIDUP!!"


"Kita bawa saja ibu ini ke pos. Dan kalian berdua -- tolong ikut kami juga."


"Kerenn!!" Hassel memekik girang. "Pasti nanti kita masuk tv ya, Kak Nata!! Soalnya kita kan udah nangkep pencuri!"

__ADS_1


Nata menghampiri Sandra kembali. "Aku ikut mereka dulu, tante. Nanti belanjaannya titip saja dulu disini." Ujarnya sambil menyerahkan kartu kredit miliknya.


"Hati-hati ya, Nata.."


Nata mengangguk. Sejujurnya pikirannya menjadi sangat tidak tenang.


"Anak saya sedang sakit, pak.. tolong jangan penjarakan saya..."


"Ibu jangan pura-pura deh!"


"Hassel.."


"Biarin aja Kak Nata! Biar si ibu sama anaknya itu dilempar ke laut, terus dimakan ikan hiu...!"


Mereka sampai juga di pos keamanan di mall tersebut. Nata dan Hassel duduk di kursi tunggu, sementara si ibu dan anak bayinya yang masih saja menangis itu, duduk di lantai yang dingin dan kotor.


"Lapor, Komandan!"


"Ya!?"


"Salah satu dari pemilik dompet itu sedang menuju kemari.."


"Baiklah."


"Tahu rasa biar dipenjara nanti selamanya!" Hassel berceloteh tanpa memikirkan bagaimana perasaan ibu itu. "Mana berisik banget lagi tuh anaknya..!"


Sepuluh menit kemudian, dua sosok pria muncul dikawal dengan seorang security.


"Pak, ini adalah bapak si pemilik dompet itu."


Kedua orang tersebut, tampak terkejut sekali ketika melihat Hassel dan Nata.


"Kalau begitu, silahkan bapak periksa dulu. Apakah ada uang atau sesuatu yang hilang...?"


Pria itu memeriksa isi dompetnya. "Tidak ada. Semuanya masih lengkap."


"Anda yakin?"


"Yakin sekali."


"Tolong maafkan ibu itu.." Ujar Nata seraya bangkit dari duduknya. "Aku mohon, tolong maafkan mereka.."


"Na ---"


"Ini adalah kartu namaku. Jika memang ada uang yang hilang, maka aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya."


"Kak Nata!" Hassel memelotot.


"Pak security, tolong jangan penjarakan ibu itu. Karena aku sendirilah yang akan menjaminya penuh."


"Ya Allah, Mas Nata --" Pria bertubuh gempal itu sampai bergeleng-geleng. "Saya ---"


"KAK NATA JANGAN SOK JADI ORANG BAIK DEH!! IBU ITU PENCURI! DAN PENCURI ITU HARUS TIDUR DI PENJARA!"


"Bapak dan seluruh anak buah bapak kan, sudah mengenalku. Dan kalau nanti --- ada diantara pemilik dompet dan handphone itu yang akan mengambilnya, dan meminta ganti rugi, biar saya yang akan menggantinya."


"Saya tidak akan melaporkannya.."


Nata lantas menoleh pada pria berkemeja biru tua itu. Lalu senyumnya mengembang lebar.


"Terima kasih, Pak Inu!! Terima kasih sekali! Semoga Allah membalas segala kebaikan Pak Inu.."


Wajah pria itu seketika menegang. Tubuhnya bergetar saat sosok remaja di hadapannya itu, memanggilnya dengan sebutan yang tak biasa.


Nata menghampiri ibu dan anaknya itu. "Panas sekali badannya, bu.."


"Anak saya sakit demam sudah semingguan, Mas.."


"Kita bawa ke dokter ya setelah ini.."


"Saya bagaimana, Mas? Saya bakalan dipenjara ya?" Kata ibu itu dengan air mata berlinangan. "Saya mencuri karena terpaksa, Mas. Anak saya tiga-tiganya sakit-sakitan..."


"Memangnya suami ibu kemana?"


"Suami saya nikah lagi, Mas.. Saya tinggal sama tiga anak saya..."


Nata mengusap wajah anak bayi ibu itu. "Jangan nangis lagi ya. Nanti aku beliin susu, biskuit, sama mainan.."


Seketika bayi itu terdiam. Jemarinya yang kecil dan merah, menggenggam erat jemari Nata.


"Nanti, kita jemput anak ibu yang lainnya. Kita bawa sekalian mereka ke rumah sakit ya.."


"Ya Allah, Mas --- saya malu sekali --- saya minta maaf sekali, Mas.."


"Nata.." Sandra sudah berdiri di sebelah Hassel.


"Aku mau ke rumah sakit dengan ibu ini, tante."


"Mau Tante temani?"


Nata menggeleng pelan. Lalu dia menoleh kembali kepada kedua pria itu.


"Terima kasih..."


Si ibu itupun membungkuk sambil mengucapkan terima kasih dan memohon maaf dengan rasa penyesalan teramat sangat.


"Jadi, ibu mengontrak?"


"Iya, Mas..."


"Nata ---"


Nata yang sudah berada di luar pos itu, lantas berbalik kembali. Lantaran sebuah suara kembali memanggilnya.


Ia mengulas senyum pada pria dengan sweater kuningnya itu.


"Ya..? Kinno...?"


...##### ...

__ADS_1


__ADS_2