
"Assallamualaikum, Bu Nuriyanti. "
Bu Nuriyanti pun menoleh. Matanya membelalak bukan main saat melihat siapa yang mengucapkan salam padanya itu.
"Waalaikumsalam..." Jawabnya dengan penuh suka cita. "Kalian apa kabarnya?" Ia memeluk satu persatu anak-anak didiknya yang telah lulus dan telah sukses dengan bidang dan pekerjaannya masing-masing.
"Eka?! Masya Allah..., Ibu sampai pangling sekali denganmu." Ucap Bu Fatma sambil terus memandangi remaja berponi yang kini telah menjelma menjadi sesosok wanita berparas cantik dengan rambut ikalnya yang berwarna cokelat gelap. "Kok rambutnya..."
"Tahu tuh bu, padahal aku udah bilang kalau dia gak pantes dengan potongan rambut seperti itu.." Tita menjulurkan lidah pada sahabatnya.
"Hmmm, Tita --- apa pria tampan ini calon suamimu?" Tanya Bu Nuriyanti dengan tatapan menyelidik.
Pipi Tita bersemu merah. "Cuma teman biasa kok, Bu.."
"Teman kok udah pakai cincin kembaran gitu.." Ledek Julian.
"Hai semua..!! Gimana? Kalian sudah siap dengan pertandingan hari ini?" Tanya Eka pada adik-adik kelasnya.
"Siap lah pastinya." Kinno yang menjawab. "Selama mereka di bawah bimbinganku, pasti mereka akan selalu membawa pulang piala kemenangan itu."
Percaya diri memang boleh saja. Namun, baik Kinno dan para juniornya yang ikut bertanding pada perlombaan memasak tahunan ini --- mereka terlalu angkuh dan tinggi hati.
Sejak rombongan SMK Ellite Rovario itu tiba di pelataran parkir Stadion Gelora Bung Karno, mereka langsung jadi pusat perhatian siswa dari sekolah lain.
Meski para siswa dari sekolah lain banyak yang menyegani siswa SMK Ellite Rovario, namun tak sedikit pula yang tak suka dengan sikap sombong yang diperlihatkan oleh Kinno dan para juniornya itu
Jalan dengan kepala tegak terangkat. Tak pernah sedikitpun membalas senyum apalagi sapaan ramah dari siswa lain.
Sekalinya menatap, pastilah mereka menatap sinis dan rendah, siswa dari sekolah lain.
"Selamat pagi, anak-anak.."
"Nenek Stevie...!!" Eka riang sekali menyambut wanita tua itu. "Aku kangen banget sama Nenek Stevie.." Ujarnya sambil memeluk erat. "Terakhir, kita ketemu di gereja saat perayaan natalan tahun lalu ya, nek..?"
"Dan sekarang, kau sudah banyak sekali berubah, Eka.."
"Hhhaaahhh.." Sheila menghela nafas panjang.
"Kau kenapa?" Tanya Tita.
"Aku tiba-tiba ingat sama Dafa." Perkataan Sheila itu, langsung membuat aura di sekitar mereka berubah drastis. "Aku kok jadi rindu sekali dengannya, ya.."
"Sheila..." Eka merangkul sahabatnya itu. "Aku yakin kok, kalau sekarang -- Dafa lagi memperhatikan kita dari atas sana."
"Sepertinya, Nenek dengar ada yang sedang menyebut-nyebut nama cucu Nenek..."
"Nenek Anggita..!!" Eka benar-benar antusias sekali menyambut Anggita Suryatama dan keluarganya itu.
"Kita kok bisa jadi kumpul semua kayak gini ya..?" Celetuk Gabriel sambil terkekeh.
"Iya. Aku juga seperti merasakan sesuatu yang aneh sejak tiba disini.."
"Aneh bagaimana maksudmu, Sheila?" Tanya Tita.
"Aneh aja. Seperti ada sebuah ikatan kuat yang seolah sedang memaksa kita semua untuk bertemu di tempat ini."
"Maaf jika Ibu memotong.." Bu Nuriyanti merangsek ke depan. "Sebelumnya saya ingin minta maaf kepada Ibu Anggita dan Pak Ardiansyah.."
"Ibu Nuriyanti kenapa harus minta maaf?" Anggita Suryatama melempar senyum tipis.
"Karena apa yang akan saya sampaikan ini, ada hubungannya dengan Dafa.."
Wajah Anggita Suryataman dan Ardiansyah mendadak tegang. Namun keduanya setuju agar Bu Nuriyanti meneruskan maksudnya itu.
"Anak-anak, bisa Ibu minta waktunya sebentar saja.. "
Hanya dalam sekejapan, suasana ramai dan riuh di sekitarannya mendadak hilang. Berganti dengan wajah-wajah tegang dan serius.
Bahkan tidak hanya para siswa SMK Ellite Rovario dan para guru yang ikut mengantar pagi ini, ikut mendekat dan memperhatikan Bu Nuriyanti dengan seksama. Tapi banyak juga siswa dari sekolah lain, yang ikut curi-curi pandang dan dengar dari kepala sekolah dari sekolah paling di segani di negeri ini.
"Sebelumnya Ibu mohon maaf sebesar-besarnya, kalau apa yang Ibu katakan ini -- menyinggung perasaan kalian." Bu Nuriyanti menarik nafas dalam. "Tapi Ibu rasa, Ibu memang perlu menyampaikannya pada kalian."
'Kepada seluruh peserta, diharapkan mendaftar ulang dan mengambil nomer peserta. Terima kasih...!'
Bu Nuriyanti mengangguk sekali. Lalu ia kembali melanjutkan kalimatnya.
"Kalian semua memang anak-anak kami yang paling hebat dan luar biasa. Tapi -- ada satu hal yang sangat disayangkan." Suara Bu Nuriyanti berubah serak. "Ingatlah bahwa roda kehidupan itu akan selalu berputar. Semua akan selalu ada masanya. Ada kalanya kita berada di puncak. Dan adakalanya, kita harus bisa menerima, saat kita harus berada di posisi terbawah.."
"Yang dikatakan Ibu Nuriyanti memang benar." Bu Fatma ikutan berbicara. "Maksudnya adalah begini anak-anak, apakah sebegitu susahnya, kalian untuk membalas senyum dan sapa dari siswa sekolah lain?" Bu Fatma memandang dalam-dalam anak-anak didiknya itu.
"Ibu tahu itu adalah hak kalian, untuk membalasnya atau tidak." Bu Nuriyanti kembali mengambil alih. "Tapi, tidak ada salahnya kan untuk mencoba ramah kepada mereka?"
Semua siswa SMK Ellite Rovario tak berani mengalihkan perhatian mereka dari kepala sekolah mereka.
"Seandainya saja Dafa masih ada di tengah-tengah kita, pasti ia akan jadi orang pertama yang sangat marah atas sikap kalian semua." Bu Nuriyanti berkata sambil menghapus air matanya yang tiba-tiba menitik. "Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa bertanya pada kakak-kakak senior kalian yang ada disini.."
Eka, Sheila, Julian, Gabriel, Tita, dan bahkan Kinno tersentak bukan main. Mereka berenam seperti baru saja ditampar keras sekali oleh seorang wanita yang sangat mereka kagumi dan banggakan semasa sekolah dulu.
"Apa kalian pernah melihat Dafa berjalan dengan kepala menengadah dan wajah masam?" Tanya Bu Nuriyanti.
Keenam sahabat itu tak kuasa untuk menjawabnya.
"Dafa, adalah satu-satunya siswa ibu -- kami semua -- yang sanggup membawa SMK Ellite Rovario, bukan hanya disegani oleh sekolah lain disini. Tapi di dunia internasional -- dia sanggup membuat sekolah lain bertekuk lutut.." Lagi, Bu Nuriyanti menghapus air matanya. "Tapi --- apa dengan itu, lantas membuatnya menjadi pribadi yang sombong dan angkuh?"
Bu Fatma mengusap-usap punggung Bu Nuriyanti.
"Kalian bisa tanyakan pada kakak-kakak ini --- bagaimana Dafa membantu siswa lain di tengah perlombaan. Dan tidak ada sedikitpun ketakutan di wajahnya, kalau dengan melakukan itu, dia akan kalah tersaingi.." Sambung Bu Fatma.
"Satu yang tidak mungkin ibu akan bisa lupa, dan mungkin kalian juga --" Bu Nuriyanti menghadapkan wajahnya pada kelima anak didiknya dahulu itu. "Ketika pertama kali kita mengikuti perlombaan seperti ini -- dan kita benar-benar malu, rendah diri -- merasa bahwa kita sedang menghadapi mimpi yang teramat buruk.."
"Dan disaat itulah Dafa malah mendekati siswa dari sekolah lain -- memperkenalkan kita semua kepada mereka.." Sheila ikut menyambung.
"Dan tidak ada perasaan rendah diri apalagi sungkan. Tak peduli apa pandangan orang lain padanya.. " Eka menimpali.
"Ibu tidak meminta apa-apa dari kalian. Ibu hanya minta kalian untuk ---"
__ADS_1
"TEMAN-TEMAN..!!"
Suara Bu Nuriyanti terhenti lantaran ia mendengar sebuah suara. Suara yang mengingatkan ia dan sebagian orang-orang di sekitarnya -- dengan sosok itu.
"Permisi -- permisi ya... Aku mau lewat. Maaf..."
Mata mereka terus berpendar. Mencari sosok si pemilik suara itu.
"Nata!! Kau kan Nata Darmawan, ya..!?"
Dan disanalah, di jarak yang tak sampai dua ratus meter, mereka semua melihat sosok itu.
"Kalau Nata ada disini, apa itu artinya siswa dari Nata Institute akan mengikuti perlombaan ini juga?!"
"TEMAN-TEMAN, AKU DISINI...!!"
Sheila nyaris tak berkedip saat melihat sosok itu. "Dafa..." Ucapnya lirih. "Kenapa dia... Ya Allah, kenapa dia langsung mengingatkanku padanya..."
"Iya, mereka ada disana. Nanti akan kuperkenalkan mereka semua pada kalian ya."
DEGH...!!
Jantung Kinno seolah berhenti berdetak. Entah sudah berapa tahun ia dan sosok itu tak pernah bertatapan wajah secara langsung, sejak kejadian di makam Dafa waktu itu.
Nata berhenti persis di hadapan Kinno dan rombongan SMK Ellite Rovario lainnya.
"Nata..."
Nata mengalihkan wajahnya pada Bu Nuriyanti. "Selamat pagi. Pasti anda Bu Nuriyanti. Kepala Sekolah SMK Ellite Rovario." Nata menyapa dengan hangat sekali.
Tak disangka, kemunculannya yang sangat tiba-tiba ini langsung menyita perhatian banyak orang. Mereka semua langsung berkerumun, dan mengarahkan kamera pada sosok Nata.
"Anda tidak banyak berubah Ibu Nuriyanti.."
"KAK NATA...!!"
Nata melambaikan tangannya pada Hassel. Hingga Hassel dan yang lainnya datang mendekat.
"Kak Nata kemana aja sih?! Emangnya gak capek nyariin?!"
"Aku tadi habis ambil nomer peserta, Hassel."
"Terus, dapet nomer berapa?"
Nata tersenyum lebar sambil menunjukkan sebuah bendera berwarna putih pada Hassel dan yang lainnya.
"Tiga belas."
"HHAAHHH?! KOK TIGA BELAS SIH?! ITU KAN ANGKA SIAL, KAK NATA!!"
"Kau jangan bikin malu!" Desis Sandra.
"Tapi kan emang beneran mami, tiga belas itu angka sial!"
"Gila ya, anak-anak Nata Institute keren-keren banget!"
"Kalau mereka beneran ikut pertandingan ini, aku bertaruh, pasti SMK Ellite Rovario tidak akan bisa menang melawan mereka!"
"Nata, boleh kami mengajukan pertanyaan padamu!!" Satu persatu wartawan mulai melontarkan pertanyaan.
Keadaan yang mulai tak kondusif ini, membuat para pengawal pribadi Nata mengambil tindakan. Mereka langsung membuat barikade, agar Nata tidak semakin terjepit.
Namun disini, Nata tetap terlihat santai dan tenang. Dia malah meminta para bodyguardnya itu menyingkir.
"Kalau kalian ingin bertanya, harap bergantian ya.."
"Nata, apakah dengan kedatanganmu kesini -- itu artinya Nata Institute akan ikut serta dalam pertandingan hari ini?"
Nata mengangguk. "Tentu saja iya."
"Apa persiapan yang kau lakukan untuk menghadapi pertandingan tahunan ini?"
"Aku cuma memberi semangat dan dukungan kepada teman-temanku. Meyakinkan mereka, bahwa mereka harus bisa mengeluarkan semua kemampuan terbaik yang mereka miliki."
"Menurutmu, siapakah lawan terkuat pada pertandingan ini? Dan apa ada siasat khusus yang akan kau gunakan nanti?"
"Lawan terkuat ya?" Nata diam sejenak. Lalu seulas senyum mengembang di wajahnya. "Semua sekolah yang hadir disini -- pagi ini -- adalah lawan-lawan terkuat yang tidak bisa kuremehkan. Mengenai siasat khusus -- aku --"
"Nata, mereka sudah tiba." Sandra berbisik-bisik.
"Maaf aku tunda sebentar. Karena teman-temanku baru saja datang."
Nata pun meminta jalan untuk menghampiri sebuah bis besar berwarna hitam mengkilat yang kelihatannya sangat mewah dan elegan itu. Bahkan bis operasional milik SMK Ellite Rovario pun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bis hitam itu.
Cukup lama Nata berada di dalam bis itu. Sampai semua orang bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang sedang dilakukannya di dalam sana.
Sampai kira-kira sepuluh menit kemudian, pintu tengah bis itu terbuka. Dan Nata, menjadi orang pertama yang turun dari dalamnya.
"Sekarang, kuperkenalkan kalian semua -- kepada teman-teman terbaikku."
Satu persatu siswa Nata Institute turun dari dalam bis itu. Namun ekspresi semua orang, sungguh tak terduga saat melihat sosok-sosok yang baru saja turun dari bis mewah itu.
"Mereka ini adalah teman-temanku, yang akan mengikuti perlombaan hari ini."
"Menurut kalian, bukankah mereka itu terlalu kecil?"
"Aku rasa umur mereka baru 10 atau 11 tahunan.."
"Apa dia sedang melontarkan sebuah lelucon?"
Semakin ramai saja orang yang berbisik-bisik mengomentari perkataan Nata. Sebab, mereka semua menyangka kalau perwakilan dari Nata Institute yang akan mengikuti perlombaan adalah, yang kini sedang berdiri berseberangan dengan Nata.
Tapi ternyata, mereka semua salah besar. Sebab, perwakilan dari Nata Institute yang akan mengikuti perlombaan, adalah mereka yang baru saja turun dari atas bis mewah itu.
"Nata, apa kau yakin kalau mereka bisa memenangkan perlombaan ini?"
__ADS_1
"Entahlah." Nata angkat bahu. "Aku percaya pada setiap kemampuan terbaik mereka. Dan apapun yang terjadi, aku akan tetap mendukung mereka."
"Nata, menurutmu -- Kinno itu orang yang seperti apa?"
Nata seketika terdiam. Ia tak tahu kalau ia akan mendapatkan sebuah pertanyaan yang menurutnya sangat konyol dan menggelitik itu.
"Menurutku ---"
Kinno terus memusatkan perhatiannya pada Nata. Ia begitu gugup dengan jawaban apa yang akan dilontarkan Nata tentang dirinya, di hadapan para wartawan dan khalayak ramai.
"Dia adalah teman -- saudara -- terbaik yang pernah kumiliki."
Kinno menelan ludah. Ia mendapati ada begitu banyak pasang mata yang menatap padanya.
"Aku mengenal dia, itu adalah sebuah keberuntungan dalam hidupku." Suara Nata terdengar begitu tenang. "Dia mengajariku banyak hal. Dan dia jugalah yang membuatku bisa berdiri seperti sekarang ini."
"Na -- ta.."
"Tanpa Kinno, mungkin Nata Institute tidak akan pernah ada." Nata menghela nafas sejenak. "Kalian semua mungkin mengira bahwa Nata Institute adalah sekolah terbagus dengan segudang prestasi dan penghargaan yang telah banyak kami dapatkan. Tapi dari hatiku yang paling dalam -- SMK Ellite Rovario adalah sekolah terbaik yang tak akan pernah bisa tergantikan.."
Sheila menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya. "Perasaan apakah ini -- Kenapa aku..."
"Coba sekarang kalian lihat mereka --" Yang dimaksud Nata adalah semua penghuni SMK Ellite Rovario yang hadir pagi ini. "Sekolah itu dipenuhi oleh orang-orang hebat dan sangat luar biasa."
"Apakah dia sedang merendahkan kita?" Celetuk seorang siswa SMK Ellite Rovario.
"Ada Pak Martin Luther, Pak Anthony Groobery, Nenek Stevie, Kinno dan kelima sahabatnya itu, juga -- para pengajar yang sangat berkompetensi dan ahli di bidangnya."
"Apakah ini sebuah pujian darinya? Atau malah sebaliknya..." Gumam siswa lainnya.
"Dan kalian tahu, aku harus berjuang seorang diri demi membesarkan Nata Institute.."
"Dafa ---"
Nata refleks menoleh. Namun ia tak sempat menghindar ketika tangan tua, lemah dan keriput itu menggapai tangannya.
Mata keduanya bertemu sejenak. Semua orang di sekitar mereka, seolah agak memberi jarak.
"Kau -- Dafa cucuku..." Suara Anggita Suryatama terdengar rapuh sekali. "Dafa..."
Nata menghela nafas pendek. Raut wajahnya agak berubah sedikit. Jelas, perubahannya itu malah membuat Sandra cemas dan khawatir. Dia takut kalau Nata akan melakukan sesuatu yang ----
Pemuda itu malah setengah berlutut di depan wanita tua renta dan kursi rodanya. "Nenek..."
Bibir Anggita Suryatama bergemetar. Dia menoleh pada anak lelakinya. "Kau lihat kan Ardiansyah? Dia ini adalah Dafa.."
"Aku Nata, nenek. Bukan Dafa.." Ucap Nata pelan namun tegas. Dan kembali, mata keduanya kembali bertemu.
"Tapi --- kenapa kau --- Dafa..."
"Jika nenek menganggap aku adalah Dafa, aku benar-benar merasa sangat tersanjung sekali."
Nata sungguh-sungguh jadi pusat perhatian seluruh orang pagi itu. Biarpun mulut para wartawan dan orang-orang terkunci rapat, namun bunyi jepretan kamera yang mengabadikan sosoknya, tak pernah berhenti terdengar.
"Tapi beberapa hal yang harus nenek ketahui.." Nata kembali bangkit. "Dafa -- adalah seseorang yang paling beruntung di dunia ini.." Nata sedikit menengadahkan kepalanya. "Ia punya nenek, ayah, saudara, para sahabat dan orang-orang yang akan selalu ada untuk mendukungnya." Kini ia mengedarkan pandangannya pada orang-orang di hadapannya. Tak terkecuali Kinno. "Tapi Nenek Anggita bisa lihat diriku ini kan?"
"Nata..."
"Aku cuma punya Tante Sandra dan Hassel saja." Nata menyambung kalimatnya. "Dan bahkan --- aku disini -- berdiri seorang diri demi memperjuangkan semuanya. Tidak seperti Dafa yang pastinya punya Kinno yang akan selalu berdiri berdampingan dengannya -- dan juga kelima sahabatnya yang tidak akan pernah melupakannya -- sampai kapanpun.."
Air mata Anggita jatuh. Tangan tuanya yang lemah, berusaha kembali meraih tangan Nata.
"Tapi kau ---"
Nata sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia menyapu air mata wanita renta itu dengan jemarinya. "Nenek Anggita jangan sedih ya. Karena kehadiranku disini, bukan untuk membuat orang lain bersedih.." Tanpa di duga, Nata mendaratkan sebuah kecupan hangat pada dahi Anggita Suryatama.
"Nata..."
"Oh iya -- kapan-kapan, aku boleh main ke panti asuhan peninggalannya Dafa kan, nek..?"
"Tentu saja, Nata. Silahkan datang kapanpun kau mau.."
"Kalian..." Nata kini mengedarkan pandangannya pada siswa-siswa SMK Ellite Rovario. "Datang berkunjunglah dan main-main ke sekolahku. Karena Nata Institute terbuka untuk siapa saja..."
"Nata, sudah saatnya kita masuk.." Sandra berbisik.
Nata pun mengangguk. "Aku hampir aja lupa.." Nata menghentikan langkahnya.
"Apaan lagi sih?!" Hassel bersungut-sungut.
"Kinno, akhirnya kita bertemu lagi ya.." Nata menatap sosok itu lekat-lekat. "Sekolahku mendapat nomer peserta tiga belas. Tapi, perlu kau tahu -- aku akan membuktikan pada semua orang, kalau angka ini bukanlah sebuah angka sial. Tapi sebuah angka keberuntungan untuk Nata Institute. Karena kamilah yang akan membawa pulang piala kemenangan itu.."
Sheila menegakkan kepalanya. Menatap lamat-lamat sosok fenomenal itu. "Bukankah Dafa juga pernah mengatakan hal serupa..?"
"Apa mungkin kalau dia memang..." Gabriel menelan ludah. Tubuhnya merinding seketika.
"Kakak...!!"
Abel tiba-tiba berteriak dengang sangat nyaring sekali.
"Abel, lagi panggil siapa?" Tanya Inu sambil membelai kepala anaknya itu.
"Kakak itu, papah. Kakak bermata biru yang waktu itu ngajakkin Abel sama Mas Abi jalan-jalan lihat ikan lumba-lumba.."
Seketika perhatian orang-orang itu terpecah. Terutama Kinno yang benar-benar jadi panik luar biasa.
Disaat hati kecilnya mengatakan dengan kuatnya bahwa Nata itu Dafa. Namun disaat bersamaan, ia harus dihadapkan pada sosok lainnya.
"Kakak itu dimana, sayang?" Tanya Trinity.
"Disana mamah. Tadi lagi berdiri di belakang orang berbaju putih itu. Iya kan, Mas Abi?"
"Hmmmpp..!!" Abi mengangguk. "Kakak itu kan mau datang, soalnya dia mau melihat papah, mamah, teman-teman, guru dan keluarganya.."
...##### ...
__ADS_1