
Tok.. Tok..
"Den Kinno, bangun. Ditunggu sama Tuan dan Nyonya di meja makan..."
Kinno menggeliat malas. Tanpa sadar, tangannya menyusup ke dalam kaos tidurnya. Entah kenapa, malam tadi dia berasa panas dan kegerahan. Padahal AC di kamarnya, sudah disetel suhu terendah. Tapi bangun-bangun, tubuhnya malah keringetan.
"Den Kinno, kata Tuan hari ini kan ulang tahunnya Den Dafa.."
Seketika kedua mata Kinno terbuka. Ia langsung melompat dari atas kasurnya. Menyadari bahwa saat ini sudah jam 8 pagi. Padahal ia dan teman-temannya yang lain janjian kumpul di sekolah jam 8 pagi.
Hapenya berdering. Panggilan masuk dari nomer Gabriel.
"Tunggu ya. Ban mobilku kempes nih. Oke..!"
Cklek...!
Kinno membuka pintu kamar tidurnya. Si mbak yang tadi mengetuk pintu kamarnya, sampai menutup mata karena melihat anak majikkannya yang keluar dengan bertelanjang dada.
"Dad, nanti aku kumpul di sekolah dulu sama yang lainnya!"
"Tapi kau jangan lupa sarapan dulu.." Ujar Anindita dari lantai bawah.
"Beres, bunda!"
Kinno kembali ke dalam kamar tidurnya. Mengunci pintu kamarnya, dan bergegas mandi.
Kenapa di hari yang sangat penting dan spesial ini, dia bisa sampai bangun kesiangan?!
Tok -- Tok...
"Sebentar!!" Teriak Kinno yang mulai dari ujung kepala hingga ujung kakinya sedang dipenuhi busa sampo.
Tok -- Tok...
"SEBENTAR...!!" Kinno mulai kesal. Ia buka pintu kamarnya meski tubuhnya masih penuh dengan busa sampo dan sabun. "Siaaa --- Dafa..?!" Kinno tersentak bukan main saat melihat sosok yang kini sedang berdiri di hadapannya.
Kinno pun membilas wajahnya, dan langsung melilitkan handuk untuk menutupi bagian vitalnya.
"Kau sama siapa kesini?!"
Dafa tak menjawab. Wajahnya pun terlihat sangat pucat sekali.
"Dafa, kau ---"
"Dingin -- disini dingin sekali..."
"Ya ampun, Dafa. Kalau kau tidak enak badan, kau tidak usah repot-repot kesini." Kata Kinno sambil membawa Dafa ke atas kasurnya. "Kau tiduran dulu saja, ya.." Ia pun menyelimuti tubuh Dafa.
"Dingin ---"
Kinno mengerenyitkan dahi. AC kamarnya pun sudah ia matikan. "Sebentar ya, aku buka jendela kamar, supaya sinar matahari bisa masuk.."
"Kinno..."
Kinno terkejut bukan main saat tangan Dafa yang sangat dingin itu memegang tangannya.
"Aku takut sekali disini -- semuanya gelap dan dingin..."
__ADS_1
Kinno duduk di sisi Dafa. Ia belai lembut kepala Dafa. "Kau tidak perlu takut, Dafa. Sebab akulah yang akan selalu menjagamu.."
"Tolong aku, Kinno -- dingin sekali..."
"Aku akan turun sebentar buat susu hangat. Kau istirahat saja disini ya.."
Cklek..!
Kinno mengerenyitkan dahi. Menurutnya, seperti ada yang aneh dengan Dafa. Tapi ia mengabaikannya dan bergegas ke bawah.
"Nah, apa-apaan lagi anak itu?!" Tukas Danu dengan mata memicing tajam. "Kau pikir usiamu sekarang berapa?"
"Kau mau apa, Kinno?" Tanya Anindita.
"Aku mau buat susu hangat."
"Susu hangat?" Anindita menatap Danu heran.
"Bukan buat aku. Tapi buat Dafa." Kinno menyengir lebar.
"Dafa?" Anindita makin heran.
"Iya, bunda. Habisnya daritadi Dafa bilang dingin--dingin--dingin terus. Yasudah, aku buatin susu hangat aja buat dia.."
"Candaanmu itu sama sekali tidak lucu!" Suara Danu terdengar tegas.
Kinno mengedarkan pandangannya. "Loh kok sepi? Om Ardiansyah mana?"
"Kinno, apa maksudmu?!"
"Bunda, Dafa itu datang kesini pasti dianter kan? Mana mungkin dia bisa datang sendirian ke rumah ini.."
"Cukup, Kinno!"
"Aku gak bohong, Dad!! Kalau dad sama bunda gak percaya, lihat aja sendiri di kamarku!"
Anindita bergegas naik menuju lantai atas. Menyusul di belakangnya Danu, dan baru kemudian Kinno.
Tapi begitu ketiganya sampai di kamar Kino, mereka tak melihat siapapun di dalam kamar tersebut.
"Mana Dafa, Kinno?!" Tanya Anindita cemas.
Kinno meletakkan segelas susu hangat di atas meja lampu. "Tadi ada disini, bunda! Kalau bunda gak percaya lihat saja kasurku ini!"
"Kasur itu berantakkan karena habis kau tiduri..!"
Hidung Anindita bergerak. Seperti sedang mengendus sesuatu. "Tunggu, Mas. Bau ini --- aku kenal betul..."
"Bau parfumnya Dafa kan, bun?!"
Anindita mengangguk. "Kinno, apa kau yakin kalau tadi Dafa ada disini?!"
"Aku yakin seribu persen, bunda! Tadi itu pas aku lagi mandi, Dafa ngetok ---" Kinno terdiam sesaat. "Tapi --- bukannya tadi itu pintu kamarku terkunci ya..?"
...##### ...
Ting.. Tong..
__ADS_1
"Bi, tolong buka pintu.." kata wanita paruh baya itu.
"Baik, bu.."
Namun, disaat bersamaan Gabriel muncul dan langsung mencegah asisten rumah tangganya itu.
"Biar aku aja, bi.."
Gabriel pun membukakan pintu depan rumahnya. Dan ia sungguh tak menyangka, siapa yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Dafa?"
"Siapa, sayang?" Teriak maminya dalam dalam.
"Dafa, mi!!" Balas Gabriel.
"Ajak masuk dong. Kita sarapan bareng aja sekalian.."
Meski agak bingung, namun sejujurnya Gabriel senang juga karena akhirnya Dafa bisa main dan berkunjung ke rumahnya.
"Kau sama siapa kesini, Fa?" Gabriel celingukkan. Dia cuma melihat dua mobil milik papi dan maminya yang terparkir di garasi dan depan rumahnya.
"Dingin..."
"Dingin?" Gabriel makin heran. Sebab pagi ini jelas matahari sedang bersinar dengan teriknya.
"Tolong aku -- disini dingin sekali.."
"Kita masuk aja yuk, Fa.." Gabriel pun menarik pelan tangan Dafa. Dia agak terkejut dengan tangan Dafa yang sangat dingin ketika disentuhnya.
"Ehh Dafa.." maminya Gabriel muncul dan melempar seulas senyum. "Mami tunggu di meja makan ya.."
Gabriel mengangguk. Namun saat Gabriel akan mengajak Dafa ke ruang makan, Dafa seolah menahan.
"Kenapa, Fa?"
"Dingin... Aku kedinginan.."
Gabriel baru sadar, kalau kondisi temannya itu kelihatan agak basah.
"Kau ganti baju aja deh, Fa. Tunggu ya, aku ambilkan bajuku dulu..."
Gabriel pun bergegas menuju kamarnya. Dia mengambilkan dua kaos dan sweater rajutan miliknya.
"Kayaknya muat kali ya.." gumamnya.
Kreeekk..
Gabriel menoleh. Matanya dan mata maminya saling bertemu.
"Mami bikin aku kaget aja.."
"Dafanya mana, Gabriel?"
Mata Gabriel membelo. "Mami ini gimana, Dafa kan ada di ruang tamu. Ini aku lagi ngambilin baju ganti buat dia.."
"Ruang tamu?" Maminya jadi bingung. "Mami itu kesini, karena Mami pikir Dafa ada sama kau disini.."
__ADS_1
Gabriel sontak berlari ke ruang tamu. Benar yang dikatakan maminya. Dafa sudah tidak ada lagi di ruang tamu. Bahkan ketika ia mencari di setiap sudut rumah, hingga ke depan -- ia tetap tak bisa menemukan teman terbaiknya itu.
...##### ...