GROWING

GROWING
11


__ADS_3

"Yeeeyyy, sekolahhh...!!"


Jika Dafa senang dan gembira bukan kepalang karena akhirnya pagi ini ia bisa melihat dunia luar, sekaligus bersekolah.


Namun tidak dengan Anindita. Sejak semalam ia sudah mengatur orang-orang suruhannya agar tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari anaknya itu.


"Tenanglah Anindita, Dafa kan hanya sekolah. Dan siang nanti, ia akan kembali lagi ke rumah ini."


"Aku gak bisa tenang, Mas!" Anindita pun keluar dari kamar anaknya. Menjauh hingga ke lorong. "Bagaimana kalau mereka mengetahui keberadaan Dafa dan merebutnya dariku?!!"


"Anindita, sekolah Martin Luther itu adalah sekolah terbaik yang ada di negara ini. Hampir di setiap sudutnya dipasangi cctv. Gerbangnya pun dijaga lebih dari 5 orang." Danu menatap lekat-lekat. "Ditambah dengan orang-orangmu dan orangku juga.."


"Tapi Mas Danu, aku sangat kenal mereka! Mereka pasti akan melakukan berbagai cara untuk merebut Dafa dariku!"


"Hei ---" Danu mengelus pipi Anindita lembut. "Aku bersumpah, tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


"Om Danu, ayo kita berangkat...!!" Dafa muncul dengan seragam putih abunya. Penampilannya itu sungguh membuat pangling.


"Kau lihat penampilannya sekarang..?"


Anindita menggigiti kuku ibu jarinya. Guratan cemas dan panik tak juga menghilang dari wajahnya.


"Aku sangat yakin, mereka tidak akan bisa mengenali Dafa yang sekarang."


"Mas Danu.."


"Serahkan semuanya padaku. Oke..!"


Kini Dafa sudah duduk manis di dalam mobilnya bundanya. Namun dia tidak bisa melihat apa-apa, karena seluruh kaca mobilnya yang dicat hitam.


"Dafa mau di mobil bunda atau di mobil Om?" Tanya Danu yang tentu saja langsung disambut gembira oleh Dafa.


Dan inilah kali pertamanya --- setelah sepuluh tahun lebih terkurung di dalam rumahnya --- ia bisa melihat langit dan merasakan sinar matahari pagi yang hangat, menerpanya.


Matanya membulat penuh. Apa yang dilihatnya ini, sungguh tak pernah terbayangkan olehnya.


"Wahhh...!!"


Ia berlari mendekati sebuah pohon mangga besar yang sedang berbuah itu. Menempelkan kedua telapak tangannya pada batang pohon, yang berukuran besar dan kasar.


Lalu ia menyentuh rumput hijau yang agak basah dan dingin.


"Kerenn..!!" Ujarnya antusias. "Mbok, aku bisa memegang rumput dan tanah...!!"


"Ayolah Dad, aku bisa telat nih...!" Kinno berteriak dari dalam mobilnya. Akibat hukumannya yang masih berjalan, ia masih belum diperbolehkan bawa mobil ataupun motornya seorang diri.


"Halo, Kinno!!"


Kinno memutar bola matanya. Lebih baik ia mendengarkan musik metal daripada harus mendengarkan suara Dafa yang nyaring dan cempreng itu.


"Sudah siap semua?"


"Sudah, Om!! Ayo kita berangkat sekarang untuk menuntut ilmu...!!"


Danu melambaikan tangannya pada Anindita sebelum naik ke mobilnya, dan mulai menyalakan mesinnya.


"Om Danu, bukain jendelanya..!!"


"Berisik banget sih!!"

__ADS_1


Danu sontak menatap tajam pada anaknya itu.


Dafa menyembulkan kepalanya keluar jendela. Melambaikan tangan pada bunda, Mbok Parni dan Pak Popo.


"Aku berangkat sekolah dulu ya, bunda!! Mbok Parni sama Pak Popo jaga rumah supaya gak dimasukin pencuri, oke!!"


"Mau masuk tuh pencuri pasti mikir-mikir juga kali. Temboknya aja tinggi banget gitu, gimana mau lompat dia.."


"Kinno...!" Danu mendesis dongkol pada anaknya yang gak bisa menjaga mulutnya itu.


"Kalau ninja kan bisa menyelinap lewat bayangan, Kinno! Terus bisa juga terbang dan menyamar. Canggih loh pencuri itu.."


"Ya-ya-ya, terserah pendapatmu aja.."


Mulai dari rumah Anindita posisi mobil Danu sudah berada di tengah-tengah. Diapit dengan dua mobil orang-orang suruhannya dan juga Anindita.


Sepanjang perjalanan pagi ini, Dafa tak henti-hentinya berceloteh membicarakan ini dan itu. Menanggapi bus kota berukuran besar yang kadang menyemprotkan asap hitam pekat dari knalpotnya.


"Kenapa tidak ada yang naik sepeda, Om?"


"Karena ini Jakarta bodoh! Sepeda itu cuma dipake buat orang-orang di kampung!"


"Kampung itu apa sih artinya, Kinno?"


"Kampung itu maksudnya pedesaan, Dafa." Danu yang mengambil alih pembicaraan. "Di pedesaan itu jalanan masih sepi. Udaranya pun sejuk dan asri sekali. Banyak pohon rindang di kanan dan kiri jalannya."


"Aku mau di kampung aja deh, Om." celoteh Dafa sekenanya.


Saat mobil Danu harus terhenti karena lampu merah, dua anak kecil berpakaian lusuh mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.


Dafa memperhatikan kedua anak kecil yang entah berbicara apa, karena dia tidak bisa mendengarnya.


"Om Danu, mereka lagi mengajakku berbicara. Tapi aku gak bisa mendengarnya. Boleh dibuka enggak, endelanya?"


"Kak, bagi uang dong. Kami lapar. Kami belom makan."


"Kenapa belum makan? Emangnya orang tua kalian dimana?"


"Lagi kerja juga jadi tukang sapu."


Dafa mengeluarkan uang dari saku seragamnya. Namun saat ia akan menyerahkan selembar uang lima puluh ribuannya itu, Kinno buru-buru mencegahnya.


"Kau ini bodoh atau tolol?! Mereka itu cuma pura-pura biar dikasihani!"


Danu menghela nafas pendek. Yang dikatakan Kinno memang benar. Hanya saja ia sangat tidak suka dengan cara yang dilakukan anaknya itu.


Dafa masih memandangi kedua anak itu yang masih saja berdiri di dekat mobil Danu.


'Ya Allah, apa betul mereka cuma pura-pura? Bagaimana kalau ternyata mereka memang lapar? Ya Allah, semoga ada orang lain yang berbaik hati mau menolong mereka.'


Jam 6.45 pagi, akhirnya Dafa tiba juga di sekolah barunya. Matanya berbinar-binar memandang gerbang sekolah yang berdiri menjulang dan sangat megah itu.


Turun dengan terburu-buru, lalu memperhatikan puluhan anak-anak lain yang juga mengenakan seragam sama seperti dirinya.


"Hai..!! Haloo..!! Selamat pagi...!!"


Ia menyapa setiap siswa yang lewat di dekatnya. Perasaannya membuncah meluapkan kegembiraan, karena akhirnya ia bisa juga bersekolah seperti anak-anak lainnya.


"Aku duluan, Dad." Tukas Kinno dan ia pun berlalu begitu saja dengan wajah dingin dan angkuhnya.

__ADS_1


Danu menghampiri Dafa, mengajaknya untuk ke ruang kepala yayasan untuk melaporkan kedatangannya pagi ini.


Tapi di tengah perjalanan, rupanya dua orang pria dan satu wanita sudah menghadang langkahnya.


"Selamat pagi, Pak Danu."


"Pagi, Pak Martin."


"Pasti ini kan yang namanya Dafa.." Pria tua dengan kaca mata yang ada rantainya itu, menyapa Dafa dengan ramah dan hangat.


"Selamat pagi. Namaku Dafa."


"Nah, Dafa -- Pak Martin Luther ini adalah pendiri sekaligus pemilik sekolah ini." Jelas Danu.


"Selamat pagi, Dafa. Senang sekali saya khususnya, bisa menerima satu lagi murid berbakat seperti kau."


Dafa mengerjap memperhatikan Martin Luther dengan wajah bingungnya.


"Dafa kenapa?"


Dafa menoleh pada Danu. "Mbok Parni pernah membacakan buku cerita saat aku mau tidur. Nah di buku itu ada orang yang namanya Martin Luther. Dia itu pria tua yang sangat galak dan mempunyai toko roti kecil."


Martin Luther tersentak bukan main. Ia pun seperti teringat akan satu hal, ketika matanya mencoba menangkap sesuatu dari sorot mata biru milik remaja berkulit putih pucat itu.


"Aduhh, panas sekali ya, Om."


Danu baru menyadari kalau wajah Dafa kini berubah memerah dan basah. Bibirnya pun menjadi pucat sekali.


"Kalau Dafa sakit, segera saja dibawa ke UKS, Pak Danu." Ujar Pak Pangaribuan. Dia ini adalah kepala sekolah di sekolah perhotelan itu.


"Dafa tidak sakit. Ia hanya tidak terbiasa dengan udara panas." Ucap Danu pelan. "Maaf, sepertinya saya harus segera mengantarnya ke kelas."


"Kalau begitu saya antar, Pak Danu." Kata wanita gemuk dan agak pendek itu dengan suaranya yang tegas. "Mari Pak Martin -- Pak Pangaribuan."


Saat ketiganya akan menaiki anak tangga menuju lantai tiga, perhatian Dafa teralihkan pada tembok yang sudah dihancurkan sebagian itu.


Ia berhenti sejenak. Mengamati dengan seksama apa yang ada di seberang sana itu sebenarnya.


"Ayo, Dafa."


Dafa mengangguk. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kelasnya.


Tapi entah kenapa, pikirannya terus saja terpusat pada apa yang dilihatnya tadi. Sekumpulan orang yang juga sama-sama mengenakan seragam putih abu seperti seragam yang dikenakannya saat ini.


"Ayo anak-anak semuanya duduk...!!" Ujar wanita itu sambil memukul papan tulis dengan penghapus spidol.


Seketika keadaan kelas menjadi sunyi sekali. Perhatian mereka pun langsung terpusat pada sosok anak laki-laki yang sedang berdiri di depan kelas dengan wajah polos dan seperti orang bingung itu.


"Anak-anak, pagi ini kita kedatangan teman baru. Namanya Dafa."


Seorang siswa mengangkat tangan kanannya. "Bu Sisil, Dafa bukan orang indonesia asli ya?"


"Kenapa tidak langsung tanya saja sama Dafa?" Kata Bu Sisil sambil menepuk pelan bahu Dafa. "Sekarang, Ibu persilahkan kamu untuk berkenalan dengan teman-temanmu."


Dafa mengangguk sekali. Namun sampai beberapa menit berselang, mulutnya masih saja terkunci rapat. Yang dilakukannya kini ialah memperhatikan satu persatu wajah teman-teman barunya itu.


"Dafa..." Suara Danu dari muka pintu membuyarkan lamunannya.


"Tidak apa-apa, Dafa." Bu Sisil lagi-lagi mengusap bahu Dafa.

__ADS_1


"Bu Sisil, mereka sangat banyak sekali. Bagaimana nanti aku bisa ingat nama mereka satu persatu...?"


...#####...


__ADS_2