
"Dafa..."
" ---"
Yang dipanggil pun tak menoleh sedikitpun. Ia masih saja asyik berlari mengejar empat kelinci berbulu putih selembut kapas.
Kelinci-kelinci itu bertubuh gemuk, namun larinya sangat lincah. Ketika dikejar, hewan herbivora itu malah masuk ke dalam lubang persembunyian, namun tak lama keluar lagi, sambil melompat-lompat, seolah sedang mengejek manusia yang terus mengejar, hendak menangkapnya.
Dafa lalu jatuh bergulingan, saat dua tupai tiba-tiba melompat ke atas kepalanya. Dia tertawa lepas, saat hewan-hewab kecil itu mengerubutinya.
"Dafa, sudah saatnya kau kembali.."
Dafa menatap lekat-lekat si nenek tua dengan wajah cemberut.
"Aku gak mau pulang, nenek!! Aku mau disini terus selamanya!!" Sahutnya kesal. "Disini, aku bisa bermain selamanya dengan teman-temanku.."
Si nenek tua menghela nafas pendek. Entah sudah berapa kali ia berusaha membujuk anak laki-laki itu untuk kembali, namun usahanya itu terkesan sia-sia saja.
"Apa kau tidak mengkhawatirkan bundamu, Dafa?"
__ADS_1
Dafa menggeleng mantap. Ia mengangkat seekor kelinci ke atas pangkuannya. Lalu ia tiduran diatas hamparan rumput hijau yang agak sedikit basah dan lembab itu.
"Buat apa aku kembali, kalau disini itu lebih menyenangkan?" ucapnya sambil memeluk kelinci itu erat-erat. Sementara beberapa binatang lainnya, seperti kucing persia, tupai, kelinci, burung merpati putih, dan seekor beruang madu -- duduk mengitarinya.
Mereka bernyanyi riang, meski dalam bahasa dan suara yang berbeda-beda.
"Disini aku bisa melakukan apa saja. Aku bisa bermain sepuasnya dengan semua teman-temanku. Tidak ada yang akan memarahiku. Tidak akan ada yang membentaku juga."
Si nenek tua itu mundur sebanyak tiga langkah. Lalu ia menengadahkan kepalanya dengan raut sayu.
"Maafkan Nenek, Dafa. Maafkan Nenek..."
Tuk.. Tuk.. Tuk..
Lalu keadaan berubah dengan sangat drastis. Langit yang tadinya biru cerah, kini berubah hitam pekat menyeramkan. Kilat menyambar dan angin berhembus kencang sekali. Membuat para binatang itu, lari tunggang langgang tak tentu arah.
"Tunggu!!! Jangan tinggalin aku sendirian!!"
Dafa berteriak dan terus berteriak. Ia mengejar teman-temannya itu. Namun ia tetap tak bisa mengejar dan nenjangkaunya.
__ADS_1
Berkali-kali ia jatuh, lalu bangkit kembali, dan jatuh kembali. Hingga beberapa kali. Sampai ia kelihatan begitu kepayahan.
Perlahan, tanah tempatnya berpijak bergetar hebat. Lalu membelah dengan sebuah lubang yang menganga lebar sekali.
Dafa takut dan panik sekali. Sebab segala keindahan yang ada di hadapannya itu, kini berubah tak lebihnya seperti negeri yang porak poranda akibat bencana dahsyat yang menerjang.
"Tolong aku, nenek...!! Tolong aku...!!"
"Pulanglah, Dafa --- Temuilah mereka yang selama ini sudah menunggu kedatanganmu..." Suara nenek tua itu menggema tanpa kelihatan wujud asli pemiliknya.
"Aku gak mau pulang!! Aku gak mau --- arggghhh...!!" Dafa berteriak keras sekali saat tanah di bawahnya membelah, dan dia jatuh ke dalamnya.
Ke dalam sebuah lubang hitam tak berdasar.
Si nenek tua itu kembali. Ia mengetukkan dua kali tongkatnya ke atas sebuah batu keras berwarna abu-abu kehitaman. Dan hanya dalam sekejapan mata saja, keadaan yang tadinya porak poranda itu, menjadi seperti sedia kala.
Para binatang menggemaskan itupun keluar kembali dari dalam liang persembunyian.
Burung-burung kutilang dan kenari, bahkan sudah bersiual riang kembali.
__ADS_1
"Belum saatnya kau menjadi penghuni tempat ini, cucuku. Belum saatnya..."
...##### ...