GROWING

GROWING
35


__ADS_3

"Apa ini, Fa?" Tanya Tita dengan raut wajah bingung saat menerima selembar kertas dari temannya itu.


"Kertas ini adalah jadwal perlombaan memasak yang akan kita ikuti selanjutnya.."


Sontak saja kelima temannya melongok dengan tatapan tak percaya. Bukankah baru kemarin lusa mereka mengikuti sebuah lomba memasak, dan sekarang mereka harus kembali dihadapkan pada serentetan jadwal perlombaan memasak yang sudah disusun sedemikian rupa oleh Dafa.


"Dafa, tapi yang selanjutnya ini --- Bali?" Eka menoleh pada keempat sahabatnya.


"Kok, jauh banget ya.." Ucap Sheila pelan.


"Kalian tenang aja. Karena aku sudah punya sponsor tetap untuk membiayai kita semua kesana.." Kata Dafa dengan mimik wajahnya yang aneh.


"Siapa, Fa?"Tanya Eka.


"Nenek Stevie dong.."


Rupanya Dafa memang tak pernah main-main dengan semua perkataannya. Ketika ia mengatakan bahwa ia akan menjadikan SMK Ellite Rovario, sebagai sekolah kejuruan terbaik di negeri ini, maka secara perlahan dia berusaha mewujudkannya.


Keesokkan siang, Dafa dan kedelapan temannya, diiringi dengan Inu dan Bu Fatma, terbang menuju pulau dewata. Dengan semua biaya, mulai dari transportasi menuju bandara, uang saku, sampai penginapan pun, semuanya ditanggunh penuh oleh Stevie Wallerima.


Dan pada perlombaan yang mengusung tema oriental, dan digelar di salah satu hotel berbintang lima inilah, sekali lagi Dafa bisa mempecundangi Kinno dan bahkan siswa-siswa dari sekolah kejuruan internasional laimmya, yang ada di pulau itu.


Hari pun berganti minggu. Satu persatu piala serta piagam penghargaan berhasil di dapatkan oleh Dafa.


Nama SMK Ellite Rovario yang tadinya sudah karam di lautan terdalam, seolah kembali terangkat, dan bahkan melebihi ekspektasi siapapun.


Jika orang-orang membicarakan sekolah kejuruan terbaik, pastilah nama SMK Ellite Rovario menjadi salah satu dari ketiga sekolah kejuruan terhebat, yang ada di Indonesia ini.


Meski saat ini status SMK Ellite Rovario sendiri, masihlah dalam pengawasan pihak bank, karena hutang kepala yayasan yang tidak bisa dilunasi. Dan akhirnya, menjadikan sekolah itu jaminannya.


Semuanya tampak berjalan baik-baik saja. Tidak begitu ada masalah berarti yang terjadi di sekolah itu. Hanya saja ada satu peristiwa kecil namun dahsyat yang terjadi pada jumat pagi di penghujung bulan Mei.


Dimana Anindita datang dengan para pengawalnya dan juga Danu yang turut serta tentunya. Kedatangannya pagi itu, tujuannya adalah untuk menjemput anak semata wayangnya itu.


"Aku gak mau pulang!" Tukas Dafa tak mau kalah.


"Cukup, Dafa! Bunda sudah capek dengan semua ulahmu ini ya..!"


Dafa berlindung di balik Inu. Sambil terus memegangi kemeja wali kelasnya itu.


"Kau harus sadar Dafa, selama ini kau sudah diperalat oleh mereka semua..!"


"Anindita, pelankan suaramu! Aku mohon..."


"Mas Danu jangan ikut campur!" Baru sekali ini Anindita membentak Danu dengan nada tinggi sekali.


"Oke, aku paham. Tapi tidak seharusnya kau bersikap seperti itu..."


"Mas Danu! Selama ini aku sudah cukup bersabar dibuatnya! Dan sudah saatnya dia mendengarkan perkataanku dibandingkan orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya seperti mereka semua..!"


"Ya Tuhan, Anindita.."


Anindita pun memelotot kembali pada Dafa. "Pulang atau Bunda akan menyeretmu paksa!"


"AKU GAK MAU PULANG!!"


Mata Anindita makin memelotot. "Mas Danu lihat kan, bahkan sekarang dia sudah berani membentak bundanya sendiri! Bunda yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya...!"

__ADS_1


"Dafa, pulang ya, Nak..." Kata Bu Nuriyanti pelan. Ditatapnya lekat-lekat mata anak laki-laki itu dengan penuh perasaan.


"Pasti mereka yang sudah mencuci otaknya, hingga dia berani membentak dan membantahku, Mas!"


Inu melepas tangan Dafa dari kemejanya. Lalu ia berbalik dan memegang bahu Dafa.


"Kita masih bisa bertemu lain waktu kan?"


Dafa menggeleng. "Aku gak mau pulang, Pak Inu. Rumahku kan disini. Di sekolah ini.."


Secara mengejutkan Anindita menyambar tangan Dafa dan menariknya kasar sekali.


Hingga terjadilah keributan yang tak bisa terhindarkan lagi antara ibu dan anak itu.


"KENAPA KAU SUSAH SEKALI DIBILANGIN, HAH?!!"


"Daripada aku pulang, aku mau menyusul ayah aja!!"


"DAFA..!!"


"Aku benci bunda!! Aku mau ikut ayahh..!!"


Anindita berkacak pinggang. "Kau mau menyusul ayahmu itu?!! Baik!! Kau pergi saja sana!!Kau susul ayahmu di alam baka!!"


"Anindita..!!"


"Aku akan menghubungi Martin Luther. Akan kuminta dia, untuk merobohkan sekolah sialan ini secepatnya!"


"TIDAK AKAN KUBIARKAN SATU ORANGPUN MELAKUKANNYA!!"


Dafa merebut kasar ponsel Anindita, dan membantingnya hingga pecah berantakan.


"KALIAN SEMUA IBLIS!! KALIAN SEMUA TELAH MENCUCI OTAKNYA HINGGA DIA BERANI MEMBANTAHKU SEKARANG!"


"CUKUP!!" Dafa pasang badan di depan guru-guru dan teman-temannya. "BUNDA BOLEH MENGHINA AKU SEPUASNYA! TAPI BUNDA TIDAK BOLEH MENGHINA GURU, TEMAN-TEMAN DAN SEKOLAHKU INI!!"


Anindita mengeluarkan ponsel lainnya. Lalu ia menghubungi Martin Luther dan sengaja berbicara dengan mengaktifkan mode speaker agar bisa terdengar oleh Dafa dan yang lainnya.


"Gak masalah, Pak Martin. Kalau perlu siang ini juga kita hancurkan sekolah ---"


"BERISIKKKK...!!" Dafa berteriak keras sekali. Matanya pun sampai berkaca-kaca.


Sekali lagi, Anindita menarik tangan anaknya itu. Namun seketika itu juga dia menjerit keras sekali.


"DAFA!!" Anindita memelotot. Ia tak mengira kalau anaknya itu akan menggigit tangannya sampai berbekas dalam sekali.


"Jangan --- pernah --- ganggu sekolah ini..!"


Anindita malah tertawa sinis. "Dafa -- Dafa -- Dafa. Seharusnya kau itu harus sadar diri..."


"Anindita ---"


"Kau ini bukan siapa-siapa, Dafa.." Kata Anindita sambil memegangi dagu Dafa. "Kau ini tak lebih hanya seorang anak manja yang cengeng, yang tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan dari bundanya.."


Tubuh Dafa bergetar hebat. Baru sekali ini ia merasakan rasa sakit hati yang sangat luar biasa.


"Kau ingin menyelematkan sekolah ini?" Anindita tertawa terbahak. "Kau jangan pernah bermimpi, Dafa. Kau itu tidak bisa melakukan apa-apa..."

__ADS_1


Air mata Dafa mulai mengalir jatuh.


"Kau pikir dengan piala dan piagam omong kosongmu itu, kau bisa mempertahankan sekolah ini? Bangunlah anak manja --- jangan kau terus tidur dan bermimpi..."


Air mata Dafa makin tak terbendung. Rasa sakit itu kian menyiksanya.


"Dafa..." Bu Nuriyanti pun sampai tak kuat melihat pemandangan memilukan itu.


"Aku --- memang --- cengeng..." Ucapnya pelan sekali, dengan isak tangis yang tak bisa ditahannya.


"Sepertinya barusan aku seperti mendengar ada yang bicara. Apa Mas Danu mendengarnya?"


Sedikitpun Danu tak menoleh pada Anindita. Ia memang jatuh cinta pada wanita itu. Namun untuk saat ini, ia sangat kasihan dan tak tega melihat sosok anak-anak laki berwajah polos dengan air mata yang berlinangan itu.


"Tapi aku sudah berjanji -- akan tetap disini -- melindungi sekolah, teman-teman, dan guruku.."


"Dengan apa? Air mata?"


"Anindita, hentikan. Apa kau tidak kasihan melihatnya? Dafa itu anakmu, Anindita.."


"Dulu dia memang anakku, Mas. Tapi setelah mereka semua meracuni pikirannya, dia bukan lagi ---"


"DIAAAMMMM...!!"


Anindita terhenyak. Begitupun dengan semua orang yang ada di sekitarnya.


"BUNDA ADALAH ORANG JAHAT!! DAN AKU BERSUMPAH, TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN BUNDA...!!"


"Da -- fa.." Anindita mulai melunak.


"AKU MEMANG ANAK LEMAH -- MANJA -- CENGENG -- DAN TIDAK BISA MELAKUKAN APA-APA!! TAPI AKU -- TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN SATU ORANG PUN, MELUKAI HATI DAN PERASAAN TEMAN-TEMAN, DAN JUGA GURU-GURUKU!!"


"Dafa..."


"PERGIII..!!"


Anindita makin terhenyak melihat ekspresi anaknya yang sangat emosional seperti itu.


"SAMPAI AKU MENINGGAL, AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN BUNDA -- DAN JUGA KINNO!! KARENA KALIAN BERDUA, ADALAH ORANG PALING JAHAT YANG PERNAH KUTEMUI DI DUNIA INI...!!"


Sementara itu dari balik gerbang sekolah, ketiga orang itu terus mengamati dengan perasaan tak menentu.


"Jangan, Ardiansyah.." Anggita Suryatama makin mengeratkan tangannya pada tangan anaknya itu.


"Tapi bu, aku tidak bisa tinggal diam, melihat Anindita melakukan hal sekejam itu sama Dafa!"


"Dan kau mau, tambah membuat perasaan anak itu terluka?!"


Ardiansyah menunduk dalam.


"Sabar, Ardiansyah!! Jika sudah waktunya, kita semua pasti akan menemuinya!"


"Maafkan Ayah, Dafa..." Setitik air mata Ardiansyah jatuh dari sudut matanya.


Tak jauh dari ketiga orang itu, sesosok nenek tua dengan tongkat kayunya itu, terlihat menengadah. Menatap birunya langit yang tanpa awan sedikitpun.


'Pelangi itu takkan pernah muncul dan terlihat...'

__ADS_1


...##### ...


__ADS_2