
Inu memperhatikan Dafa yang sejak tadi sedang membagi-bagikan selebaran kepada seluruh teman-teman barunya. Ia masih sulit untuk mempercayai ini semua. Bagaimana mungkin seorang anak laki-laki yang kelihatan sangat manja dan lemah, ternyata bisa berbuat seperti yang barusan dia saksikan.
"Sudah satu jam lebih dia melakukannya.." Ucap Bu Fatma. "Dan saya tidak tahu kalau ternyata Pak Inu sudah pernah bertemu dan bahkan kenal dengannya.."
Inu hanya menghela nafas dan kembali duduk di kursinya. Anak laki-laki yang katanya tidak pernah keluar dari rumahnya selama 10 tahun lebih itu, ternyata bisa melakukan sebuah hal yang sangat luar biasa.
Tok.. Tok..
"Permisi..." Dafa muncul di muka pintu dengan senyum cerah yang selalu menghiasi wajah polosnya itu.
Semua guru menatap padanya. Dan mereka cuma bisa membalasnya dengan senyuman saja.
"Ada yang bisa Ibu bantu, Dafa?" Ibu Nuriyanti keluar dari ruangannya.
"Aku ingin tanya, siapakah disini guru yang mengajari memasak, Ibu Nuriyanti.."
"Ada dua pengajar di sekolah ini, Dafa. Mereka adalah Ibu Fatma dan Ibu Fauziah."
"Selamat pagi, Dafa. Saya Bu Fatma."
"Selamat pagi juga, Bu Fatma."Dafa pun tak malu-malu untuk mencium tangan guru barunya itu.
"Dan saya Bu Fauziah."
"Wahh, Bu Fauziah masih muda ya. Kayak Pak Inu juga."
Mendengar namanya disebut, Inu langsung salah tingkah.
"Jadi, apa yang Ibu bisa bantu?" Tanya Bu Fatma.
Dafa pun memberikan brosur itu kepada kedua gurunya. "Ini adalah perlombaan memasak antar sekolah kejuruan dan perhotelan se-Jakarta yang akan dilangsungkan besok lusa."
"Aahhh -- iya. Saya juga sudah membaca pengumumannya di internet." komentar Bu Fauziah.
"Jadi, aku meminta kesediaan kalian berdua untuk membantu melatih aku dan teman-temanku sepulang sekolah nanti."
"Melatih?!" Mata Bu Fatma memelotot sejadinya. Lalu ia menatap kepala sekolah yang berdiri di sebelah Dafa.
"Begini Dafa ---" Bu Nuriyanti memotong dengan halus dan sopan. "Bukannya Ibu tidak memperbolehkan, tapi ada yang harus kau ketahui kalau ---"
"Aku udah tahu kok!" Dafa memotong. "Pasti Ibu Nuriyanti mau bilang kalau dapur di sekolah ini sudah tidak ada apa-apanya lagi, kan? Benar begitu?"
"Betul sekali, Dafa ---"
"Nihh...!"Dafa memperlihatkan kartu kredit yang diberikan oleh Danu pagi tadi. "Tadi pagi aku udah beli beberapa peralatan seperti kompor, oven, tabung gas, penggorengan dan yang lainnya. Dan sebentar lagi Pak Popo mau mengantarkannya ke sini, kok.."
"Dafa ---"
"Kalau Ibu tidak keberatan, sekarang juga aku mau supermarket di dekat sini buat belanja bahan-bahan dulu."
"Tapi, Dafa ---"
"Ibu Nuriyanti tidak usah sedih ya! Pokoknya sekolah ini tidak akan jatuh ke tangannya Pak Martin Luther! Oke!?"
Mungkin bukan cuma Bu Nuriyanti saja yang merasa bergetar hatinya melihat ekspresi Dafa yang barusan. Tapi semua guru yang ada di ruangan itupun, tampaknya semua bereaksi yang sama.
Dafa kembali ke lapangan. Dia kembali membagikan brosur kepada setiap teman-temannya, sambil menanyakan apakah ada diantara mereka yang ingin bergabung dengannya sebagai tim memasak yang akan ikut pertandingan mewakili sekolah mereka nantinya.
"Haloo..!!" Kedatangan Dafa mengejutkan kelima remaja yang sedang duduk termenung di salah satu kursi taman sekolah. Tampaknya mereka tak menyangka, kalau mereka pun akan didatangi oleh si anak laki-laki dengan sepasang mata birunya yang jernih itu.
Dafa membagikan brosur itu kepada mereka berlima. "Nanti siang kalian jangan pulang dulu ya.."
"Kenapa memangnya?" Tanya Eka.
__ADS_1
"Soalnya kan, kita harus latihan memasak."
Sontak saja kelima remaja itu menatap Dafa dengan mata membelalak.
"Iya. Kan lusa besok kita akan ikut lomba memasak ini nih --" Katanya sambil memperlihatkan selebaran yang masih sisa setumpuk ditangannya.
"Tapi, Dafa ---"
"Kalian berlima sama aku, jadinya berenam. Itu artinya aku masih harus mengumpulkan empat orang lagi.." Dafa memotong kalimat Sheila.
"Tunggu dulu! Kau tidak bisa memutuskan seenaknya!" Julian tampak tak terima.
Tapi Dafa tetap tenang menanggapinya. "Pokoknya kalau kalian ada sampai yang pulang, aku sumpahin ketabrak gerobak tukang bakso, loh ya!"
"Teman-teman..." Tita melempar pandangannya pada keempat sahabatnya.
"Sudah ya, aku masih sibuk nih! Nanti aja lagi ngobrol-ngobrolnya. Da-dah...!!" Dafa pun sudah melesat secepat kilat, dan entah dia menghilang kemana lagi.
"Anak-anak..." Inu menghampiri kelima anak didiknya itu. Duduk ditengah-tengah mereka berlima dengan wajah sama sekali tak memperlihatkan kesedihan.
"Kita lagi bingung nih, Pak.." Ucap Tita.
Inu tersenyum seraya merangkul Gabriel. "Sekarang saya ingin bertanya pada kalian --- jika Dafa yang bukan siapa-siapa saja sampai bersemangat mati-matian seperti itu, apakah kita harus tetap duduk dan tidak melakukan apa-apa?"
"Tapi, apa yang bisa kami lakukan?" Tanya Sheila.
"Membantu dan berjuang bersama dengannya.."
"Benar yang dikatakan Pak Inu, anak-anak.." Ibu Nuriyanti ikut menghampiri. Beriringan dengan Bu Fatma dan Bu Fauziah.
"Selain itu, saya lihat juga Dafa sepertinya begitu tertarik dengan kalian berlima.."
"Pak Inu bisa aja. Memangnya apa kelebihan kami?" Gabriel tertawa merendah.
Sebuah alphard hitam memasuki halaman SMK Ellite Rovario, menyusul di belakangnya sebuah mobil pick up yang membawa banyak sekali barang.
"Pak Inu.." Bu Nuriyanti menatap Inu lekat-lekat. "Sepertinya anak itu memang tidak main-main."
Mereka langsung menghampiri Pak Popo yang juga sedang berjalan ke arah mereka dengan tergopoh.
"Selamat pagi menjelang siang, saya ditugaskan sama Den Dafa untuk membawakan semua barang-barang ini."
"Barangnya banyak banget..." Eka sampai nyaris tak berkedip.
"Apa bisa diturunkan sekarang?" Tanya Pak Popo lagi.
"Bu Nuriyanti.." Bu Fatma berkata pelan.
"Pak Inu..?" Bu Nuriyanti malah menoleh lagi pada Inu.
"Tapi Pak, apa semua barang ini -- sudah di bayar?" Tanya Inu segan.
"Sudah, Pak. Semuanya sudah dilunasi."
"Kalau begitu, ditaruh di kitchen saja ya, Bu?"
Bu Nuriyanti pun mengangguk, menyetujuinya.
Dengan dibantu semua siswanya, mereka semua bergotong royong membawa dan menata semua perabotan itu di kitchen sekolah yang sudah tiga bulan lamanya kosong dan nyaris seperti ruangan berhantu saja kondisinya.
Bu Nuriyanti menugaskan beberapa muridnya untuk menyapu dan mengepel lantai. Dan yang lainnya ditugaskan untuk mengelap meja, pintu dan jendela.
Pekerjaan berat itupun terasa ringan karena dikerjakan bersama-sama, meski dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
Adzan Dzuhur sudah berlalu. Dan sebagian besar siswa SMK Ellite Rovario pun sudah pulang sejak dua jam yang lalu.
Namun yang masih bertahan di kitchen sekolah cuma segelintir siswa termasuk beberapa guru saja yang kini sedang beristirahat karena rasa lelah sehabis kerja bakti dadakkan baru saja.
"Kok Dafa belum datang ya, Pak?" Tanya Tita sambil terus melempar pandangannya ke arah gerbang sekolah yang nyaris rubuh itu.
"Jangan-jangan dia cuma ngerjain kita lagi...!?"
Sheila menatap Julian dalam-dalam. "Jangan suka berpikiran buruk terus, Jul."
"Benar yang dikatakan Sheila, Julian." Inu merangkul remaja berwajah manis itu. "Kalaupun dia cuma mengerjai kita, untuk apa dia membelikan ini semua?"
Namun sampai menjelang ashar, Dafa masih juga belum menunjukkan batang hidungnya. Dan bahkan setelah mereka selesai melaksanakan shalat ashar berjamaah di masjid, Dafa masih juga belum kembali.
"Saya jadi khawatir, Pak Inu. Apa sesuatu terjadi sama anak itu ya?" Ujar Bu Nuriyanti.
"Terus kita mau nunggu sampai kapan nih, Bu?"Tanya Eka. "Kalau kemaleman kan nanti kita susah dapat angkot."
Disaat mereka sedang berdiskusi apakah masih tetap ingin menunggu atau tidak, sebuah mobil blind van putih masuk dan berhenti persis di depan kitchen sekolah.
Dafa turun dari dalam mobil itu dengan tergesa-gesa. "Gara-gara belanja, aku sampai enggak shalat dzuhur sama ashar tadi...!" Setelah mengatakan itu, ia segera ke kamar mandi, mengambil wudhu, dan melakukan shalat di dalam kitchen yang baru saja di bersihkan itu.
"Maaf Bapak -- Ibu, belanjaan bisa diturunkan sekarang?" Tanya si supir blind van itu.
"Ayo anak-anak, kita bantu turunkan.." Ucap Inu.
Dan mereka semua terkejut bukan main, saat pintu mobil itu terbuka. Karena apa yang ada di dalamnya, sungguh diluar perkiraan mereka semua.
"Kira-kira Dafa sudah habis berapa banyak ya?"
"Gak usah penasaran deh, Tita."Dafa sudah muncul kembali. "Soalnya aku juga kan tinggal pakai kartu kreditnya Om Danu. Hhihi.."
"Lohh Dafa, kok ada kasur gulung, bantal sama guling juga?" Tanya Gabriel yang juga membuat penasaran semua teman-teman serta gurunya itu.
"Itu buat aku. Kalau aku kecapean, aku kan bisa nginep disini. Hhihii.."
"Kamu mau nginep disini?! Emangnya kamu gak takut?" Tanya Tita.
Dafa menggeleng. "Kalau ada penjahat manusia, nanti tinggal aku gebuk pakai pemukul baseball ini. Tapi kalau ada hantu jahat, tinggal aku ngajiin aja. Hhihi.."
Seulas senyum menyungging di wajah Inu. Meski ia sangat sekali ingin mengakrabkan diri dengan murid barunya itu. Namun entah kenapa ia masih saja segan untuk mendekati, apalagi sampai melakukan kontak fisiknya dengannya.
Di saat mereka semua sedang disibukkan kembali menurunkan barang-barang belanjaan, sosok nenek tua dengan kedua kucing persianya itu, sedang duduk di pos satpam yang tampak kotor.
"Tugas kalian berdua, singkirkan semua penghuni jahat yang ada di sekolah ini. Satu di tangga barat. Dua di toilet siswa. Satu di pohon rambutan. Dan satu lagi di ---"
Nenek tua itu menghentikan kalimatnya. Matanya memelotot ke arah depan gerbang sekolah.
"Pergi atau kau akan kumusnahkan selamanya...?!!"
Si nenek tua itupun bangkit dan berjalan menuju gerbang depan sekolah.
"Tidak akan kubiarkan kau atau teman-temanmu itu, sampai menyentuh apalagi menyakitinya..!!"
Dduuaartt...!!
Bunyi ledakkan yang terdengar amat keras itu, sontak membuat Dafa yang lainnya berlarian keluar dari dalam kitchen.
"Kayak suara petasan tahun baru ya!?" Komentar Dafa dengan wajah polosnya.
"Dafa--Dafa, kau ini aneh banget sih. Mana ada suara petasan kayak gitu.." Ucap Gabriel santai.
...##### ...
__ADS_1